Sunday, 19 April 2015

27. a. Hukum Waris Menurut Islam

Hukum Waris

Disusun Oleh:
Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At Tuwaijry
Penerjemah :
Team Indonesia
Murajaah :
Abu Ziyad
علم الفرائض

محمدبنإبراهيمبنعبداالتويجري




Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah

1428 – 2007




Hukum Waris
(Kitab Faraidh)
Pada makalah ini insya Allah akan kami ketengahkan kepada para pembaca
yang budiman sebuah permasalahan yang sangat urgen untuk diketahui oleh setiap muslim, insya Allah akan kami tampilkan secara berseri tentang hukum pembagian waris dalam islam dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
· Pentingnya ilmu Faraidh
Ilmu Faraidh termasuk ilmu yang paling mulia, paling tinggi kedudukannya, paling besar ganjarannya, oleh karena pentingnya, bahkan sampai Allah sendiri yang menentukan bagian masing-masing, Allah menerangkan bagian masing-masing ahli waris, sebagian besar diterangkan dalam beberapa ayat yang jelas, karena harta dan pembagiannya merupakan sumber ketamakan bagi manusia, sebagian besar dari harta warisan adalah untuk pria dan wanita, besar dan kecil, mereka yang lemah dan kuat, sehingga tidak terdapat padanya kesempatan untuk berpendapat atau berbicara dengan hawa nafsu.
Oleh sebab itu Allah-lah yang langsung mengatur sendiri pembagian serta rincianya dalam Kitab-Nya, meratakannya di antara para ahli waris sesuai dengan keadilan serta maslahat yang Dia ketahui.

· Manusia memiliki dua keadaan: keadaan hidup dan keadaan mati, kebanyakan hukum yang ada dalam ilmu Faraidh berhubungan dengan mati, maka Faraidh bisa dikatakan setengah dari ilmu yang ada, seluruh orang pasti butuh kepadanya.
- Pada zaman Jahiliyyah dahulu, mereka hanya membagikan harta warisan untuk orang-orang dewasa tanpa memberikan kepada anak-anak, kepada laki-laki saja tidak kepada wanita, sedangkan Jahiliyyah pada zaman ini memberikan kepada para wanita apa-apa yang bukan hak mereka, baik kedudukan, pekerjaan, maupun harta, sehingga kerusakan semakin bertambah, sedangkan Islam telah berbuat adil kepada wanita dan memuliakannya, memberikan hak yang sesuai untuk mereka seperti yang lain.

- Ilmu Faraidh adalah: Ilmu yang menerangkan tentang siapa yang berhak mendapat warisan, dan siapa yang tidak berhak, dan juga berapa bagian setiap ahli waris.

- Pembahasannya : Seluruh peninggalan, yaitu apa yang ditinggalkan oleh Mayit baik itu berupa harta ataupun lainnya.

- Hasilnya : Memberikan seluruh hak kepada ahli waris yang berhak menerimanya.

- Faridhah : adalah bagian tertentu sesuai syari'at bagi setiap ahli waris, seperti: sepertiga, seperempat dan sebagainya.

- Hak-hak yang berhubungan dengan harta peninggalan ada lima, dilaksanakan secara berurutan jika semuanya ada, sebagaimana dibawah ini :
1- Dikeluarkan dari harta warisan untuk penyelesaian kebutuhan mayit, seperti kain kafan dan lainnya.
2- kemudian hak-hak yang berhubungan dengan barang yang ditinggalkan, seperti hutang dengan sebuah jaminan barang dan semisalnya.
3- Kemudian pelunasan hutang, baik itu yang berhubungan dengan Allah seperti zakat, kaffarat dan semisalnya, ataupun yang berhubungan dengan manusia.
4- Kemudian pelaksanakan wasiat.
5- kemudian pembagian warisan –dan inilah yang dimaksud dalam ilmu ini-

- Rukun waris ada tiga :
1- Yang mewariskan, yaitu mayit.
2- Yang mewarisi, yaitu orang yang masih hidup setelah meninggalnya yang
mewariskan.
3- Hak yang diwaris, yaitu harta peninggalan

