Monday, 20 October 2014

BUDIDAYA TEBU


R.D. Ellis dan R.E. Merry

Budidaya tanaman tebu dipengaruhi oleh banyak faktor seperti iklim, bentuk tanah, komposisi dan struktur tanah, irigasi dan drainase, varietas, hama dan penyakit, manajemen dan ketersediaan tenaga trampil, serta cara panen. Faktor-faktor ini mempengaruhi dengan cara yang berbeda–beda dan kadang juga saling berinteraksi. Sebagai konsekwensinya, cara budidaya yang berbeda juga diterapkan oleh suatu negara dalam memproduksi gula tergantung kondisi lokal masing-masing. Bagian ini bertujuan untuk memberikan panduan yang secara umum dilakukan dibanyak tempat, tetapi juga cara praktis lain yang menarik di suatu tempat.




Untuk beberapa tahun, lahan dibuka menggunakan kampak dan gergaji, dan seluruh lahan tebu di Karibia, Amerika Utara dan Selatan, Asia dan Australia juga dibuka menggunakan cara ini. Ini merupakan metode yang membosankan dan membutuhkan banyak tenaga manusia, kemudian perubahan (transformasi) secara cepat terjadi ketika buldozer dan traktor atau ripper digunakan. Pekerjaan ini dapat dilakukan dengan cepat dan membutuhkan sedikit operator yang terampil dan kru perawatan. Pohon ditebang, dirobohkan dan dibakar setelah kering. Area yang telah dibuka dapat dibentuk agar drainase dapat dilakukan atau memberikan fasilitas untuk irigasi.

Ketika persiapan lahan dilakukan dengan tangan menggunkan cangkul, garpu atau bajak hewan, tanah yang baik/diharapkan akan diperoleh jika pengerjaannya dilakukan pada kelembaban yang cukup. Sekitar tahun 1900 ketika bajak dioperasikan dengan tali dan melintasi lapangan dengan mesin uap yang banyak digunakan/diintroduksikan ke sebagian besar negara. Pada tahun 1930, bajak dengan mesin uap mengantikan teknologi tanpa olah tanah. Kedua cara ini, beberapa tahun terakhir, secara pelan digantikan oleh traktor beroda. Traktor pertama menggunakan bahan bakar petrolium atau energi paraffin dan akhirnya menggunakan mesin diesel. Implemen dihubungkan dengan alat dan kontrol dengan pautan hidrolik dan dengan cara demikian dapat mengurangi pemborosan.




SISTEM PENGOLAHAN

Walaupun banyak perbedaan cara budidaya yang dikembangkan ketika tebu untuk pertamakalinya ditanam dalam skala luas, secara umum dibawah suatu kondisi, ada 2 hal yang harus diperhatikan :
  1. Mereka harus mempertimbangkan kondisi iklim lokal  dan
  2. Mereka tergantung pada ketersediaan tenaga kerja yang murah.
Didaerah panas, memerlukan irigasi perlindungan tanah dan kelembabannya merupakan hal penting, dan untuk daerah yang rendah drainase sangat diperlukan.

KONSERVASI TANAH DAN LAYOUT LAPANGAN

Konservasi tanah bertujuan untuk melindungi tanah tempat tebu tumbuh dalam hubungannya dengan menghasilkan keuntungan besar secara konsisten selama waktu yang memungkinkan. Seluruh layout lapangan bertujuan untuk mencapai ini dan merupakan alat yang digunakan oleh perencana tergantung pada USLE (Universal Soil Lois Equation) (SASEX, 1996). Definisi kehilangan tanah dibawah suatu kondisi dirumuskan sebagai :

Kehilangan tanah (A) = faktor erosi karena hujan (R) * Faktor erodibilitas tanah (K)* Faktor topografi  (LS) * Faktor manajemen tanaman (C) * Faktor kebiasaan (P).

Ø  Kehilangan total (A) merupakan total tanah yang hilang dari berbagai kondisi dan akan berbeda nilai untuk masing-masing tipe tanah. Ini dinyatakan dalam ton/tahun. Faktor yang mempengaruhi dapat dikelola secara hati-hati ketika hal ini sangat terbatas.
Ø  Bagian yang menjelaskan faktor erosi karena hujan (R) adalah jumlah hujan yang turun pada sebagian badai yang memberikan sebuah estimasi luas dari kerusakan dan intensitasnya. Kekuatan yang interaktif terjadi pada saat hujan adalah butiran hujan dan aliran air. Mulsa yang menutupi atau sampah dan row yang pantas dan derajad drainase dapat mengurangi efek kehilangan tanah.
Ø  Faktor erodibilitas tanah (K) tergantung pada komposisi penyusun tanah (persentase pasir, lempung, lumpur). Struktur tanah, kandungan bahan organik dan permeabilitas tanah. Struktur yang miskin, permeabel, tanah berpasir dengan kandungan bahan organik lebih mudah tererosi daripada struktur tanah lempung dengan kandungan bahan organik sedang sampai tinggi.
Ø  Faktor topografi (LS) merupakan sebuah fungsi kemiringan dan panjang slope, peningkatan  derajat kemiringan mempengaruhi ketesediaan air yang dapat menyebabkan tersebar dan pergerakan partikel tanah.
Ø  Faktor manajemen tanaman (C) mempunyai nilai yang berbeda tergantung cara yang dilakukan seperti sampah, pembakaran tebu, penanaman dalam jalur dan pengolahan tanah minimum, juga waktu pelaksanaan seperti penanaman yang berhubungan dengan curah hujan yang tinggi. Penerapan cara ini juga penting dalam konservasi kelembaban tanah selama fase pertumbuhan tebu.
Ø  Faktor kebiasaan (P) dengan dikurangi dengan melakukan konservasi seperti penentuan row sesuai kontur tanah dan menggunakan terasering.

Faktor manajemen tanaman dan faktor kebiasaan merupakan faktor yang sangat ditentukan oleh petani tetapi konservasi kerja secara mekanik sangat penting untuk mengontrol kelebihan air pada tanah sebelum hal itu menyebabkan kerusakan yang serius dan mendukung untuk melindungi velositas tanah pada suatu lahan yang dapat dilakukan tanpa membahayakan pekerjaan meliputi :
Ø Aliran air yang deras dari tempat tinggi dialihkan aliran airnya sebelum masuk ke lahan.
Ø Tanah miring dapat ditanami agar dapat mengumpulkan air yang dapat menyebabkan run-off (aliran permukaan) dan mengalihkan menjadi aliran air yang stabil.
Ø Saluran air mungkin telah ada secara alami atau dibuat dan menggunakan penutup vegetatif
Waktu ketika erosi menjadi sangat berbahaya adalah selama pembajakan atau lahan belum ditanami. Ini dapat diminimalkan atau dibatasi untuk suatu periode ketika intensitas hujan yang tinggi tidak terjadi.

Drainase tanah sama pentingnya dengan konservasi tanah dalam hubungannya menjaga produktivitas karena hal ini berhubungan dengan irigasi pada tebu, subjek ini akan dipaparkan pada bagian yang lain.

Pengaruh konservasi tanah dan kelembaban pada cara budidaya yang berbeda akan dibahas pada bagian lain.

PENANAMAN DALAM BARIS

Cara budidaya yang secara umum dilakukan adalah penanaman dalam baris, ketika tebu ditanam dalam baris baik itu didasar maupun digundulkannya.

Tanaman yanag ditanam di dasar secara normal mempunyai lubang yang tidak terlalu dalam atau gundukan yang tinggi. Metode ini secara luas digunakan untuk penanaman menggunakan mesin  dan juga cocok untuk panen dengan mesin. Pada alur yang dangkal atau inter-row mudah terkena erosi permukaan, dan kita tidak bisa menghindarinya/menjaganya. Secara normal, baris disesuaikan dengan kontur tanah. Dilapangan, bentuk dasarnya adalah baris pendek diminimalkan, tetapi kesempatan pada row langsung akan diperoleh ketika bentuk lahan diubah dilapangan. Baris dimana tanaman tebu dtanam pada tempat yang datar menghasilkan vegetasi yang menjadi penghambat kehilangan tanah dan aliran permukaan (run-off), tetapi kehilangan yang nyata dapat terjadi diantara  tunggul terutama pada tanaman ratoon yang tua.

Tebu ditanam pada kasuran dengan beberapa alasan:
Ø Untuk mencegah erosi permukaan dan aliran untuk melindungi struktur tanah
Ø Untuk membuat kedalaman yang besar dari tanah, cocok untuk tanah dingin dan tanah yang miskin drainase.
Ø Untuk memfasilitasi irigasi, khususnya irigasi alur dan lebih khusus lagi untuk irigasi tetes.
Ø Hama (seperti larva yang tinggal di tanah) lebih memilih kondisi lembab seperti yang diperoleh pada alur.
Ø Untuk mempermudah pengoperasian mesin (machinnery) agar roda traktor melintasi alur dan dapat mengurangi jumlah tunggul yang rusak, membuat jarak roda agar sesuai dengan lebar inter-row.
Ø Untuk memudahkan operasi grab loader dan chopper harvesting pada saat panen.

Menanam tebu dalam alur tidak selalu dilakukan, terutama ketika irigasi alur diterapkan, germinasi yang rendah terjadi karena tidak cukupnya kelembaban tanah yang berhubungan dengan tebu yang ditanam pada kasus ini, “ alur tengah” akan dibelah setelah germinasi dan menempatkan tanah disekitar dan diatas tanaman yang rusak pada alur, ini memungkinkan untuk mendapatkan alur yang diinginkan. Ini dapat dirusak dan punggung tempat tumbuh tanaman dan ini dilakukan dengan hati-hati dan sebelum tanaman tumbuh tinggi.

Lebar alur bervariasi, selalu dilakukan antara 0,15–0,25 pada tanaman ratoon dan antara 0,5–0,8 m lebarnya. Setelah ratooning, alur mungkin akan dikonstruksi ulang untuk memenuhi beberapa kriteria yang diinginkan.

Panjang row tanaman bervariasi dan dapat dideterminasikan dengan memperoleh konservasi yang bagus. Row pada umumnya maksimal 200 m pada tanah ringan sampai 400 m pada tanah berat. Row yang sangat panjang dapat diperoleh pada tanah yang cocok dengan kondisi kemiringan dan row antara 500-1000 m digunakan pada areal yang sangat landai, tanah vertisol di Ord River, Australia bagian barat dan Nakambala, Zambia. Row yang panjang memudahkan aplikasi mesin, tetapi mengakibatkan konservasi tanah  yang terbatas. Ada yang tidak memuaskan ketika pengoperasian membutuhkan tenaga kerja intensif karena manajemen tenaga kerja sulit dilakukan.

Gradien row ditentukan oleh klasifikasi tanah, bentuk tanah, keseragaman kemiringan, metode irigasi dan panjang row.Tipe gradian jarang yang lebih tinggi dari 2-2.5 %, kecuali pada row yang pendek, dimana diperoleh tanah yang datar.

Jarak row merupakan suatu hal yang secara pokok mempengaruhi hasil pada jarak yang berbeda dan faktor manajemen. Banyak percobaan menunjukkan bahwa ketika stress kelembaban tejadi, hasil tebu meningkat sejalan dengan penurunan row, dengan batasan yang mengikutinya. Di Afrika Selatan (SASEX, 1996) sebagai contoh, terjadi peningkatan 3 % pada hasil tanaman setiap penurunan jarak row 300 mm dari 2 m–0,6 m. Dalam prakteknya, jarak row 1 m menutup areal terhadap berbagai alat akan diperoleh tetapi jarak row antara 1,5-1,8 m dapat dilakukan dengan operasi mesin. Di daerah yang dingin, kondisi pertumbuhan melambat pada areal miring ketika kanopi menutup dengan cepat pada tanah yang mudah tererosi, dan ketika varietas yang ditanam mempunyai daun yang tegak. Jarak yang menutup lebih cocok, ketika kondisi pertumbuhan lebih bagus, tanah dangkal atau hujan rendah, jarak yang tidak lebar akan lebih dipilih pada kondisi pertumbuhan yang bagus, ketika konopi daun terbentuk dengan cepat, irigasi dapat dilakukan dan operasi mesin tinggi row yang lebih lebar akan lebih cocok.

Pada jarak row yang lebih lebar, tebu ditanam pada double atau triple row. Ini seperti pada pemasangan tiang listrik atau penanaman nanas. Bentuk row itu akan menguntungkan pemanenan. Jika lebar inter-row antara 1,8 m.

Pemecahan ini dapat mengurangi kerusakan didalam row akibat mesin panen dan mengurangi pemadatan tanah yang dekat dangan row. Penutup konopi yang terjadi secara lambat, merupakan salah satu kerugian dari penggunaan jarak yang lebar yaitu efektivitas dalam pengendalian gulma.

Peningkatan hasil dari jarak row yang tertutup relatif kecil dan membutuhkan tambahan biaya, seperti membutuhkan bibit yang lebih banyak dan mebutuhkan waktu tanam yang lebih besar juga dan banyak row yang perlu disiangi dan disemprot.


DASAR BUMBUNGAN

Kecukupan saluran air pada tanah yang datar di daerah yang mempunyai curah hujan tinggi di banyak negara dilakukan dengan menanam tebu pada dasar bumbungan dengan saluran yang dalam. Dasar ini mempunyai lebar yang bervariasi. Lebar sekitar 6-7 m, lebar saluran 0,6 m dan dalamnya 0,45 m. Bumbungan ini dipelihara dengan mouldboard ploughs (bajak singkal) atau discs traveling sepanjang dasar dan membentuk alur dengan mengirisnya kearah pusat. Jika bumbungan menjadi sangat berat maka mouldboard atau disc diganti dengan chisel tines pada pengoperasian yang pertama. Ukuran operasi kultivasi pada tanah lempungan yang berat.

Ø    Membajak dan membongkar tunggul serta memecah tanah.
Ø    Harrow dan re-harrow, jika mungkin, setelah interval 10 hari untuk hasil yang bagus.
Ø    Membuat parit mengunakan implemen yang cocok untuk membuka kembali saluran.
Ø    Membuat alur tanaman sepanjang 1,5 m.

Seluruh kultivasi ini dilakukan pada musim kering. Dimana irigasi permukaan cukup, tebu ditanam pada alur, sepanjang bumbungan, ditutup dengan tanah dengan memecah ongokan tanah dan bentuk bumbungan pada dasar diperbaiki lagi. Pada dasar bumbungan dapat dengan mudah dilakukan irigasi (sprinkler irrigation) dan sebuah permukaan yang drainasenya baik merupakan tempat tumbuh yang baik pula bagi tebu. Pada daerah non-irigasi akan dilakukan dengan menunggu datangnya hujan pada awal musim sebelum dapat ditanami.

