Sunday, 26 October 2014

Siapakah itu Ahlus Suffah?




Tersebut dalam sejarah, bahwa di zaman Nabi ada kaum yang bernama “Ahlussuffah”. Kami ingin bertanya, siapa itu Ahlussuffah, berapa banyaknya, apa kerjanya dan siapa yang memberi makan mereka?
Jawab :
Suffah berarti beranda.
Ahlus suffah ialah orang yang mendiami buat sementara beranda Masjid Rasulullah SAW, di Madinah. Sepanjang sejarah, bahwa pada ketika Nabi telah pindah ke Madinah, maka berbondong-bondonglah sahabat beliau mengikutinya, karena pada ketika itu Hijrah ke Madinah adalah cirinya orang Islam. Siapa yang Islam Hijrah, siapa yang kafir tidak.
Untuk mengatasi kesulitan pemondokan maka Nabi “mempersaudarakan” pengungsi dari Mekkah, yang kemudian di namai muhajirin, dengan orang Madinah yang kemudian di namai Kaum Anshar (kaum penolong).
Setiap orang muhajirin di persaudarakan dengan seorang anshar oleh Nabi. Orang anshar itu mengambil orang muhajirin dan membawanya tinggal di rumah.
Tetapi ternyata kemudian, bahwa pendatang dari Mekkah banyak juga, sehingga tidak dapat di tampung semuanya di rumah-rumah orang Madinah.
Maka Nabi mempersiapkan suatu tempat di sebuah sudut mesjid yang beratap untuk menampung mereka buat sementara.
Beranda yang ada di sudut mesjid inilah yang dinamakan Suffah dan orang-orang pengungsi yang tinggal di situ di namai Ahlus suffah (penghuni suffah).
Mereka itu banyak juga. Menurut tafsir Qurthubi, jumlah mereka lebih kurang 400 (empat ratus) orang laki-laki (Qurthubi juz III halaman 340).
Mereka semuanya orang miskin, tidak ada rumah tempat tinggal, tidak ada famili yang menampung, dan karena itu mereka di suruh Nabi tidur di Beranda Masjid.
Makan minum mereka selain diberi orang-orang Islam yang kaya-kaya, Nabi sendiri biasa membawa makanan untuk mereka dan beliau makan bersama-sama mereka. Ini suatu kegembiraan yang besar bagi mereka, yakni makan bersama-sama Rasulullah SAW.
Di antara Ahlus Suffah terdapat nama Abu Hurairah Rda, seorang sahabat yang terkenal dan banyak merawikan hadist, Abu Dzar Al Gifari, seorang sahabat yang terkenal pemurah, yang mendermakan kelebihan hartanya yang di makannya tiap-tiap sore, Abdullah bin Ummi Maktum, seorang yang buta yang tersebab dia Nabi dimarahi Tuhan, sebagai mana yang di terangkan dalam kitab Asbabun Nuzul, yaitu sebab turunnya ayat surat “ ‘Abasa”.
Kalau di teliti kitab-kitab Asbabun Nuzul, yaitu kitab-kitab yang menerangkan sebab-sebab turunnya ayat, maka ayat-ayat yang di bawah di turunkan adalah bertalian dengan Ahlus Suffah ini, di antaranya :
Firman Tuhan :

Artinya : “(Bersedekahlah) untuk orang-orang miskin yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah. Mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka bahwa meraka orang kaya, karena mereka memelihara dirinya dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan ciri-cirinya, mereka tidak meminta kepada manusia dengan cara paksa. Apa saja harta yang baik yang kamu sedekahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya”. (Al Baqarah : 273).
Tersebut dalam tafsir Qurthubi, bahwa ayat ini turun pada mulanya untuk mengerahkan orang bersedekah kepada Ahlus Suffah, tetapi kemudian menjadi umum, yakni bersedekah kepada seluruh orang miskin (Tafsir Qurthubi Jilid III halaman 340).


Lama juga Ahlus Suffah ini bekumpul di beranda Masjid Rasulullah SAW itu. Mereka di bubarkan pada zaman khalifah Umar bin Khathab, yaitu tersebab daerah Islam sudah melebar ke Barat dan ke Timur. Mereka di kirim ke seluruh penjuru, sebagai mubaligh-mubaligh oleh khalifah Amirul Mu’minin Saidina Umar bin Khathab dan berusaha sendiri mencari rezki. (Lihat Daeratul Ma’arif al Qurnil Isyin juz 5 halaman 523).
Kesimpulan jawaban :
1.       Ada Ahlus Suffah di zaman Nabi, yaitu sahabat-sahabat orang muhajirin yang miskin yang tinggal di beranda Masjid Nabi di Madinah. Mereka sebanyak lebih kurang 400 orang.
2.       Nabi menyayangi mereka, makan bersama-sama Nabi, duduk bersama-sama, mendengarkan wahyu-wahyu dan hadist-hadist Nabi, dan jika ada perintah perang, mereka semuanya maju bertempur menegakkan agama Allah.
3.       Mereka baru di bubarkan oleh Khalifah ke-II, Saidina Umar bin Khathab, di suruh ke daerah-daerah mencari rezki karunia Allah.
Demikian adanya.


Di sadur dari buku “Kumpulan Soal Jawab Keagamaan” karya KH. Siradjudin ‘Abbas, halaman 214



Post a Comment