- Sebab-sebab mendapat warisan ada tiga :
1- Nikah dengan akad yang sah, hanya dengan akad nikah maka suami bisa mendapat harta warisan istrinya dan istripun bisa mendapat warisan dari suaminya.
2- Nasab (keturunan), yaitu kerabat dari arah atas seperti kedua orang tua, keturunan seperti anak, ke arah samping seperti saudara, paman serta anak-anak mereka.
3- Perwalian, yaitu ashobah yang disebabkan kebaikan seseorang terhadap budaknya dengan menjadikannya merdeka, maka dia berhak untuk mendapatkan warisan jika tidak ada ashobah dari keturunannya atau tidak adanya ashab furudh.

Yang menghalangi warisan ada tiga :
1- Perbudakan : Seorang budak tidak bisa mewarisi dan tidak pula mendapat warisan, karena dia milik tuannya.
2- Membunuh tanpa alasan yang dibenarkan: Pembunuh tidak berhak untuk mendapat warisan dari orang yang dibunuhnya.
3- Perbedaan agama : seorang Muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafirpun tidak mewarisi orang Muslim. Dari Usamah bin Zaid t bahwa Nabi r bersabda :
" لا يرث المسلم الكافر ولا الكافر المسلم " متفق عليه
"Orang Muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafirpun tidak mewarisi orang Muslim" Muttafaq alaihi (Riwayat Bukhori nomer (6764) dan Muslim nomer (1614)).
- Seorang istri yang di ceraikan dengan talak raj'i masih saling mewarisi antara dia dengan suaminya selama masih dalam masa iddah.
- Seorang istri jika di cerai oleh suaminya dengan talak bain, jika suaminya dalam keadaan sehat, maka keduanya tidak saling mewarisi, sedangkan jika dalam keadaan sakit parah dan tidak ada sangkaan kalau dia menceraikan dengan tujuan agar istrinya tidak mendapat warisan, maka dalam keadaan seperti ini istrinya juga tidak berhak mendapat warisan, akan tetapi jika diperkirakan dia menceraikannya dengan tujuan agar istrinya tidak mendapat warisan, maka sesungguhnya dia berhak untuk mendapatkannya.


- Macam-macam waris :
1- Waris dengan fard (ketentuan) : yaitu ahli waris mendapat bagian tertentu, seperti: setengah, seperempat dan sebagainya.
2- Waris dengan Ta'shib: yaitu ahli waris mendapat bagian yang tidak ditentukan.
Furudh (bagian-bagian) yang terdapat dalam Al-Qur'an ada enam, yaitu: Setengah, Seperempat, Seperdelapan, Dua pertiga, Sepertiga, dan Seperenam. Adapun sepertiga dari sisa, ditetapkan oleh ijtihad.

Secara rinci Laki-laki yang berhak mendapat warisan ada lima belas, mereka adalah:
Putra, serta putranya (cucu) dan seterusnya dari anak laki-laki, ayah, serta kakek dan seterusnya dari orang tua laki-laki, saudara kandung, saudara seayah, saudara seibu, putra saudara kandung serta putra saudara seayah dan seterusnya dari anak laki-laki mereka, suami, paman kandung dan keatasnya, paman seayah dan keatasnya, putra paman kandung serta putra paman seayah dan anak mereka yang laki-laki, orang yang memerdekakan dan asobahnya.
Kerabat laki-laki selain dari mereka termasuk Dzawil Arham, seperti: saudara-saudara ibu (paman dari ibu), putra saudara seibu, paman seibu, putra paman seibu dan lainnya.