Tipe dasar bumbungan, sebelum dan sesudah tanam terlihat pada Gambar 1.

Dalam teori, chisel (pemahat) membuat tanda kultivasi tanah sedalam 0,45 pada lekukan yang sama pada permukaan bumbungan. Kelebihan hujan atau irigasi menapis sepanjang lapisan dan karena bumbungan, masukan ke saluran terjadi pada semua sisi. Dalam prakteknya dapat terjadi erosi tanah, terutama pada sisi dasar dan frekuensi pembersihan saluran lebih mudah. Karena hal ini juga menyebabkan row disisi luar tanaman tebu adalah 0,6 m bagian dari pusat, seluruh pertumbuhan tebu terbatas. Walaupun demikian, dasar bumbungan dapat dengan mudah dalam membuat drainase pada tanah lempung berat dan digunakan di Afrika Timur dan Selatan yang mempunyai kondisi seperti ini.


SISTEM DI GUYANA

Di Guyana, tebu tumbuh pada daerah sempit sepanjang pantai. Area yang diolah sepanjang 13 km dari Samudera Atlantik dan sebagian besar dibawah permukaan laut. Ini artinya curah hujan tahunannya adalah 2340 mm, dan ini juga mempunyai musim kering yang jelas. Tanah lempung berat, tanah salin (kandungan garam tinggi) ditemukan dekat dengan pantai tetapi mereka menurun pada tanah kegaraman. Lebih jauh dari pantai dan sungai tanah lempung berat digantikan oleh tanah gambut yang masam. Sulit untuk mengolah lahan yang mempunyai jalan yang sangat banyak, seperti rawa-rawa, dimana air dari berbagai tempat dikumpulkan agar bisa digunakan sebagai sarana transportasi dan irigasi di daerah tersebut selama musim kering.

Hanya dengan sistem yang kompleks mengenai saluran, dykes dan kanal budidaya tebu dapat dilakukan. Insinyur kolonial Belanda mengusahakan daerah rendah untuk dapat ditanam. Secara luas, membangun tembok laut untuk melindungi pantai dari pengenangan, dan tumpukan ini akan melindungi areal. Drainase air dilakukan dengan memompa air ke sungai atau ke laut ketika mungkin dilakukan dengan membuka pintu air ditempat yang rendah. Saluran darinase dibuat di sepanjang areal dan menerima air dari saluran dalam areal. Dipangkal yang berlawanan, dan pada tempat yang lebih tinggi, sebagai kanal untuk transportasi dan irigasi (jalan tengah), cabang (kanal yang menyilang) dibuat mengelilingi lahan. Lebar 11,3 m dibuat dasar bendungan disekitar masing-masing areal, ini akan mencegah air pada level yang tinggi pada kanal mengalir kelahan, kecuali jika dibutuhkan dan air irigasi dari areal ke kanal drainase. Bumbungan pada areal, dasar bendungannya mempunyai lebar yang bervariasi (selalau 7,3 m dari pusat ke pusat) yang diikutioleh pipa/saluran. Dasarnya mengalir dari jalan tengah yang lain ke garis samping (layout Inggris) atau dari cabang kanal ke cabang kanal yang lain (layout Belanda). Tebu ditanam pada row sepanjang 1,8 m dengan melintasi dasar. Tipe layout Inggris dan Belanda digambarkan pada Gambar 2.

Urutan pengolahan lahan ketika akan direplanting adalah :
Ø  Pembajakan untuk membongkar tunggul dan membongkar gulungan
Ø  Harrow untuk meningkatkan kemiringan tanah.
Ø  Membuka kembali saluran dengan mesin
Ø  Memindahkan tanah dari saluran ke pusat kasuran untuk melengkapi gulu dan.
Ø  Harrow dengan gigi untuk membuka bongkahan tanah dan memperhalus permukaan kasuran.

Lahan mungkin akan di bawah berada permukaan hingga kedalaman 0,30-0,45 untuk periode yang bervariasi dari 3-6 bulan (diikuti penggenangan) setelah air dikeluarkan dan tebu ditanam. Lahan kosong yang digenangi dapat memperbaiki tekstur tanah yang akan menjadi lebih friabel, mengurangi gulma lahan kering dan meningkatkan kandungan nitrogen tanah. Hal ini dapat disimpulkan bahwa sebuah garis dari ton besi, dibangun dengan mereduksi kondisi dengan pengenangan areal yang belum ditanami yang akan terjadi oksidasi menjadi ferric bebas ketika air bergerak, melindungi remah-remah tanah ini semua sangat mungkin untuk meningkatkan pada tanah miring. Dengan pengenangan pada lahan kosong, dapat meningkatkan hasil sampai dengan 40 % lebih selama siklus tanaman 3-4 tahun, peningkatan ini merupakan kompensasi dari kehilangan hasil selama 1 tahun dalam satu siklus.




FLORIDA DAN MOZAMBIQUE

Kesulitan yang sama seperti yang terjadi di Guyana juga ditemui pada tempat lain seperti Florida dan Mozambique. Di Florida, tebu tumbuh pada tanah rawa yang dikeringkan dari rawa Everglade, dengan menginstalasi sistem drainase yang ekstensif dan manajemen yang bagus. Tanah “Muck” dapat mengandung bahan organik yang tinggi, pada beberapa tempat lebih dari 60 % dan kesuburan yang diperoleh dapat berguna bagi produksi tanaman yang tidak pasti tinggi rendah (jika tidak unik).
Kesulitan dalam mengkombinasikan perlindungan terhadap banjir dengan membuat sistem drainase juga terjadi di Mozambique, dimana tebu tumbuh pada tanah vertisol pada delta sungai Zambesi dan Komati dilindungi dengan bangunan tembok tinggi mengelilingi areal penanaman tebu. Masalah drainase pada tanah yang sangat datar telah dipecahkan, pada seluruh tempat seluruh air drainase dipompa keluar dari tanah yang tertutup dan di buang ke sungai.

LOUISIANA BANKS ( TEPI SUNGAI LOUISIANA)

Di Louisiana, pertumbuhan tebu secara bagus terjadi pada tempat rendah yang datar, dengan persediaan air yang tinggi dibawah curah hujan yang tinggi, dimana dapat diterima dengan membangun sistem bumbungan dan alur pada kultivasi dilahan yang dibentuk pada bentuk penggung kura-kura. Bumbungan tempat tebu tumbuh tingginya  0.45 m, dan interrow 1.8 m. Masing-masing alur mempunyai saluran aliran air dari alur ke bagian yang lebih rendah dari pada salurannya sedalam 20 m atau lebih, dimana dengan aliran ke kanan dari pada saluran ini akan mengalir kesisi lain lahan ke tempat yang lebih rendah dimana dapat mengalir secara paralel dengan saluran yang ditambahkan pada bentuk punggung kura-kura. Saluran di area akan mengalir ke area kanal drainase.
Manfaat terbesar dari sistem tepi sungai Louisiana (disebut punggung bukit dan alur) ini dapat mengakibatkan semua stadia produksi gula dapat dilakukan secara mekanisasi. Traktor dapat melompati row dan dikemudikan dengan berbagai implemen dapat dibawa untuk seluruh pengoperasian di lapangan. Sebuah gambaran unik dari sistem tepi sungai Louisiana adalah penggunaan traktor yang maksimal. Mereka dapat menggunakan mata bajak untuk memperlihatkan tebu agar dapat meningkatkan tingkat erosi sungai pada level yang diinginkan dan dalam waktu yang sama dapat mengendalikan gulma. Cara budidaya ini maupun yang lain menunjukkan bahwa saluran quarter harus dibuka kembali dengan cepat.
BUDIDAYA PADA TANAH MIRING

Untuk tanah miring hal yang perlu dipoerhatikan adalah mencegah hilangnya tanah dan kelembabannya. Desain layout sekarang menjadi lebih sederhana dengan foto udara dan peta kontur yang selalu tersedia. Hal utama yang diperhatikan dalam membuat jarak tanam adalah kemiringan dan tipe tanah (SASEX, 1996). Struktur yang dibutuhkan untuk desain daerah miring adalah jalan, saluran air dan terasering.
Saluran air ini sangat penting untuk mengalirkan air yang melimpah. USA–SCS (Soil Conservation Service) desain merupakan metode yang paling banyak digunakan dan dapat diharapkan untuk mengatasi  aliran puncak pada berbagai situasi. Dasar yang curam, penutupan jarak petak harus dapat mengontrol kehilangan air dan tanah. Juga tanah yang lebih mudah tererosi, penutupan petak harus dapat untuk mengurangi aliran panjang dari aliran air. Faktor manajemen memerankan bagian yang penting dalam menentukan jarak petak, yang memerlukan pengolahan minimum, penanaman dalam alur, pembakaran, penebangan dan waktu penanaman. Nomografnya sekarang tersedia dimana penempatan faktor yang perlu dipertimbangkan ketika desain layout untuk budidaya di tanah miring.

Contoh tipe layout lahan pada tanah miring:

Ø  Kemiringan punggung bukit. Ini merupakan sebuah puncak jalan ke bawah dengan aliran air alami dan atau buatan pada suatu tempatnya. Petak-petak terdapat pada sudut kanan sampai ke puncak jalan, paralel satu dengan yang lainnya dan merupakan pemberhentian air dari puncak saluran air. Jarak tanam sejajar dengan petak. Petak sangat berguna untuk memberhentikan air yang berlebihan agar bisa dimanfaatkan oleh tanaman.

Ø  Kubah (Dome) : Ini mempunyai sebuah jalan melintasi puncak bukit, dengan petak-petak memutari bukit, pemberhentian dikontruksikan dengan jalan air berumput turun kebawah sesuai dengan kemiringan.

Ø  Saddle : Jalan puncak menghubungkan saddle dari titik yang tinggi ke titik yang tinggi. Petak mengelilingi saddle dan pemberhentian ke saluran air dimulai dari tempat rendah ke saddle.

Konstruksi struktur konservasi membutuhkan perhatian penuh, petak dengan kemiringan sampai dengan 15 % dapat dibuat dengan menggunakan reversible disc atau mouldboard plough, memindahkan tanah ke atas jika memungkinkan. Pada kemiringan yang lebih tinggi, sebuah blade terracer atau bulldozer lebih cocok digunakan. Saluran air dibuat menggunakan reversible ploughs, bulldozer atau dan scoops. Saluran air pada areal sebaiknya dikontruksikan dengan graders. Segera setelah pembangunan saluran air ditanami dengan tanaman rumputan seperti Cynodon atau Stenotophrum sp dan disiram agar segerah tumbuh sebelum ada hujan.

HASIL

 Salah satu indikasi terpenting kesuksesan petani adalah produktivitas lahannya yaitu hasil tebu atau gula per hektar per tahun. Hasil per hektar yang dipanen, yang diharapkan, ini tidak berharga sebagai indikator yang tidak berhubungan dengan umur tebu pada saat dipanen, sebagai contoh, hasil tebu 170 ton/ha ketika tanaman di panen pada umur 24 bulan menandakan produktivitas yang rendah dari pada 90 ton /ha pada tanaman satu tahunan , umur pada saat panen bervariasi antara 9-14 bulan, tergantung pada musim panen dan keadaan tanaman dilapangan adalah RPC atau RC. Tergantung pada umur dalam bulan hanya memberikan gambaran keseluruhan secara kasar, jika pertumbuhan terbatas pada musim gugur dan tanaman dipanen terlambat pada umur 14 bulan pada akhir musim tidak secara langsung dapat dibandingkan dengan tanaman yang dipanen pada umur 10 bulan pada awal musim.

Umur tebu saat dipanen sangat bervariasi di seluruh dunia. Banyak tempat yang mempunyai irigasi bagus dapat dipanen pada umur 12 bulan, seperti yang dilakukan pada tempat yang mempunyai curah hujan yang tinggi seperti di Australia dan Colombia. Pada tempat yang iklimnya lebih tidak cocok lagi, tebu dipanen pada umur yang lebih tua lagi seperti tebu lahan kering di Afrika Selatan yang dipanen pada umur 15-18 bulan dan di Kenya 18-22 bulan.
 
Sejumlah cara diciptakan untuk meningkatkan ekpresi hasil dalam kaitannya dengan umur. Sweet (1973) mengemukakan metode COTCHM (Corrected Tonnes per Hectare per Month). Pada dasar analisis database yang luas hasil varietas NCo 376 di Triangle, Zimbabwe dan Simunye, Swaziland, faktor yang menghubungkan produksi untuk hasil tebu untuk panen tebu pada masing-masing bulan pada suatu musim pada umur yang berbeda, menunjukkan hasil yang diperoleh pada bulan April pada awal musim tebang. Metode ini sangat berguna untuk mengkorelasikan hasil panen pada suatu dasar, untuk mendeterminasikan kenapa mereka mempunyai penampilan dibawah dalam hubungannya dengan umur dan musim pada saat panen, dan ini merupakan aplikasi sebagian dalam menentukan kebijaksanaan pada saat replanting.

Suatu percobaan yang sangat berguna dilakukan di Swaziland untuk mendeterminasikan potensi hasil tebu didasarkan pada penggunaan mode iklim CANEGRO. Potensi hasil disesuaikan dengan daerah spesifik yang dikoreksi berdasarkan pada sejarah rata-rata hasil pada masing-masing titik tanah, untuk berbagai ratoon, musim pada saat ditebang, varietas dan metode irigasi (Mr. Glinchey dan King, 1998). Metode ini digunakan untuk menilai penampilan manager dan akhirnya hasil tebu.

Petani pada umumnya memberikan perhatian yang besar terhadap hasil tebu sebagai ukuran penampilan. Hal ini karena hasil tebu selalu lebih nyata jika dibandingkan dengan hasil sukrosa dan lebih dikontrol oleh hasil tebu. Pendapat ini sebagian benar ketika petani tidak dibayar berdasar produksi sukrosa maupun memberikan masukan lain dengan mengiling pada suatu tingkat sukrosa tebu. Ini tidak ada insentif pada keadaan untuk petani untuk menyetorkan dalam keadaan segar, sukrosa yang tinggi ke pabrik. Situasi ini terjadi pada banyak pabrik di Asia, Afrika dan Amerika Selatan. Walaupun sukrosa merupakan ukuran dan suatu yang akan dibayarkan, petani mungkin menggunakan tehnik untuk meningkatkan persentase sukrosa dan ekpresi hasil ditentukan oleh persentase sukrosa tersebut. Pengiriman tebu segar lebih singkat dari 72 jam setelah pembakaran atau pemanenan, pemotongan pucuk yang bagus, tidak basah dan matang. Tehnik ini memberikan hasil pembayaran sukrosa yang tinggi untuk produksi dan meningkatkan ekstraksi dan recoveri di pabrik. Sedikit contoh yang menerapkan cara ini adalah Australia dan Afrika bagian Selatan.

