Sunday, 26 April 2015

Membaca Qur’an Tanpa Mengetahui Artinya

Membaca Qur’an Tanpa Mengetahui Artinya

Ada seorang “muballigh modern” mengatakan di atas podium, bahwa membaca Qur’an tanpa mengetahui artinya tidak berpahala.
Benarkah pendapat muballigh tersebut?

Jawab :

Tidak benar !
Membaca Qur’an tanpa mengetahui artinya berpahala dan pahalanya itu besar. Membaca Qur’an dengan mengetahui artinya pahalanya lebih besar lagi.
Dalil-dalil atas pendapat ini adalah :

Kesatu :
Tersebut dalam Hadits Tirmidzi :

Artinya : “Dari Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata : Berkata Rasulullah SAW. : Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Qur’an maka ia dapat 1 pahala dan pahala itu akan di ganda 10 kali lipat. Saya tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, mim satu huruf”. (Hadits di rawikan oleh Imam Tirmidzi – Lihat Sahih Tirmidzi Juz XI halaman 34).
Jelas bahwa membaca satu alif saja dapat pahala, sedang alif itu tidak ada artinya atau kita tidak tahu artinya.
Alif yang di katakan Nabi Berpahala membacanya ialah alif yang ada dalam kalimat  

yang termaktub dalam Qur’an suci pada permulaan Surat Al Baqarah.
Kata itu terdiri atas tiga huruf, yaitu alif, lam, mim. Kalau di baca, kata Nabi, maka si pembaca mendapat pahala, dan pahala itu di lipat sepuluh, sehingga menjadi 10 kali.
Si pembaca mendapat pahala, kata Nabi. Beliau tidak mensyaratkan, bahwa bacaan itu mesti dengan tahu maknanya.
Tentang pahala di lipat sepuluh ini di terangkan Tuhan dalam satu ayat di Surat Al An’am, ayat ke-160 yang berbunyi sebagai berikut :

Artinya : “Barangsiapa membuat satu kebaikan maka baginya disediakan pahala 10 kali lipat, tetapi kalau seseorang membuat satu kejahatan maka dosanya hanya satu saja, sama banyak dengan perbuatannya. Tuhan tidak akan menganiaya ummat”. (Al An’am : 160).
Tuhan yang Maha Pemurah itu menyediakan pahala 10 kali lipat untuk satu amal kebaikan, dan untuk amal jahat hanya di sediakan satu hukuman. Hal ini berlaku untuk seluruh amal yang baik, bukan untuk membaca Qur’an saja.

Kedua :
Tersebut dalam Hadits Tirmidzi juga :

Artinya : “Dari Abu Hurairah, beliau berkata : Bersabda Rasulullah SAW. : Barangsiapa membaca

sampai kepada ayat


dan ayat kursi pada waktu Subuh ia akan di pelihara Tuhan sampai sore, dan kalau di baca petang hari ia akan di pelihara Tuhan sampai subuh”. (H.R. Tirmidzi – Sahih Tirmidzi Juz XI halaman 10 dan 11)
Terang membaca Surat “Hamim Almu’mina” bukan saja ada pahalanya, tetapi juga ada fadlilahnya, yaitu di pelihara Tuhan sehari-harinya.
Sebagai di maklumi oleh sekalian orang mukmin, bahwa Surat “Hamim Almu’mina” di mulai dengan perkataan

Menurut pendapat banyak sahabat Nabi, bahwa kata “Hamim” dan lain-lain serupa yang terletak di permulaan 29 surat adalah ayat-ayat yang di rahasiakan artinya oleh Tuhan, sehingga tidak di ketahui oleh manusia.
Tetapi kalau di baca walaupun tidak tahu artinya, berfaedah dan dapat pahala juga, sebagai yang di terangkan dalam Hadits Abu Hurairah ini.

Ketiga :

Artinya : “Dari Siti ‘Aisyah, beliau berkata : Bersabda Rasulullah SAW. : Orang yang mahir membaca Qur’an akan di tempatkan di akhirat bersama-sama dengan malaikat-malaikat, dan orang yang sulit baginya membaca dan tersendat-sendat, maka orang akan dapat dua pahala”. (Hadits Muslim – Sahih Muslim Juz I halaman 319)
Hadits ini di rawikan juga oleh Imam Tirmudzi pada Juz XI di halaman 29 dalam kitab Sahihnya.
Dalam mensyarah hadits ini, Imam Ibnul ‘Arabi al Maliki mengatakan, bahwa yang di maksud dengan ‘mahir’ ialah orang yang alim, yang tahu arti dan maksud ayat Qur’an. Kalau mereka membaca akan di beri pahala dan kedudukan sama dengan malaikat, tetapi orang yang ‘sulit’ baginya membaca Qur’an, karena belum tahu cara membacanya dan artinya, maka ia di beri juga 2 pahala.

Keempat :
Imam Zarkasyi, pengarang kitab “Al Burhan fi Ulumil Qur’an” mengatakan secara qiyas atau secara perbandingan begini :

Artinya : “Dan juga sebagaimana kita boleh beribadat kepada Tuhan dengan ‘perbuatan’ yang kita tidak tahu artinya, maka kenapa tidak boleh beribadah dengan ‘perkataan’ yang kita tidak tahu artinya? Satu kali kita tahu arti kata yang di sebut, dan di kali lain kita tahu artinya: dan sengaja di sini adalah semata-mata memperlihatkan pengikutan kepada Tuhan. (Al Burhan Juz I halaman 173).
Maksud Imam Zarkasyi dengan perkataannya ini ialah, bahwa kita boleh beribadat kepada Tuhan dengan ‘bacaan’ yang kita tidak tahu artinya, sebagaimana kita boleh beribadat dengan ‘perbuatan’ yang kita tidak tahu arti dan maksudnya.
Umpamanya ruku’ dalam sembahyang apa artinya, sujud apa artinya, thawaf keliling Ka’bah apa artinya, sa’i antara Safa dan Marwa apa artinya, wukuf di ‘Arafah apa artinya?
Semuanya kita tidak tahu artinya yang sebenarnya, tetapi karena kita di perintah oleh Tuhan mengerjakan begitu, ya kita kerjakan, habis perkara.
Kesimpulan :
Dari dalil-dalil yang tersebut dapat di ambil kesimpulan :
1.       Membaca Al Qur’an itu berpahala besar, walaupun kita tidak mengetahui artinya. Membaca Al Qur’an dengan mengetahui artinya lebih besar pahalanya.
2.       Di dalam Al Qur’an ada ayat-ayat yang kita tidak mengetahui sama sekali apa arti dan maksudnya, tetapi kalau di baca kita mendapat pahala juga.