Secara rinci wanita yang berhak mendapat warisan ada sebelas,
mereka adalah:
Putri, putri dari anak laki-laki (cucu) dan seterusnya dari anak laki-laki, ibu, nenek dari ibu dan keatasnya dari ibu mereka, nenek (ibunya ayah) dan keatasnya dari ibu mereka, neneknya ayah, saudari kandung, saudari satu ayah, saudari satu ibu, istri, dan wanita yang memerdekakan budak.
Wanita selain dari mereka termasuk dari Dzawil Arham, seperti para saudari ibu (bibi) dan lainnya.
Allah berfirman:
"Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan" An-Nisaa: 7

1- ASHAB FURUDH
- Warisan ada dua macam: Fardhu dan Ta'shib, berkaitan dengan dua hal
tersebut, para ahli waris terbagi menjadi empat macam:
1- Ahli waris yang hanya mendapat dengan fardhu saja, mereka ada tujuh: ibu, saudara seibu, saudari seibu, nenek dari pihak ibu, nenek dari pihak ayah, suami, dan istri.
2- Ahli waris yang hanya mendapat dengan ta'shib saja, mereka ada duabelas: putra, cucu laki-laki dari putra dan keturunannya, saudara kandung, saudara seayah, putra saudara kandung serta putra saudara seayah dan keturunannya, paman kandung serta paman seayah dan ayah mereka, putra paman kandung serta putra paman seayah dan keturunannya, laki-laki yang memerdekakan dan wanita yang memerdekakan.
3- Ahli waris yang terkadang mendapat warisan dengan fardhu, terkadang dengan ta'shib dan terkadang dengan kedua-duanya, mereka ada dua yaitu:
ayah dan kakek, mereka mendapat bagian seperenam jika mayit memiliki keturunan, dan menjadi ashabah saja, jika mayit tidak memiliki keturunan, serta mewarisi dengan fardhu dan ta'shib apabila hanya ada keturunan wanita bagi mayit, jika tersisa lebih dari seperenam setelah diambil bagian ashabul furudh, contoh: seseorang meninggalkan (satu putri, ibu, dan ayah), maka warisan dibagi enam: untuk putri setengah, ibu seperenam, dan sisanya untuk ayah sebagai fardhu dan ta'shib.
4- Ahli waris yang terkadang mendapat warisan dengan fardhu, terkadang dengan ta'shib dan tidak mendapat warisan dengan keduanya, mereka ada empat: satu orang putri atau lebih, putri anak laki-laki (cucu) satu orang atau lebih dan yang dibawahnya dari anak laki-laki, saudari kandung satu orang atau lebih, dan saudari seayah satu orang atau lebih, mereka mendapat warisan dengan fardhu ketika tidak ada yang menjadikan mereka ashobah, yaitu saudara laki-laki mereka, jika ada saudara laki-laki maka mereka akan menjadi ashobah, seperti putra dengan putri, saudara dengan saudari, maka para putri serta saudari menjadi ashobah.
- Ashabul furudh ada sebelas orang, mereka adalah: suami, istri satu orang atau lebih, ibu, ayah, kakek, nenek satu orang atau lebih, anak perempuan, putri anak laki-laki (cucu wanita dari anak laki-laki), saudari kandung, saudari seayah, saudara seibu baik laki maupun wanita. Adapun warisan mereka seperti berikut ini:

1- Warisan Suami
1- Suami mendapat bagian setengah dari peninggalan istrinya jika si istri tidak memiliki keturunan, yang dimaksud keturunannya adalah: "anak-anaknya, baik itu putra maupun putri, cucu dari putranya sampai kebawah" adapun cucu dari putri mereka termasuk dari keturunan yang tidak mendapat waris.
2- Suami mendapat bagian seperempat dari peninggalan istrinya jika si istri
memiliki keturunan, baik itu keturunan darinya ataupun dari suami lain.
Allah berfirman:
"Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.." An-Nisaa: 12

2- Warisan Istri
1- Seorang istri mendapat seperempat dari peninggalan suaminya jika si suami tidak memiliki keturunan.
2- Istri mendapat warisan seperdelapan dari suami jika dia (suami) memiliki
keturunan, baik itu darinya ataupun dari istrinya yang lain.
- Jika istri lebih dari satu, maka bagian isteri yaitu seperempat atau seperdelapan, di bagi sama di antara mereka.
Allah berfirman:
"Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai ank, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu.." An-Nisaa: 12

3- Warisan Ibu
1- Ibu mendapat bagian warisan sepertiga dengan tiga syarat: Mayit tidak memiliki keturunan, tidak memiliki dua saudara atau lebih, baik laki-laki maupun wanita, serta permasalahannya tidak termasuk dari Umariyatain.
2- Ibu mendapat bagian seperenam: jika mayit memiliki keturunan, atau sejumlah saudara, baik laki-laki maupun wanita.
3- Ibu mendapat bagian sepertiga dari sisa harta dalam permasalahan Umariatain, dan disebut pula permasalahan Ghorowiatain, kedua permasalahan tersebut adalah apabila ahli waris terdiri dari:
1- istri, ibu dan ayah: harta warisan dibagi empat: untuk istri seperempat yaitu satu, untuk ibu sepertiga dari sisa harta yaitu satu, dan sisanya yang dua untuk ayah.
2- suami, ibu dan ayah: harta warisan dibagi enam: untuk suami setengah, yaitu tiga, untuk ibu sepertiga dari sisa yaitu satu dan sisanya yang dua lagi untuk ayah.
- Ibu diberi bagian sepertiga dari sisa harta; agar bagiannya tidak melebihi bagian ayah, padahal keduanya satu derajat bagi si mayit, dan agar bagian laki-laki dua kali lebih banyak dari wanita.
Allah berfirman:
"… Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (pembagian-pembagian tersebut diatas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.." (QS. An- Nisaa: 11)

4- Warisan Ayah
1- Ayah mendapat warisan seperenam secara fardhu dengan syarat adanya keturunan laki-laki bagi si mayit, seperti putra ataupun cucu dari putranya.
2- Ayah mendapat warisan sebagai ashobah jika si mayit tidak memiliki keturunan.
3- Ayah mendapat warisan dengan fardhu dan ta'shib sekaligus jika mayit mempunyai keturunan wanita, seperti: putrinya atau putri dari putranya (cucu), dalam keadaan ini ayah berhak mendapat seperenam sebagai fardhu dan juga mendapatkan sisa harta sebagai ashobah.
- Saudara-saudara kandung atau seayah ataupun seibu, seluruhnya terhalang (tidak mendapat waris) dengan keberadaan ayah atau kakek.

5- Warisan Kakek
- Kakek yang berhak mendapat warisan adalah yang tidak terdapat wanita di antara dirinya dengan mayit, seperti ayahnya ayah, dan bagiannya sama seperti bagian ayah, kecuali dalam permasalahan Umariatain, dalam masalah ini ibu mendapat sepertiga harta walaupun ada kakek, sedangkan ketika bersama ayah, ibu mendapat sepertiga dari sisa setelah diambil bagian suami atau istri, sebagaimana yang telah lalu.
1- Kakek mendapat warisan seperenam secara fardhu dengan dua syarat: adanya keturunan mayit, dan tidak adanya ayah.
2- Kakek mewarisi sebagai ashobah jika mayit tidak memiliki keturunan, dan tidak ada ayah.
3- Kakek mewarisi dengan fardhu dan ta'shib secara bersamaan, ketika ada
keturunan wanita bagi mayit, seperti putri dan putrinya putra (cucu).

6- Warisan Nenek
- Nenek yang berhak mendapat warisan adalah: ibunya ibu, ibunya ayah, ibunya kakek dan seterusnya dengan jalur wanita, dua orang dari ayah dan satu dari ibu.
- Seluruh nenek tidak mendapat warisan sama sekali jika ada ibu, sebagaimana pula tidak ada warisan sama sekali untuk kakek ketika ada ayah.
- Warisan yang didapat oleh satu orang nenek ataupun lebih adalah seperenam (mutlak) dengan syarat tidak ada ibu.

7- Warisan anak perempuan
1- Satu orang putri ataupun lebih mendapat warisan dengan ta'shib jika mereka mempunyai saudara laki-laki, yang laki-laki mendapat dua kali bagian wanita.
2- Seorang putri mendapat warisan setengah harta dengan syarat tidak ada muasshib baginya, yaitu saudara laki-lakinya, tidak ada yang bersamanya, yaitu saudarinya.
3- Dua orang putri ataupun lebih mendapat warisan dua pertiga, dengan syarat jumlah mereka dua orang atau lebih, dan tidak ada muasshib bagi mereka, yaitu saudara laki-laki mereka.
- Allah berfirman:
"Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta.. " (QS. An-Nisaa: 11)

8- Warisan cucu permpuan (dari anak laki-laki)
1- Satu orang cucu perempuan dari anak laki-laki ataupun lebih mendapat warisan sebagai ta'shib jika ia mempunyai saudara laki-laki yang sederajat dengannya, yaitu cucu laki-laki.
2- cucu perempuan (dari anak laki-laki) mendapat warisan setengah harta dengan syarat tidak ada muasshibnya, yaitu saudara laki-lakinya, tidak ada yang menyertainya, yaitu saudarinya yang lain, dan tidak ada keturunan mayit yang lebih tinggi derajatnya, seperti putra ataupun putri mayit.
3- Dua orang cucu perempuan (dari anak laki-laki) ataupun lebih mendapat
warisan dua pertiga dengan syarat jumlah mereka dua orang atau lebih, tidak ada muasshib bagi mereka, yaitu saudara laki-laki mereka, dan tidak ada keturunan yang derajatnya lebih tinggi dari mereka.
4- Satu orang cucu perempuan (dari anak laki-laki) atau lebih dari mendapat warisan seperenam dengan syarat tidak ada muasshib bagi mereka, yaitu saudara laki-laki mereka, tidak ada keturunan mayit yang lebih tinggi derajatnya darinya kecuali satu orang putri yang berhak mendapat setengah harta warisan, karena mereka tidak akan mengambil seperenam kecuali dengan keberadaannya, begitu pula hukumnya dengan putrinya cucu laki-laki bersama cucu perempuan dari anak laki-laki, dst.

9- Warisan Saudari Kandung
1- Seorang saudari kandung mendapat setengah dari harta warisan dengan syarat tidak ada yang menyertainya dari saudari lainnya, tidak ada muasshib, yaitu saudaranya, tidak ada ahli waris dari orang tua, yaitu ayah atau kakek si mayit, dan tidak ada keturunan.
2- Saudari kandung mendapat bagian dua pertiga, dengan syarat jumlah mereka dua orang atau lebih, mayit tidak memiliki keturunan, tidak ada ahli waris dari orang tua laki-laki, tidak ada muasshib, yaitu saudara mereka.
3- Saudari kandung, baik satu orang atau lebih akan menjadi ashobah jika ada yang menjadikan mereka ashobah, yaitu saudara laki-laki, dengan pembagian laki-laki mendapat dua kali bagian wanita. atau ketika mereka bersama keturunan mayit yang wanita seperti putri mayit.
Allah berfirman:
"Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal.." (QS. An-Nisaa: 176)

10- Warisan Saudari sebapak
1- Saudari seayah mendapat bagian setengah harta dengan syarat tidak ada
saudari lain bersamanya, tidak ada muasshib, yaitu saudara laki-lakinya, tidak ada orang tua laki-laki yang mewarisi, tidak ada keturunan mayit, dan tidak ada saudara kandung, baik laki-laki maupun wanita.
2- Saudari satu ayah mendapat dua pertiga bagian dengan syarat jumlah mereka dua orang atau lebih, tidak ada muasshib, yaitu saudara laki-laki mereka, tidak ada orang tua laki-laki yang mewarisi, tidak ada keturunan, dan tidak ada saudara kandung, baik laki-laki maupun wanita.
3- Saudari seayah, satu orang atau lebih mendapat bagian seperenam dengan syarat adanya seorang saudari kandung mayit yang mendapat bagian setengah dengan fardhu, tidak ada muasshib baginya, tidak ada keturunan mayit, tidak ada orang tua laki-laki yang mewarisi, dan tidak ada saudara kandung, baik itu satu orang ataupun lebih.
4- Saudari seayah satu orang atau lebih mendapat warisan dengan ta'shib jika ada bersama mereka muasshibnya, yaitu saudara laki-laki mereka, maka pembagiannya untuk satu orang laki-laki sama dengan dua orang wanita, atau mungkin juga jika mereka ada bersama keturunan mayit yang wanita, seperti putri mayit.

