Sunday, 15 March 2015

Perbedaan Telkomsel dan Indosat (Paket Telpon)

Saya menggunakan 2 provider, yaitu Telkomsel (AS) dan Indosat (IM3). Pengalaman saya menggunakan 2 provider ini dalam hal penggunaan paket bicara (atau sering di bilang bonus, padahal bayar) salah satunya ada pada waktu paket bicara tersebut habis.
Jika pada IM3, apabila paket bicara habis, maka telpon akan langsung terputus. dan pembicaraan akan mati setiap 10 menit.
Namun berbeda jika menggunakan AS, pembicaraan tidak akan putus. Tapi resikonya adalah pembicaraan tersebut menggunakan pulsa reguler. Jika anda lupa waktu, maka bisa saja pulsa anda yang tadinya banyak, bisa habis, karena memang tidak ada pemberitahuan, kecuali anda mengecek sendiri.
Berikut screenshot dari kelebihan bicara, saya foto dengn menggunakan kamera biar lebih afdol :

Kelebihan Pemakaian Paket Bicara

Minilyric

Beberapa waktu lalu saya memutar lagu, dan ingin ikut menyanyi. Tapi apa daya, aya tak ingat liriknya. Kemudian saya ingat, dulu ada software yang bisa menampilkan lirik. Kali ini saya coba bagi software tersebut. Namanya minilyric

Link dari Google Drive

Pengalaman Mengendarai Daihatsu Ayla di Jalan Lintas Sumatera dan Pantura Jawa

Daihatsu Ayla Buah Hati Saya


Awal bulan Februari 2015 lalu saya menjemput buah hati saya ke Jawa. Sebenarnya saya ingin menjemput di Tegal, Jawa Tengah. Tapi apa daya, fisik saya kurang fit. Akhirnya saya jemput di Jakarta dengan minta bantuan kakak ipar untuk mengantar buah hati saya ke Jakarta. Sebenarnya bukan di Jakarta sih, lebih tepatnya di Tangerang.

Setibanya saya di sana, minggu pagi, saya langsung istirahat. Kemudian Senin pagi baru saya berangkat ke Lampung via Tol Merak, dan Jalan Timur Pesisir. Rute ini biasa saya lalui dengan menggunakan mobil Suzuki APV maupun Toyota Avanza. Saya berangkat dari Jakarta pukul 10 pagi. Kenapa dari Jakarta? Karena mbahnya mau ikut liburan ke Lampung. Haha...
Saya mulai masuk pelabuhan Merak pukul 12.00, kemudian sampai pelabuhan Bakauheni pukul 15.00. Kebetulan kali ini perjalanan laut lancar, karena biasanya perjalanan laut bisa mencapai 5 jam karena kapal antri sandar di dermaga.

Keluar kapal, saya langsung tancap gas menuju jalan lintas propinsi. 1 KM setelah keluar, di depan SPBU pertama, langsung belok kanan untuk menuju ke arah Palembang. Jarak tempuh yang harus saya lalui sekitar 215 KM, dan 80 KM nya jalannya rusak. Mulai dari Ketapang hingga Sri Bhawono, kita harus hat-hati dengan lubang yang menjebak. Kenapa menjebak? Karena jalan banyak yang mulus, tetapi tiba tiba ada lubang dalam (mungkin ukuran 10-25 cm) dan lebar.

Biasanya saya santai saja membawa mobil Suzuki APV dan Toyota Avanza, karena ground clearance (jarak terendah ke tanah) cukup tinggi. Nah, ini Daihatsu ayla pendeknya bukan main. Kalau Cuma karet hitam bemper depan yang kena, ga masalah. Dan yang saya khawatirkan adalah kalau kena bempernya langsung. Dan itu terjadi benar ketika saya salah ambil celah di sekitar Labuhan Maringgai. Grooook..... Waduh.... Alamat baret...

Setiba di Sri Bhawono, saya mengecek keadaan bemper depan. Alhamdulillah, hanya baret saja. Dan tidak terlihat dari depan.

Saya beli BBM di SPBU sebelum masuk pelabuhan merak sebanyak 120.000, tidak isi lagi sampai rumah dengan jarak 200 KM lebih. Saya sampai rumah pukul 19.00.
 
Konsumsi BBM kalau saya yang bawa
Awal Maret 2015, saya antar si buah hati pulang kembali ke Tegal, sekalian bayar pajak di Tangerang. Kali ini saya memilih jalan melalui Sukadana, Metro, Tegineneng, Tanjung Karang, Bakauheni. Saya tidak mau ambil resiko mobil nyangkut di jalan rusak. Perjalanan kali ini adalah jalan-jalan murni, karena memang mampir-mampir di mana-mana. Tidak ada yang istimewa dengan mobil.