RATOON DAN RATOONING

Setelah suatu area yang ditanami dengan tanaman baru yang telah dipanen, primordia tunas dan akar dari tunggul akan berkembang ketika kondisi ekologinya memungkin dan menghasilkan tanaman keprasan atau ratoon. Ketika sebuah tunas baru tumbuh dan membentuk akar, akar tua mati dan akan mengalami pembusukan. Tunas ini akan menjadi tanaman baru dengan suplai air dan nutrisi dari sistem perakaran yang baru. Namun demikian, seiring dengan waktu tanah akan kehilangan strukturnya dan akan terjadi pemadatan akibat masuknya alat berat. Kemiringan dibentuk pada saat persiapan areal, efisiensi penurunan darinase, salinitas tanah dan masalah tanah sodik (sodicity) membuatnya menjadi lebih buruk, tunas akan rusak oleh alat panen (terutama dengan alat panen kombinasi) dan hama-penyakit menyebabkan kerusakan yang lebih buruk. Konsekwensinya, faktor yang lain harus konstant, pembentukan sistem perakaran tambahan menjadi semakin sulit untuk ratoon yang bagus, populasi tanaman menurun dan hasil tebu menurun sampai suatu titik dimana ambang batas ekonomi untuk pembajakan dan melakukan penanaman kembali.

Struktur yang bagus, tanah yang bebas saluran mungkin akan menghasilkan ratoon sebelum stadia ini, bebas tanah berstruktur buruk, tanah sodik membutuhkan replanting. Di Zwaziland tanaman ratoon lebih dari 20 kali dapat berproduksi dengan baik. Struktur, tanah lempung bebas drainase dibawah kondisi irigasi mengingat drainase yang buruk, sodik, tanah duplek direplanting setelah 4-5 kali tanaman ratoon. Tanah dengan kualitas menengah direplanting setelah 8-10 tahun. Di Australia, ini sangat jarang untuk lebih dari 4 tahun untuk dapat dipanen; umumnya hanya 2 kali untuk petani kecil di Kenya.

Kebutuhan biaya untuk PC jauh lebih tinggi jika dibandingkan tanaman RC, sebuah perbedaan akan meningkat dengan menanam varietas hibrida yang mempunyai vigor yang bagus, dan meningkatkan realisasinya, di beberapa instansi, penerapan sub-soiling dapat menyebabkan kehilangan hasil, khususnya ketika irigasi tidak diaplikasikan dengan cepat setelah pengolahan tanah yang lengkap. Biaya yang mahal untuk menanam tebu harus dihitung sebagai investasi modal.

Pada beberapa negara jumlah tanaman ratoon yang biarkan tumbuh atau proporsi areal yang dapat ditanam dengan tebu yang dipanen. Setiap tahun, harus disesuaikan dengan status dan sistem rotasi tanaman. Kasus di Queensland, Barbados, Jawa, Taiwan dan Kenya, tidak diaplikasikan secara teliti karena realisasinya keuntungan ekonominya diperoleh dari tanaman ratoon. Dalam hubungannya dengan ukuran program replanting dan pemeliharaan ratoon petani tebu harus mempertimbangkan banyak faktor, beberapa  yang penting diantaranya :

Ø  Balance antara hasil yang rendah pada tanaman ratoon tua yang murah dan hasil yang tinggi pada tanaman PC yang memerlukan biaya banyak/mahal, yang harus dicatat adalah efek aoutput pada harga bersih.

Ø  Kondisi pasaran gula, dalam hubungannya dengan kuota dari perjanjian internasional dan memperpendek  mata rantai dari produsen yang lain.

Ø  Konsekweni sosial, di beberapa negara, mempunyai sedikit atau tidak ada pekerjaan di lapangan pada waktu segera setelah dimulainya musim giling jika area pada tanaman PC muda sempit.

Ø  Tehnik yang perlu dipertimbangkan meliputi :
a)          Perbanyakan varietas baru, harapan dengan potensi hasil yang tinggi dan resistensi terhadap penyakit.
b)         Kontrol terhadap insektisida tanah yang selalu tinggi pada tanaman ratoon yang tua.
c)          Meningkatkan layout areal dan kesempatannya dalam metode irigasi.
d)         Mencegah kerusakan areal yang disebabkan oleh cara panen.
e)          Meningkatkan drainase permukaan dan sub-permukaan
f)          Kelembaban untuk mengurangi salinitas tanah, sodisitas dan mengubah PH tanah .
g)         Menurunkan populasi tunggul

Yang lebih dipilih adalah program replanting yang relatif konstant, terutama untuk kawasan yang luas dan harus dieveluasi secara teratur, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Jika 3 tahun tanaman replanting menunjukkan gejala penurunan, persiapan untuk program replanting untuk setiap kebun disusun untuk memperoleh tanggal panen yang cocok, dan drainase, ameriolasi tanah dan perencanaan irigasi. Ketika menentukan laju program replanting tahunan, harus didasarkan pada prinsip ekonomi. Berdasarkan NPV (Net Present Value) pemeliharaan ratoon merupakan metode yang lebih cocok dan sejumlah model dikembangkan menggunakan metode ini. Informasi yang dapat diperoleh dari model ini adalah :

a)      Estimasi hasil untuk tanaman tebu dan ratoonya pada masing-masing kelas tanah yang akan diperoleh dari data hasil terdahulu dan mungkin disesuaikan untuk musim panen untuk mengeliminasi bias pada beberapa petak yang memberikan hasil rendah pada akhir musim tebang.
b)      Estimasi persen sukrosa, pada kasus pertumbuhan atau ekstraksi gula pada kasus giling.
c)      Biaya bajak dan replanting dan biaya kultivasi tahunan tanaman PC dan RPC menunjukkan biaya per hektar dan pemanenan dan biaya angkut per ton.
d)     Dalam mengestimasi sukrosa atau harga gula yang diharapkan.
e)      Estimasi nilai bunga modal selalu berubah bentuk uang/modal yang dipinjam.

NPV tertinggi dari ratoon adalah ketika ratoon lebih memberikan keuntungan dari pada replanting.



PERSIAPAN LAHAN

Pekerja prinsip dalam persipan lahan adalah :
Ø  Merusak tanaman sebelumnya
Ø  Memindahkan akar dan batu untuk meningkatkan kondisi panen dan tanaman volunter yang tumbuh kembali, yang mungkin menjadi tempat transit smut dan RSD pada tanaman berikutnya
Ø  Membuka dengan bajak
Ø  Penyusun permukaan dan subpermukaan yang cocok untuk drainase dan layout lahan.
Ø  Menambahkan bahan ameliorasi tanah yaitu gypsum, kapur dan blotong.
Ø  Membuat kemiringan untuk germinasi dan pertumbuhan tebu.

Dalam hubungannya dengan beberapa aktivitas persiapan lahan yang dilakukan, tergantung pada hasil yang ingin dicapai dan biaya yang diperlukan untuk pengoperasian mesin yang beragam untuk beberapa petani. Pemilihan waktu yang tepat untuk persiapan lahan sangat penting dilakukan. Akan dipilih jika areal yang akan direplanting disiapkan untuk panen tebu pada musim kering, dimana hujan terakhir terjadi dan potensi pertumbuhan rendah, ini akan meminimalkan potensi kehilangan hasil. Waktu melakukannya harus sesingkat mungkin, sejalan dengan pengoperasian yang akan dilakukan, jika tanaman terserang RSD berat, periode yang panjang diinginkan idealnya, areal harus direplanting pada saat waktu germinasi dan fase awal peladangan harus dilengkapi dengan waktu dari potensial pertumbuhan yang cepat pada awal musim panas. Lahan yang di biarkan kosong pada penanaman musim gugur dengan menanam tanaman penutup jika diperlukan dan secara normal akan dipanen pada akhir musim tebang.

Dibeberapa instansi metode yang unik dilakukan oleh masing-masing petani; dan diskripsi yang mengikuti tujuan untuk mengilustrasikan hal tersebut yang biasanya digunakan. Setiap pengoperasian tidak mudah dilakukan dalam hubungannya memberi atau semua yang selalu dilakukan.

Ø  Perhatian terhadap lingkungan. Realisasi untuk meningkatkan adalah petani tebu harus lebih proaktif dalam memanajemen lingkungan. Ada keenganan petani untuk mengembangkan areal tebu. Ketika areal baru dikembangkan, ini harus dilakukan lebih hati-hati seperti hanya membuka lahan yang dapat memberikan keuntungan ketika dikelolah, tidak mengelola tanah yang miskin, vegatasi Riverine, areal bergunung–gunung dan tempat penting bersejarah. Petani memperoleh rekomendasi dari EIA (Environmental Impact Assessments). Ada dua buah efek (seperti mengurangi area yang dikembangkan dan usaha yang akan menghasilkan produksi yang lebih menggunakan lahan yang ada dengan pengolahan ) yang akan mempengaruhi secara nyata pada metode persiapan lahan ).

Ø  Pembangkaran tunggul. Ini dapat dilakukan menggunakan bajak yang dapat membalik atau moudlboard, yang diset dangkal agar dapat membongkar dan diklantang. Sebagai alternatif, dapat digunakan heavy disc harrow untuk mencabut tunggul. Ini akan efektif jika dilakukan pada kondisi kering namun pada kondisi basah lebih efektif menggunakan mouldboard ploughs. Disc ploughs juga dapat digunakan tetapi tidak dapat mencabut tunggul tua dan menyebabkannya dapat tumbuh kembali. Tunggul–tunggul volunteer dapat dihilangkan dengan dicabut sebelum aplikasi alat berikutnya, terutama jika varietas sebelumnya mudah terkena smut atau RSD.
Ø  Pembajakan: Tujuan pembajakan adalah untuk  mengolah tanah dipermukaan, memecah tanah akibat pemadatan dan mencampur lapisan tanah atas (top soil). Pembajakan dapat dilakukan secra konvensional, maipun menggunakan reversible plough atau heavy rome disc ploughs.

Ø  Harrow: Ini dilakukan untuk memperoleh permukaan yang bagus atau kasuran bibit dan memungkinkan pengoperasian alat lain untuk memperoleh permukaan yang lembut dengan memecah bongkahan tanah yang disebabkan oleh pengoperasian alat lain dan untuk mencampur bahan pembenah tanah. Harrow sebaiknya dilakukan dua kali, harrow terakhir untuk menghasilkan permukaan tanam. Pengoperasiannya dapat dilakukan dengan menggunakan harrow, chisels atau tines.

Ø  Ripping: Pengoperasian ini dilakukan untuk menghancurkan dasar tanah, memacah tanah yang mengalami pemadatan dan untuk menambah kedalaman daerah perakaran. Pekerjaan ini selalu dilakukan menggunakan traktor yang dioperasikan pelan, tenaga tinggi dengan mata ripper. Ini merupakan pengoperasian yang mahal tetapi sangat efektif, khususnya pada tanah lempungan berat atau tanah dupleks.

Ø  Levelling: Pada tanah yang baru dikembangkan atau areal ratoon yang tidak rata, graders atau dump-scoop levelling mungkin diperlukan untuk meratakan dan membuat terasering dan saluran air. Pada areal yang akan direplanting mungkin hanya memerlukan digundukannya. Perencanaan areal ini penting untuk meratakan gundukan tanah dan menimbun cekungan, khususnya untuk areal yang beririgasi alur, dan areal yang mempunyai kemiringan rendah. Pada pengoperasian yang memuaskan, sebuah instrumen laser dapat digunakan untuk mengontrol rencana areal.

Ø  Drainase sub-permukaan: Pengoperasian persiapan lahan merupakan waktu yang tepat untuk membuat saluran drainase subpermukaan untuk mengurangi kemelimpahan air, salinitas dan sodisitas. Ini harus direncanakan dengan didukung oleh investasi sebelum replanting dilakukan. Jarak saluran, kedalaman dan ukuran pipa dihasilkan dari investigasi ini. Pipa drainase biasanya berupa pipa PVC tetapi menggunakan mole drains mungkin juga akan efektif. Pipa drainase selalu dihubungkan dengan parit dan menutupnya dengan tanah. Mesin laser tersedia untuk mengontrol parit dan instalasi pipa drainase dan dapat digunakan dalam skala besar dan dapat dioperasikan secara memuaskan. Kotak pemeriksaan juga harus dibangun.

Ø  Pembenah tanah: Pembenah tanah paling bagus ditambahkan sebelum ripping atau harrow terakhir dalam hubungannya untuk mengabungkannya secara sempurna ke dalam tanah. Gypsum juga diaplikasikan untuk mengurangi sodisitas tanah, khususnya pada tanah sodik. Kapur juga dapat diberikan untuk menurunkan pH tanah yang tinggi. Kedua bahan tambahan ini diaplikasikan menggunakan traktor yang menarik alat penyebar dosis 100 ton/ha dan pada dosis yang rendah sebagai sumber pupuk fosfat. Blotong biasanya mudah didapatkan di Pabrik, walaupun ini sangat memakan tempat tapi mempunyai nilai yang tinggi pada tanah yang baru dibuka, terutama yang mempunyai kandungan fosfor rendah. Blotong dapat diaplikasikan menggunakan traktor maupun dump truck pada areal dengan graders. Pada areal yang mempunyai tempat penyulingan “stillage“ atau “dunder” dapat diaplikasikan untuk menambah tingkat potasium dan beberapa nitrogen. Ini diaplikasikan dengan sistem irigasi sprinkle atau alur.

Ø  Penghilangan bebatuan: Bebatuan di areal merupakan halangan yang serius bagi pengoperasian mesin dan mungkin sangat merusak jika mereka diambil pada saat panen hingga akan digiling di pabrik. Usaha yang keras untuk memindahkan bebatuan pada saat replanting dan setelah panen sangat bermanfaat. Di Mauritius, dimana merupakan daerah vulkanik, tanahnya bertebaran dengan bebatuan basalt dan harus ditumpuk menjadi gundukan tinggi diareal. Ketika lahannya direplanting, subsoiler dilakukan dengan crowler traktor, untuk memperlihatkan bebatuan. Bebatuan ini akan dipindahkan dengan buldozer atau secara manual dan disusun membentuk piramid atau dinding diantara row tebu.

Ø  Penanaman penutup tanah dan pemberaan. Tehnik ini digunakan dibanyak negara:

a)      Untuk mengistirahatkan diantara tanaman tebu karena waktu atau aplikasi mesin padxa saaat replanting.
b)      Untuk meningkatkan kondisi tanah khususnya ketersediaan bahan organik.
c)      Untuk mengontrol rumput-rumputan yang resisten atau mencegah perkembangan hama dan penyakit.