Sumber :
Kumpulan Soal Jawab Keagamaan – K.H. Siradjuddin ‘Abbas (halaman 23-27).


Mendengarkah Mayat dalam Kubur?

Mendengarkah Mayat dalam Kubur?
Jawab :
Ya, tahu dan mendengar.
Dalil-dalilnya adalah :
Kesatu :
Tersebut dalam kitab Hadits Abu Daud begini :

Artinya : “ Bahwasanya Nabi Muhammad SAW. berkata : Tiadalah seorang muslim, memberi salamnya, Allah mengembalikan ruhku sehingga aku menjawab salamnya”. (Hadits Riwayat Sunan Abu Daud Juz II, halaman 218).
Ini adalah keterangan jelas (nash) bahwa Rasulullah SAW. dalam kubur mendengar salam yang di ucapkan orang kepada beliau dan menjawab salam itu.

Kedua :
Tersebut dalam kitab Hadits begini :

Artinya : “Dari Anas bin Malik Rda. beliau berkata : Bahwasanya Rasulullah SAW. membiarkan mayat orang kafir yang terbunuh dalam peperangan Badar selama 3 hari, kemudian beliau datang kepada mereka di Badar. Beliau berdiri sambil memanggil mereka : Hai Abu Jahil bin Hisyam, hai Umayyah bin Khalaf, hai ‘Utsbah bin Rabi’a, hai Syaibah bin Rabi’ah! Apakah tidak benar janji Tuhan yang di janjikan kepadamu? (kekalahan dan terbunuh). Adapun aku telah menerima apa yang di janjikan Tuhan kepadaku (kemenangan). Setelah Saidina ‘Umar bin Khathab mendengar ucapan ini dan beliau kelihatan bercakap-cakap dengan orang yang mati, lalu bertanya : Hai Rasulullah, bagaimana mereka bisa mendengar dan bagaimana mereka bisa menjawab pertanyaan itu padahal mereka sudah menjadi bangkai tak bernyawa lagi? Jawab Rasulullah kepada Saidina Umar : Demi Tuhan yang memegang jiwaku, mereka mendengar suaraku lebih dari kamu mendengarku, tetapi mereka tak bisa menjawabnya”. (H.S.R. Imam Bukhari dan Muslim. Lafaz ini adalah sebagai yang tersebut dalam kitab Muslim – Syarah Muslim Juz XVII halmn 206-207).
Jelas, Nabi mengatakan bahwa orang yang telah mati itu bisa mendengar, dan bahkan pendengarannya lebih tajam dari pendengaran kita yang hidup.
Barangsiapa ber’itiqad bahwa mayat dalam kubur tidak bisa mendengar lagi, maka kepercayaannya itu bertentangan dengan hadits Nabi yang sahih ini.

Ketiga :
Tersebut dalam kitab Hadits :

Artinya : “Dari Ummilmu’miniin Siti Aisyah Rda. berkata Rasulullah SAW. : Bahwasanya Tuhanmu menyuruhmu supaya datang ke Baqi’ (pekuburan orang Madinah ketika itu), maka engkau minta ampunkan kepada Tuhan orang-orang yang dalam perkuburan Baqi’ itu.
Bertanya Siti ‘Aisyah Rda. kepada Nabi : Apakah yang akan saya ucapkan di sana Ya Rasulullah? Nabi menjawab : Ucapkanlah di sana : Salam atasmu penduduk kubur ini, mu’mininnya dan musliminnya, dan mudah-mudahan Tuhan mengasihi orang terdahulu wafat dan orang yang terkemudian wafat, dan kami Insya’ Allah akan mengikuti kamu”. (H.S.R. Imam Muslim – lihat Syarah Muslim Juz VII halaman 44).
Terang dalam hadits ini, bahwa Nabi Muhammad SAW. menyuruh ummatnya berziarah ke kubur, dan ketika sampai di situ mengucapkan salam kepada penduduk kubur.
Ini satu dalil yang kuat, bahwa ahli kubur itu mendengar salam sekalian orang berziarah.
Andaikata mereka tidak mendengar lagi, kenapa Nabi kita menyuruh umatnya mengucapkan salam dan bercakap dengan mereka mengatakan bahwa peziarah ini akan menyusul juga ke situ?
Nabi tidak akan menyuruh ummatnya mengerjakan sesuatu yang tidak berguna.
Berkata Ibnul Qayim al Jauzi, murid Taimiyah (wafat : 751 H), dalam kitab “Ar Ruh” : “Ini adalah ucapan yang biasa di lakukan kepada orang yang mendengar dan berakal. Kalau tidak begitu, tentu ucapan ini sama dengan orang bercakap dengan batu atau benda-benda yang beku.
Ya, Nabi tentu tidak akan menyuruh ummatnya bercakap dengan batu!
Lalu Ibnul Qayim meneruskan ucapannya : Orang-orang Salaf sepakat (Ijma’) bahwa mayat dalam kubur mendengar kedatangan orang yang berziarah, karena hadits-hadits banyak yang menyatakan begitu (Kitab Ar Ruh halaman 5).
Caranya merekamendengar, kita serahkan saja kepada Allah, Tuhan dapat memperbuat segala-galanya.

Sumber :
Kumpulan Soal Jawab Keagamaan – K.H. Siradjuddin ‘Abbas (halaman 86-89).


Bolehkah Menjual Anjing

Bolehkah Menjual Anjing

Jawab :
Terlarang karena anjing itu najis. Sekalian benda najis tidak boleh di jual.
Dalam hal ini terdapat banyak hadits.

Kesatu :
Tersebut dalam hadits Muslim :

“Dari Abi Mas’ud an Anshari, beliau berkata : Bahwasanya Rasulullah SAW. melarang menerima harga anjing, mahar bogat (uang yang diterima karen melacur) dan uang tenung”. (H.R. Muslim – Sahih Muslim I, halaman 684).
Hadits ini di rawikan juga oleh Nisai – (lihat Sunan Nisai VII halaman 309). Jadi haramlah menjual anjing dan menerima uang harga anjing.
Ini adalah sindiran dari larangan : “Kalau ada orang minta harga anjing beri saja tanah”, kata Nabi kita.

Kedua :
Tersebut dalam hadits Abu Daud :

“Dari Ibnu Abbas, beliau berkata : Rasulullah SAW. melarang menerima harga anjing. Kalau ada orang yang menuntut harga anjing maka isikanlah ke tangannya tanah”. (H.R. Abu Daud – Sunan Abi Daud III, halaman 279 dan hadits ini di rawikan juga oleh Baihaqi dalam Sunan Al Kubra, Juz VI, halaman 6).

Ketiga :
Tersebut dalam Hadits Hakim :

“Dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad SAW. beliau berkata : Tidak halal “mahar” zina dan juga tidak halal harga anjing”. (H.R. Hakim – Mustadrak II, halaman 33).

Sumber :

Kumpulan Soal Jawab Keagamaan – K.H. Siradjuddin ‘Abbas (halaman 233-234).

Monday, 20 April 2015

Ala Beciking Sasi Kanggo Ijabing Panganten



Sura                       = Tukar padu, nemu kerusakan (aja di terak)
Sapar                     = Kekurangan, sugih utang (kena di terak)
Mulud                   = Mati salah siji (aja di terak)
Rabingulakir       = Tansah di catur lan nemu ujar ala (kena di terak)
Jumadil Awal      = Kerep kelangan, kapusan, sugih satru (Kena di terak)
Jumadil Akir        = Sugih mas salaka
Rejeb                    = Sugih anak lan slamet
Ruwah                  = Rahayu ing sakabehe
Pasa                       = Silaka gedhe (Aja di terak)
Sawal                    = Kekurangan, sugih utang (Kena di terak)
Dulkangidah       = Gering, kerep pasulayan lan mitra (Aja di terak)

Besar                     = Sugih, nemu suka harja


Katrangan : Kang becik kanggo ijabing panganten yaiku sasi Jumadilakir, Rejeb, Ruwah lan Besar, samono iku yen sajrone sasi-sasi mau ana dinane Slasa Kliwon, luwih becik maneh yen ing sasi iku uga ana dinane Jumuah Kliwon. Dene yen ora ana dinane Slasa Kliwon sasi-sasi mau banjur kapetung sasi kang ala lan ora kena kanggo ijabing panganten. Yen perlu, aluwung nerak nganggo sasi-sasi kang kurang becik yaiku : Sapar, Rabingulakir, Jumadilawal utawa Sawal, nanging yen sasi-sasi mau ana dinane Slasa Kliwon, sukur bage kajaba ana dinane Slasa Kliwon, uga ana dinane Jumuah Kliwon, iku kang luwih becik banget.

Dina-Dina Ala




Dina Ala
Ora kena kanggo lelungan lan liya-liyane
1.       Akad Paing
2.       Setu Pon
3.       Jumuah Wage
4.       Selasa Kliwon
5.       Senen Legi
6.       Kemis Wage


Dina Ala Banget
Ora kena kanggo lelungan lan liya-liyane
1.       Rebo Legi
2.       Akad Paing
3.       Kemis Pon
4.       Selasa Wage

5.       Setu Kliwon

Neptu Dina Pasaran, Sasi lan Tahun

Dina
Akad                      -neptu-                               5
Senen                   -neptu-                                4
Selasa                   -neptu-                                3
Rebo                     -neptu-                                7
Kemis                    -neptu-                               8
Jumuah                                -neptu-                                6
Setu                       -neptu-                                9

Pasaran
Kliwon                  -neptu-                                8
Legi                        -neptu-                                5
Pahing                  -neptu-                                9
Pon                        -neptu-                                7
Wage                    -neptu-                                4

Sasi
Sura                       -neptu-                                7
Sapar                     -neptu-                                2
Rabingulawal     -neptu-                                3
Rabingulakir       -neptu-                                5
Jumadilawal       -neptu-                                6
Jumadilakir         -neptu-                                1
Rejeb                    -neptu-                                2
Ruwah                  -neptu-                                4
Pasa                       -neptu-                                5
Sawal                    -neptu-                                7
Dulkidah              -neptu-                                1
Besar                     -neptu-                                3

Tahun
Alip                        -neptu-                                1
Ehe                        -neptu-                                5
Jimawal                                -neptu-                                3
Je                            -neptu-                                7
Dal                          -neptu-                                4
Be                           -neptu-                                2
Wawu                   -neptu-                                6

Jimakir                  -neptu-                                3

Sunday, 19 April 2015

27. b. Hukum Waris Menurut Islam



3- Al-Hajb (Yang Menghalangi Waris)
* Al-Hajb: adalah mencegah orang yang berhak mendapat warisan dari warisan
secara keseluruhan, atau dari salah satu bagiannya yang terbesar.
* Al-Hajb termasuk salah satu bab terpenting dalam Faraidh, dan siapa yang tidak mengetahuinya maka bisa jadi ia tidak memberikan hak orang yang berhak mendapatkannya, atau memberi yang tidak berhak mendapatkannya, dan kedua hal ini merupakan dosa dan kezaliman.
- Jika seluruh ahli waris ada, maka ada tiga kemungkinan:
1- Jika seluruh ahli waris laki-laki ada, maka yang mendapat warisan diantara mereka hanya tiga, yaitu: Ayah, anak laki-laki, dan Suami.
KPKnya adalah duabelas: untuk ayah seperenam yaitu dua, untuk suami seperempat yaitu tiga, dan sisanya tujuh untuk anak laki-laki sebagai Ashabah.
2- Jika seluruh ahli waris wanita ada, maka yang mendapat warisan diantara mereka hanyalah lima: anak-perempuan, Cucu perempuan (dari anak laki-laki), Ibu, Istri, Saudari kandung, selain mereka tidak mendapat bagian.
KPKnya adalah duapuluh empat: untuk istri seperdelapan yaitu tiga, untuk ibu seperenam yaitu empat, untuk putri setengah yaitu duabelas, cucu seperenam yaitu empat, sisanya satu untuk saudari kandung sebagai Ashabah.
3- Jika seluruh ahli waris laki-laki dan wanita ada, maka yang mendapatkan warisan diantara mereka hanyalah lima, yaitu: Ibu, Ayah, anak laki-laki, anak perempuan, dan salah satu Suami atau Istri.
a. Jika bersama mereka ada istri, maka KPKnya adalah duapuluh empat: untuk ayah seperenam yaitu empat, untuk ibu seperenam yaitu empat, untuk istri seperdelapan yaitu tiga, dan sisanya untuk putra dan putri sebagai Ashabah, laki-laki mendapat dua kali bagian wanita.
2- Jika bersama mereka ada suami, maka KPKnya adalah duabelas: untuk ayah seperenam yaitu dua, untuk ibu seperenam yaitu dua, untuk suami seperempat yaitu tiga, dan sisanya untuk putra dan putri sebagai Ashabah, laki-laki mendapat dua kali bagian wanita.

Macam-Macam Al-Hajb
* Al-Hajb terbagi menjadi dua bagian:
1- Al-Hajb bil-wasf (dengan sifat): yaitu ahli waris yang menyandang salah satu sifat yang menghalangi warisan, yaitu : perbudakan, pembunuhan, atau perbedaan agama, dan sifat ini bisa mengenai seluruh ahli waris, siapa yang saja yang menyandang salah satu dari sifat tersebut, maka keberadaannya seperti tidak ada.
2- Al-Hajb bissyakhsi (dengan orang): -inilah yang dimaksud di sini- yaitu jika sebagian dari ahli waris terhalangi oleh ahli waris lainnya, bagian ini terbagi menjadi dua: Hajb Nuqson (kurang) dan Hajb Hirman (terhalang), penjelasannya sebagai berikut:

1- Hajb Nuqson: Yaitu menghalangi seseorang dari bagian terbesarnya, bagian yang dia dapat akan berkurang disebabkan ada yang menghalanginya.
Permasalahan ini terbagi tujuh: empat intiqol (peralihan) dan tiga izdiham (berdesak-desakan), adapun intiqol:
1- Beralihnya orang yang mahjub (terhalang) dari suatu bagian kepada bagian yang lebih sedikit, mereka ada lima: suami-istri, ibu, cucu perempuan (dari anak lakilaki), dan saudari seayah. contohnya adalah seperti beralihnya bagian suami dari seperempat menjadi seperdelapan.
2- Beralih dari Ashabah kepada fardhu yang lebih sedikit bagiannya, ini khusus hanya dalam permasalahan ayah dan kakek saja.
3- Beralih dari fardhu kepada Ashabah yang bagiannya lebih kecil, ini berkaitan dengan mereka yang mendapat bagian setengah, yaitu: anak perempuan, cucu perempuan (dari anak laki-laki), saudari kandung dan saudari seayah, hal ini terjadi jika masing-msing dari mereka bersama saudaranya yang laki-laki.
4- Beralih dari Ashabah kepada Ashabah yang lebih sedikit bagiannya, ini berhubungan dengan Ashabah ma'alghoir, Jadi, saudari kandung ataupun saudari seayah jika bersama anak perempuan atau cucu perempuan (dari anak laki-laki) mendpat sisa yaitu setengah, jika ia bersama saudara laki-lakinya, maka sisanya yaitu setengah dibagi dua antara dia dan saudaranya, laki-laki mendapat dua kali bagian perempuan.
5- Adapun izdiham, ia terjadi dalam fardhu, dan ini terjadi pada tujuh orang ahli waris, mereka adalah: kakek, istri, sejumlah anak perempuan dan cucu perempuan (dari anak laki-laki), beberapa orang saudari kandung, beberapa orang saudari seayah, dan beberapa orang saudara seibu.
6- Izdiham dalam Ashabah: ini terjadi pada mereka yang menjadi penyebab Ashabah, seperti anak laki-laki, saudara, paman dan semisalnya.
7- Izdiham dalam Aul: ini akan terjadi pada ashabul furudh jika mereka saling berdesakan.

2- Hajb Hirman: yaitu Seseorang menggugurkan orang lain dari warisan secara keseluruhan, ini terjadi pada seluruh ahli waris kecuali enam: ayah, ibu, suami, istri, anak laki-laki dan anak perempuan.
- Beberapa kaidah dalam hajb hirman bissyahsi:
1- Semua ahli waris dari orang tua, menghalangi yang di atasnya jika mereka satu jenis, oleh karena itu ayah menghalangi kakek dan ibu menghalangi nenek, begitulah seterusnya.
2- Semua ahli waris dari keturunan laki-laki menghalangi yang dibawahnya, baik dari jenisnya maupun tidak, maka anak laki-laki menghalangi cucu laki-laki dan cucu perempuan, sedangkan keturunan wanita, dia tidak menghalangi kecuali yang berada dibawahnya jika mengambil bagian duapertiga, maka terhalang seluruh wanita yang berada dibawahnya, kecuali jika menjadi Ashabah bersama saudara laki-lakinya, maka mereka mendapat sisa dengan ashabah.
3- Semua ahli waris baik orang tua maupun keturunan, menghalangi seluruh hawasyi (arah samping), baik itu laki-laki maupun wanita, tanpa terkecuali.
Adapun hawasyi: mereka adalah seluruh saudara laki-laki dan perempuan, baik saudara kandung ataupun sayah beserta keturunan mereka yang laki-laki, saudara seibu, paman, baik kandung ataupun seayah beserta keturunan laki-laki mereka.
Adapun wanita, baik itu orang tua ataupun keturunan, mereka tidaklah menghalangi hawasyi kecuali keturunan perempuan, mereka adalah: anak perempuan, dan cucu perempuan (dari anak laki-laki), mereka menghalangi saudara seibu.
4- Hawasyi, antara sesama mereka, semua yang mendapat warisan dengan Ashabah maka dia akan menghalangi siapa saja yang berada dibawahnya, baik itu dari segi jalur, kedekatan ataupun kekuatan.
Saudara seayah terhalang oleh saudara kandung dan saudari kandung yang menjadi Ashabah ma'alghoir. Putra saudara kandung terhalang oleh keberadaan saudara kandung, saudari kandung yang menjadi Ashabah ma'alghoir, saudara seayah, dan saudari seayah yang menjadi Ashabah ma'alghoir. Putra saudara seayah terhalang oleh empat kelompok diatas dan oleh putra saudara kandung. Paman kandung terhalang oleh lima kelompok diatas dan oleh putra saudara seayah. Paman seayah terhalang oleh enam kelompok diatas dan oleh paman kandung. Putra paman kandung terhalang oleh tujuh kelompok diatas dan oleh paman seayah. Putra paman seayah terhalang oleh delapan kelompok diatas dan oleh putra paman kandung. Adapun saudara-saudara seibu mereka terhalang oleh keturunan serta orang tua laki-laki yang menjadi ahli waris.
5- Orang tua tidak ada yang menghalangi mereka kecuali orang tua juga, keturunanpun tidak bisa dihalangi kecuali oleh keturunan pula, sebagaimana yang telah lalu, sedangkan hawasyi akan terhalang oleh orang tua, keturunan dan hawasyi lainnya –sebagaimana yang telah lalu-. 6- Berdasarkan hajb hirman, ahli waris terbagi menjadi empat macam:
Pertama, bisa menghalangi namun tidak bisa dihalangi, mereka adalah kedua orang tua serta putra dan putri. Kedua, bisa dihalangi tapi tidak bisa menghalangi, mereka adalah: saudara-saudara seibu. Ketiga, tidak bisa menghalangi dan tidak bisa dihalangi, mereka adalah: suami dan istri. Keempat, adalah mereka yang bisa menahalangi dan bisa dihalangi, mereka adalah ahli waris selain yang telah disebutkan diatas.
7- Orang yang memerdekakan budak, baik laki-laki maupun wanita terhalang oleh semua Ashabah dari kerabat mayit.



4- Ta'sihul Masail
(mencari bilangan kelipatan persekutuan terkecil/KPK)
- Asli dari setiap permasalahan akan berbeda sesuai dengan perbedaan ahli waris, jika mereka seluruhnya hanya ashobah, maka asli masalahnya sesuai dengan jumlah setiap bagian dari mereka, untuk laki-laki seperti dua bagian wanita, seperti jika seseorang meninggal dan hanya meninggalkan satu putra dan satu putri, maka asli masalahnya dari tiga, untuk putra dua dan untuk putri satu.
- Jika dalam permasalahan terdapat seorang ashabul furudh dan ashobah, maka asli masalahnya diambil dari ashabul furudh tersebut, seperti jika seseorang meninggal dan meninggalkan seorang istri dan satu putra, maka permasalahannya dari delapan, untuk istri seperdelapan, yaitu satu dan sisanya untuk putra sebagai ashobah.
- Jika dalam permasalahan terdapat beberapa ashabul furudh saja, atau ada ashobah bersama mereka, maka dilihat antara ashabul furudh dengan nisab yang empat, yaitu (mumatsalah, mudaholah, muwafaqoh dan mubayanah) kemudian hasilnya dijadikan asli masalah, pada furudh seperti setengah, seperempat, seperenam, seperdelapan dan dua pertiga, jika terjadi mutamatsilah (dua yang serupa) maka cukuplah dengan salah satunya, jika mutadahilan (saling masuk) maka cukup dengan yang terbesar, jika mutawafiqon, maka perkecilan dari salah satunya dikalikan dengan yang lainnya, dan jika mutabayinan, maka keduanya dikalikan langsung, contohnya seperti berikut ini:
Mumatsalah (1/3 dan 1/3), mudaholah (1/6 dan 1/2), muwafaqoh (1/8 dan 1/6), mubayanah (2/3 dan 1/4) dst.
- Asli masalah untuk ashabul furudh ada tujuh: dua, tiga, empat, enam, delapan, duabelas dan duapuluh empat.
- Jika harta masih tersisa setelah ashabul furudh dan tidak terdapat ashobah, maka dia harus dibagikan kepada ashabul furudh, selain suami dan istri, contoh suami dan putri, permasalahan dari empat: untuk suami seperempat yaitu satu dan sisanya untuk putri sebagai fardhu dan rod.

5- Pembagian Harta Warisan
- Tarikah: Apa yang ditinggalkan mayit dari harta ataupun lainnya.
- Peninggalan akan dibagikan kepada ahli waris dengan menggunakan salah satu dari beberapa cara berikut ini:
1- Nisbah: Yaitu dengan cara menyandarkan bagian setiap waris kepadanya, lalu memberikan hasilnya dari peninggalan sesuai dengan hitungannya, jika seseorang meninggal dan meninggalkan (istri, ibu dan paman) lalu harta peninggalannya sebesar seratus duapuluh, maka asli masalahnya dari duabelas, untuk istri seperempat yaitu tiga, untuk ibu sepertiga yaitu empat dan sisanya untuk paman yaitu lima. Bagian istri dari asli masalah adalah seperempatnya, maka dia berhak atas seperempat peninggalan yaitu tigapuluh, bagian ibu sepertiganya, maka dia akan mendapat empatpuluh, bagian paman yang lima menurut asli masalah adalah seperempat dan seperenamnya, maka dia mendapat limapuluh.
2- Cara berikutnya adalah dengan cara mengalikan bagian setiap waris dengan peninggalan, kemudian hasilnya dibagi oleh asli masalah, maka akan keluarlah bagian yang akan didapatnya, dalam permasalahan lalu istri mendapat seperempat yaitu tiga, kalikanlah dengan peninggalan (120) hasilnya adalah (360) lalu bagilah dengan asli masalah (12) sehingga menjadikan bagiannya dari peninggalan adalah (30) begitulah seterusnya.
3- Berikutnya adalah dengan cara membagi peninggalan terhadap asli masalah, nilai yang dihasilkannya dikalikan oleh bagian setiap waris dalam permasalahan, hasil yang didapat adalah bagian yang akan diperoleh oleh setiap ahli waris.
Dalam permasalahan lalu, peninggalan (120) dibagi oleh asli masalah (12), maka akan diperoleh hasil (10), hasil ini dikalikan oleh bagian setiap waris, maka bagian ibu dalam masalah tersebut mendapat sepertiga yaitu empat, kita kalikan dengan sepuluh (10 x 4 = 40), demikianlah hasil yang didapatnya dari peninggalan, dst.
- Jika pada waktu pembagian waris ada kerabat mayit yang tidak mendapat waris namun dia hadir, ada juga anak-anak yatim, ataupun orang miskin, hendaklah mereka diberi dari harta peninggalan sebelum dibagi.
Allah berfirman
[ وإذا حضر القسمة أولوا القربى واليتامى والمساكين فارزقوهم منه وقولوا لهم قولا معروفا ]
"Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik" An-Nisaa: 8

6- Warisan Dzawil Arham
- Dzawil Arham adalah: Semua kerabat dekat yang bukan ahli waris, tidak dengan fardhu dan tidak pula dengan ashobah.
- Dzawil arham mendapat warisan dengan dua syarat: Tidak adanya ashabul furudh selain suami-istri, tidak adanya ashobah.
- Pembagian waris terhadap dzawil arham dilakukan dengan cara melihat kedudukan, setiap dari mereka menduduki posisi yang menjadi penghubungnya, kemudian harta warisan dibagi kepada para penghubung tersebut, maka bagian yang didapat oleh penghubung, itulah yang menjadi bagiannya, rinciannya sebagai berikut:
1- Cucu laki-laki dari anak perempuan, anak cucu perempuaan dari anak lak-laki, mereka menempati kedudukan ibu mereka.
2- Anak perempuan saudara dan cucu perempuan saudara (dari anak laki-laki), kedudukan mereka sama seperti kedudukan ayahnya, anak-anak saudara seibu kedudukannya sama dengan kedudukan saudara seibu, anak-anak saudara perempuan kedudukannya sama seperti kedudukan ibu mereka.
3- Saudara ibu baik yang laki-laki maupun wanita, dan bapaknya ibu, kedudukannya sama seperti ibu.
4- Saudari ayah dan paman seibu menduduki kedudukan ayah.
5- Nenek yang gugur (yang bukan ahli waris) baik dari ayah maupun ibu, seperti ibu ayahnya ibu (neneknya ibu) dan ibu ayahnya kakek (neneknya ayah), yang pertama menduduki kedudukan nenek dari ibu, dan kedua menduduki kedudukan nenek dari ayah.
6- Kakek yang gugur ( yang bukan ahli waris), baik dari arah ayah ataupun ibu, seperti ayahnya ibu dan ayah ibunya ayah (ayahnya nenek), yang pertama menduduki kedudukan ibu dan kedua menduduki kedudukan nenek (ibunya ayah).
7- Semua yang berhubungan dengan yang meninggal melalui salah satu golongan ini, maka ia menduduki kedudukan orang yang menjadi penghubungnya, seperti bibinya saudari ayah dan bibinya saudari ibu dst.
* Jalur dzawil arham ada tiga: bunuwwah (keturunan), ubuwwah (orang tua) dan umumah (paman).

7- Warisan Untuk Janin
* Al-Haml: Adalah janin yang masih berada dalam perut ibunya.
* Al-Haml mendapat warisan apabila bersuara ketika lahir, dan dia telah ada dalam rahim ibunya ketika mayit meninggal walaupun berupa air mani, dan suaranya bisa berupa teriakan, atau bersin, atau menangis dan sebagainya.
قال: " ما من بني آدم مولود إ ّ لا يم سه الشيطان حين يولد فيسته ّ ل صارخا من م س r عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله
الشيطان غير مريم وابنها ". متفق عليه
Dari Abu Hurairah: bahwasanya Rasulullah r bersabda: "Tidak ada seorangpun keturunan Adam yang dilahirkan kecuali dia akan disentuh oleh setan pada saat dilahirkan, sehingga dia akan berteriak disebabkan oleh sentuhan setan tersebut, kecuali Maryam dan putranya" (Muttafaq 'Alaih, riwayat Bukhori nomor (3431) dan lafadz darinya, Muslim nomor (2366))
* Barang siapa yang meninggalkan ahli waris dan di antaranya terdapat haml, maka ada dua keadaan bagi mereka:
1- Mereka menunggu sampai yang hamil melahirkan dan anaknya jelas jenis kelaminnya, barulah kemudian dilakukan pembagian warisan.
2- Atau bisa juga mereka meminta agar harta warisan dibagi sebelum dia dilahirkan, dalam keadaan seperti ini maka harta warisan disisakan untuk janin bagian terbesar dari warisan dua orang anak laki-laki atau dua orang anak perempuan, setelah dilahirkan dia mengambil bagiannya, sedangkan sisanya diberikan kepada yang berhak. Siapa saja yang tidak terhajb (terhalang) oleh janin, maka dia mengambil seluruh bagiannya, contohnya adalah nenek, dan siapa yang bagiannya bisa berkurang karena janin, maka dia mengambil bagian terkecil, contohnya seperti istri dan ibu, dan siapa yang gugur (tidak mendapat warisan) karenanya, maka dia tidak diberi sama sekali, contohnya seperti saudara.

8- Warisan Khuntsa Musykil (Banci)
* Khuntsa Musykil adalah yang mempunyai kelamin ganda (memiliki kelamin pria dan wanita)
* Khuntsa Musykil jika tidak jelas keadaannya, maka dia mendapat setengah bagian laki-laki dan setengah bagian wanita.
* Apabila Khuntsa tersebut bisa diharapkan untuk diketahui kejelasan kelaminnya, maka dia harus ditunggu sampai ada kejelasannya, jika mereka tidak mau menunggu dan meminta agar harta peninggalan dibagi, maka diberikan kepada dia dan ahli waris lainnya bagian terkecil, dan sisanya dibiarkan terlebih dahulu sampai terbukti keadaannya. Maka warisan dibagi dengan menganggap ia laki-laki, kemudian dibagi lagi dengan menganggap ia perempuan, lalu diberikan kepada kKhuntsa maupun ahli waris lainnya bagian yang lebih sedikit, dan sisanya dibiarkan sampai kKhuntsa tersebut jelas keadaannya.
* Keadaan kKhuntsa bisa diketahui dengan beberapa hal:
Kencing atau keluarnya air mani dari salah satu kelamin, jika kencing dari keduanya maka dilhat yang lebih dulu keluar, jika bersamaan, maka dilihat mana yang lebih banyak, kecondongannya terhadap lawan jenis, tumbuhnya jenggot, haid, hamil, tumbuhnya kedua payudara, dan keluarnya air susu dari payudaranya, dlsb.

9- Warisan Untuk Mafqud
* Mafqud: Adalah orang yang tidak ada kabarnya, dan tidak diketahui apakah ia masih hidup atau sudan meninggal.
* Mafqud memiliki dua keadaan: meninggal dan hidup, kedua keadaan tersebut mempunyai hukum tersendiri, yaitu hukum yang berkaitan dengan istrinya, hukum yang berkaitan dengan warisannya dari orang lain, warisan orang lain darinya, serta warisan bersama antara dia dengan ahli waris lainnya. jika tidak bisa dipastikan keadaannya apakah ia hidup atau mati, maka ditentukan batas waktu tertentu untuk untuk mencarinya, dan ketentuan waktu tersebut diserahkan kepada ijtihad hakim.

* Keadaan mafqud:
1- Jika mafqud sebagai orang yang mewarisi, apabila waktu menunggu yang telah ditentukan habis dan keadaannya belum diketahui, maka dia dihukumi telah meninggal, lalu harta pribadinya dibagikan, begitu pula dengan harta miliknya yang dihasilkan dari warisan orang lain terhadapnya, seluruhnya dibagikan kepada ahli warisnya yang ada ketika dia dihukumi meninggal, dan tidak diberikan kepada mereka yang telah meninggal pada masa penantian.
2- Jika mafqud menjadi salah seorang yang mendapat waris dan tidak ada orang lain padanya, maka harta tersebut untuk sementara dibiarkan sampai ada kejelasan tentangnya, atau habis masa penantiannya, jika ada ada ahli waris lain bersamanya dan mereka menuntut agar harta tersebut dibagikan, hendaklah seluruhnya diperlakukan dengan mendapat bagian terkecil, sementara sisanya dibiarkan sampai ada kejelasan tentangnya, jika hidup maka dia akan mengambil bagiannya dan jika meninggal maka harta yang ada dibagikan kepada mereka yang berhak.
Pertama kali hendaklah dibuat sebuah permasalahan yang dianggap padanya kalau mafqud hidup, kemudian dibuat sebuah permasalahan kedua dengan menganggapnya sebagai mayit, barang siapa yang mendapat waris pada dua keadaan tersebut dengan bagian berbeda, maka hendaklah diberikan kepadanya bagian terkecil, barang siapa yang pada keduanya mendapat bagian yang sama, maka diberikan haknya secara penuh, sedangkan dia yang hanya mendapat bagian pada salah satunya saja, maka dia tidak diberikan harta sedikitpun, lalu apa yang masih tersisa dari harta dibiarkan untuk sementara sampai ada kejelasan tentang keadaan mafqud.