Nah, pada saat perjalanan Tangerang Tegal yang cukup istimewa. Saya berangkat dari Jakarta (lagi-lagi mampir tempat mbahnya dulu) pukul 17.00. Cuaca mendung, dan sepertinya mau hujan. Benar saja, baru masuk tol dalam kota, sudah turun gerimis.

Selepas keluar tol Cikmapek, saya mulai mencari kepala rombong saya. Maksudnya, mencari iring-iringan atau pencari jalan. Biasanya saya mengikuti bis PO Haryanto, yang sering saya ikuti jika pulang ke Jawa. Tapi kali ini hanya ada bis Sinar Jaya yang cukup kencang, tapi masih kurang kencang. Akhirnya saya salip di sekitar Indramayu dan saya berjalan sendiri.

Baru setelah memasuki Cirebon, saya bertemu dengan bis PO Haryanto. Langsung saja saya ikuti bis tersebut. Maklum, mobil kecil, mudah selip-selipan. Walaupun transmisinya otomatis, kalau untuk salip-salipan, masih oke.

Sampai di daerah Tegal Gubuk, jalan mulai mulus, halus. PO Haryanto pun mulai menggila. Kecepatan di dashboard sudah mencapai 110 KPJ. Tapi indikator eco di speedometer masih menyala. Dan RPMnya hanya 3.000 RPM. Saya pikir, hebat juga ini mobil, padahal hanya 1.000 cc. Oiya, penumpangnya ada 3, saya, ibunya si buah hati dan buah hati saya.

Akhirnya apes melanda saya. Sangking mulusnya, ternyata ada lubang di tengah jalan. Kalau bis mungkin anteng aja, karena rodanya besar. Lah ini, Daihatsu ayla, kecil sekali. Saya coba menghindar, tapi roda sebelah kanan saya tetap masuk.

Setelah sampai rumah, saya cek semua. Dan saya temui ban saya sebelah kanan benjol di 1 titik. Depan belakang. Ya ampun.. 2 2 nya. Padahal angin baru saya isi di Lampung depan 33 belakang 32. Kenapa ga saya isi penuh? Karena ini musim hujan. Kalau terlalu keras, khawatir melintir. Oiy, merek bannya masih standar bawaan pabrik, Dunlop. Besok kalau ganti, mau cari yang lebih bagus ah. Saya sampai Tegal pukul 24.00, karena mampir beli nasi goreng dulu di Jatibarang Brebes. Konsumsi BBM saya hanya bisa tembus 1 liter untuk 17 KM. masih kurang hemat ya, maklum, kaki gatal kalau liat ada mobil lebih lambat.


Sekian cerita saya. Intinya ayla cocok untuk keluarga kecil seperti saya. Sepanjang perjalanan, anak saya tidur terus, karena bangkunya lumayan panjang. Suaranya juga hampir tidak masuk. Kalau di atas 100 KPJ, ya tetap masuk. Bantingan lembut tapi ga limbung. Di bawa 120 KPJ juga masih anteng. Setir juga tidak semakin ringan pada kecepatan tinggi. Tidak seperti Avanza atau Xenia, makin kenceng, makin enteng, makin limbung. Mungkin kalau ada rezeki lagi, saya nanti mau ambil mobil seperti ini lagi Tidak kebesaran, hemat bensin, kabin luas, mudah di kendarai. Amin..

Saturday, 14 March 2015

Cara Mengawinkan/Menyilangkan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum)

Banyak yang tidak tau jika tanaman tebu dapat di kawinkan. Bahkan, banyak juga yang tidak tau jika tanaman tebu memiliki biji yang dapat di tanam layaknya padi atau jagung. Nah, dari adanya biji tersebut, maka salah satu pemuliaan (breeding) tanaman tebu adalah dengan mengawinkan bunga tebu. Penasaran?
Kali ini saya akan membagikan cara atau tahapan menyilangkan tanaman tebu. Tanpa panjang lebar, saya berikan dalam bentuk foto agar mudah di pahami.