Biasanya tanaman penutup tanah berupa kacang–kacangan (legumes), seperti cowpeas, velvet beans atau sunn-hemp. Tanaman penutup tanah biasanya ditanam setelah panen tebu yang terakhir dan dibajak dan diikuti pengoperasian persiapan lahan awal lainnya. Ini akan optimal dilakukan ketika masa produksi vegetatif maksimum dimana terjadi pada awal stadia pembungaan dan dapat terdekomposisi sebelum persiapan lahan pada akhir lengkap pada beberapa instansi, tanaman komersial kapas mengantikan kacang-kacangan.

Ø  Pengolahan tanah minimum: Tehnik ini sekarang banyak dilakukan. Pembangkaran tunggul efektif dilakukan dengan aplikasi glyfosat 8-10 l/ha atau fluazifop 6 l/ha. Fluazifop harus diaplikasikan kurang dari 8 minggu sebelum replanting untuk mencegah germinasi yang buruk. Bahan kimia harus diaplikasikan untuk mengefektifkan pertumbuhan tebu lebih dari 400 mm tinggi untuk pemusnahan tunggul yang optimum. Penutupan oleh tujuk sangat penting, sebuah tanda kecil sekitar 200 mm dibuat diantara row tebu tua dimana tebu akan ditanam. Pengerjaan dilakukan menggunakan bajak piringan pada tanah ringan dan dengan bajak rotari pada tanah berat . Keuntungan pengolahan tanah minimum adalah mengurangi erosi pada tanah miring, untuk mengantikan tanaman yang tua, mati dan areal kecil yang rusak. Struktur tanah, bahan organik, kelembaban dan nutrisi yang diamankan, populasi tanaman voluntir dapat dikurangi, biaya pada umumnya rendah, dan hasil yang meningkat dapat dihasilkan pada tekstur ringan dan menengah. Kerugiannya adalah penanaman tertunda karena syarat untuk tanaman yang diharapkan akan tumbuh efektif sebelum dapat disemprot dengan herbisida selektif. Layout baru dan perataan tanah tidak bisa dilakukan dan penambahan bahan pembenah tanah sulit dilakukan.

Ø  Penanaman dalam alur: Merupakan langkah terakhir dari persiapan lahan. Alur ini dibuat dengan double mouldboard, time atau discs yang mempunyai bentuk V, pemeliharaan dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa jaraknya selalu tepat dan seragam kedalamannya, seperti sekitar 100 mm. Jarak row telah didiskusikan pada bagian depan. Kasuran bibit yang baik sangat penting untuk germinasi, adanya bongkahan akan menghasilkan bibit yang sedikit kontak dengan kelembaban tanah.

PRODUKSI BIBIT TEBU

Kualitas bibit tebu yang digunakan dalam penanaman merupakan hal pokok untuk memperoleh hasil yang tinggi, tanaman tebu yang sehat dan ratoon yang bagus. Kualitas ditandai dengan bebas dari hama dan penyakit, varietasnya murni dan kemampuan germinasi. Banyak penyakit yang ditularkan melalui infeksi pada bibit (seperti: smut, RSD, mosaik, YLS, blendok dan klorotik steak) dan banyak diantaranya dapat mengakibatkan kehilangan hasil. Kemurnian varietas meyakinkan kita bahwa varietas tersebut tumbuh dan bibit tersebut tidak terkontaminasi dengan varietas yang tidak diinginkan yang membawa penyakit. Bibit tebu yang muda mempunyai pertumbuhan yang lebih vigor daripada tebu tua, dan germinasinya terjadi pada awal, cepat terjadi dan pertumbuhannya seragam. Ini semua akan tercapai dengan memuaskan jika produksi bibit tebu dikoordinasi oleh nurseri dan tidak dari areal tebu komersial.

Kebun bibit harus terisolasi dan tanaman tebu yang lain, pada tanah yang bagus dan pada area yang bebas suhu beku. Bibit tebu harus berumur 8-10 bulan untuk mendapatkan vigor yang bagus ketika ingin ditanam secara komersial di daerah panas dan 12-15 bulan pada areal yang dingin. Penanaman di nurseri harus direncanakan untuk memenuhi kebutuhan bibit pada umur tersebut. Dua stadia nurseri yang ideal. Nurseri primer atau stadia nurseri pertama harus tumbuh pada isolasi yang diikuti oleh isolasi jarak. Seringkali ada kerjasama nursery untuk menyuplai sejumlah petani tebu dan dikoordinasikan secara intensif. Introduksi varietas baru untuk suatu perusahaan (industri) atau wilayah selalu ditempatkan pada stadia awal nursery. Pada skala luas nursery sekunder atau stadia kedua akan diperbanyak dalam jumlah yang besar sebelum ditanam secara komersial. Dari kedua tipe nurseri ini, tingkat manajemen dan kontrol terhadap hama penyakit tanaman harus dilakukan secara intensif.  

Ukuran nurseri tergantung pada hasil bibit yang diinginkan, luas areal yang akan direplanting dan jumlah bibit tebu dalam ton/ha yang akan ditanam skala komersial. Varietas yang mempunyai populasi sedikit akan memerlukan areal bibit nurseri yang cukup luas. Akan lebih baik jika dilakukan over estimasi terhadap ukuran nurseri dalam hubungannya dengan bencana atau permintaan yang meningkat. Nurseri harus diisolasi dengan batas yang jelas, untuk suatu periode  (3 bulan) dan tanah harus diolah serta bebas dari voluntir. Nurseri primer bibit tebu harus diperlakukan dengan air panas juga dapat digunakan untuk mengurangi dominansi apikal, untuk mengeliminasi kebutuhan pemotongan pada saat akan ditanam. Setelah tanam, sangat penting untuk memonitor tanaman dari penyaki, mencabut tanaman yang terinfeksi terutama oleh smut atau penyakit lain yang bisa menular secara  sistemik dan bebas dari tanaman/varietas campuran.

Di Indonesia, Afrika Selatan, Swaziland mempunyai standar yang tinggi untuk memproduksi bibit tebu. Di Zwaziland nurseri kebun bibit harus diregistrasikan dengan ES (Extension Station) yang akan melakukan inspeksi dan klarifikasi. Tidak ada nurseri yang akan disertifikasi jika tidak memenuhi kriteria sebagai berikut :

Ø  Infeksi smut dan mosaic lebih rendah dari 0.1 %.
Ø  Bebas dari RSD dan YLS
Ø  Infeksi  Eldana saccharina lebih rendah dari 4 per 100 batang
Ø  Bebas dari tanaman off type dan lebih rendah dari 0.1 % campuran dari varietas lain
Ø  Bibit mungkin tidak bisa dipindahkan dari suatu wilayah ke wilayah lain tanpa sertifikat maupun surat jalan, dan
Ø  Bibit yang roboh berat dan umurnya berlebihan juga tidak dapat disertifikasi
Bibit tebu untuk penanaman secara komersial harus tebu muda dari nurseri yang pasti, bebas dari penyakit, tidak rusak akibat hama dan kerobohan serta merupakan varietas murni. Tebu R1 dapat digunakan dalam penanaman jika memenuhi kriteria ini, khususnya jika merupakan sebuah varietas baru yang hanya tersedia dalam jumlah yang kecil untuk digunakan sebagai bibit.

PENANAMAN

Waktu penanaman pada suatu tahun mempunyai pengaruh yang besar terhadap hasil yang diperoleh pada perkebunan tebu. Secara umum, penanaman pada waktu awal dapat dilakukan, dan ini mungkin memberikan hasil yang tinggi. Hal ini karena masa kritis mempunyai periode tumbuh dan ini akan mencapai hasil berkebun dan penutupan kanopi  yang lebih baik, sebelum fase pemanjangan batang yang cepat pada kondisi yang panas. Ini juga mungkin akan memperoleh curah hujan yang tinggi. Ini juga didemonstrasikan di Zimbabwe (Ellis et al., 1984) dimana kondisi untuk permulaan pemanjangan batang cepat akan diperoleh pada temperatur rata-rata 18.50C  dan pembentukan lima daun dari atas pada awal pertumbuhan. Penanaman tebu yang terlambat tidak akan diperoleh hasil yang memuaskan. Studi lain di Swaziland menunjukkan bahwa akan terjadi penurunan hasil pada tanaman tebu sekitar 1.25 ton/ha untuk setiap minggu penundaan pada penanaman dari Juli hingga bulan selanjutnya. Hasil yang sama dilaporkan dari negara lain.

Petani pada lahan yang beririgasi lebih mengontrol program penanaman. Di areal tadah hujan penanaman dapat ditunda hingga permulaan musim hujan, dan dapat dipadatkan untuk melengkapinya sebelum curah hujan tinggi dan pada kondisi yang kering penanaman berikutnya ditunda/dicegah. Setelah ini mereka dapat menerima beberapa penanaman mungkin akan gagal tumbuh karena sedikit curah hujan yang diterima. Pelaksanaan persiapan lahan secara komplit dan peralatan yang baik dan tenaga yang tersedia, penanaman akan berhasil baik, khususnya dibeberapa negara tropis,waktu permulaan musim kering dapat diperkirakan dengan akurasi yang rasional dan hujan yang lebat diprediksikan akan terjadi. Sejauh penetrasi air ke tanah sampai kedalaman 100 mm, batang tebu dapat dibenamkan dalam alur dan ditutup dengan tanah. Tanah yang ada diatas mungkin kering, tetapi yang bersentuhan dengan tebu masih lembab dan germinasi akan selalu bagus. Pemadatan tanah (compressing) disekitar bibit tebu yang ditanam untuk memperoleh tanah yang lebih bagus dan bibit tebu yang kontak akan mempertinggi germinasi.

Bibit tebu dibanyak negara selalu ditanam menggunakan tangan, ketika tenaga kerja mahal, penanaman dengan mesin diterapkan seperti yang terjadi di Australia dan USA. Pada penanaman secara manual kebutuhan bibitnya adalah 5-10 ton/ha, dengan rata-rata 7 ton/ha untuk 50 % overlap. Bibit tanaman tebu pada umumnya dipotong di nursery dan disusun dalam tumpukan. Biasanya bibit tidak diklentek untuk melindungi mata bibit dari kerusakan selama transit, dan mencegah agar bibit tidak kering sebelum ditanam. Jika mungkin dilakukan bibit yang roboh dan terinfeksi hama dibuang. Bibit tebu dipindah/diangkut ke areal penanaman dengan trailer, dan diturunkan ke areal untuk didistribusikan menggunakan tenaga manusia, atau mungkin juga ditransfer ke areal menggunakan trailers melalui/melewati alur yang ada.

Batang dipotong dan dibawa ke areal untuk ditanam, atau pemotongan dilakukan dalam alur. Bibit dipotong dengan panjang bervariasi, umumnya 3-4 mata atau dengan panjang tidak lebih dari 450 mm. Pemotongan dilakukan dengan pisau atau golok (macchele). Kadang golok (guillotines) juga digunakan ketika bibit disiapkan diareal. Pemotongan ini untuk mengurangi dominansi apikal yang akan terjadi pada batang yang panjang ketika mata pucuk batang tumbuh, hormon seperti zat kimia atau auksin memperlambat perkembangan mata yang lebih bawah untuk meningkatkan derajad dari pucuk ke pangkal batang. Sehingga jika batang ditanam akan diperoleh gap yang tinggi dalam suatu row dari tunas yang muda. Gap ini harus disulam dengan bibit extra, ini akan memberikan hasil signifikan waktu dan uang untuk material tanam. Namun jika batang dipotong dalam 3 mata sebelum dicover, semua mata dapat berkecambah untuk seluruh row sehingga pertumbuhannya seragam dan penyulaman tidak perlu dilakukan (gambar 4).

Pisau pemotong harus direndam dalam larutan disinfektan (seperti 5.15 % Lysol, 0.1 % larutan Mirrol atau Roccal) untuk setiap row yang akan ditanam untuk meminimalkan penyebaran RSD. Dibeberapa negara (seperti Zimbabwe) bibit direndam dalam fungisida sebelum ditanam untuk mencegah serangan smut. Bibit ini kemudian dicover dengan tanah sekitar 100 mm dengan memecah bongkahan tanah dengan tangan menggunakan cangkul atau dengan implement untuk mengover (discs atau moudlboard). Pada areal beririgasi, penanaman diikuti dengan irigasi secepat mungkin, khususnya jika varietas tersebut susah untuk berkecambah. Pada areal tadah hujan, tebu harus ditanam jika diperkirakan dekat dengan hujan.

Tanam tumpang sari dilakukan dibeberapa negara seperti Afrika, Asia, Fiji dan Mauritius. Dilakukan dengan menanam tebu pada inter-row tanaman pangan. Tanaman ini selalau mempunyai pertumbuhan yang cepat seperti sayuran, sugar beans, kacang kedelai, kacang tanah dan jagung yang ditanam bersamaan dengan penanaman tebu. Tanaman pangan ini dapat dipanen ± 90 hari, sebelum tebu mempunyai konopi yang utuh (tajuk telah menutup). Pada areal yang mempunyai curah hujan tinggi, tanaman pangan tak suka untuk ditempatkan pada keadaan stres air pada tebu, dan efek naungan merupakan pembatas bagi perkembangan awal tanaman. Sejumlah penelitian penting yang dilakukan memperlihatkan bahwa produksi biomasa bersih tanaman tumpang sari lebih besar daripada penanaman  tebu saja. Produksi beberapa makanan sangat menarik bagi petani yang mengerjakan hal ini, karena seringkali seluruh lahannya ditanami dengan tebu.

Implemen yang digunakan dalam musim penanaman sangat kompleks dan selalu ditarik oleh traktor beroda, secara sederhana dipotong menggunakan alat pemanen, dibawa ke alur dan dicover menggunakan discs yang lain mempunyai alat tambahan untuk membuka alur, meletakkannya dalam alur, aplikasi pupuk dan dicover. Di Australia, dimana mudah terserang penyakit nenas (Ceratocystis paradoxa) pada beberapa varietas tertentu, dilengkapi dengan nozel yang digunakan untuk menyemprotkan fungisida sebelum ditanam. Alternatifnya, mesin ini dilengkapi dengan tangki yang telah diisi dengan fungisida. Kecepatan penanaman menggunakan mesin lebih cepat dari pada penanaman secara manual sekitar 8 ton/ha. Tipe alat penanam terlihat pada Gambar 5.