10- Warisan Untuk Gharqa (Orang yang mati karena tenggelam), Hadma (mati karena tertimpa benda keras) dan yang semisalnya.
- Yang dimaksud disini: Sekelompok ahli waris yang meninggal bersama dalam sebuah kejadian tertentu, seperti tenggelam, kebakaran, peperangan, runtuhnya gedung, kecelakaan mobil, pesawat, kereta api dan semisalnya.
- Keadaan mereka: mereka memiliki lima keadaan:
1- Diketahui dengan pasti kalau salah seorang dari mereka meninggal belakangan, maka dia berhak untuk mendapat waris dari dia yang meninggal lebih dahulu, dan tidak sebaliknya.
2- Diketahui jika mereka seluruhnya meninggal berbarengan, maka mereka tidak akan saling mewarisi satu dengan lainnya.
3- Tidak diketahui bagaimana mereka meninggal, apakah meninggalnya satu persatu? Ataukah berbarengan? Maka mereka tidak akan saling mewarisi.
4- Diketahui jika meninggalnya mereka berurutan, akan tetapi tidak diketahui dengan pasti siapa yang meninggal terakhir diantara mereka, maka dalam keadaan inipun mereka tidak akan saling mewarisi.
5- Diketahui siapa yang terakhir meninggal, namun kemudian dilupakan, maka dalam keadaan inipun mereka tidak akan saling mewarisi.
Dalam empat keadaan terakhir mereka tidak saling mewarisi, dengan demikian harta dari setiap mereka hanya dibagikan kepada ahli warisnya yang masih hidup saja, tidak dengan mereka yang meninggal berbarengan.

11- Warisan Bagi Pembunuh.
- Barang siapa yang membunuh langsung orang yang mewarisinya atau ikut secara langsung dalam pembunuhannya ataupun menjadi penyebabnya tanpa hak, maka dia tidak berhak untuk mendapat warisan darinya, pembunuhan dengan tidak hak: dia yang terjamin oleh beberapa ketentuan, diyat ataupun kafarat, seperti pembunuhan dengan disengaja dan yang mirip dengan disengaja ataupun kesalahan dalam membunuh, serta apa saja yang mirip dengan kesalahan membunuh, seperti pembunuhan dengan sebab, pembunuhan anak kecil, orang tidur dan orang gila.
Orang yang membunuh dengan sengaja tidak berhak untuk mendapat waris, hikmah darinya adalah: keterburu-buruan untuk mendapat waris, dan siapa saja yang menyegerakan sesuatu sebelum saatnya tiba, maka dia akan dihukum dengan tidak mendapatkannya, sedangkan pembunuhan yang tidak sengaja, pelarangannya dari waris sebagai bentuk penutupan terhadap ancaman dan penjagaan terhadap penumpahan darah; agar tidak dijadikan penyebab atas ketamakan dalam menumpahkan darah.
- Jika pembunuhan dalam bentuk qisos, had ataupun pembelaan diri dan semisalnya, hal seperti ini tidak menghalangi seseorang dari mendapat waris.
- Orang murtad tidak mewarisi siapapun dan tidak pula mendapat waris, jika dia meninggal dalam keadaan murtad, maka seluruh harta miliknya diserahkan kepada baitul mal kaum muslimin.

12- Warisan Bagi Yang Berlainan Agama
- Seorang Muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafirpun tidak mewarisi Muslim; dikarenakan oleh perbedaan agama mereka, orang kafir itu seperti mayit dan mayit tidak bisa mewarisi.
- Orang-orang kafir sebagian mereka mewarisi sebagian lainnya, jika mereka satu agama, dan tidak saling mewarisi jika berlainan agama, karena agama ini bermacam-macam, yahudi merupakan sebuah agama, nasrani agama, majusi agama dan begitulah seterusnya.
- Orang-orang yahudi akan saling mewarisi sesama mereka, orang-orang nasrani dan majusipun demikian, sama halnya dengan agama-agama yang lainnya, sehingga seorang yahudi tidak mungkin akan mewarisi dari nasrani, begitu pula dengan agama lainnya.

13- Warisan Bagi Wanita
- Islam telah memuliakan wanita, menghargainya serta memberinya bagian dari waris yang sesuai dengan keadaannya, sebagaimana berikut ini:
1- Terkadang dia mendapat bagian yang sama dengan pria, sebagaimana yang terjadi dengan saudara dan saudari satu ibu, ketika bergabung mereka akan menerima bagian yang sama.
2- Terkadang dia mendapat bagian yang sama atau lebih sedikit dari pria, sebagaimana yang terjadi dengan ayah dan ibu, jika terdapat bersama keduanya putra mayit yang laki atau laki dan perempuan, maka setiap dari ayah dan ibu akan menerima seperenam, dan jika yang ada hanya keturunan mayit yang perempuan saja, maka untuk ibu seperenam dan untuk ayah seperenam beserta sisa harta ketika tidak ada ashobah.
3- Terkadang wanitapun akan mendapat setengah dari bagian laki-laki, dan inilah yang lebih umum.
Penyebabnya: bahwa Islam telah mewajibkan kepada laki-laki beberapa beban dan kewajiban dari hartanya, pada saat hal tersebut tidak diharuskan terhadap wanita, seperti pembayaran mahar (mas kawin), menyediakan rumah, memberi nafkah kepada istri dan anak, membayar diyat, sementara wanita tidak diwajibkan bagi mereka untuk memberi nafkah, tidak terhadap dirinya dan tidak pula terhadap anak-anaknya.
Oleh sebab itu semua, Islam telah memuliakan wanita ketika meniadakan seluruh beban tersebut darinya, dan membebankannya kepada laki-laki, kemudian memberikan setengah bagian dari apa yang didapat oleh laki-laki, sehingga hartanya semakin bertambah, sementara harta laki-laki akan berkurang oleh nafkah terhadap dirinya, istrinya dan juga anak-anaknya, inilah dia bentuk keadilan diantara dua jenis kelamin yang berbeda, karena sesungguhnya Rob kalian tidak akan pernah berbuat kedzoliman terhadap hamba-Nya, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

1- Allah berfirman:
[ الرجال قوامون على النساء بما فضل الله بعضهم على بعض وبما أنفقوا من أموالهم ... ]
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkankan sebagian dari harta mereka…" An-Nisaa: 34

2- Firman Allah:
[ إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون ]

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran" An-Nahl: 90