Wednesday, 1 October 2014

Hamil Sebelum Menikah

Di era sekarang ini, sangat banyak kita temui pemuda pemudi saling berpacaran dan memadu cinta. Masih banyak perdebatan mengenai boleh atau tidaknya berpacaran itu. Ada yang berpacaran secara positif (saling mendukung dan berkembang). Ada pula yang negatif, yang mengakibatkan seks bebas, dimana terkadang berakhir dengan kehamilan. Disini saya tidak sedang membahas boleh tidaknya berpacaran, tetapi lebih kepada masalah hamil di luar nikah. Kenapa? Karena tak perlu pacaran pun, bisa hamil di luar nikah.
Kemudian, apabila terjadi kehamilan di luar nikah, bolehkah sang pemuda pemudi kita nikahkan? Inilah yang akan kita coba bahas.

Kita mulai dari mengenal wanita itu sendiri. Wanita hamil ada tiga macam :
1. Wanita hamil yang sedang bersuami
2. Wanita hamil yang telah diceraikan suaminya, baik cerai hidup maupun cerai mati
3. Wanita hamil yang tidak mempunyai suami yang sah, yaitu kandungannya berasal dari zina.

Wanita bagian 1., tentu tidak boleh di kawinkan sama sekali, karena ia mempunyai suami. Agama Islam sendiri melarang keras poliandry, yaitu bersuami banyak.
Wanita bagian 2., boleh di kawinkan asal masa iddahnya sudah habis, yaitu sampai melahirkan anaknya.
Wanita bagian 3., boleh di kawinkan bila saja karena ia tidak mempunyai suami, tidak pernah di ceraikan (di talaq) dan juga tidak ada masa iddah.

Sehingga jika di lihat kehamilannya, maka masuk ke wanita bagian 3. Kemudian, bolehkan wanita tersebut di nikahkan? Jawabannya BOLEH.

Tersebut dalam kitab-kitab fiqih Madzhab Ayafi'i :
1. Dalam kitab I'anatut Thalibin Juz IV, halaman 48, yang isinya:



Artinya : "Kalau hamil itu dari zina maka hamilnya sama saja dengan tidak hamil, karena tidak ada kehormatan bagi hamilnya itu".

Hal ini di terangkan oleh pengarang "I'anatut Thalibin" ketika menjelaskan persoalan iddah yang mengandung.

Katanya : "Wanita yang hamil, yang hamilnya dari yang punya iddah (suaminya atau tuannya), maka iddahnya adalah dengan melahirkan kandungannya".

Tetapi kalau kandungannya tidak berasal dari yang punya iddah itu, maka iddahnya bukan dengan melahirkan.

Lantas di sambung lagi :
"Kalau kandungan itu berasal dari zina, maka hal itu tidak ada perhitungan sama sekali, karena kandungannya sama dengan tidak".

Memang anak kandungannya itu tidak ada status, tidak di mulai dengan nikah, tidak di mulai dengan cerai, tidak ada iddah, tidak ada ruju', tidak ada ihdad, tidak ada pusaka, tidak ada waris dan tidak ada nasab.

Jadi, adanya sama dengan tidak.

Tersebut dalam kitab Qaliyubi :



Artinya : "Wanita tidak berkabung (ihdad) dengan kandungan yang tidak di kenal, karena bisa saja kandungan itu datangnya dari percampuran syubhat, dan juga tidaklah habis iddah dengan kandungan yang tidak dikenal itu. Kandungan (hamil) yang tidak di kenal itu tidaklah menghalangi sah nikah, sebagai yang telah di terangkan di atas. Juga tidak terlarang bersetubuh dengan wanita itu". (Qaliyubi IV, halaman 45).

Nampak dalam nash ini, bahwa wanita yang hamil di sebabkan zina boleh kawin dan boleh pula di kawini, juga boleh bersetubuh dengan wanita yang begitu.

Dalil-dalil atas bolehnya wanita hamil kawin dan di kawinkan ialah ayat-ayat atau hadist yang membolehkan seluruh orang janda kawin.