1. Penentuan bunga jantan atau betina
Bunga di anggap jantan adalah bunga yang memiliki jumlah polen yang banyak. Begitu juga sebaliknya. Bagaimana cara mengetahui jumlah polennya? Ya tinggal cari bunga yang sudah mekar 25%, kemudian bungkus dengan kertas minyak berwarna putih. Tunggu sekitar 3-5 hari. Buka dan perhatikan polen yang ada. Polen tanaman tebu berwarna kuning, jadi semakin banyak bercak atau gumpalan kuning, maka semakin banyak juga polennya.
Bunga Tebu yang bunting (kiri) dan mekar (kanan)


2. Pemasangan Bambu Penyangga Bunga Jantan
Apabila sudah di tentukan bunga mana yang di jadikan betina dan mana yang di jadikan jantan, saatnya memasang penyangga untuk bunga jantan. Kenapa? Karena bunga jantan nantinya di potong dan kemudian di dekatkan dengan bunga betina. Penyangga ini biasanya terbuat dari bambu yang panjangnya 4-6 meter tergantung tinggi bunga betina. jika di khawatirkan roboh, sebaiknya bambu tersebut di beri penopang.

Bambu penyangga plus 3 penopangnya

Monday, 9 March 2015

Perjalanan dari Lampung ke Jakarta dengan Bis

Trayek dan Rute Angkutan Umum Terminal Kalideres

Akhir Januari 2015 lalu saya melakukan perjalanan ke Jakarta untuk menjemput buah hati yang ingin berlibur ke Lampung. Sebenarnya bukan berlibur, wong malah masuk kebun tebu antah berantah. Hahaha....
Pada waktu itu, Jembatan Lempuang Bandar di Lampung Tengah putus, sehingga semua bis ukuran besar melewati Jalan Lintas Timur Pesisir, mulai dari Menggala – Sukadana – Metro – Tegineneng. Tetapi waktu itu saya lebih memilih untuk ke Bandar Jaya sehingga saya menumpang teman saya menggunakan sepeda motor ke Bandar Jaya.
Sesampainya di Bandar Jaya, tak lama menunggu saya mendapatkan bis kecil dari Kotabumi yang menuju Jakarta, yaitu bis Raja Basa Utama (RBU). Kecil sih, tapi lumayan nyaman lah.. Sayang, tiketnya agak mahal, 150.000. Seharusnya jika saya menawar, saya bisa dapat harga 120.000. Pengalaman memang mahal teman.
Sekitar pukul 21.00 bis mampir dulu di Terminal Rajabasa untuk cek penumpang. Lumayan lama disana, sekitar 30 menit. Kemudian baru bis melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Perjalanan saya kali ini tidak ada yang istimewa, karena memang hampir tiap bulan saya bolak balik Sumatera Jawa.
Sekitar pukul 05.00 saya sampai terminal Kalideres, kemudian saya langsung sholat subuh. Lalu saya naik kopaja ke Slipi. Selesai.

Bus di Kalideres


Pendapat saya, sekarang terminal keadaannya aman. Baik terminal Rajabasa di Lampung, maupun terminal Kalideres di Jakarta. Bahkan, saya pernah bermalam di terminal Kalideres untuk menunggu bis paling pagi yang berangkat ke Jawa Tengah.

Bahkan, tahun 2005 saya pernah tidur semalaman di Terminal Giwangan, 2007 di Terminal Purwokerto, semua aman. Bahkan di terminal kertapati di Palembang pun, aman.Cuma ya itu, mental harus tebal. Selalu ada saya yang menawari ojek, angkot, travel secara kasar. Kita hadapi saja dengan halus.

Sunday, 8 March 2015

Tarif Penyeberangan Pelabuhan Merak – Bakauheni

Setelah BBM mengalami kenaikan, tarif penyeberangan pelabuhan Merak ke Bakauheni dan sebaliknya juga mengalami kenaikan. Misalnya dahulu saya naik mobil hanya membayar 320.000, sekarang sudah naik menjadi 360.000. Banyak juga ya naiknya.


Langsung aja, bagi yang membutuhkan tarif penyeberangan pelabuhan Merak ke Bakauheni atau sebaliknya, silahkan di lihat sendiri :

Tarif Penyeberangan Merak - Bakauheni

Tarif Damri Jakarta – Lampung

Bus Damri Royal Class

Beberapa waktu lalu ketika saya menggunakan fasilitas bus Damri, saya mengambil gambar tarif bus Damri Jakarta – Lampung dan sebaliknya per 01 Februari 2015. Sebenarnya ini tarifnya malah turun di bandingkan tarif sebelumnya. Ada juga bus jurusan Bekasi – Lampung dan sebaliknya.

Ada tiga kelas yang di sediakan, yaitu Royal Class, Executive Class dan Business Class.