MANAJEMEN RATOON

Managemen ratoon yang bagus sangat penting bagi kelanjutan tanaman produktif setelah jangka waktu yang lama. Prioritas terbesar dalam pemeliharaan ratoon adalah untuk memperbaiki kerusakan infrastruktur lahan, seperti jalan, saluran air, saluran drainase, irigasi sub-permukaan, waktu untuk memperbaiki ini relatif pendek. Karena pertumbuhan ratoon yang cepat, dan karena permintaan mesin pada waktu ini sangat banyak ketika persiapan lahan dan penanaman mempunyai prioritas yang besar.

Ada beberapa perbedaan dalam manajeman antara areal tadah hujan dan beririgasi, khususnya adanya pembakaran sampah setelah dipanen. Pada areal tadah hujan salah satunya adalah untuk mempertahankan sampah sebagai mulsa (SASEX, 1996) dalam hubungannya untuk meningkatkan hasil tebu dengan :
Ø  Penyimpanan kelembaban tanah
Ø  Mengurangi kehilangan air dari tanah melalui evaporasi, run off, erosi tanah dan surface capping
Ø  Meningkatkan penerimaan hujan oleh permukaan tanah, pertikel agregasi tanah dan secara konsekwen meningkatkan ruang pori udara.
Ø  Menekan pertumbuhan rumput secara efektif
Ø  Mengurangi operasi pembakaran yang membahayakan dan polusi lingkungan.
Ø  Mengurangi pemadatan tanah.
Ø  Mengurangi jumlah aplikasi tertentu pada tanah ketika pupuk diaplikasikan mulsa.
Kerugiannya adalah:
Ø Keluaran tebangan rendah
Ø Hanya sedikit alat panen mesin yang dapat menebang tebu hijau secara efisien dengan konsekwensi mengurangi upah dan meningkatkan keluaran bahan ekstraksi di pabrik dan ekstraksi sukrosa.
Ø Sejumlah tebu mungkin akan hilang pada saat tebang tebu hijau.
Ø Regenerasi ratoon terlambat khususnya selama cuaca dingin.
Ø Pada tanaman tebu yang terkena stres sampahnya mungkin akan menyebarkan serangga (seperti trash worms dan Eldana  saccharina) pada regenerasi ratoon.
Ø Sampah tebal yang menutupi mungkin akan menekan hasil tebu.

Konsekwensinya, walaupun argumen untuk penutupan trash sangat meyakinkan, ini hanya direkomendasikan terbatas pada areal berbatu, pada areal miring dan tanah yang mudah tererosi, untuk areal yang dekat dengan pemukiman penduduk dan dekat dengan jalan utama dan dimana lapisan inversi panas rendah untuk mencegah polusi udara.

Walaupun sulit untuk menerapkan pemulsaan menggunakan seresah/sampah tebu, namun ini tetap dilaksanakan di areal non irigasi untuk skala besar (industri) untuk mendapatkan kegunaan pemulsaan. Sebagai contoh, pemulsaan digunakan secara intensif oleh para petani kecil di Kenya karena curah hujan tahunan yang tinggi di areal tebu hingga 2000 mm. Negara lain yang menggunakan mulsa ini adalah Colombia, dimana perlindungan lingkungan menekan industri tebu untuk berkomitmen tidak membakar tebu sejak tahun 2000. Pemecahannya adalah mengembangkan alat panen yang efektif untuk tebu hijau dan varietas yang mudah mengelentek. Australia juga membuat kebijaksanaan untuk menebang tebu hijau pada tebu yang tidak diirigasi.

Banyak industri tebu membakar seresah baik sebelum ataupun setelah tebang untuk memudahkan pemeliharaan tanaman ratoon, terutama ketika diterapkan irigasi. Walaupun demikian kadang masih ada kompromi ketika seresahnya masih tersisa, mungkin dapat dikumpulkan untuk setiap row dipungut ke suatu row setiap 5-8 row. Namun demikian penerapan irigasi alur, seresah menghalangi aliran air. Konsekwensinya, seresah harus selalu dibakar untuk memecahkan masalah ini.

Ripping pada inter row dilakukan oleh beberapa negara untuk meningkatkan penyerapan dan memecah kembali lapisan yang mengalami pemadatan. Jika pemanenan menyebabkan beberapa kerusakan pada inter-row ini dapat diperbaiki dengan operasi ripping, tetapi juga bahaya bagi sistem perakaran yang sudah ada dimana tanaman bergantung selama minggu pertama setelah panen. Pembentukan kembali alur ridger setelah panen mungkin lebih bermanfaat, khususnya pada areal yang menggunakan irigasi alur dan tanah dangkal untuk membuat dasar perakaran lebih dalam pada alur diantara tunggul.

Mungkin juga dilakukan penyulaman pada gap tanaman ratoon. Jika ini dilakukan, pengoperasiannya harus dilakukan segera mungkin setalah panen, dan pada areal irigasi dilakukan bersamaan dengan irigasi pertama. Gap akan disulam jika jaraknya ± 1 m, dan jika dihubungkan gap pada sebuah row yang berdekatan. Tebu dapat menggantikan tunggul yang hilang dan penyulaman hanya dilakukan jika alasan tanaman yang hilang/rusak telah diidentifikasi dan dikoreksi. Selain itu agen yang menyebabkan terjadinya gap mungkin kerusakan suplai tebu. Bentuk efektif dari penyulaman adalah dengan set yang akan berkecambah pada suatu nurserry. Bentuk bahan tanam dikenal dengan “ speedlings”. Operasional ratoon manajemen yang lain adalah pemupukan dan kontrol rumput.



PENGENDALIAN GULMA PADA TANAMAN TEBU

Gulma dideskripsikan sebagai tanaman yang tumbuh tidak pada tempatnya, dan tidak ada tempat untuk tumbuh pada penanaman tebu yang secara efisien. Ketika gulma dibiarkan tumbuh tanpa pengendalian di suatu areal penanaman, gulma akan menekan dengan cepat dan merusak tebu. Gulma mempengaruhi tanaman dengan beberapa cara yaitu :

Ø  Persaingan dengan tebu terhadap air, nutrisi, cahaya dan ruangan dan mempunyai pengaruh terhadap germinasi
Ø  Merupakan inang pengganti terhadap hama dan penyakit.
Ø  Rumput dapat mengeluarkan zat kimia yang merusak ke dalam tanah.

Gulma sangat berbahaya ketika tanaman masih muda, dan lebih berbahaya untuk tanaman ratoon, gulma relatif tidak penting ketika tanaman telah berkonopi penuh. Efek gulma terhadap hasil tebu secara efektif didokumentasikan. Di Hawaii dan Trinidad hasil akan meningkat ketika dilakukan weeding hingga 4 kali dan di Afrika Selatan hasil menjadi 2 kali lipat jika pengendalian gulma dilakukan dengan efektif.

Spesies rumput ada 1) annuals (satu tahun), yang hidup untuk 1 tahun dan membentuk biji pada tahun tersebut, 2) biennials (dua tahunan) yang hidup untuk dua tahun dan pembentukan biji terjadi pada tahun kedua, 3) perennials (tahunan) yang hidup untuk waktu lebih dari 3 tahun dan menghasilkan biji setiap tahunnya. Gulma juga mungkin dikotil (gulma daun lebar) atau monokotil (rumputan). Gulma dapat terus berkembang pada areal penanaman karena bijinya dapat viabel untuk waktu yang lama, memiliki kemampuan yang efektif dalam menekan, mempunyai kemampuan untuk menghasilkan biji dalam jumlah yang banyak, mempunyai sedikit predator dan merupakan tanaman yang tahan.

Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

Ø  Preventif: Menjaga agar tanaman selalu bebas dari gulma dan kanal irigasi dapat digunakan untuk menekan seedling dan distribusi gulma. Persipan lahan juga bertujuan untuk mengendalikan gulma pada penanaman berikutnya.

Ø  Cara budidaya: Menggunakan cahaya dan air untuk mengendalikan gulma dengan :
a)      Pemeliharaan yang bagus, germinasi dan meminimalkan gap dalam row
b)      Mendapatkan penutupan kanopi yang lebih cepat untuk menekan gulma.
c)      Menggunakan jarak tanam sempit
d)     Mengusahakan sedikit seresah pada tanaman ratoon.
e)      Menggunakan break crops dan rotasi tanaman untuk mencegah gulma yang dominan.
f)       Managemen irigasi yang efektif, seperti mengeliminasi areal yang lembab dengan irigasi tetes atau irigasi alur.

Ø  Mekanik: Biasanya menggunakan traktor, tetapi bagal, kuda, sapi, kerbau yang menarik cultivator juga digunakan untuk areal yang sempit. Weeding juga dapat menggunakan pengoperasian alat yang lain seperti middle busting atau ridger re-building. Namun demikian, tebu dapat rusak dan biji rumput dapat  berkecambah lagi. Hanya rumput pada interr row yang dikendalikan dan metode ini kurang cocok untuk areal yang mempunyai saluran terbuka atau arealnya miring.

Ø  Weeding manual, meliputi :
a)       Mencabut rumput dengan tangan dari row khususnya spesies rumput yang besar seperti Sorghum spp, Panicum spp dan Rottboelia spp dan gulma daun lebar seperti familia Cucurbitaceae dan Commelina sp.
b)       Cangkul tangan, ini biasa dilakukan pada areal yang sempit, tetapi hanya efektif jika rumput masih kecil dan kondisi kering dan merupakan pendukung pengendalian secara kimiawi.
Ø  Bahan kimia (Herbisida). Merupakan metode yang mahal, tetapi sangat efektif ketika bahan kimia yang benar dipilih dan diaplikasikan dengan cara yang benar. Kontrol gulma menggunakan herbisida pada suatu row, dapat mengendalikan gulma dalam periode yang panjang, dapat dilakukan dengan cepat pada areal yang luas dan memerlukan sedikit tenaga kerja dan mesin yang perlukan.

PENGENDALIAN MENGGUNAKAN BAHAN KIMIA

Pengendalian menggunakan bahan kimia dilakukan pertama kali pada tahun 1920 dan 1930, tetapi bahan yang digunakan sangat berbahaya seperti sodium chlorate (mudah terbakar) dan sodium arsenat (mempunyai toksisitas yang tinggi terhadap mamalia). Sebagai konsekwensinya hanya digunakan dalam jumlah yang kecil. Kemudian dapat dikembangkan hormon yang berfungsi sebagai herbisida(seperti 2.4 D dan MCPA) dan bersamaan ini merupakan permulaan dari era baru dalam pengendalian gulma. Herbisida yang digunakan pertama kali untuk mengendalikan gulma diaplikasikan di areal tebu. Penggunaan herbisida ini terbatas untuk daun lebar yang tidak berkayu, minyak dan pentachlorophenol (PCP) kadang ditambahkan untuk meningkatkan kemajuan 2,4 D dan MCPA sebagai herbisida kontak. Tehnik ini walaupun hanya membunuh gulma yang ada dan hanya tebu yang baru berkecambah yang menderita karena adanya kompetisi. Di Hawaii mereka mengembangkan  sebuah metode untuk menyemprotkan 2.4 D  segera setelah tanam, perlakuan tunggal untuk menggendalikan gulma sampai tebu berkonopi, kemudian penutupan konopi menghambat pertumbuhan gulma.

Bersamaan dengan pengembangan herbisida triazine (seperti atrazine, ametryn, metribuzin dan hexazinane) dan urea ( seperti diuron) yang relatif lebih bagus, herbisida dapat disemprotkan setelah penanaman bibit tetapi sebelum biji gulma berkecambah. Konsekwensinya banyak sekali gulma yang dapat dikendalikan terutama bebarapa rumput satu tahunan.

Aplikasi herbisida juga mungkin dilakukan setelah tebu berkecambah dan pada tanaman ratoon. Ketika seresah dijadikan mulsa ini akan menekan/menghalangi pertumbuhan gulma, walaupun demikian gulma yang tumbuh dengan pelan-pelan dan beberapa rumput yang dapat tumbuh dengan cepat dapat juga tumbuh pada tempat yang bermulsa. Dalapon merupakan herbisida efektif yang pertama untuk rumputan yang dikembangkan, tetapi herbisida ini merusak beberapa varietas tebu dan tidak boleh disemprotkan pada seluruh tanaman. Parakuat akan membunuh rumput, tetapi juga menghanguskan sebagian daun tebu jika disemprotkan pada daun hijau. Namun demikian efek ini hanya untuk sementara. Parakuat dan sebagian besar gilfosat secara luas digunakan untuk herbisida pra-tumbuh sebelum tebu berkecambah atau pada tanaman ratoon segera setelah tebang. Asulam digunakan untuk membunuh gulma rumputan secara selektif, khususnya Sorghum, Digitaria dan Rottboelia. Ini juga digunakan dalam campuran dengan actril untuk mengendalikan gulma rumputan dan daun lebar pada tanaman tebu.

Herbisida yang dirilis lebih lambat lagi adalah golongan acetanilides (seperti alachlor dan metolachlor) yang efektif digunakan sebagai herbisida pra-tumbuh untuk mengendalikan gulma rumputan. Golongan dinitroanilines (seperti trifluralin dan pendimethalin) dicampurkan dengan tanah sebelum tanam dan mengendalikan dengan efektif biji-biji herbisida (rumputan). Acetochior merupakan jenis herbisida baru yang lain yang mengendalikan secara efektif rumput tahunan dan gulma daun lebar. Fluazifop p-butil merupakan herbisida untuk rumputan yang juga membunuh tebu pada suatu dosis dan tidak diaplikasikan secara langsung pada tanaman pada dosis tertentu. Biji rumputan sulit dikendalikan, tetapi halosulfuron merupakan herbisida baru khususnya efektif untuk beberapa rumputan.

Kebersihasilan pengendalian gulma secara kimia membutuhkan pengetahuan tentang :
Ø  Produk yang tersedia
Ø  Kemampuan meningkatkan efektivitas hirbisida oleh tanaman
Ø  Kandungan lempung dan bahan organik dalam tanah
Ø  Stadia tumbuh ketika herbisida lebih efektif.

Stadianya adalah pre-emergent, post-emergent, post-emergent awal dan late emergent. Umumnya rumputan yang masih muda lebih mudah dikendalikan dengan herbisida. Sebagai pilihan tambahan herbisida akan mempengaruhi seiring waktu kontrol yang dibutuhkan dan biaya produknya adalah biaya unit per ha per minggu.