Di antaranya firman Tuhan :


Artinya : "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian (janda-janda) yang ada di antara kamu". (An Nur : 23)

Di dalam ayat ini seluruh orang janda boleh kawin dan boleh di kawinkan, tidak peduli apakah ia sedang hamil atau tidak, apakah ia sedang hamil atau tidak.

Ayat ini ayat umum, asal janda atau asal bersendiri boleh kawin dan boleh di kawinkan.

Kemudian ayat ini di takhsiskan, yaitu ada yang di kecualikan dengan ayat lain, yaitu wanita yang di hamili suaminya. Mereka tidak boleh kawin dan tidak boleh di kawinkan sebelum sampai masa iddahnya habis, yaitu melahirkan anaknya.

Hal ini di jelaskan Tuhan dalam firmanNya :


Artinya : "Dan mereka (wanita) yang hamil, masa iddahnya ialah sampai mereka melahirkan kandungannya". (At Thalaq : 4).

Wanita yang hamil yang di maksudkan oleh ayat ini adalah wanita yang beriddah karena ayat ini disebut dengan "ajaluhunna" yang berarti iddahnya.

Adapun wanita yang hamil karena zina tidak ada sebutirpun ayat atau hadits yang melarang mereka kawin atau di kawinkan, sehingga mereka tetap masuk dalam lingkungan ayat An Nur ayat 32, yaitu orang yang boleh di kawinkan.

Andaikata ada orang berpendapat bahwa ayat At Thalaq 4 ini adalah ayat yang bisa mentakhsiskan ayat An Nur 32 tadi, maka pendapatnya itu meleset, tidak tetap, karena :
a. Ayat 4 Surat At Thalaq ini bukanlah ayat menyuruh atau melarang kawin, tetapi hanya ayat menerangkan soal iddah.
b. Hamil yang di maksudkan dalam ayat ini adalah hamil yang di dahului oleh cerai, karena pangkal ayat ini adalah : "Istri-istri kamu yang tidak ada harapan berhaid lagi (kalai di ceraikan), maka iddahnya 3 bulan ............ dan istri-istri yang hamil (kalau di ceraikan) maka iddahnya melahirkan anaknya".

Jelas ayat ini di katakan "min nisa-ikum --- istri-istri kamu".

Adapun wanita yang hamil dengan zina tidaklah tepat kalau dinamakan istri.

Kesimpulannya dapat di ambil bahwa kawin atau mengawinkan wanita hamil dengan zina boleh saja, karena tidak ada satu ayat atau hadits yang melarangnya.

Kemudian muncul pertanyaan, apakah fatwa yang membolehkan kawin bagi wanita hamil dengan zina itu tidak akan mendorong orang berzina, karena hasil zinanya itu di legalisir atau di akui anaknya?

Jawabannya adalah : BUKAN, bukan ke situ perginya. Mengawinkan wanita yang hamil karena zina dengan pacarnya dulu atau laki-laki lain, bisa menghalangi ia berzina terus-terusan, karena si wanita sudah mempunyai suami yang sah.

Alangkah baiknya itu!!!!


Sumber : Kumpulan Soal Jawab Keagamaan karya KH Siradjuddin 'Abbas cetakan pertama 1980

Semoga membantu para pemuda - pemudi yang sedang galau. Ingatlah, lebaih baik kalian bertanggung jawab atas apa yang kalian lakukan. Jangan melakukan tindakan yang bertambah bodoh, seperti melakukan aborsi. Bisa jadi janin yang di kandung adalah satu-satunya penyelamatmu di dunia dan akhirat. Terima kasih


Sumber lain ulama lain dapat di lihat di Link ini.

http://ceritaayahdanbunda.blogspot.com/2018/09/status-anak-lahir-di-luar-nikah.html?m=1

http://ceritaayahdanbunda.blogspot.com/2018/09/sdr.html?m=1
Post a Comment