Berikut saya sajikan tarifnya  dalam bentuk foto:
Tarif Damri

Perjalanan Tegal – Lampung dengan Angkutan Umum

Pulang dari mengantar si buah hati ke kampung halaman, saya mencoba menggunakan moda transportasi darat dan laut. Ya, kalau tidak menggunakan laut, gimana cara nyebrangnya?
Sebenarnya saya senang menggunakan kereta api, karena harganya murah, pelayanan memuaskan dan cepat sampainya. Namun, saya ternyata telat memesan tiket. Saya berencana pulang hari Sabtu, 07 Maret 2015, dan saya memesan tiket hari Rabu di Indomaret. Dan apa yang terjadi? Semua tiket murah yang tujuannya ke Jakarta, habis. Ada kereta Tegal Arum tujuan Jakarta Kota (25.000), Tegal Ekspress tujuan Pasar Senen (65.000) dan Tegal Bahari tujuan Gambir (mulai dari 120.000). Saya hanya memiliki kesempatan membeli tiket tujuan Gambir kelas Bisnis dengan harga 175.000. Mahal sekali bukan. Tapi apa boleh buat, waktu adalah uang.

Struk Kereta Api dari Indomaret


Tiket Kereta Api Tegal Bahari


Semua pilihan memiliki jam keberangkatan yang hampir sama, yaitu di bawah pukul 07.00. Kebetulan kereta Tegal Bahari yang saya pilih berangkat pukul 06.00, jadi saya berangkat dari rumah pukul 05.00. Jadwal sampai Gambir - Jakarta adalah pukul 11.15. Selama di perjalanan lancar jaya tanpa ada halangan.

Pool Damri di Stasiun Gambir
Sesampainya di Jakarta, saya langsung turun dan menuju ke pool bus Damri di sebelah selatan stasiun Gambir. Bus Damri tujuan Bandara Soekarno Hatta Cengkareng juga berangkat dari tempat yang sama. Saya langsung pesan tiket tujuan Lampung (Unit 2) seharga 240.000. Bus Damri yang sampai ke Unit 2 hanya ada kelas Executive, sehingga agak mahal. Bus tersebut berangkat pukul 19.00 malam, sehingga saya masih punya banyak waktu untuk jalan-jalan. Akhirnya saya naik bus Trans Jakarta menuju ke Slipi.

Tiket Damri
Pembayaran Bus Trans Jakarta sekarang sudah menggunakan sistem e-ticketing yang tiketnya dapat di peroleh di merchant yang di tunjuk. Saya menggunakan kartu keluaran Indomaret (Indomaret Card). Ongkosnya 3.500. Tapi ya itu, saya harus menyambung bis sampai 2 kali, yaitu halte Gambir – Harmoni, Harmoni – Grogol, Grogol – Slipi. Pulangnya pun saya mengikuti dengan halte yang sama.
Sebelum pukul 19.00 saya tiba di Stasiun Gambir lagi, dan langsung menuju ke pool Damri. Saya langsung laporan ke petugas Damri dan di berikan no kode Bus Damri yang harus saya naiki. Bus tersebut baru berangkat pukul 19.30 karena menunggu satu penumpang yang kahirnya di tinggal karena tidak datang-datang.

Bus Damri Sebelum Berangkat
Pukul 21.30 Bus tersebut sudah sampai di pelabuhan Merak dan langsung masuk ke kapal. Luar biasa cepat saya kira. Begitu bus selesai parkir, saya langsng naik ke lantai atas dan sholat Isya. Setelah sholat Isya, saya langsung saja masuk ke kelas lesehan yang di sediakan.

Tiket Kapal Naik Kelas

Bagian Depan Kapal

Pukul 00.30, kapal sudah menyandar di pelabuhan Bakauheni. Langsung keluar kapal, dan langsung iring-iringan dengan bus Lorena.  Beberapa saat kemudian, bus masuk ke rumah makan Siang Malam untuk makan malam dan cek jumlah penumpang. Saya kira kurang cocok kalau makan malam jam segitu. Mungkin waktunya sahur. Tidak lama, hanya 20 menitan. Kemudian bus berangkat lagi menuju Bandar Lampung. Suasana jalanan cukup lengang, sehingga bus dapat melaju kencang. Saya tidak tau pukul berapa sampai Bandar Lapung, tau-tau sudah sampai Metro. Ternyata memang bus tersebut melaju cukup kencang.

Rumah Makan Siang Malam


Sekitar pukul 06.00 bus Damri tersebut sudah sampai di gerbang GPM, dan sampailah saya di rumah.