Thursday, 13 September 2018

Hukum Wali Nikah dan Warisan Anak Hasil Zina

Ahmad Rafiuddin Sukarma, Gg. Terate 6 RT 005 RW 004 Jembatan Lima Jakarta
Pertanyaan 190 :
Siapakah walinya dalam hal pernikahan bagi seorang anak zadah (anak zina) yang kebetulan anak zina itu perempuan? Selanjutnya apakah ada hak warisan bagi anak tersebut andaikata orang yang berbuat zinanya saling menyadari (menikah selanjutnya) karena jika dipandang dengan lahiriyah seolah-olah anak tersebut bagaikan anak kandung sendiri.
Jawaban 190 :
Yang menjadi wali untuk pernikahan anak itu adalah Hakim. Karena Hakim itu dapat mengawinkan seketika seorang ketiadaan wali dari pada nasab (keturunan) atau ketuanan.
Tersebut dalam Syarah Ibnu Qasim Al Ghazzy atas matan Assyaikh Abi Syuja’ pada Hamisy Albajuri juz ke II halaman 106 sebagai berikut :

Artinya : Kemudian Hakim itu mengawinkan seketika ketiadaan wali-wali dari pada keturunan dan ketuanan.
Para pendengar yang budiman, khususnya saudara penanya yaitu yang terhormat saudara Ahmad Rafiuddin Sukarma. Mengenai hal warisan maka anak zina itu tidaklah mendapat warisan, jika sekiranya itu tidak terhubung kepada seorang bapak, tetapi ia bisa mendapat warisan dari ibunya. Tsabit nasab anak zina kepada ibunya dan tidak tsabit kepada bapaknya, jika kelahirannya kurang dari masa enam bulan dari masa perkawinan ibunya. Sedang sebab dimana seorang bisa mendapat warisan itu adalah salah satu dari tiga perkara. Pertama pernikahan, kedua ketuanan dan ketiga keturunan.
Sedang anak zina tidak tsabit keturunannya dari pihak bandotnya. Tersebut dalam nadzam Arruhabiyyah :

Artinya : Sebab-sebab mendapat warisan seseorang itu adalah tiga. Tiap-tiap satunya memberi faidah akan yang berkepentingan mendapat akan warisan. Dan yaitulah nikah, ketuanan dan keturunan. Dan tidak ada sesudah ketiga ini sebab untuk mendapatkan warisan-warisan.
Demikianlah para pendengar yang budiman, khususnya saudara penanya, yaitu yang terhormat saudara Ahmad Rafiuddin Sukarma, jawaban kami atas masalah anda semoga dapat memahaminya. Wabillahittaufiq wal hidayah.
Sumber :
K.H.M. Sjafi’I Hadzami. 1982. 100 Masalah Agama Jilid 2. Menara Kudus. Kudus

Post a Comment