Saturday, 22 September 2018

Menuntut Ilmu dengan Cara Mendengarkan Radio atau Semisalnya

Sarimin, Gedong Panjang, Tanah Pasir RT 001 RW 011, Kelurahan Penjaringan – Jakarta
Pertanyaan 122 :
Bagaimanakah hukumnya orang yang mendapatkan ceramah-ceramah Agama Islam, baik kuliah Shubuh maupun pengajian yang tertentu, misalnya yang diadakan di amatir-amatir. Sedang saya sendiri selalu mengikuti cukup di rumah saya sendiri, pakai radio saya yang ada. Apakah bagi pendengar di rumah masing-masing sudah termasuk golongan orang yang mencari ilmu? Adakah hanya pahala saja?
Jawaban 122 :
Tiap-tiap kebajikan yang dilakukan dengan keikhlasan hati, tentu ada pahalanya. Karena Allah swt tidak akan menyia-nyiakan pahala terhadap orang-orang yang berbuat baik.
 Saudara mendengar ceramah-ceramah, kuliah-kuliah agama, melalui pesawat radio saudarapun merupakan kebaikan, dan ada pahalanya Insya Allah. Akan tetapi untuk menamakan hal itu dengan “mencari ilmu” adalah tidak tepat. Karena jika saudara belajar di atas sofa, sambil menikmati rokok Dji Sam Soe, dengan memutar knop pesawat radio saudara pada gelombang yang tengah mengadakan ceramah atau tanya jawab keagamaan, yang terkadang saudara terus kepulasan dengan tak tahu lagi ujung dan pangkal ceramah itu, lalu dinamakan “mencari ilmu”, rasanya kurang tepat. Tetapi bila cara demikian, masih juga saudara mendapat tambahan ilmu, dan memahaminya apa yang diuraikan dalam tabligh atau taqrir ilmu, yang lebih tepat namanya saudara “ketiban ilmu” kata orang Jakarta. Ketiban ilmu artinya tertimpa ilmu. Ini suatu keuntungan besar. Jadi saudara belum mencari atau menuntut ilmu. Menuntut ilmu atau mengaji, wajiblah saudara berusaha mencari guru.
Kalau tidak ada guru di tempat saudara, wajib saudara melakukan perjalanan, ataupun mengarungi lautan. Di dalam mencari ilmu itu capek, penat dan letih. Tidak ada mencari ilmu dengan enak-enakan. Di dalam Al Qur’an Allah swt. menghikayatkan perkataan Nabiyallah Musa as. dalam perjalannya mencari Nabiyallah Khidlir untuk berguru kepadanya :

Artinya : Berikanlah kepada kami makanan siang kami. Demi sesungguhnya telah kami jumpai dari perjalanan kami ini akan keletihan.
 Perjalanan ini adalah perjalanan mencari ilmu. Menurut Syekh Ibnu Ruslan di dalam zubadnya :

Artinya : Barangsiapa yang tidak mengetahui akan sesuatu masalah hendaklah ia bertanya. Barangsiapa yang tidak mendapatkan guru, hendaklah ia berlayar.
 Demikianlah para pendengar sekalian khususnya saudara penanya yaitu yang terhormat saudara Sarimin, jawaban kami atas pertanyaan anda, semoga anda dapat memakluminya.
Sumber :
K.H.M. Sjafi’I Hadzami. 1982. 100 Masalah Agama Jilid 2. Menara Kudus. Kudus


Di jaman sekarang dapat disamakan dengan mendengarkan kajian ilmu melalui streaming youtube, mp3 ataupun video mp4 menggunakan handphone. Lebih baiklah menghadiri kajian ilmu secara langsung jika memiliki kemampuan dan kesempatan.

Post a Comment