Wednesday, 12 September 2018

Hukum Onani

M. Sardi Udhang, Kmp. Sawah Kerendang RT III RW IV Jakarta Kota

Pertanyaan 98 :
Onani, dalam agama Islam dilarang apa tidak? Kalau dilarang apakah hukumnya haram atau makruh? Dan dapat disamakan dengan hokum zina? Mohon penjelasan.

Jawaban 98 :
Onani artinya : mengeluarkan mani dengan tidak sewajarnya seperti dengan tangan atau lainnya. Hukum onani, jika dilakukan dengan selain tangan isteri atau sahaya perempuan sendiri adalah haram. Sedang jika dilakukan dengan tangan isteri sendiri atau sahaya perempuan sendiri, adalah halal tetapi makruh, karena hal tersebut semakna dengan ‘azal yang dimakruhkan.
Dan keharaman onani ini, tidaklah sama dengan keharaman berzina karena berzina adalah mewajibkan had, dera atau rajam, sedangkan onani tidak sampai kepada had. Tetapi di ta’zier jika diketahui seseorang melakukan itu atas jalan yang haram. Di ta’zier artinya di ta’diebkan, yakni dikasih ajaran, dengan pukul dan sebagainya menurut kebijaksanaan hakim.
Tersebut dalam kitab Annashaihuddiniyyah wal washayal imaniyyah buah tangan Assyaikhul Imam, Barakatul Anam. Abdullah Ba’ Alwi Alhaddad, halaman 81 sebagai berikut :

Artinya : Dan apapun mengeluarkan sperma (mani) dengan tangan maka yaitu adalah pekerjaan yang buruk dan tercela dan dengan sebabnya dapat terjadi banyak bencana dan malapetaka. Dan terkadang terkena dengan penyakit ini oleh sebagian orang, maka hendaklah ia bertaqwa dan takut. Dan tersebut pada sebagian hadits-hadits : Mengutuklah Allah akan orang yang mengawini tangannya. Dan telah bersabda Rasulullah saw. Pernah membinasakan Allah suatu ummat yang adalah mereka itu bermain-main dengan alat-alat kelamin mereka itu.
Tersebut dalam Mirqotushu’udittashhiq fi syarhi sullamittaufieq, bagi Al ‘Allamatil Fadlil Assyaikh Muhammad Nawawy hal. 77 sebagai berikut :

Artinya : Dan setengah dari pada makshiat farji, adalah Istimnaa’ dibaca dengan nun dan mad, artinya sengaja mengeluarkan mani dengan selain tangan wanita yang halal, artinya isterinya atau hamba sahaya perempuannya. Adapun melakukannya dengan keduanya itu, adalah jaiz atau boleh.
Para pendengar yang budiman khususnya saudara penanya ialah saudara M. Sardi Ujang. Mengenai dalil bahwa onani itu tidak di persamakan dengan zina, artinya tidak terkena had para pelakunya adalah sebagaimana tersebut dalilnya dalam kitab Fathul Mu’in pada Hamisy I’anatuthalibien juz ke IV halaman 143 sebagai berikut:

Artinya : Maka tidaklah beroleh had (dera atau rajam) dengan sebab mufakhadzah (laki-laki bermain dengan paha laki-laki) dan musahaqah (perempuan bermain dengan perempuan) dan mengeluarkan mani dengan tangan sendiri atau dengan tangan selain perempuan yang halal, bahkan di ta’zier pelakunya.


Sumber :
K.H.M. Sjafi’I Hadzami. 1982. 100 Masalah Agama Jilid 1. Menara Kudus. Kudus

Post a Comment