Tuesday, 18 September 2018

Hukum Berjual Beli dengan Orang Kafir / Non Muslim

Anwar, Jalan Sentul No. 33A, Pasar Baru, Jakarta
Pertanyaan 88 :
Apakah hukumnya orang yang berdagang di depan, di samping, di belakang, di dekat maupun di halaman gereja/sekolah-sekolah Kristen, kuil, sekolah India, sekolah Cina dan yang semacamnya? Sedangkan barang/makanan/minuman yang didagangkannya adalah halal. Dan umumnya atau boleh dikatakan 100% yang diharapkannya pembeli dagangan tersebut adalah orang-orang seperti di atas, jelasnya bukan orang yang beragama Islam. Halalkan uang yang diperoleh dari hasil penjualan tersebut? Dan bolehkan ia berdagang di situ?
Jawaban 88 :
Berjual beli tidaklah disyaratkan keadaan pembelinya atau penjualnya itu Islam. Jadi boleh bermu’amalah, termasuk berjual beli kepada orang kafir. Terkecuali mengenai menjual Al Mushhaf atau Al Qur’an maka disyaratkan pembelinya itu adalah Muslim. Demikian pula menjual alat-alat senjata, maka disyaratkan janganlah pembelinya itu kafir harbi, artinya orang kafir yang memusuhi kaum muslimin.
Keterangannya tersebut dalam Fathul Mu’in pada Hamisi I’anatutthalibin Juz III, halaman 7-8 sebagai berikut :

Artinya : Dan disyaratkan Islam untuk memiliki sesuatu daripada Mushhaf, yakni yang dituliskan padanya Al Qur’an, walaupun seayat dan walaupun ditetapkan tidak untuk mempelajari sebagaimana dikatakan Guru kami (Ibnu Hajar). Dan disyaratkan pula ketiadaan memeranginya orang yang membeli alat perang, seperti pedang tombak, anak panah, perisai baju rantai, kuda, lain halnya bukan alat perang, walaupun yang bisa menjadi bahan untuknya, seperti besi, karena tidak tertentu menjadikannya untuk persiapan perang. Dan shah menjualnya bagi kafir dzimmi artinya di negeri kita.
Para pendengar yang budiman, khususnya saudara penanya, yaitu tth. sdr. Anwar. Dengan keterangan tersebut dapatlah diketahui bahwa berjual beli dengan khuffar itu diperkenankan dan shah dan halal makan harga dari penjualan tersebut, hanya mengenai “ma’qud alaihi”nya, janganlah sesuatu yang dapat membahayakan kaum muslimin seperti menjual senjata kepada kafir harbi atau yang dapat membawa kepada dihinakan, seperti menjual Mushhaf kepada orang yang bukan Islam atau menjual alat-alat makshiyat walaupun bukan kepada kuffar, seperti menjual senjata untuk dipakai oleh laki-laki, menjual misik untuk mengharumkan berhala, menjual ayam kepada kuffar yang diketahui akan memakannya tanpa penyembelihan syar’I, menjual tebu, kelapa gading, srikaya muda untuk keperluan meja kayu bagi persembahyangan majusi dan lainnya daripada hal-hal yang membawa kemakshiatan. Penjualan-penjualan ini adalah haram hukum melakukannya, walaupun shah jual belinya. Sebagaimana tersebut dalam Fathul Mu’in. tersebut dalam Fathul Mu’in, pada Hamisi I’anatutthalibin, juz ke III, halaman 23-24, sebagai berikut :

Artinya : Dan haram pula menjual seumpama anggur kepada orang yang diketahui atau diduga keras akan membuat sesuatu yang memaboki untuk diminum dan menjual budak muda-belia kepada orang yang terkenal dengan homo secuilnya, dan menjual ayam jago untuk di adu, dan menjual kambing untuk di adu, menjual sutera kepada laki-laki untuk dipakainya sendiri dan seperti demikian juga menjual kesturi kepada kafir guna keperluan mengharumkan berhala (Ji Lai Huda tau Toa Pe Kong), dan menjual hewan kepada kafir yang diketahui bahwa akan dimakannya tanpa penyembelihan, karena yang paling shahih, bahwa orang-orang kafir itu di khittab mereka itu dengan furu’ syari’at seperti juga halnya bagi orang-orang muslimin pada madzab kita, lain halnya bagi Abi Hanifah ra. Maka tidak boleh atas kita menolongnya.
Perlu perhatikan di sini, kepada penjual-penjual ayam dari kaum muslimin, bahwa menjual ayam tersebut kepada orang kafir yang diduga keras akan makan ayam tersebut dengan cara menusuk atau memelintir leher ayam itu dalam membunuhnya, untuk lebih dahulu memotongkan ayam tersebut dengan potongan syar’i. sebab kalau kita jual hidup-hidup, kemungkinan besar ayam itu mati dengan dipulir lehernya. Haram menolong atas kemaksiatan ini.
Para pendengar yang budiman, marilah kita ikuti hadits yang berkenaan dengan hal ini. Diriwayatkan dari Jabi bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda :

Artinya : Sesungguhnya Allah telah haramkan menjual arak, bangkai, babi, dan berhala-berhala. Maka ditanya orang : ya Rasulullah, bagaimana pendapat Tuan tentang gajih-gajih bangkai, karena sesungguhnya dapat dicap dengan perahu-perahu dan dapat diminyaki dengannya kulit-kulit, dapat pula orang menyalakan lampu dengannya, maka sabda Beliau : Tidak. Dia itu haram. Kemudian bersabda Rasulullah saw. ketika itu : Mengutuk Allah akan orang-orang yahudi, bersungguh tatkala Allah mengharamkan gajih-gajih onta, mereka itu mencairkannya kemudian menjualnya, maka mereka makan harganya. (HR. Aljama’ah).
Demikian para pendengar yang budiman, bersama saudara Anwar, selaku penanya masalah ini, jawaban kami untuk pertanyaan anda, semoga anda dapat memahaminya. Wallahu waliyyuttaufiq wl hidayah.
Sumber :
K.H.M. Sjafi’I Hadzami. 1982. 100 Masalah Agama Jilid 3. Menara Kudus. Kudus

Post a Comment