Saturday, 22 November 2014

Menilik Pendidikan Indonesia dan Asia di Lihat dari Film



Pendidikan merupakan hal yang penting bagi kehidupan seseorang. Dengan pendidikan yang cukup, maka seseorang akan lebih mudah menjalani hidupnya. Pendidikan dapat di peroleh melalui jalan formal maupun informal. Jalan informal dapat berasal dari orang terdekat (orang tua, teman dan lain-lain) dan lingkungan. Sedangkan formal dapat berasal dari sekolah ataupun pelatihan-pelatihan.
Beberapa waktu terakhir ini saya memperhatikan film-film yang saya tonton (download gratisan, semoga ga melanggar hak cipta). Ada beberapa sumber negara yang saya tonton, tetapi yang paling booming di Indonesia tentunya film Jepang dan Thailand.


Kita mulai dari film Thailand. Banyak film Thailand yang menggambarkan kegiatan bersekolah di Thailand. Mulai dari Friendship, Crazy Little Thing Called Love, Love at 4 Size, Yes or No, dan masih banyak lagi. Disana kita tidak akan menemukan siswa sekolah membawa mobil mewah seperti pada film-film Indonesia, rumah mewah ataupun acara clubbing di diskotik. Semua siswa siswi di buat se culun mungkin, tetapi tetap keren. Paling banter jika kita lihat di sana siswa siswi bersekolah dengan membawa sepeda motor, ada pada Crazy Little Thing Called Love. Lebih banyak yang menggunakan transportasi umum, seperti bis (ada pada Friendship, Love at 4 Size. Memang sih, ada yang membawa mobil, seperti pada film Love at 4 Size, tetapi di kendarai pada jam luar sekolah.


Kemudian lagi jika kita melihat pada kegiatan belajar mengajar, guru-guru di sana di buat berwibawa, bijaksana, dan tidak menjadi bahan tertawaan. Bandingkan dengan film di Indonesia, guru-guru seolah-oleh menjadi bahan candaan, bisa di kerjai dan kurang ada tajinya. Bagaimana anak-anak mau respect sama gurunya di sekolah kalau tontonannya aja seperti itu.


Jika kita agak menanjak sedikit ke perguruan tinggi, ada film Yes or No 2 (tapi jangan di lihat kisah cintanya, ga boleh itu). Di sana pemain di setting sedang melakukan kegiatan Kerja Lapangan (KL). Dan mantapnya lagi, ternyata jurusan yang mereka buat adalah jurusan pertanian dan perikanan (baru sekali ini saya liat ada film ambil set anak pertanian perikanan, biasanya kan anak teknik atau ekonomi, kadang fisip atau sastra). Film tersebut memperlihatkan bagaimana mereka harus benar-benar turun ke lapangan. Bahkan ada satu scene yang menggambarkan sedang melakukan pengamatan dengan alat brix refractometer. Itu alat spesifik sekali saya kira. Tidak seperti stetoskop yang semua orang tau. Jika ingin di bahas lebih dalam, tentu banyak yang bisa kita diskusikan.



Kita berpindah ke film Jepang. Memang sih, Jepang jauh lebih maju. Jadi wajar kalau memang filmnya pun lebih bagus. Selama saya mengamati film Jepang, saya belum pernah melihat ada siswa siswi Jepang yang ke sekolah membawa mobil. Kalau sepeda motor, memang ada, seperti pada serial Tokyo Tower. Kok malah ke serial sih? Anggap sama aja lah ya. Di berbagai film atau serial di gambarkan para siswa disana mengguanakan transportasi umum, seperi bis. Kadang juga ada yang menggunakan sepeda. Dan yang lebih mantapnya lagi, banyak yang berjalan kaki. Pada serial Great Teacher Onizuka, serial yang menggambarkan seorang preman menjadi guru, di sana kita akan melihat bagaimana suasana kelas di Jepang. Rapi. Bersih. Ya, mungkin fasilitasnya memang berbeda.
Yang menarik adalah, saya mendengar jika di sana pendaftaran sekolah tidak di lakukan ke sekolah, namun ke lembaga khusus, yang nantinya akan memilihkan sekolah yang terdekat dengan rumah siswa. Seperti pada film Kimi ni Todoke, di sana pemeran pria bahkan belum tau arah jalan ke sekolahnya. Jadi, ga ada itu sekolah favorit atau ga. Kecuali sekolah swasta ya, beda itu. Itulah kenapa disana banyak siswa siswi yang pergi pulang sekolah dengan berjalan kaki, wong dekat.

Wah, ternyata ketikannya sudah banyak. Saya stop dulu aja ah, nanti pembaca malah bosan. Terima kasih...
Post a Comment