Friday, 9 January 2015

Puasa




Berbagai masalah Dalam Puasa

1. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Apabila seseorang di antara engkau semua lupa - bahwa ia berpuasa, ialu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya - yakni hal itu tidak membatalkan puasanya, karena sesungguhnya Allah itulah yang memberinya makan dan pula minumnya." (Muttafaq 'alaih)

2. Dari Laqith bin Shabirah r.a., katanya: "Saya berkata: "Ya Rasulullah, beritahukanlah padaku perihal berwudhu'." Beliau S.a.w. bersabda: "Sempurnakanlah wudhu' itu, sela-selailah dengan air antara jari-jari, persangatkanlah menghirup air dalam hidung, melainkan jikalau engkau dalam keadaan berpuasa."Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

3. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. dicapai oleh fajar - yakni didahului oleh menyingsingnya fajar, sedang beliau s.a.w. dalam keadaan berjanabat karena berkumpul dengan isterinya, lalu beliau s.a.w. mandi dan terus berpuasa." (Muttafaq 'alaih)

4. Dari Aisyah dan Ummu Salamah radhiallahu 'anhuma berkata: "Rasulullah s.a.w. berpagi-pagi dalam keadaan berjanabat, bukannya karena bermimpi - maksudnya karena berkumpul dengan isterinya, kemudian beliau berpuasa." (Muttafaq 'alaih)


Keutamaan Berpuasa Dalam Bulan Muharram, Sya'ban Dan Bulan-bulan Yang Mulia — Asyhurul Hurum

1. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Seutama-utama berpuasa sesudah bulan Ramadhan ialah dalam bulan Allah yang dimuliakan - yakni Muharram - dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib ialah shaliatullail - yakni shalat sunnah di waktu malam." (Riwayat Muslim)

2. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Tidak pernah Nabi s.a.w. itu berpuasa dari sesuatu bulan lebih banyak daripada Sya'ban, karena beliau s.a.w. itu berpuasa dalam bulan Sya'ban itu seluruhnya." "Dalam suatu riwayat disebutkan:
"Beliau s.a.w. itu berpuasa dalam bulan Sya'ban, melainkan sedikit sekali yang tidak - yakni sebagian besar dalam bulan ini dipuasai." (Muttafaq 'alaih)

3. Dari Mujibah al-Bahiliyah dari ayahnya atau dari paman-nya - yakni saudara lelaki dari ayahnya, bahwasanya ia - ayah atau pamannya itu - mendatangi Rasulullah s.a.w. kemudian pergi lagi. Selanjutnya ia mendatangi Rasulullah s.a.w. lagi sesudah setahun, tetapi hal-ihwal serta keadaan tubuhnya telah berubah. la lalu berkata: "Ya Rasulullah, apakah Tuan tidak mengenal lagi kepada saya?" Beliau s.a.w. bertanya: "Siapakah engkau?" la menjawab: "Saya adalah al-Bahili yang datang pada Tuan tahun yang lalu." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Apakah yang menyebabkan perubahan dirimu, padahal engkau dahulu baik sekali keadaan tubuhmu?" la menjawab: "Saya tidak pernah makan sesuatu makanan sejak saya berpisah dengan Tuan dahulu, melainkan di waktu malam. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Kalau begitu, engkau telah menyiksa dirimu sendiri," kemudian beliau s.a.w. melanjutkan sabdanya: "Berpuasalah dalam bulan Shabar - yakni bulan Ramadhan - dan sehari saja dalam setiap bulan lainnya." la berkata: "Tambahkanlah itu untuk saya, sebab sesungguhnya saya masih ada kekuatan lebih dari itu." Beliau s.a.w. bersabda: "Berpuasalah dua hari." la berkata: "Tambahkanlah!" Beliau s.a.w. bersabda: "Berpuasalah tiga hari." la berkata: "Tambahkanlah!" Beliau s.a.w. bersabda: "Berpuasalah bulan-bulan mulia - yaitu Rajab, Zulqa'dah, Zulhijjah dan Muharram - dan tinggalkanlah, berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah, berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah." Beliau s.a.w. bersabda demikian dengan menunjukkan tiga buah jari-jarinya lalu mengumpulkannya dan kemudian membukanya - maksudnya tiga hari puasa lalu tiga hari tidak dan demikian seterusnya. (Riwayat Abu Dawud)
Syahrush shabri atau bulan Shabar yakni bulan Ramadhan.




Keutamaan Berpuasa Dan Lain-lain Dalam Hari-hari Sepuluh Pertama Dari Bulan Zulhijjah

1. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tidak ada hari-hari yang mengerjakan amalan shalih pada hari-hari itu yang lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini," yakni hari-hari sepuiuh - yang pertama dari Zulhijjah. Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, apakah juga tidak lebih dicintai oleh Allah guna mengerjakan jihad fi-sabilillah?" maksudnya: Untuk mengerjakan jihad, apakah tidak lebih dicintai oleh Allah kalau dilakukan dalam hari-hari selain hari-hari pertama dari bulan Zulhijjah itu.
Beliau s.a.w. menjawab: "Tidak lebih dicintai oleh Allah pada hari-hari selain hari-hari sepuluh itu untuk berjihad fi-sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan dirinya dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan membawa sesuatu apapun dari yang tersebut - yakni setelah berjihad lalu mati syahid. (Riwayat Bukhari)