Kombinasi herbisida yang biasanya digunakan untuk mengontrol gulma rumputan dan daun lebar. Sejumlah kombinasi digunakan dalam beberapa negara tergantung keberhasilan pada kondisi lokal dan bahan kimia harus terdaftar dinegara yang menggunakannya. Herbisida tunggul digunakan untuk mengatasi masalah khusus dan untuk mengontrol rumputan yang sulit seperti biji rumputan (Cyperus esculentus dan C. rotundus), rumputan (Panicum spp, Sorghum spp, Rottboelia cochinchinensis, Paspalum spp, Cynodon spp, dan Digitaria spp) dan gulma daun lebar khususnya tanaman yang merambat.

Metode yang dapat digunakan untuk aplikasi herbisida sangat bervariasi, seperti melalui udara menggunakan traktor (tractor mounted boom sprayers), knapsack (baik yang manual maupun bermesin) atau kontrol droplet, aplikator volume rendah. Pemilihan metode ini tergantung pada banyak faktor tergantung pada spektrum gulma, stadia tumbuh tanaman, ukuran pengoperasian, akses ke lapangan dan kondisi tanah dan biaya yang diperlukan untuk pengoperasian suatu


metode. Perekat kadang ditambahkan ke herbisida untuk meningkatkan efektivitas herbisida dalam mengendalikan gulma. Penurunan permukaan semprot pada daun gulma akan membasahi dengan baik dan efeknya cepat.

Herbisida bersifat racun dan penggunaan secara aman sangat penting untuk menghindari bahaya bagi manusia, binatang, tanaman non-target dan lingkungan. Semua herbisida dicoba terlebih dahulu dengan teliti sebelum diregistrasi dan digunakan untuk banyak negara. Walaupun demikian pengunaan harus mengikuti aturan pakainya yang terdapat pada label dan memahami rekomendasi untuk apa herbisida tersebut, juga cara mengantisipasi jika terjadi keracunan.

Sebagian besar negara yang membudidayakan tebu merekomendasikan penggunaan herbisida. Sebagai contoh adalah rekomendasi yang digunakan di Afrika Selatan dipaparkan pada Tabel 1. Tabel tersebut mengilustrasikan pilihan yang tersedia bagi penanam tebu, dan dosis campuran yang dapat digunakan untuk mengendalikan gulma. Catatan nama bahan kimia diberikan pada Tabel 1 dan tidak menggunakan merk dagangnya karena kadang merk berlainan untuk negara yang berbeda.


Tabel 1. Rekomendasi herbisida di Afrika Selatan, 1997

Herbisida
Dosis (L/kg)/ha
Gulma sasaran
Week
Kontrol
Persentase lempung (%)
Catatan
Pre-emergence (jangka pendek)
Tergantung kondisi kelembaban tanah
MCPA
7
B/L
5



Pre-emergence (jangka panjang)
Tergantung kondisi kelembaban tanah
Alachlor + MCPA
(5-6) + 4
B/L, G, YWG
8
Semua

Alachlor + Atrazine
(5-6) + (2-6)
B/L, G, YWG
8
Semua

Alachlor + Ametrin
(5-6) + (2-3)
B/L, G, YWG
8
Semua

Alachlor +Diuron
(5-6) + (2-4)
B/L, G, YWG
8
Semua

Metolachlor + Ametrin
(1-1.6) + (2-3)
B/L, G, YWG
9
Semua

Acetochlor + Ametrin
(2-3) + (2-3)
B/L, G, YWG
9
Semua

Acetochlor + Diuron
(2-3) + 2.5-3)
B/L, G, YWG
9
Semua

Acetochlor + Atrazine
(2-3) + (2-6)
B/L, G, YWG
9
Semua

Lanjutan tabel 1
Imazethapyr + Acetochlor + Atrazine
(0.75-1 + (2-3) + (3-4)
B/L, G, YWG
10

Imazethapyr sangat merusak ketika kontak dengan daun tebu
Metazachlor + Atrazine
(1.5-2) + (2-3)
B/L, G, YWG
9
> 10

Metazachlor + Ametryn
(1.5-2) + (3-4)
B/L, G, YWG
9
> 10

Metazachlor + Diuron
(1.5-2) + 3
B/L, G, YWG
9
> 10

Thiazopyr
(1-4)
G
16
Semua

Thiazopyr + Acetochlor
(1-3) + 2.5
G, YWG
16
Semua

Thiazopyr + Diuron
(1-3) + 2.5
B/L, G
16
Semua

Thiazopyr + Acetochlor + Diuron
(1-3) + 1.5 + 2.5
B/L, G, YWG
16
Semua

Hexazinone
(0.6-1)
B/L, G, YWG
12
> 5 %


Pre-emergence (menyeluruh)
Tanah yang kering dalam aplikasinya sebelum tanam diikuti dengan kondisi lembab
EPTC
3-7
G, YWG, PWG
8
semua
Tanah menyeluruh

Pre- sampai post- Emergence awal (jangka panjang)
Alachlor + Atrazine + Paraquat
6 + (2-6) + 1
B/L, G, YWG
8
Semua

Alachlor + Ametryn + Paraquat
(5-6) + (3-5) + 1.5
B/L, G, YWG
8
Semua

Alachlor + Diuron + Paraquat
(5-6) + (2.5-3) + 1.5
B/L, G, YWG
9
Semua

Alachlor + Ametryn + Surfactant
(5-6) + 6 + 0.6
B/L, G, YWG
8
Semua

Metolachlor + Ametrin + MCPA
(1-1.6) + 4-5) + 3.5
B/L, G, YWG
9
Semua

Metolachlor + Ametrin + Paraquat
(1-1.6) + 2-3) + 1.5
B/L, G, YWG
9
Semua

Metolachlor + Ametrin + Surfactant
(1-1.6) + 6 + 0.6
B/L, G, YWG
9
Semua

Metolachlor + Diuron + Paraquat
(1-1.6) + (2-2.5) + 1.5
B/L, G, YWG
8
Semua

Acetochlor + Ametrin + Paraquat
(2-3) + 4 + (1-1.5)
B/L, G, YWG
9
Semua

Acetochlor + Diuron + Paraquat
(2-3) + 2.5-3) + 1.5
B/L, G, YWG
9
Semua

Acetochlor + Atrazine + Paraquat
(2-3) + (2-6) + 1-1.5)
B/L, G, YWG
9
Semua

Acetochlor + Ametrin + Surfactant
(2-3) + 6 + 0.6
B/L, G, YWG
9
Semua

Metazachlor + Ametryn + Paraquat
(1.5-2) + 3 + 1
B/L, G, YWG
9
> 10

Metazachlor + Diuron + Paraquat
(1.5-2) + 3 + 1
B/L, G, YWG
9
> 10

Metribuzin + Diuron
3 + 2
B/L, G, YWG
12
6-35

Metribuzin + Diuron + Paraquat
3 + 2 + 1
B/L, G, YWG
12
6.35

Hexazinone + Diuron
0.8 + 1.5
B/L, G, YWG
12
> 5
Hanya untuk tanaman raton
Sulcotrione + Atrazine (Proprietary mixture)
1.6 – 3.6
B/L, G, YWG
8
Semua


Lanjutan tabel 1
Chlorimuron-ethyl + Metribuzin (Proprietary)
0.8-1
B/L, G, YWG, PWG
12
> 7

Tebuthiuron + Diuron
(2-2.5) + 2.5
B/L, G, YWG
9
8-50

Tebuthiuron + Ametryn
(2-2.5) + 4
B/L, G, YWG
9
8-50


Post-emergence (jangka panjang)
Lebih efektif jika diaplikasikan  pada tanah yang lembab
Acetochlor + Diuron + Oxytril
(2-3) + (2.5-3) 1.25
B/L, G, YWG
9
Semua

Alachlor + Diuron + Oxytril
6 + 2.5 + 1.25
B/L, G, YWG
8
Semua

Alachlor + Ametryn + Oxytril
(5-6) + (3-5) + 1.25
B/L, G, YWG
8
Semua

Metribuzin + Diuron
3 + 2
B/L, G, YWG
12
6-35

Metribuzin + Diuron + Oxytril
2.9 + 2.5 + 1.25
B/L, G, YWG
12
6-35

Metribuzin + Ametryn
3 + 3
B/L, G, YWG
12
6-35

Metribuzin + Ametryn + Paraquat
3 + 3 + 1
B/L, G, YWG
12
6-35

Hexazinone + Diuron
0.8 + 1.5
B/L, G, YWG
12
> 5
Hanya untuk tanaman ratoon
Hexazinone + Diuron + Oxytril
(0.6-1.2) + (1-2) + 1.5
B/L, G, YWG
12
> 5
Hanya untuk tanaman ratoon
Hexazinone + Ametryn
(0.6-0.7) + (3-4)
B/L, G, YWG
12
> 5
Hanya untuk tanaman ratoon
Metolachlor + Metribuzin + Paraquat
(1-1.6) + 2 + 1.5
B/L, G, YWG
12
Semua

Spotaxe (proprietary ) + S
2.5 + 0.3
B/L
8
Semua

Spotaxe + Diuron + 0.3
2 + 2.5 + 0.3
B/L, G
10
Semua


Post-emergence (Jangka pendek)
Lebih dipilih untuk tanah yang lembab memuaskan pada kondisi kering
Ametryn + S
8 + 0.6
B/L, G
6
Semua

Ametryn + MCPA + S
(4-5) + 3.5 + 0.6
B/L, G, YWG
6
Semua

Ametryn + Oxytril
(4-5) + (1-1.25)
B/L, G, YWG
5
Semua

Ametrin + MCPA + Oxytril
(4-5) + 3.5 + 0.5
B/L, G, YWG
6
Semua

MCPA + S
7 + 0.6
B/L
5
Semua
Efektif mengendalikan PWG
MSMA
4 + 4 (Split applications)
G, YWG, PWG
4
Semua

Diuron + MCPA + S
2.5 + 4 + 0.6
B/L, G, YWG, PWG
5
Semua

Diuron + Oxytril
2.5 + (1-1.25)
B/L, G, YWG
5
Semua

Diuron + MCPA + Oxytril
2.5 + 3 + 0.5
B/L, G, YWG
6
Semua

Terbuthylazine + Bromoxynil (Proprietary
2
B/L
6
Semua

Halosulfuran + S
(0.05 + 0.5) +( 0.05 + 0.5) Split applications
YWG, PWG
6
Semua
Efektif mengendalikan PWG

Late post emergence (Jangka pandek)
Efektif baik pada kondisi kering maupun lembab
Paraquat + MCPC
3 + 4
B/L, G, YWG, PWG
5
Semua
Penting untuk rumputan yang resistan

Lanjutan tabel 1
MSMA
6
G, YWG, PWG
4
Semua
Penting untuk rumputan yang resistan
Ametryn + MSMA
3 + 3
B/L, G, YWG, PWG
5
Semua

Diuron + Paraquat
2 + 2.5
B/L, G, YWG, PWG
5
Semua
Penting untuk rumputan yang resistan
Diuron + MSMA
3 + 3
B/L, G, YWG, PWG
5
Semua
Penting untuk rumputan yang resistan

Perlakuan untuk masalah khusus
Clyphosate
6-8
B/L, G, YWG, PWG


Penting untuk rumputan yang resistan
Glyphosate
8-10
B/L, G, YWG, PWG


Eradikasi merupakan cara yang efektif pada tebu yang sedang tumbuh
Fluazifop-p-butyl
6
B/L, G


Eradikasi merupakan cara yang efektif pada tebu yang sedang tumbuh
Hexazinone + Diuron
0.5 + 2.5
B/L, G, YWG, PWG



Sulfosate
4
B/L, G, YWG, PWG


Penting untuk rumputan yang resistan
Sulfosate
5.3 – 6.7
B/L, G, YWG, PWG


Cepat untuk eradikasi






Kunci : B/L = Broadleaf weeds (Gulma daun lebar), G = Grasses (rumpuan), YWG = Cyperus esculentus, PWG = Cyperus rotundus, S = Surfactant (perekat)

Baca label untuk dosis rekomendasi, kompatibilitas dengan herbisida yang lain, instruksi campuran, keamanan yang diperoleh dan efek phytotoksisitas pada tanaman tebu.

Sumber: South African Sugar Association Experiment Station Herbicide Guide, 1997


Beberapa aspek manajemen herbisida yang diberikan antara lain :
Ø Merusak tebu atau fitotoksisitas
a.       Herbisida disemprotkan sebelum tebu berkecambah memberikan kerusakan yang lebih rendah daripada disemprotkan saat post-emergence
b.      Tanaman tebu tua lebih bisa bertahan dari kerusakan terkena bahan kimia jika dibandingkan dengan tebu muda.
c.       Aplikasi post-emergence harus secara langsung dan semprotan sebisa mungkin hanya mengenai sedikit daun tebu seperti penggunaan drop-arms dan flood jets pada inter-row.
d.      Pertumbuhan tebu yang menderita didapat dari problem drainase (seperti genangan), kerusakan karena nematoda atau kekurangan nutrisi, hal ini akan mengakibatkan kerusakan daripada pertumbuhan tebu yang baik.
e.       Beberapa varietas menunjukkan gejala lebih tahan daripada varietas yang lain. Ketika suatu varietas ditanam, aplikasi pre-emergence yang bagus harus dilakukan atau perawatan khusus harus dilakukan post emergence secara langsung dan tidak mengenai daun tebu.
f.        Panas, kondisi yang lembab meningkatkan kerusakan tebu.

Ø  Tanaman ratoon. Perkembangan tanaman ratoon lebih cepat daripada tanaman PC dan bebas dari kompetisi terutama dari Cyperus spp yang tumbuh tidak terlalu tinggi. Lebih murah, perlakuan jangka pendek akan memberikan hasil yang memuaskan, tetapi perawatan harus dilakukan untuk mencegah gulma yang tumbuh cepat sebelum muncul dan kompetisi dengan tanaman RC yang akan sulit untuk dikendalikan.

Ø  Pembatas areal dan jalan : Pengendalian gulma secara kimiawi juga digunakan untuk melindungi pembatas areal, saluran air, saluran irigasi, saluran utama dan jalan kontrol, tidak hanya untuk menjaganya tetap bersih tetapi juga untuk mencegahnya sebagai sumber invasi rumput ke areal tebu. Glyfosat biasanya digunakan pada situasi dimana, herbisida untuk daun lebar tidak tersedia dan penggunaan daun sempit tidak efektif.

