Wednesday, 19 September 2018

Hukum Wanita Menyembelih Hewan

M. Tamam, Ketua RT 008/07, Jemb. II, Gang Masjid II, Jakarta Barat
Pertanyaan 75 :
Bagaimana hukumnya jika wanita memotong ayam, sedangkan kebanyakan bangsa pria saja. Bagaimana hukumnya apabila memotong ayam ditusuk lehernya? Apakah halal dimakan atau tidak? Sedangkan urat keduanya itu tidak putus. Dan bagaimana hukumnya yang menusuk itu, berdosa atau tidak?
Jawaban 75 :
Wanita muslimat, atau Kitabiyyah shah pemotongannya, seperti shahnya pemotongan laki-laki muslim dan laki-laki daripada kafir kitabi. Akan tetapi pemotongan wanita, dikala ada laki-laki muslim, adalah khilaful aula, sebagaimana tersebut dalam kitab I’anatutthalibin juz ke II, halaman 345, sebagai berikut :

Artinya : Walhasil yang lebih utama untuk memotong adalah laki-laki yang berakal lagi Islam, kemudian wanita yang berakal lagi Islam, kemudian kanak-kanak yang muslim lagi sudah mumayyiz, kemudian kafir kitabi laki-laki, kemudian kafirah kitabiyyah perempuan kemudian orang gila dan orang mabok dan semakna kedua-duanya kanak-kanak yang belum mumayyiz, dan halallah penyembelihan mereka itu karena bagi mereka ada tujuan dan kehendak pada jumlahnya, akan tetapi serta kemakruhan sebagaimana dinashkan atasnya dalam Al Umm, karena khawatir berpaling mereka itu daripada tempat potongan. Dan dimakruhkan penyembelihan orang buta, dalam hal binatang yang dapat dikuasai karena alasan tersebut.
Para pendengar yang budiman, khususnya saudara penanya yth. saudara M. Tamam. Adapun menyembelih ayam dengan menusuk lehernya, dan tidak memutuskan Hulqum, yaitu tempat nafas dan Mari’, yaitu tempat berlalunya makanan dan minuman, tidaklah shah pemotongan itu, dan haram melakukannya, karena menyiksa dan menyia-nyiakan harta. Karena syarat shahnya suatu pemotongan adalah memutuskan seluruhnya hulqum dan mari’ dengan sesuatu yang tajam, selain kuku dan tulang. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ruslan dalam zubadnya :

Artinya : Dan syarat pada apa yang mereka Ulama halalkan, jika hewan itu dapat di kuasai, adalah memotong hulqum dan mari’. Sekiranya kehidupan hewan itu masih dihukumkan berketetapan. Dengan sesuatu yang melukai, yang bukan kuku dan tulang.
Demikianlah para pendengar yang budiman, jawaban kami atas pertanyaan saudara M. Tamam, selaku penanya masalah ini, semoga anda dapatlah memahaminya dengan baik. Wallahu waliyyuttaufiq wal hidayah.
Sumber :
K.H.M. Sjafi’I Hadzami. 1982. 100 Masalah Agama Jilid 3. Menara Kudus. Kudus

Post a Comment