Saturday, 25 October 2014

Weed Control (Pengendalian Gulma) pada Tanaman Tebu



Pendahuluan
Kehadiran gulma (weed) pada Tanaman Tebu dapat menimbulkan kerugian karena terjadinya kompetisi (perebutan) dalam pengambilan air, unsur hara dan cahaya matahari serta perebutan tempat hidup. Menurut Sutarto dan Bangun (1989) persaingan gulma pada tanaman semusim (tebu) secara efektif adalah sepertiga sampai seperempat dari umur tanaman tebu.
Sifat khas yang dimiliki gulma yang sukses berkompotisi dengan tebu antara lain bentuk batang stoloniferus, penyebaran sistim perakaran cepat dan luas, berdaun lebar dan sempit tahan terhadap naungan dan pertumbuhannya cepat.
Menurut Mercedo (1977), bahwa jenis gulma yang mempunyai sifat kompetitif kuat dapat memproduksi senyawa-senyawa kolin yang bersifat alelofati untuk mendominasi sumber daya alam yang berada dalam keadaan terbatas dalam lingkungannya dan dapat menghambat pertumbuhan tanaman tebu. Hambatan-hambatan pertumbuhan tebu akibat alelofati terjadi melalui hambatan pada pembelahan sel, pengambilan mineral, respirasi, penutupan stomata, sintesis protein dan lain-lainya.


Gejala Kerusakan.
Gejala kerusakan tebu akibat kompetisi gulma tidak tampak segera, sehingga pengendalian gulma sering terlambat dan tanaman sudah memasuki periode kritis yang berakibat negatif terhadap pertumbuhan dan berujung terhadap penurunan produksi. Periode kritis merupakan periode pertumbuhan tebu yang peka terhadap kompetisi gangguan gulma.

 Pengelompokan Gulma.

Gulma yang berkompetisi dengan tanaman tebu dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar antara lain :

1.Gulma Berdaun Sempit.
Gulma-gulma berdaun sempit yang dominan berkompetisi dengan tebu adalah kelompok rumput-rumputan dan alang-alang, serta teki.

            2. Gulma Berdaun Lebar.
Gulma-gulma berdaun lebar yang berkompetisi dengan tebu adalah seperti Borreria Latifolia, Ageratum Conyzoides, Controsema Pubecens.

            3. Gulma Merambat.
Gulma golongan merambat yang berkompetisi dengan tebu adalah Momordica Carantia (pare-pare), Mekania Micranta (rayutan) dan lain-lain.

 

Strategi Pengendalian.

Strategis pengendalian gulma yang dilakukan dikenal dengan istilah:
A.    Pre Emergance (penyemprotan pra tumbuh)
B.     Post Emergance (penyemprotan purna tumbuh)
C.     Hand Weeding (weeding rayutan)

A.    Pre Emergance.
Penyemprotan  pre emergance (pra tumbuh) dapat  dilakukan  pada  saat  tanaman  umur 1 sanpai 7 hari setelah tanam (tanaman belum tumbuh) Plant Cane (RPC) atau Ratoon Cane (RC), dengan menggunakan Boom Sprayer.
Ada beberapa factor yang harus kita lakukan untuk mendapatan hasil penyemprotan yang memuaskan .
 1. Jenis Herbisida :
Jenis Herbisida atau bahan aktif herbisida yang digunakan merupakan factor penentu keberhasilan penyemprotan. Bahan aktif herbisida yang digunakan di PT. GPM adalah Diuron ditambah 2.4Diamin.

2. Air sebagai pelarut
Air sebagai pelarut herbisida yang digunakan sebaiknya pada pH netral kalau tidak mungkin gunakanlah air yang bersifat tidak terlalu asam dan terlalu basa (pH 6-8) atau air deepwel dan jangan menggunakan air lebung, dengan volume semprot 400 liter per hektar.
  
3. Dosis Herbisida :
Dosis herbisida yang digunakan berdasarkan rekomendasi yang telah ditetapkan oleh Management yaitu :
            - Diuron               2.5 Kg / Hektar
            - 2.4 D Amine     1.5 Liter / Hektar
           
4. Alat (Boom Sprayer).
Alat yang dipergunakan untuk penyemprotan ini harus standart baik boom dan nozelnya ataupun traktor yang menarik alat tersebut.

5. Waktu Penyemprotan :
Untuk mendapat hasil penyemprotan yang sempurna, penyemprotan Pre Emergance ini dilakukan pada pagi hari dengan kecepatan angin sedang dan bahkan tidak ada angin, serta kondisi tanah masih lembab kena embun pada malam harinya, akan membantu pematangan biji-biji gulma.


 B.     Post Emergence .
Penyemprotan Post Emergence (purna tumbuh) dapat dilakukan pada semua kategori tanaman berumur dua setengah bulan dengan menggunakan knapsack  sprayer atau umur tanaman dibawah 2,5 bulan, jika pre emergencenya gagal, ada beberapa yang harus diperhatikan  untuk mendapatkan hasil penyemprotan yang memuaskan :

 1. Jenis Herbisida
Jenis Herbisida  atau bahan aktif herbisida yang digunakan merupakan faktor penentu keberhasilan penyemprotan, Bahan aktif herbisida yang dugunakan adalah Ametrin ditambah 2.4 Damine serta sulfaktan sebagai perekat dan perata.

2. Air sebagai pelarut :
Air sebagai pelarut herbisida yang digunakan sama dengan saat penyemprotan Pre Emergence yaitu air yang mempunyai pH netral (pH7) atau air Deepwel dengan volume semprot 400  sampai 450 liter per hektar.

3. Dosis Herbisida :
Dosis Herbisida yang digunakan berdasarkan rekomendasi yang telah ditetapkan oleh management  yaitu :
1. Ametryne                      4.0 liter / Hektar
2. 2, 4 D Amine                30 liter / Hektar
3. Surfactant                     0.5 liter / Hektar
4. Parakuat                                    0.5 liter / Hektar
yang dilarutkan merata dengan air didalam drum.

 4. Alat.
Alat spray yang digunakan adalah kanpsack sprayer yang standart dengan type nozel poly jick dengan lebar gawang spray 125 sampai 150 cm dengan tingkat pengabutan lembut dan rata, atau sering kita sebut dengan nozel warna biru muda.

 5. Kondisi Iklim
Kondisi iklim merupakan factor yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan spray seperti:
- Hujan
- Angin
                        - Kelembaban
Kalau penyemprotan post emergance gagal karena keadaan iklim yang tidak bersahabat sehingga gulma tidak mati, maka penyemprotan herbisida dapat diulangi lagi dengan dosis sebagai berikut :
1. Ametryne                4.0 liter / Hektar
2. 2.4 d Amine            2.0 liter / Hektar
3. Surfactant               0.5 liter / Hektar
4. Parakuat                  0.5 liter / Hektar



C.    Hand Weeding


Pengendalian gulma secara manual (Hand Weeding) hanya bersifat temporer seperti : gagal spraying pada pinggir petak, atau pun pada areal-areal siap panen dimana gulma merambatnya sangat padat sehingga mempersulit proses tebang dan angkut (Harvesting). Proses weeding ini dapat dilakukan dengan cara mencabut semua jenis gulma yang merambat yang berada dalam areal pertanaman, dan hasil pencabutan ini dikumpulkan dipinggir areal.


Post a Comment