Wednesday, 4 April 2018

Peristiwa Hilful Fudhul

Materi 10: Peristiwa Hilful Fudhul

Sirah Nabawiyah dari kitab “al-Khullaashoh al-Bahiyyah fiy Tartiibi Ahdaats as-Sirah an-Nabawiyyah”



Peristiwa Hilful Fudhul

١٠ – ثم شهد – صلى الله عليه وسلم – حلف الفضول لنصرة المظلوم.

10. Kemudian Rasulullah ﷺ menyaksikan Hilful Fudhul untuk menolong pihak yg terzholimi.

Pelajaran:

1- Penyebab terjadinya perjanjian Fudhul (Hilful Fudhul) adalah krna seorang dari Kabilah Zabid dri Yaman datang ke Makkah brsama barang dagangannya. Ia menjualnya kpda seorang yg bernama al-‘Ash bin Wail as-Sahmi, namun org ini tdak bersedia membayarnya. Kmudian al-‘Ash dilaporkan kpda tokoh2 Quraisy, namun jga tdak ada yg ingin menolongnya.
Maka ia mendaki gunung Abi Qubais, ia brteriak agar haknya dkembalikan, akhirnya bangkitlah Zubair bin Abdil Muththolib dan berkata “Orang seperti ini tidak mgkin dibiarkan terzholimi.” Maka berkumpullah Banu Hasyim, Zuhrah, Banu Taim di rumah Abdullah bin Jad’an, mereka bersumpah dan berjanji untuk menolong orang yg terzholimi tersebut sampai haknya dikembalikan. Selanjutnya mreka menemui al-‘Ash bin Wa’il untuk mengambil paksa dan mengembalikan harta kepada pemiliknya. (Lihat Thabaqat Ibnu Sa’ad 1/126-128)

2- Nabi ﷺ yg saat itu berumur 20 tahun menghadiri perjanjian tersebut. Nabi ﷺ berkata ttg perjanjian tsb: “Saya telah menyaksikan di Rumah Abdullah bin Jad’an sebuah perjanjian yang lebih aku cintai daripada seekor unta brwarna merah. Seandainya saya diajak dalam perjanjian yg sama dalam Islam, maka saya akan bergabung.” ( Ibnu Hisyam 1/166 ada jga hadits yg semakna dengannya yg diriwayatkan oleh Ahmad 1655, dan al-Bukhari dalam al-adab al-mufrad 569)

3- Dinamakan perjanjian Fudhul karena mereka telah melakukan sesuatu yang utama (fadhl). (Lihat al-Bidayah wan Nihayah 2/322)
Dan disebutkan juga bahwa dinamakan sbgai perjanjian Fudhul karena dipelopori oleh 3 org pemuka kabilah, yg semuanya bernama Fadhl.

4- Rasulullah memuji perjanjian ini yg menjunjung keadilan, menunjukkan bahwa Beliau ﷺ datang mghadapi era jahiliyah tetapi tidak memusuhinya secara keseluruhan. Beliau tetap berlaku adil dan mengakui kebenaran yg ada pada mereka. Memberikan pelajaran kepada kita bgaimana kita harus bersikap adil dan menerima kebenaran sampai dari musuh skalipun, dan tidak menutup mata dengan kebaikan orang lain. (Lihat QS. Al-Maidah: 8)

5- Seorang Muslim adalah penyeru kpda kebaikan dan ia akan mendukung setiap yg mengajak kepada kebenaran. Setiap yg mengajak kpda kebenaran akan menjadi partner baginya. Ia tdak bisa hanya merasa cukup dgn apa yg ia lakukan sendiri kmudian mengabaikan apa yg telah dilakukan oleh orang lain.

WaLlohu Ta’ala A’lam.

Ustad Abu Abdirrazzaq Marzuki Umar, Lc. حفظه الله
Post a Comment