Wednesday, 12 September 2018

Hukum Menikahi Wanita Hamil

Sdr. Abuchair, S., Dukuh Pinggir II RT 009 RW 005 Jakarta

Pertanyaan 95 :
Bagaimana kalau sang wanita sedang hamil, bolehkan dilangsungkan pernikahannya, atau menjalani akad nikah? Sah atau tidakah nikahnya? Dan bagaimana sang bayi yang dilahirkan, disebut anak apakah?

Jawaban 95 :
Kata-kata “sang wanita sedang hamil” adalah umum. Boleh jadi, wanita itu masih punya suami. Boleh jadi juga, wanita itu ditinggal mati suaminya. Boleh jadi juga, wanita itu belum pernah menikah.
1. Kalau wanita hamil itu masih punyai suami, sudah barang tentu tidak shah akad nikahnya dengan orang lain. Selain tidak shah juga bisa dikemplang oleh suaminya.
2. Kalau wanita hamil itu ditinggal mati suaminya, baru boleh shah dikawini setelah ia melahirkan.
3. Kalau wanita hamil itu diceraikan oleh suaminya, pun baru boleh shah dikawini setelah ia melahirkan.
Karena firman Allah swt. Dalam suratutthalaq ayat 4, sebagai berikut :

Artinya : Dan wanita-wanita yang hamil, iddah mereka itu bahwa mereka melahirkan kandungan mereka.
4. Kalau wanita hamil ini belum pernah menikah, atau hamil gelap-gelapan, maka kami ajak para pendengar untuk sama memperhatikan nash dari Hasyiatul Bajury, juz ke II, halaman 169, sebagai berikut :

Artinya : Jika seorang laki-laki menikahi wanita yang tengah hamil karena zina, pastilah shah nikahnya. Boleh mewathi’nya sebelum melahirkannya, atas qaul yang paling shahih.
Akan tetapi alangkah baiknya, jika telah melahirkan nanti diulangi akad nikahnya, untuk keluar dari pada khilaf.
Wallahu a’lam.
Mengenai keadaan si bayi itu, tergantung kepada jangka waktu antara pernikahan dan melahirkannya. Jika jarak antara nikah dan lahir ada enam bulan dua detik, maka terbangsalah bayi ini kepada bapaknya. Akan tetapi jika jarak antara nikah dan lahir ini kurang dari enam bulan, maka bayi ini adalah “anak emaknya” atau “anak ibunya”.
Tersebut dalam Ghayatu talkhishil Murad min fatawa Ibni Ziyad, pada hamisi Bughyatul Mustarsyidin, halaman 242 sebagai berikut :

Artinya : Seorang laki-laki yang mengawini wanita hamil dari zina, maka wanita itu mendapat anak, dalam masa yang mungkin anak itu dari padanya, dengan bahwa ia melahirkan sesudah enam bulan dan dua detik, mulai dari akad nikahnya dan mungkin mewathi’nya, terbangsalah anak itu kepadanya. Dan demikian pula, jika tidak di ketahui apakah perempuan itu melahirkan dalam masa yang mungkin kurang dari masa itu atas qaul yang rajih. Dan jika dilahirkannya kurang dari masa itu, tidaklah terbangsa kepadanya.

Sumber :
K.H.M. Sjafi’I Hadzami. 1982. 100 Masalah Agama Jilid 1. Menara Kudus. Kudus

Post a Comment