11- Warisan Saudara Seibu
- Saudara seibu tidak dibedakan antara laki-laki dan wanita, yang laki-laki dari mereka tidak menjadikan wanitanya ashabah, namun mereka mendapat bagian dengan merata (sama).
1- Saudara seibu, baik laki-laki maupun wanita mendapat bagian seperenam dengan syarat yang meninggal tidak memiliki keturunan, tidak ada orang tua lakilaki yang mewarisi, dan dia hanya satu orang.
2- Saudara seibu, baik itu laki-laki ataupun wanita mendapat bagian sepertiga dengan syarat jumlah mereka lebih dari satu orang, yang meninggal tidak memiliki keturunan, dan tidak ada ahli waris dari orang tua laki-laki.
Allah berfirman
"Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun" An- Nisaa: 12

1-Permasalahan Ahlul Furudh
Permasalahan Faraidh berdasarkan bagian-bagia mereka masing-masing terbagi menjadi tiga:
1- Apabila bagian-bagian yang ada sama dengan asli masalah, yang demikian dinamakan al-adilah Contoh: suami dan saudari, masalahnya dari dua, untuk suami setengah, yaitu satu dan untuk saudari juga setengah, yaitu satu.
2- Apabila bagian yang ada didalamnya lebih sedikit dari asli masalah, yang seperti ini dinamakan an-naqisoh, apa yang tersisa darinya diberikan kepada ashabul furudh selain dari suami istri, apabila ashabul furudh tidak menghabiskan harta peninggalan dan tidak ada Ashabah, maka mereka lebih berhak atas pembagian dan mengambil sesuai dengan bagian masing-masing. Contoh: istri dan putri, asal masalah dari delapan, untuk istri seperdelapan: satu, dan untuk putri tujuh, sebagai fardhu dan bagian sisa.
3- Apabila bagian yang ada lebih banyak dari asli masalah, yang seperti ini
dinamakan aailah Contoh: suami dan dua orang saudari (bukan satu ibu), jika suami diberi setengah, maka tidak akan cukup bagian untuk kedua orang saudari tersebut, yaitu dua pertiga, maka asli masalah yang enam dirubah menjadi tujuh, untuk suami setengah, yaitu tiga, dan untuk kedua saudari dua pertiga, yaitu empat, sehingga kekurangan mencakup seluruhnya, sesuai dengan bagian masing-masing.



2- Ashabah
* Ashabah adalah ahli waris yang mendapat warisan dengan tidak ditentukan.
* Ashabah terbagi menjadi dua: 1- Ashabah karena nasab 2- Ashabah karena sebab.

