Saturday, 5 October 2019

ASURANSI DALAM TIMBANGAN SYARI’AT ISLAM (Bag. 1)


■ Asuransi yang jenisnya kian beragam pada masa sekarang, sebenarnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga:
(•) asuransi sosial,
(•) asuransi ta’awun (gotong-royong), dan
(•) asuransi tijarah (bisnis).
ΞΞ Asuransi Sosial ΞΞ
Biasanya, asuransi jenis ini diperuntukkan bagi pegawai pemerintah, sipil maupun militer. Sering juga didapati pada karyawan swasta. Gambarannya, pihak perusahaan memotong gaji karyawan setiap bulan dengan persentase tertentu dengan tujuan:
[1] Sebagai tunjangan hari tua (THT), yang biasanya uang tersebut diserahkan seluruhnya pada masa purna tugas seorang karyawan. Terkadang ditambah subsidi khusus dari perusahaan.
[2] Sebagai bantuan atau santunan bagi mereka yang wafat sebelum purna bakti, diserahkan kepada ahli waris atau yang mewakili.
[3] Sebagai pesangon bagi karyawan yang pensiun dini.
※ Pemotongan gaji dengan tujuan di atas yang dilakukan oleh pemerintah atau sebuah perusahaan
(•) adalah murni untuk santunan bagi karyawan,
(•) bukan dalam rangka dikembangkan untuk mendapatkan laba (investasi).
|✔️| Hukum asuransi jenis ini dengan sistem seperti yang tersebut di atas adalah BOLEH, termasuk dalam bab ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan.
◈ Allah -ﷻ- berfirman:
《 وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ 》
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
[Al-Ma'idah: 2]
◈ Rasulullah -ﷺ- bersabda:
《 وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ 》
“Dan Allah selalu menolong seorang hamba selama dia selalu menolong saudaranya.”
[HR. Muslim no. 3391 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]
※ Upaya di atas termasuk dalam bab ihsan (berbuat baik) kepada sesama.
[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 15/284, dan Syarhul Buyu’ hal. 38]
※ Bila potongan gaji tersebut
(•) dimasukkan dalam investasi
(•) dan menghasilkan penambahan nominal dari total nilai gaji yang ada, |✘| maka TIDAK BOLEH (HARAM), karena termasuk memakan harta orang lain dengan cara kebatilan.
◈ Allah -ﷻ- berfirman:
《 وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ 》
“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil.”
[Al-Baqarah: 188]
※ Maka tidak ada hak bagi karyawan tadi kecuali nominal gajinya yang dipotong selama kerja.
◈ Allah -ﷻ- berfirman:
《 وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ 》
“Dan jika kalian bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kalian tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”
[Al-Baqarah: 279]
※ Namun bila nominal tambahan tersebut telah diterima oleh sang karyawan dalam keadaan tidak mengetahui hukum sebelumnya, maka boleh dimanfaatkan.
◈ Allah -ﷻ- berfirman:
《 فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ 》
“Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” [Al-Baqarah: 275]
※ Bila dia mengambilnya atas dasar ilmu (yakni mengetahui) tentang keharamannya, dia wajib bertaubat dan mensedekahkan ‘tambahan’ tadi. Wallahu a’lam bish-shawab.
[Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 15/261]
… bersambung insyaAllah.
Url: http://www.alfawaaid.net/2017/09/asuransi-dalam-timbangan-syariat-islam.html
💽http://t.me/SalafyPalembang
www.salafypalembng.com
@ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net
₪ Dari situs Majalah Asy  Syariah, Edisi 029 - Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin hafizhahullah

No comments: