Saturday, 13 December 2014

Metode Pembelajaran dengan Kekerasan


Sebenarnya maksud saya bukan bermaksud mengarahkan mengajari seseorang denga kekerasan, seperti dengan pemaksaan ataupun kontak fisik yang terus menerus. Di sini saya akan mencoba memberikan gambaran bahwa mengajarkan sesuatu kepada seseorang tidak selamanya dengan cara yang lemah lembut, terkadang juga harus di lakukan dengan keras dan tegas.

Beberapa minggu terakhir ini ada pemberitaan yang begitu booming mengenai pemukulan atau pencambukan dengan menggunakan rotan di sebuah pondok pesantren. Sebenarnya saya sendiri belum melihat videonya sendiri, tapi saya bisa membayangkan bagaimana seorang anak di pukul dengan rotan. Kalau ada yang tau link-nya, bisa sampaikan kepada saya.

Saya sudah dapat link-nya, silahkan dilihat sendiri. semoga belum di hapus.

Kenapa saya bisa membayangkan? Karena saya pernah merasakan di pukul, walaupun bukan dengan rotan, tapi dengan batang ubi kayu. Memang ketika di pukul, sangat sakit. Tapi hanya 5 menit saja, bahkan kurang, rasa sakit itu akan hilang. Yang ada hanya bekas pukulan kayu, bergaris-garis biru.

Kenapa saya bisa mendapatkan pukulan itu? Itu adalah hukuman. Biasanya saya mendapatkan itu ketika saya terlalu lama bermain, tidak mau tidur siang atau pergi ke rental PS diam-diam. Ya, setelah saya dewasa, saya mengerti kenapa saya harus di hokum. Ternyata semua itu ada maksud baik di dalamnya, hanya saja caranya kurang tepat menurut kita. Tapi, itu adalah cara terbaik saat itu. Kenapa? Karena jika orang tua saya hanya berteriak-teriak melarang saya bermain, saya tidak akan menggubrisnya. Tapi kalau sudah batang ubi kayu yang bertindak, saya bisa langsung pulang dan tidur siang.


Kembali ke kasus pemukulan dengan rotan di pondok tadi. Saya kira yang di lakukan oleh senior kepada juniornya adalah sebuah hukuman. Dari ustad kepada santrinya. Terkadang santri mendapat tugas, namun tidak di kerjakaan, tentu akan membuat sang stad marah. Atau ketika sedang mengajar, si santri malah asik dengan yang lain.

Apakah ini hanya terjadi di Indonesia? Atau bahkan hanya di pondok pesantren? Oh, tidak. Bahkan di film-film pun, hukuman dengan memukul rotan atau kayu adalah hal biasa. Jika anda pernah melihat film Thailand (lagi-lagi film Thailand), maka anda akan mengetahui sistem pengajaran disana. Bahkan, di sekolah sepertinya mereka di ijinkan untuk menghukum muridnya dengan memukulkan rotan ke bagian tubuh siswanya. Kalau itu melanggar HAM atau contoh yang kurang baik bagi sistem pendidikan di sana, tentunya film tersebut akan di edit dengan menghilangkan bagian pemukulan tersebut.


Beberapa film yang pernah saya tonton yang memperlihatkan adegan pemukulan dengan benda keras (entah rotan atau kayu) adalah di Film Crazy Little Thing Called Love, Love at 4 Size dan First Kiss. Banyak juga ternyata. Jika anda ingin menontonnya, silahkan lihat di youtube.

Bagaimana dalam agama Islam? Kok jadi bawa-bawa agama? Ya ga apa-apa lah, buat perbandingan aja. Dalam agama Islam sendiri ada perintah kepada orang tua untuk memukul anak yang sudah baligh apablia tidak mau mengerjakan solat. Kenapa begitu? Ya itu tadi, namanya anak-anak, kalau cuma di teriakin, ya bakal di anggap angin lalu saja. Begitu juga ketika ada seorang istri tidak mau mengikuti perintah si suami, si suami berhak memukul si istri. Nanti kalau dapat sumbernya, saya lampirkan. Maklum, Cuma pernah mendengar dan membaca, tapi lupa dimana.

Namun, sekali lagi perlu di ingat, semua ini hanya berupa hukuman. Berupa peringatan. Bukan berarti membolehkan orang tua memukul anak, suami memukul istri, guru memukul murid seenak perutnya sendiri. Semua ada batasannya. Saya kira semua orang yang sudah menjadi orang tua, guru dan suami merupakan orang yang sudah dewasa, tau batas-batas mana yang tidak boleh di langgar. Tidak ada maksud untuk menyiksa ataupun mencari kesenangan atas penderitaan orang lain.


Saya jadi ingat kasus guru di polisikan oleh orang tua murid karena menjewer muridnya. Sangat tidak masuk akal.

Post a Comment