Keutamaan Berpuasa Pada Hari Arafah, 'Asyura Dan Tasu'a

1. Dari Abu Qatadah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. ditanya perihal berpuasa pada hari Arafah - yaitu tanggal 9 Zulhijjah. Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Puasa pada hari itu dapat menutupi dosa pada tahun yang lampau serta tahun yang akan datang." (Riwayat Muslim)


2. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. berpuasa pada hari 'Asyura - yaitu tanggal 10 bulan Muharram - dan memerintahkan - ummatnya - untuk berpuasa pada hari itu pula. (Muttafaq 'alaih)

3. Dari Abu Qatadah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. ditanya perihal berpuasa pada hari 'Asyura - tanggal 10 Muharram, Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Puasa pada hari itu dapat menutupi dosa tahun yang lampau." (Riwayat Muslim)

4. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Niscayalah jikalau saya masih tetap hidup sampai tahun muka, tentulah saya akan berpuasa pada hari kesembilan - bulan Muharram yakni Tasu'a." (Riwayat Muslim)


Sunnahnya Berpuasa Enam Hari Dari Bulan Syawwal

1. Dari Abu Ayyub r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa berpuasa dalam bulan Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari dari bulan Syawwal, maka ia adalah seperti berpuasa setahun penuh."* (Riwayat Muslim)
Enam hari bulan Syawwal itu boleh di permulaan bulan yakni tanggal 2 sampai dengan 7 Syawwal dan boleh pula di pertengahan atau di akhir bulan. Jadi asalkan bulan Syawwal boleh. Boleh puia dipersambungkan atau dipisah-pisahkan, seperti dilakukan tanggal 2, 5, 10, 20, 26 dan 28 Syawwal. Tetapi tanggal 1 Syawwal jangan digunakan berpuasa, sebab idul-fitri dan haram berpuasa di dalamnya.




Sunnahnya Berpuasa Pada Hari Senin Dan Kamis

1. Dari Abu Qatadah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. ditanya perihal berpuasa pada hari Senin, lalu beliau s.a.w. bersabda: 
"Itu adalah hari yang saya dilahirkan di dalamnya dan hari yang saya diangkat sebagai Rasul atau hari yang pada saya diturunkan al-Quran." (Riwayat Muslim)
2. Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah s.a.w. katanya: "Ditunjukkanlah amalan-amalan itu - oleh para malaikat kepada Allah Ta'ala - pada hari Senin dan Kemis, maka saya senang jikalau amalanku itu ditunjukkan, sedang saya dalam keadaan berpuasa." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan, Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, tanpa menyebutkan berpuasa

3. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. berusaha keras untuk berpuasa pada hari Senin dan Kemis - karena besarnya keutamaan yang terdapat di dalamnya." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.  





Sunnahnya Berpuasa Tiga Hari Dalam Setiap Bulan

Yang lebih utama sekali ialah berpuasa tiga hari itu dijatuhkan dalam hari-hari bidh - yang artinya putih - yakni pada tanggal tigabelas, empatbelas dan limabelas. Ada yang mengatakan yaitu tanggal duabelas, tigabelas dan empatbelas, tetapi yang shahih dan masyhur ialah pendapat yang pertama.
1. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Saya diwasiati oleh kekasihku - yakni Nabi Muhammad s.a.w. dengan tiga macam perkara, yaitu berpuasa tiga hari dari setiap bulan, melakukan dua rakaat shalat sunnah Dhuha dan supaya saya bersembahyang witir sebelum saya tidur." (Muttafaq 'alaih)
2. Dari Abuddarda' r.a., katanya: "Saya diwasiati oleh kekasihku-yakni Nabi Muhammad s.a.w. dengan tiga macam perkara. Saya samasekali tidak akan meninggalkannya selama saya hidup, yaitu berpuasa tiga hari dari tiap-tiap bulan, melakukan shalat sunnah Dhuha dan supaya saya tidak tidur dulu sebelum saya bersembahyang witir." (Riwayat" Muslim)

3. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Berpuasa tiga hari dari tiap-tiap bulan adalah sama dengan berpuasa setahun penuh." (Muttafaq 'alaih)

4. Dari Mu'adzah a!-'Adawiyah, bahwasanya ia bertanya kepada Aisyah radhiallahu 'anha: "Apakah Rasulullah s.a.w. itu berpuasa sebanyak tiga hari dari setiap bulan?" Aisyah radhiallahu anha menjawab: "Ya." Saya - Mu'adzah - bertanya: "Dari bulan apa saja beliau s.a.w. berpuasa?" Aisyah menjawab: "Beliau tidak memperdulikan dari bulan manakah beliau berpuasa itu." (Riwayat Muslim)

5. Dari Abu Zar r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda;
"Jikalau engkau berpuasa tiga hari dari sesuatu bulan, maka berpuasalah pada tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas."
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

6. Dari Qatadah bin Milhan r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. memerintahkan kepada kita untuk berpuasa dalam hari-hari bidh-yang artinya putih, yaitu pada tanggal tigabelas, empatbelas dan limabelas." (Riwayat Abu Dawud)

7. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma: "Rasulullah s.a.w. itu tidak berbuka - yakni berpuasa - pada hari-hari bidh - yang artinya putih, baik beliau s.a.w. berada di rumah ataupun di dalam perjalanan."
Diriwayatkan oleh Imam Nasa'i dengan isnad yang baik.



Sumber : Riyadhus Shalihin,  Bab Berbagai masalah Dalam Puasa
Post a Comment