Sunday, 15 March 2015

Pengalaman Mengendarai Daihatsu Ayla di Jalan Lintas Sumatera dan Pantura Jawa

Daihatsu Ayla Buah Hati Saya


Awal bulan Februari 2015 lalu saya menjemput buah hati saya ke Jawa. Sebenarnya saya ingin menjemput di Tegal, Jawa Tengah. Tapi apa daya, fisik saya kurang fit. Akhirnya saya jemput di Jakarta dengan minta bantuan kakak ipar untuk mengantar buah hati saya ke Jakarta. Sebenarnya bukan di Jakarta sih, lebih tepatnya di Tangerang.

Setibanya saya di sana, minggu pagi, saya langsung istirahat. Kemudian Senin pagi baru saya berangkat ke Lampung via Tol Merak, dan Jalan Timur Pesisir. Rute ini biasa saya lalui dengan menggunakan mobil Suzuki APV maupun Toyota Avanza. Saya berangkat dari Jakarta pukul 10 pagi. Kenapa dari Jakarta? Karena mbahnya mau ikut liburan ke Lampung. Haha...
Saya mulai masuk pelabuhan Merak pukul 12.00, kemudian sampai pelabuhan Bakauheni pukul 15.00. Kebetulan kali ini perjalanan laut lancar, karena biasanya perjalanan laut bisa mencapai 5 jam karena kapal antri sandar di dermaga.

Keluar kapal, saya langsung tancap gas menuju jalan lintas propinsi. 1 KM setelah keluar, di depan SPBU pertama, langsung belok kanan untuk menuju ke arah Palembang. Jarak tempuh yang harus saya lalui sekitar 215 KM, dan 80 KM nya jalannya rusak. Mulai dari Ketapang hingga Sri Bhawono, kita harus hat-hati dengan lubang yang menjebak. Kenapa menjebak? Karena jalan banyak yang mulus, tetapi tiba tiba ada lubang dalam (mungkin ukuran 10-25 cm) dan lebar.

Biasanya saya santai saja membawa mobil Suzuki APV dan Toyota Avanza, karena ground clearance (jarak terendah ke tanah) cukup tinggi. Nah, ini Daihatsu ayla pendeknya bukan main. Kalau Cuma karet hitam bemper depan yang kena, ga masalah. Dan yang saya khawatirkan adalah kalau kena bempernya langsung. Dan itu terjadi benar ketika saya salah ambil celah di sekitar Labuhan Maringgai. Grooook..... Waduh.... Alamat baret...

Setiba di Sri Bhawono, saya mengecek keadaan bemper depan. Alhamdulillah, hanya baret saja. Dan tidak terlihat dari depan.

Saya beli BBM di SPBU sebelum masuk pelabuhan merak sebanyak 120.000, tidak isi lagi sampai rumah dengan jarak 200 KM lebih. Saya sampai rumah pukul 19.00.
 
Konsumsi BBM kalau saya yang bawa
Awal Maret 2015, saya antar si buah hati pulang kembali ke Tegal, sekalian bayar pajak di Tangerang. Kali ini saya memilih jalan melalui Sukadana, Metro, Tegineneng, Tanjung Karang, Bakauheni. Saya tidak mau ambil resiko mobil nyangkut di jalan rusak. Perjalanan kali ini adalah jalan-jalan murni, karena memang mampir-mampir di mana-mana. Tidak ada yang istimewa dengan mobil.

Nah, pada saat perjalanan Tangerang Tegal yang cukup istimewa. Saya berangkat dari Jakarta (lagi-lagi mampir tempat mbahnya dulu) pukul 17.00. Cuaca mendung, dan sepertinya mau hujan. Benar saja, baru masuk tol dalam kota, sudah turun gerimis.

Selepas keluar tol Cikmapek, saya mulai mencari kepala rombong saya. Maksudnya, mencari iring-iringan atau pencari jalan. Biasanya saya mengikuti bis PO Haryanto, yang sering saya ikuti jika pulang ke Jawa. Tapi kali ini hanya ada bis Sinar Jaya yang cukup kencang, tapi masih kurang kencang. Akhirnya saya salip di sekitar Indramayu dan saya berjalan sendiri.

Baru setelah memasuki Cirebon, saya bertemu dengan bis PO Haryanto. Langsung saja saya ikuti bis tersebut. Maklum, mobil kecil, mudah selip-selipan. Walaupun transmisinya otomatis, kalau untuk salip-salipan, masih oke.

Sampai di daerah Tegal Gubuk, jalan mulai mulus, halus. PO Haryanto pun mulai menggila. Kecepatan di dashboard sudah mencapai 110 KPJ. Tapi indikator eco di speedometer masih menyala. Dan RPMnya hanya 3.000 RPM. Saya pikir, hebat juga ini mobil, padahal hanya 1.000 cc. Oiya, penumpangnya ada 3, saya, ibunya si buah hati dan buah hati saya.

Akhirnya apes melanda saya. Sangking mulusnya, ternyata ada lubang di tengah jalan. Kalau bis mungkin anteng aja, karena rodanya besar. Lah ini, Daihatsu ayla, kecil sekali. Saya coba menghindar, tapi roda sebelah kanan saya tetap masuk.

Setelah sampai rumah, saya cek semua. Dan saya temui ban saya sebelah kanan benjol di 1 titik. Depan belakang. Ya ampun.. 2 2 nya. Padahal angin baru saya isi di Lampung depan 33 belakang 32. Kenapa ga saya isi penuh? Karena ini musim hujan. Kalau terlalu keras, khawatir melintir. Oiy, merek bannya masih standar bawaan pabrik, Dunlop. Besok kalau ganti, mau cari yang lebih bagus ah. Saya sampai Tegal pukul 24.00, karena mampir beli nasi goreng dulu di Jatibarang Brebes. Konsumsi BBM saya hanya bisa tembus 1 liter untuk 17 KM. masih kurang hemat ya, maklum, kaki gatal kalau liat ada mobil lebih lambat.


Sekian cerita saya. Intinya ayla cocok untuk keluarga kecil seperti saya. Sepanjang perjalanan, anak saya tidur terus, karena bangkunya lumayan panjang. Suaranya juga hampir tidak masuk. Kalau di atas 100 KPJ, ya tetap masuk. Bantingan lembut tapi ga limbung. Di bawa 120 KPJ juga masih anteng. Setir juga tidak semakin ringan pada kecepatan tinggi. Tidak seperti Avanza atau Xenia, makin kenceng, makin enteng, makin limbung. Mungkin kalau ada rezeki lagi, saya nanti mau ambil mobil seperti ini lagi Tidak kebesaran, hemat bensin, kabin luas, mudah di kendarai. Amin..
Post a Comment