Ø  Merusak tanaman yang berdampingan antara areal dan kebun. Herbisida digunakan dalam areal penanaman tebu (khususnya glyfosat, fluazifop p-butil, 2.4 D dan MCPA) dapat bersifat racun pada jenis tanaman yang lain dan tanaman di halaman rumah. Butiran semprot yang kecil dapat menyebar bersama aliran angin dan mungkin juga akan menguap dan terbang bersama angin untuk jarak yang cukup jauh. Konsekwensinya, semua herbisida harus digunakan dengan perhatian yang besar dalam areal dan pada jalan dan rel kereta api yang tanahnya tidak dibawah kontrol penanam tebu. Areal yang sensitif harus disemprot hanya pada hari yang tenang (hari libur) atau mengunakan produk yang tidak mudah menguap ketika dingin bertiup.
IRIGASI DAN DRAINASE

Tanaman tebu merupakan salah satu tanaman yang membutuhkan air dalam jumlah yang banyak. Hanya padi dan tanaman berkayu yang mungkin menggunakannya dalam jumlah yang lebih. Lysimeter mempelajarinya pada tahun 1960 dan mendeterminasikan secara empiris hubungan antara hasil dengan penggunaan air, kira-kira setara dengan 10 mm air (evapotranspirasi tanaman) memproduksi hasil 1 ton tebu/ha (Thomoson, 1957). Tanaman tebu akan bagus pada daerah yang mempunyai kandungan air 1.100–2.000 mm tergantung pada faktor iklim dan umur tanaman.

Kebutuhan air ini dipenuhi baik oleh air hujan maupun irigasi atau kombinasi keduanya. Areal tebu yang sepenuhnya pada air hujan yang konsisten dan curah hujannya  dapat diandalkan dengan suatu pola tertentu, atau mempunyai persentase ketersediaan air yang bagus bagi tanaman untuk paling tidak 9 bulan dalam setahun. Areal ini memungkinkan untuk dijadikan tempat penanaman tebu seperti di Caribbean, dataran tinggi tropis Kenya dan Uganda, daerah berbatu di Afrika Selatan dan Queensland, dan daerah tropis-subtropis Asia Tengara. Tetapi produksi tebunya selalu tergantung pada cuaca, seperti El-Nino yang memberikan beberapa efek. Tebu tadah hujan tidak akan pernah sebanding dengan penampilan tebu yang diirigasi, kecuali pada kondisi yang bisa diharapkan. Peningkatannya, petani tebu mengevaluasi adanya penambahan irigasi terhadap produksi tebu.

Setelah akhir abad ini pengembangan tanaman tebu yang baru disesuaikan dengan keadaan alam setempat dimana irigasi penuh diperoleh setiap stadia tumbuh tebu. Contoh yang sangat extrim di daerah arit dan berbatu Peru, dimana curah hujannya hampir tidak ada dan seluruh tahap pertumbuhan dibawah irigasi. Diareal penanaman tebu irigasi yang lain di Amerika Selatan, Afrika dan Australia curah hujannya umumnya 25-75 % dari kebutuhan air tanaman dan kekurangannya dipenuhi dengan irigasi tambahan. Irigasi ini dapat diaplikasikan dalam bentuk yang berbeda dan dengan derajad efisiensi yang berlainan. Sistem lama tidak diperhitungkan sebagai modal dan biaya operasional dan tidak memperlihatkan efisiensinya. Sistem lama tidak memperhitungkannya sebagai modal dan biaya operasional dan tidak memperhatikan efisiensinya. Tetapi sekarang terjadi kompetisi permintaan suplai air yang diintroduksikan dimana petani yang menerapkan irigasi ini membangun sistem yang lebih efisien.

Irigasi tidak sepenuhnya memberikan keuntungan dan juga mempunyai beberapa hal yang tidak menguntungkan ketersediaan air tanah yang rendah pada daerah arid atau semi-arid akan menimbulkan banyak problem pada beberapa stadia. Kecepatan kehilangan air tergantung pada efisiensi irigasi dan porositas tanah, petani tebu pada awalnya menerima ini dan merencanakannya menjadi lebih baik. Rencana irigasi yang matang saat ini juga mempertimbangkan penggunaan air tanah untuk menjaga ketersediaan air pada zona perakaran. Jika pengguna irigasi dapat mengatasi masalah ini lebih dini dan menerapkan tekanan yang rendah dan air tanah dipompa atau kehilangan tanah akibat salinitas dapat ditunda atau dihilangkan.

Irigasi dan drainase merupakan dua hal yang saling berhubungan dan saling berkaitan, tetapi keduanya didiskusikan seluruh prinsip dan teorinya pada buku ini. Sampai saat ini ada publikasi sempurna yang tersedia (Holden, 1998, Wither dan Vipond 1974; Smendema dan Rycroft, 1983) yang membahasnya secara bagus. Malahan obyeknya adalah meriview perlengkapan irigasi dan drainase, sistem yang digunakan pada tanaman tebu dan tehnik yang dapat diadopsi untuk meningkatkan performance dan efisiensi.

SISTEM IRIGASI YANG TEPAT

Tebu sebenarnya dapat tumbuh dibawah berbagai sistem irigasi, tetapi karena tebu yang diirigasi, tetapi karena tebu yang diirigasi sebagian besar tumbuh pada bumbungan dan sistem alur, lembah sungai atau irigasi alur pinggir tidak selalu tepat. Artinya micro-jet sprinkler lebih cocok untuk hortikultura dan tanaman berkayu daripada tanaman yang ditanam dalam alur seperti tebu.










Tabel 2. Sistem irigasi yang cocok untuk tebu.

Metode Penghantar
Kategori Primer
Kategori sekunder



Gravitasi



Alur
Pengisi selokan /parit
Pipa pindah
Pipa gerbang
Spile and drop spile
Saluran air datar
Gelombang


Tekanan


Irigasi atas
Sumbu utama
Linear move
Boom irrigator
Sprinkler
Floppy
Rand Gun or cannon

Irigasi tetes

Surfase drip
Subsurfase drip
1.      Juga dikenal dengan irigasi permukaan (surface) atau flood irrigation 
2.      Juga dikenal dengan Trickle irrigation

Pada Tabel 2 didefinisikan sistem irigasi yang sangat tepat untuk tebu. Hanya ada 2 metode untuk menghantarkan air irigasi yaitu dengan gaya gravitasi atau dengan tekanan. Dengan gaya gravitasi hanya ada sistem irigasi alur, tetapi banyak metode untuk menghantarkan air ke kepala/hulu alur. Metode tekanan dapat dikategorikan sebagai irigasi atas (spray) dan air dihantarkan dengan nozzle atau irigasi tetes dengan air yang dihantarkan oleh tube dan emitters.

IRIGASI ALUR

Walaupun data statistik yang lengkap tidak tersedia, irigasi alur merupakan sistem yang dominan dalam penanam tebu. Survei yang dilakukan oleh KID ( Internasional Commission on Irigation and Drainage) dan FAO (Food and Agrikultural Organisation) menunjukkan bahwa sistem permukaan memiliki nilai lebih dari 80 % dari seluruh areal irigasi di seluruh dunia.

Irigasi alur pada tebu lebih dikenal dengan beberapa alasan yaitu :

Ø  Air diaplikasikan melalui gaya gravitasi tanpa membutuhkan tenaga
Ø  Angin tidak mempengaruhi efisiensi aplikasi
Ø  Merupakan sistem yang sederhana dan murah untuk merakit dan mengoperasikannya
Ø  Dapat diaplikasikan untuk kisaran tipe tanah yang luas, topografi dan lahan

Metode alur dapat diartikan sebagai penerapan irigasi yang sangat bagus tetapi juga merupakan irigasi dengan efisiensi yang paling buruk lebih rendah dari 30 %. Faktor yang menyebabkan efisiensinya sangat buruk adalah kualitas persiapan lahan yang jelek, areal bergelombang, perawatan yang tidak bagus dan kebocoran saluran air, gerakan air dibelakang dan kehilangan karena perkolasi. Produktivitas tenaga kerja juga lebih rendah jika dibandingkan sistem irigasi yang lain.

Praktek yang baik untuk irigasi alur

Dengan tekanan yang kontinyu pada sumber air dan efisiensi penggunaan air, irigasi alur membersikan penampilan yang lebih baik. Praktek irigasi alur yang baik akan memperoleh efisiensi 80-90 %, yang sebanding bahkan lebih baik daripada irigasi atas. Ini akan terdiri dari beberapa praktek :

Ø  Membatasi irigasi alur untuk tanah berlempung, dimana kedalaman kehilangan air karena perkolasi selama aplikasi irigasi alur diminimalkan (tanah yang bersaluran akan lebih dapat diterima jika bersatu dengan air tanah membentuk sistem sirkulasi kembali).
Ø  Mengoptimalkan tata letak lahan dan tujuan alur, kemiringan dan ketajaman dari tipe lokal tanah dan topografinya. Ini dapat dideterminasikan dengan tujuan percobaan areal dan khususnya seperti SIRMOD II (Walker, 1989).

Ø  Menghantarkan air hingga ketepi areal dengan pipa pembawa atau saluran air (lempung), pelat beban atau garis pembatas) untuk mengurangi kehilangan karena rembesan. Kanal tanah hanya digunakan untuk membatasi tanah lempung.

Ø  Distribusi air sepanjang tepi areal dan kepala alur dengan gerbang pipa, saluran air atau kanal untuk mengurangi kehilangan air karena rembesan.Kanal dari tanah hanya digunakan untuk pembatas pada tanah lempung.

Ø  Menyeleksi laju kecepatan aliran air yang optimal untuk sebagian konfigurasi alur dan karakteristik tanah laju aliran air biasanya berkisar 0.5 – 8 liter/s
Ø  Mengumpulkan, menyetorkan dan memutar kembali aliran air dari akhir alur ke awal saluran.

Ø  Menyusun jadwal irigasi, dengan menggunakan iklim berdasar kelembaban tanah atau instrumentasi tanah untuk mendeterminasi waktu yang optimal untuk aplikasi irigasi.

Ø  Menerapkan ikatan polimer tanah pada air irigasi untuk meningkatkan penyerapan air dan untuk menghindari pengendapan untuk tipe tanah.

Ø  Memonitor tanah dan kualitas air dan mengadapsi menajemen untuk melindungi struktur tanah dan mencegah meningkatnya salinitas dan sodisitas. Menerapkan pembenah tanah seperti gypsum untuk tanah alkaline-sodik dan lime untuk tanah asam mungkin bisa dilakukan, dan

Ø  Menompang trash untuk melindungi kelembaban tanah, walaupun penerapan ini kadang tidak cocok dimana alurnya sangat panjang pada tanah miring alirannya akan terhalangi.


Sistem pengisian selokan

Berbagai metode diusahakan untuk mengisi air dari pinggir areal ke kepala alur. Metode utamanya adalah bentuk pengisi selokan yang dibendung sebanyak 20 alur untuk setiap setnya. Sisi samping pengisi selokan dipecah pada suatu interval menggunakan cangkul atau sekop untuk menjaga aliran air ke masing-masing alur. Metode ini sangat murah untuk merakitnya tetapi butuh tenaga kerja yang intensif, sejak pemutusan harus diperbaiki sebelum dilakukan langkah yang lain. Aliran alur sangat pelan dan distribusi  air terjadi secara berkala dan sangat tergantung pada keahlian setiap orang yang melakukannya. Letak alur pada hulu agar diperoleh air dalam jumlah yang banyak dari pada bagian hilir. Perbaikan yang harus dilakukan pada metode ini adalah mengurangi pengoperasian cangkul untuk menjaga aliran air sepanjang alur kanal. Pemutusan tunggal hanya dibutuhkan untuk membuat aliran kanal terseir untuk menyuplai bagian pada kepala alur dan alur ini dibuka sepanjang waktu.

Metode pengisian selokan cenderung diadopsi oleh petani dengan bongkahan tanah kecil dan alur yang pendek, dimana kemiringan tanah harus ada. Sistem “ranting” dan “utama” di Jamaika, sistem alur lembah Barahona di Repoblik Dominika merupakan variasi dari metode ini. Panjang alur hanya 20-50 m dan kanal utama digunakan untuk mengalirkan air untuk set irigasi ke areal sepanjang alur utama areal.

Pipa Pindah

Pipi pindah mengakibatkan kontrol yang lebih bagus untuk pembagian air ke masing-masing alur dan akan menutup kisaran penuh laju aliran yang diperoleh pipa pindah dibuat dari pipa polythene dengan diameter antara 25-75 mm. Pengoperasian yang ideal (seperti level air pada kanal tersier hingga level air pada alur) adalah 50-300 m. Gambar 6 memberikan gambaran kurva untuk berbagai ukuran pipa.

Spile Pipes

Alternatif penganti pipa pindah adalah spile pipe, yang ditempatkan pada tembok pada kanal tersier untuk memenuhi 10-20 alur. Sebuah gerbang buka tutup pada ceruk spile pipe mengontrol aliran air, dan gerbang ini dioperasikan dengan membuka penuh atau menutup penuh. Diameter spile antara 150-300 mm dan tipe pengoperasian kepala 50-500 mm.

Versi lain dari spile penurun pada kanal tersier dengan 1 atau 2 spile pipe berdiameter 50-75 mm per alur. Spile pipe ditempatkan pada bagian penurunan dibalikan kanal tersier yang dibangun dari dudukan atau dipusatkan pada gundukan atau diberi tanda (konsentrasi siraman). Sistem ini populer untuk layout alur dimana kanal tersier pada tempat dimana kemiringannya sekitar 1 %, sejak pintu masuk bisa dipindah dan daerah dengan pandang rumput yang luas tidak diperoleh seperti yang ada pada sistem siphon. Kanal mengalir secara langsung sesuai kemiringan, dan spile hanya akan dibuka jika alur akan diirigasi. Irigator biasanya memilih spile karena lebih cepat dan mudah untuk mengoperasikannya dari pada pemindah dan memasang pipa siphon. Pipa spile dan penutupnya lebih mudah diperoleh dari sumber lokal (perusahaan plastik).


Sistem pipa gerbang dan saluran pengantar air datar

Kanal tarsier pada sistem siphon dan spile pada kenyataannya menjadi penghalang pengoperasian pemanenan yang didapat pada tanjung agar peralatan bisa membelok. Pipa gerbang dan saluran pengantar air datar merupakan sistem alternatif irigasi yang memecahkan agar pada saat pemanenan diperoleh akses bebas dari masalah panenan. Areal tebu yang dapat dipanen juga lebih besar jika dibandingkan dengan sistem siphon atau spile sejak tanjung tidak diperoleh. Pipa gerbang dan sistem saluran diperoleh dengan tekanan atas rendah dengan 0.2–2 m pada luarnya. Sistem pemendaman pipa diperlukan untuk mendistribusikan air ke hidrant dan sebuah pompa atau kanal atau bendungan untuk pengoperasian atas. Biaya instalasinya lebih tinggi jika dibangdingkan siphon atau spile, tetapi untuk beberapa petani keuntungan pengoperasiannya tidak melebihi biaya ekstra.