1-Ashabah karena nasab terbagi menjadi tiga macam:
1- Ashabah binnafsi
Mereka adalah seluruh ahli waris laki-laki kecuali (suami, saudara seibu, orang yang memerdekakan budak), mereka adalah: putra, cucu (putranya putra) dan seterusnya ke bawah, ayah, kakek dan seterusnya ke atas, saudara kandung, saudara seayah, putra saudara kandung dan seterusnya kebawah, putra saudara seayah dan seterusnya kebawah, paman kandung, paman seayah, putra paman kandung dan seterusnya ke bawah, putra paman seayah dan seterusnya ke bawah.
* Jika yang ada diantara mereka hanya satu orang, maka dia mendapat seluruh harta, dan jika berkumpul dengan ashabul furudh, dia mengambil apa yang tersisa setelah ashabul furudh, dan jika tidak harta warisan tidak tersisa setelah ashabul furudh mengambil bagiannya, maka dia tidak mendapat apa-apa.
* Sebagian ashabah hubungannya dengan mayit lebih dekat dibandingkan dengan yang lain, mereka tediri dari lima tingkatan, dengan urutan sebagai berikut: keturunan (anak dan keturunannya), kemudian orang tua (ayah dan seterusnya ke atas), kemudian saudara (saudara dan keturunannya), kemudian paman (paman dan keturunannya), kemudian wala' (perwalian/yang memerdekakan).
* Jika ada dua Ashabah atau lebih, maka akan ada beberapa kemungkinan:
1- Pertama: Jika keduanya sama dalam jalur, derajat, dan kekuatan, seperti dua orang putra, dua orang saudara, atau dua orang paman, dalam hal seperti ini, keduanya mendapat bagian harta sama.
2- Kedua: Jika keduanya sama dalam jalur dan derajatnya, akan tetapi berbeda dalam kekuatannya, seperti jika ada paman kandung dan paman seayah, maka yang lebih kuat dikedepankan, oleh karenanya yang mendapat warisan adalah paman kandung , sedangkan paman seayah tidak.
3- Ketiga: Jika keduanya sama dalam jalur, akan tetapi berbeda dalam derajatnya, seperti adanya putra dan cucu (dari anak laki-laki), maka yang dikedepankan adalah yang lebih dekat derajatnya, sehingga harta peninggalan hanya diperoleh oleh putra.
4- Keempat: Jika keduanya berbeda jalur, maka yang jalurnya lebih dekat didahulukan dalam warisan, walaupun derajatnya lebih jauh, atas yang jalurnya lebih jauh walaupun derajatnya lebih dekat, maka cucu (dari anak laki-laki) didahulukan dari ayah.

2- Ashabah bilghoir
Mereka ada empat: Satu orang putri atau lebih dengan satu orang putra atau lebih, satu orang cucu perempuan (dari anak laki-laki) atau lebih dengan satu orang cucu laki-laki (dari anak laki-laki) atau lebih, satu orang saudari kandung atau lebih dengan satu orang saudara kandung atau lebih, satu orang saudari seayah atau lebih dengan satu orang saudara seayah atau lebih. Pembagian waris diantara mereka adalah bagian satu orang laki-laki sama dengan bagian dua orang perempuan, dan mereka mendapat apa yang tersisa setelah ashabul furudh mengambil bagiannya, dan jika tidak tersisa setelah ashabul furudh mengambil bagiannya, maka mereka tidak mendapat apa-apa.

3- Ashabah ma'alghoir
Mereka ada dua kelompok:
Pertama: Satu orang saudari kandung atau lebih, bersama satu orang putri atau lebih, atau bersama satu orang cucu perempuan (dari anak laki-laki) atau lebih, atau bersama keduanya,
Kedua: satu orang saudari seayah atau lebih, bersama satu orang putri atau lebih, atau bersama satu orang cucu perempuan (dari anak laki-laki) atau lebih, atau bersama keduanya. Jadi, jika saudari bersama anak perempuan atau cucu perempuan (dari anak laki-laki) sampai seterusnya ke bawah, maka ia menjadi ashabah, mereka mendapat apa yang tersisa setelah ashabul furudh mengambil bagiannya, dan jika tidak ada sisa, maka mereka tidak mendapat apa-apa.

2- Ashabah karena sebab:
Mereka adalah laki-laki atau perempuan yang memerdekakan budak, dan masin-masing mereka menjadi ashabah binnafsi.
1- Allah berfirman
"Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu" An-Nisaa: 176
2- Dari Ibnu Abbas t dia berkata: telah bersabda Rosulullah r:
" ألحقوا الفرائض بأهلها فما بقي فهو لأولى رجل ذكر " متفق عليه

"Berikanlah harta peninggalan kepada orang yang berhak menerimanya, dan apa yang masih tersisa berikanlah kepada yang lebih berhak dari golongan laki-laki" H.R Bukhori (Riwayat Bukhori nomor (6732) dan Muslim nomor (1615)).


Post a Comment