Tuesday, 25 November 2014

Pengalaman Mengendarai Mobil Daihatsu Ayla



Daihatsu Ayla merupakan salah satu mobil LCGC (Low Cost Green Car) yang di canangkan oleh pemerintah. Saya sendiri masih bingung kenapa pemerintah malah membuat mobil murah dengan mengurangi pajak atas mobil tersebut. Tapi apa daya, pemerintah sudah menyediakan, saya hanya tinggal memanfaatkan.

Pertama kali saya mengendarai Daihatsu Ayla ini di Lampung, dengan rute GPM (Lampung Tengah) ke Purbolinggo (Lampung Timur) kemudian kembali ke Bandar Jaya (Lampung Tengah). Kebetulan transmisi mobil yang di kendarai adalah metik, sehingga perlu sedikit adaptasi untuk menaklukkannya. Pada waktu itu, muatan 4 orang dewasa dan 1 bayi, perjalanan tetap nyaman. Tidak ada istilah mobil menjadi oleng atau limbung, walaupun di tikungan dengan kecepatan tinggi.

Mari kita mulai saja. Keluar dari site, harus melewati jalan tanah yang banyak lubang. Walaupun jarak terendah bodi mobil ke tanah cukup rendah, tidak pernah terdengar benturan antara bodi dan tanah. Kecuali, bemper depan yang sering menggerus tanah, karena memang ada karet hitam yang sangat dekat dengan tanah. Karet ini sangat elastis namun alot, sehingga tidak masalah jika mengenai tanah atau aspal sekalipun.

Masuk ke jalan aspal, saya mulai geber mobil tersebut. Dengan menggunakan 4D, saya mulai mencoba kecepatan yang optimum sehingga indikator eco tetap hidup. Ternyata di kecepatan 110 kpj, indikator eco tetap menyala. Saya pikir, hebat sekali ini mobil, walaupun 1000 cc, tetap hemat di kecepatan tinggi.

Beberapa saat kemudian, saya memasuki tikungan yang sangat lebar (bukan tikungan tajam). Kecepatan saya pertahankan di 100 kpj. Dan ajaibnya, mobil masih stabil. Tidak oleng. Untuk suara mesin sendiri, saya dengar masih senyap walaupun kecepatan tinggi. Yah, saya kira, namanya juga mobil baru. Oiya, tipe yang saya kendarai adalah Daihatsu Ayla tipe X AT.

Dalam perjalanan pulang, waktu sudah petang. Saatnya mencoba kemampuan pencahayaan. Dan ternyata cukup terang. Untuk tipe ini, di lengkapi dengan fog lamp. Ya, lumayan utuk mobil murah (katanya).



Minggu lalu, saya kembali mencoba mobil tersebut dalam perjalanan pulang dari Jakarta menuju ke Tegal (Jawa Tengah). Barang bawaan saya cukup banyak, ada baju-baju anak saya, sepeda roda 3, helm, oleh-oleh dan berbagai macam benda yang harus di bawa. Bagasi yang luas membuat saya menjadi bebas membawa apa aja. Anak saya saya tempatkan tidur di jok belakang bersama ibunya. Aman, nyaman dan lega.

Saya berangkat dari Tangerang pukul 16.00 dengan kondisi lumayan lancar. Sebelum memasuki jalan tol, saya terlebih dahulu mengisi bahan bakar di SPBU biasa. Cukup isi premium saja. 145.000 rupiah, tangki sudah tidak muat lagi. Setelah itu, saya mulai melaju di jalan tol, hingga keluar di gerbang Cikampek. Cukup lancar lah saya bilang. Saya mencoba mengetes keekonomisan mobil ini. Kebetulan, muatannya hanya 2 dewasa dan 1 bayi. Awalnya, tarikannya memang berat. Saya kira wajar untuk ukuran mobil matic, jika di bandingkan dengan manual. Saya kebut hingga kecepatan 120 kpj, dan indikator eco masih menyala. Saya pikir, wah, hebat sekali ini mobil. Mobil masih anteng, tidak ada perasaan limbung. Jika saya membawa dou kembar, maka perasaan melayang akan sangat terasa. Setir akan sangat ringan. Tetapi, Daihatsu Ayla tidak. Setir ikut berat seiring dengan kecepatan.


Bagian kabin cukup senyap, walaupun suara angin sepertinya ada yang masuk dari pintu belakang. Saya menghidupkan musik dengan volume pelan, masih terdengar (kalau keras-keras, anak saya terbangun). Di ujung tol Cikampek, terdapat tikungan panjang, dan disana tampat terlihat bahwa mobil ini tetap stabil.

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan, karena memang durasinya hanya 6 jam. Saya sampai rumah pukul 22.30, setelah sebelumnya makan soto sedap malam dahulu. Saya lebih cepat sampai karena saya menguntit di belakang bis, dan selalu mengejar bis di depannya. Kebetulan, waktu itu ada bis PO Haryanto yang cukup kencang. Saya kira ini bis tidak di pasang limiter di mesin, sehingga bisa mencapai kecepatan 110 kpj lebih.



Untuk kejar-kejaran, memang mobil ini sangat lemah. Kenaikan kecepatannya sangat lambat, dan wajar untuk mobil matic. Tetapi setelah di putaran atas, maka mobil ini tarikannya sangat enak. Kabin yang senyap dan goncangan yang halus membuat anak saya tertidur dari Tangerang hingga Tegal (kecuali sewaktu berhenti solat Magrib dan Isya, dan ketika makan soto). Paginya, bahan bahar saya isi sebanyak 100.000, dan indikator minyak menunjukkan penuh. Lain kali akan saya ukur konsumsi bahan bakarnya.


Mobil ini sangat cocok untuk keluarga muda dengan jumlah anak 2-3 orang. Cocok juga bagi orang yang sedang belajar mobil, karena dimensinya yang mungil. Apalagi jika di gunakan di kota, akan lebih enak lagi.  Mobil ini adalah pilihan terbaik keluarga muda dengan harga yang terjangkau.

Post a Comment