Wednesday, 12 September 2018

Status Anak Lahir di Luar Nikah

Sdr. Abuchair S., Dukuh Pinggir II RT 009 RW 005 Jakarta
Pertanyaan 96 :
Di Al Qur’an disebutkan bahwa anak yang dilahirkan di luar pernikahan disebut anak jadah (haram). Bagaimana kalau anak tersebut masuk ke masjid? Bolehkan ngikut sembahyang?
Bagaimana kalau anak haram tersebut mati, walaupun di dunia berbuat baik, apakah di akhiratnya juga diterima seperti yang lain atau yang bukan haram?
Karena menurut hemat kami anak haram yang mati jadi Prayangan. Betulkah ini?
Jawaban 96 :
Sepengetahuan kami tidak ada dalam kitab suci Al Qur’an, menyebut anak lahir di luar pernikahan itu dengan nama anak jadah atau anak haram. Kalau menurut saudara ada tolonglah tunjukkan kepada kami, di ayat mana dari kitab suci Al Qur’an yang menyebutkan itu?
Kedudukan anak ini sama saja dengan anak-anak lainnya. Karena kemuliaan seseorang di sisi Allah adalah menurut kadar taqwanya. Bukan keturunan atau asalnya.. Firman Allah swt.

Artinya : Sesungguhnya orang yang termulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling taqwa daripada kamu.
(Surat Al Hujarat ayat 13)
Anak ini tidak berdosa. Yang berdosa adalah ibunya.
Ia tidak turut berdosa karena dosa ibunya.
Sebagaimana firman Allah swt.

Artinya : Dan tidaklah menanggunng dosa oleh seseorang akan kedosaan orang lain.
(Surat Al An’am ayat 164)
Ibunyapun bila telah bertaubat dengan taubatannashuha, tersucilah ia dari dosanya dengan maghfirah dari pada Allah swt. Dan tidak boleh kita mencacinya. Justru yang mencaci itulah yang berdosa, baik terhadap anak itu, atau terhadap ibunya.
Di riwayatkan dari Abi Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda

Artinya : Apabila berzina seorang budak perempuan maka ternyatalah zinanya maka hendaklah dideranya sebagai hukuman dan janganlah dicacinya, kemudian jika ia berzina pula kedua kalinya hendaklah dideranya sebagai hukuman dan janganlah dicacinya, kemudian jika ia berzina pula ketiga kalinya hendaklah dijualnya walaupun dengan tambang dari bulu.
Oleh karena itu, bila kita mengetahui keadaan dan kedudukan asal-usul seseorang yang kurang baik, sunnat kita sembunyikan dan jangan diberitahukan, baik kepada yang berkepentingan atau pun kepada yang lainnya, kecuali di kala ia berbuat munkar, maka wajiblah di ingkari. pendapat saudara bahwa anak itu, jika mati menjadi perayangan adalah tidak betul, dan terbilang dari pada khurafat yang membahayakan dalam I’tiqad.
Sumber :
K.H.M. Sjafi’I Hadzami. 1982. 100 Masalah Agama Jilid 1. Menara Kudus. Kudus

Post a Comment