Sebagai perbaikan tambahan pada sistem pipa gelombang adalah untuk menginstal katup gelombang untuk menekan air agar mengalir ke alur. Katup secara normal terletak pada suplai hidrant pada pusat dua cabang  dari pipa gerbang atau saluran pengahantar datar. Prinsip pengoperasiannya adalah membuat gelombang air menuruni alur pada set alternatif irigasi dengan interval waktu (contoh 30 menit hidup, 30 menit mati) sampai riak air pada akhir alur. Ini disebut sebagai “fase kemajuan “ interval waktu kemudian dikurangi hingga ½ sampai siklus irigasi lengkap . ini disebut sebagai “outback atau soak phase”. Pengisian dan pengosongan secara objektif pada suatu alur pada fase kemajuan adalah untuk menyiapkan tanah untuk fase outback, dengan menurunkan kapsitas infiltrasi dan memperhalus profil alur. Pada fase outback menggunakan lebih rendah laju aliran dan menerima kebasahan yang lebih seragam sepanjang alur.

Irigasi gelombang lebih efektif pada tanah aluvial yang tidak bersaluran dimana kehilangan karena perkolasinya tinggi pada alur atas merupakan sebuah masalah dan dimana aliran pada alur yang tinggi diperlukan untuk memperoleh air hingga akhir alur. Keuntungan dari irigasi gelombang adalah hemat air dan tenaga kerja, efisiensi aplikasi serta hasil yang tinggi. Pupuk juga bisa ditambahkan dan dikontrol dari kutub gelombang. Tehnik irigasi gelombang banyak digunakan di USA antara lain di Colorado dan USUCES (Utah State University Cooperative Extension Service) dimana peneliti bekerja pada berbagai tanaman yang berbeda. Dua produsen yang khusus memproduksi katup gelombang adalah Waterman Industries. Inc. Colifornia dan P & R Surge Systems Ins, Texas. Program pembuatan katup dikontrol oleh tenaga surya.       

Polyacrylamide (PAM) sebagai polimer pengikat tanah memberikan beberapa keuntungan yaitu :

Ø  Mengurangi erosi tanah dari alur
Ø  Meningkatkan penyerapan air dan
Ø  Mengurangi endapan nutrisi dan pestisida yang keluar dari areal dan mengkontaminasi anak sungai.

PAM juga biasa digunakan sebagai agen pengendap dan penjernih pada makanan, proses pembuatan gula dan pada air. PAM bukan merupakan polutan tanah dan dapat diurai oleh matahari dan cara budidaya. PAM dapat diaplikasikan dalam bentuk butiran, tablet, cairan atau konsentrasi emulsi dan dosis aplikasinya antara 1-8 kg/1000 m3 aplikasi air, tergantung pada tipe tanah, bentuk alur dan kecepatan aliran. Bahan kimia ini dicampur dan disuntikan pada kanal tersier sebelah atas atau pada pipa sepanjang alur irigasi hingga akhir alur. PAM pada umumnya hanya digunakan pada irigasi pertama setelah tanam atau pada saat kultivasi inter-row ketika resiko kehilangan tanah tinggi. Jika kondisi tanah memerlukan keadaan seperti ini. PAM dapat digunakan sebagai alternatif atau pilihan irigasi yang lain. Untuk dampak maksimum, perlakuan air dengan PAM harus diaplikasikan pada alur yang kering tanpa perlakuan sebelum pembasahan.

Penggunaan polyacrylamide sebagai kondisioner tanah baik dilakukan pada tanah lempungan dimana penyerapan air dan penyebaran secara lateral pada profil alur jelek. Bahan kimia ini digunakan dan memberikan efek yang bagus di Australia dan USA dan banyak penelitian informatif dan laporannya tersedia (contoh Ross, Sojka dan Lentz, 1994-1997, dan Kimberley, Idaho, USA melakukan banyak penelitian perintis).


IRIGASI ATAS (OVERHEAD IRRIGATION)

Irigasi kedua yang terpopuler pada penanaman tebu diseluruh dunia adalah irigasi atas, dimana air diaplikasikan dalam bentuk butiran dengan nozel yang ditempatkan pada tanaman. Dengan metode ini, diperoleh keseragaman dan kekomplitan untuk seluruh areal dan air akan diserap secara vertikal ke dalam tanah. Ini merupakan cara yang berbeda untuk membasahi areal. Jika dibandingkan irigasi alur dimana hanya 40-60 % permukaan tanah yang dapat dibasahi dan penyerapan air secara lateral dan vertikal.

Secara umum terdapat 3 kategori nosel atas (overhead nozzles)

Ø  Tekanan rendah dioperasikan pada 0,6-2,0 bar, dengan tipe lemparan beradius/jarak 3-12 meter.
Ø  Tekanan menengah dioperasikan pada 2,0-5,0 bar, dengan tipe lemparan berjarak 12-30 m.
Ø  Tekanan tinggi dioperasikan pada 5,0-7,5 bar, dengan lemparan berjarak 30-65m.

Nozel bertekanan rendah pada umumnya plastik dan mainted pada sistem irigasi boom seperti sumbu utama, gerakan linear dan boom irigator. Tata letaknya disusun dalam bentuk yang lebih ekonomis untuk ganjalan spinkler nozel tempat terbuka dibandingkan dengan sistem pipa fixed atau moveable riser. Pengecualian untuk FloppyTM sprinkler, dimana bantalan pada pipa riser tau sistem kabel atas. Namun demikian, pengoperasian sistem floppy pada alur dari tekanan rendah dan medium dan jarak sprinker untuk tanaman tebu antara 12-15m. Industri hortikultura mungkin akan mengoptimalkan untuk sprinkler tekanan rendah pada riser yang tertutup dan sistem pipa, tetapi area untuk tanaman menjadi terpadatkan dan pada tanaman tebu menjadi tidak ekonomis.

Nozel bertekanan rendah pada umumnya terbuat dari kuningan atau plastik  dan diganjalkan pada bodi sprinkler dari plastik atau bronze. Untuk tebu, metode tradisional bantalan sprinkler pada 3-4 m pipa riser yang dihubungkan ke pipa fixed atau moveable pada sistem distribusi. Jarak pada umumnya pada 18 x 18 m.

Nozel bertekanan tinggi pada umumnya terbuat dari plastik, kuningan, atau plastik dan diganjalan pada badan sprinkle-gun dari alumunium. Gun Sprinkler yang membuat hujan (atau cannons) biasanya diganjalkan pada trolleys taved dengan irigator hose-reel (hard-hose atau soft-hose types). Pada beberapa kasus, gun sprinkler diganjalkan pada tripod yang dihubungkan pada pipa sistem distribusi fixed atau moveable. Tetapi pemasangan tripod berat dan memerlukan 2 orang untuk memindahkannya keposisi lain.
Sistem tekanan rendah dan medium lebih mahal untuk menginstalnya, tetapi akan membutuhkan energi yang rendah dan biaya pengoperasian. Sistem ini lebih cocok untuk areal yang irigasi penuh dimana irigasi tiap tahunnya 500 mm atau lebih. Sistem bertekanan tinggi dengan energi dan biaya pengoperasian yang lebih cocok untuk areal yang beririgasi tambahan dimana kebutuhan irigasi tiap tahunnya lebih rendah dari pada 500 mm. Deskripsi yang jelas pada sistem irrigasi atas digunakan pada industri tebu, dan gambaran lengkap dari sistem sprinkler dan peralatannya dapat diperoleh pada Kay, 1983.

SISTEM IRIGASI BOOM

Tiga bentuk dasar sistem irigasi boom adalah centre pipot irrigator, the linear move irrigator dan boom irrigator. Ketiganya menggunakan prinsip yang sama yaitu menggunakan sebuah pipa boom yang berlevel tinggi untuk mengalirkan air irigasi ke nozel yang menyiramkan. Boom biasanya mempunyai diameter 80-250 mm dengan panjang 15-60 m dan diperkuat dengan menyusun tiang-tiang penopang yang terbuat dari balok dan atau kabel. Perbedaan antara ketiga bentuk dasar ini adalah cara air dibawah oleh irigator dan jalan bagaimana dia bergerak irrigasi boom pertama menggunakan sprinkle konvensional yang digundukkan pada puncak boom, tetapi perkembangan yang lebih modern adalah memasang nozel yang bertekanan rendah, antara 0.7–1.4 bar (10-20 pst) pada tube bawah diikuti oleh boom.

Pivot pusat mempunyai ceruk air mati pada pusatnya, dan semprotan bergerak memutar. Untuk areal seluas 50 ha harus mempunyai pivot paling tidak 7 spans ditambah dengan sebuah spans serambi pada bagian luar disebelah dalam yang akan memberikan panjang 400 m. Spans ini akan didukung pada sebuah kaki tower dan luas diameter roda digerakkan oleh motor elektrik kecil berkekuatan 1 KW. Sensor dipasang pada masing-masing tower kontrol yang dapat dipindah dan dibatasi oleh pivot spans. Kecepatan aplikasi irigasi dapat disesuaikan dengan menganti kecepatannya pada putaran pivot. Ukuran set sprinkler nozel diperoleh sepanjang pivot untuk diganti pada kecepatan perjalanan.

Pivot span yang lebih panjang dapat menjangkau areal irigasi yang lebih luas dan sistem menjadi lebih murah. Namun demikian, kecepatan semprotan pada akhir areal tidak lebih luas 90 ha adalah terlalu tinggi untuk tanah berlempung dan kemiringan yang tajam. Pivot untuk areal 90 ha hanya untuk tanah berpasir dengan kemiringan ringan. Sistem pivot yang terbaik pada tebu menggunakan profil pivot yang tinggi dengan sempuran samping bawah setidaknya 4 m dari permukaan tanah. Landasan dipadatkan dengan roda traktor untuk mencegah adanya bekas roda (rutting) dan tebu ditanam dalam row yang paralel dengan areal roda memutar.

Pivot pusat merupakan metode paling sederhana untuk menghantarkan air dan mengontrol batasannya, dan saat ini merupakan sistem irigasi boom yang banyak digunakan, tetapi layout areal yang diputari tidak memberikan perubahan yang signifikan pada perencanaan areal. Sistem cornering masih eksis tetapi tidak selalu digunakan oleh petani tebu. Mereka lebih memilih meninggalkan lahannya (jika air tanah menjadi utama) atau membangun instalasi irigasi seperti irigasi alur atau solid set sprinkler untuk areal yang lain lebih memilih untuk tidak diirigasi. Pivot pusat sangat cocok untuk perkebunan komersial dalam skala luas ketika irigasi menggunakan mesin dibutuhkan untuk menghemat tenaga kerja. Kontrol menggunakan komputer  merupakan pilihan untuk pola multi pivot dimana otomatis secara penuh diperoleh . Ini memungkinkan dan pada umumnya lebih ekonomis untuk mengaplikasikan pupuk, herbisida, ripener  dan insektisida pada pivot jika nozel yang dipilih memungkinkan.

Namun demikian pelapisan yang bagus diperlukan untuk mencegah korosi pada pipa. Pembungkus plastik tersedia untuk air irigasi yang sangat korosif seperti dilutet destillery effluent (?). Pada tahun 2001 biaya pivot untuk 50 ha (tergantung penghantar dan pemasangan tetapi tidak termasuk pompa dan mainline) sekitar 65.000 dolar US dan biaya per unitnya adalah 1.300 US dolar/ha. Pivot yang lebih kecil membutuhkan biaya per unit yang lebih tinggi dan biaya per unit untuk pivot yang lebih besar menjadi lebih murah.

Irigasi dengan gerakan linear lebih biasa untuk layout areal konvensional, sejak gerakan span pada sebuah garis lurus menuruni areal, dan nozel sprinkle semuanya mempunyai spesifikasi yang sama. Air dipindahkan dari saluran terbuka atau hydrant dan sistem dudukan yang fleksibel pada tepi areal. Pembawa yang mempunyai 2 atau 4 roda membawa pompa diesel untuk mengambil air dan generator diesel sebagai pembangkit tenaga sistem MT. Kontrol pinggir diperoleh dengan kabel di sekitar tanah, sebuah roda alur, atau kabel yang di bawa dan sebuah antena.

Manajemen irigasi lebih kompleks dengan sistem linear dan pada suatu areal dapat mengairinya untuk memperoleh kondisi yang kering atau irigasi double pada areal yang sama. Sebagai alternatifnya jika layout areal cocok, irigasi linear dapat diterapkan sepanjang areal dan melanjutkan kembali irigasi pada awalannya.

Irigasi semburan cenderung memiliki profil yang rendah dan lebih cocok untuk irigasi tambahan pada tanaman yang baru tumbuh atau pada tanaman ratoon yang masih muda, beberapa petani memodifikasi irigasi semburan ini untuk mendapatkan dasar yang lebih tinggi untuk mengairi tebu yang telah tua, tetapi dibutuhkan topografi yang datar untuk memperoleh irigasi yang lebih stabil lagi.

Irigasi semburan dapat diperoleh dari mesin dudukan atau tekanan sistem pipa yang dibakar dengan hydrants dan dudukan. Tipe panjang boom adalah 30-50 m dan dapat menghasilkan irigasi yang efektif dengan luas 45-72 jika dicocokkan dengan akhir sprinkler, keungulan irigasi ini adalah semburannya halus dengan luas yang dapat dijangkau besar, walaupun pengairan didasar dapat diperoleh irigasi semburan didesain untuk menjangkau seluruh posisi areal untuk aplikasi irigasi yang cepat.

NOZZLE LEPA (LOW ENERGY PRECISION APPLICATION)

LEPA merupakan konsep yang dikembangkan di LISA untuk memperoleh level air yang tinggi dan efisiensi energi pada sistem irigasi boom linear dan circular. Sistem LEPA merupakan sebuah kombinasi dari spesifikasi alat yang bagus untuk memberikan koefisien keseragaman (CU) lebih besar dari 94 % dan manajemen air-tanah yang bagus. Salah satu karakter sistem LEPA adalah bahwa nozel ditempatkan pada  row tanaman dan lebih kecil dari 450 mm diatas permukaan air tanah untuk mengurangi laju angin dan kehilangan karena evaporasi. Drag-socks dapat digunakan sebagai alternatif untuk nozel spray jika air irigasi dapat diaplikasikan secara langsung pada permukaan tanah.

Sistem LEPA dapat digunakan pada areal tanaman yang tinggi seperti agung, tetapi pada tanaman tebu masalah utamanya adalah tidak dapat dibangun dengan tube yang panjang dengan batang tebu yang roboh melewati inter row. Namun demikian, banyak prinsip LEPA yang dapat diadopsi untuk tanaman tebu jika memungkinkan.

SISTEM SPRINKLE

Sistem sprinkle dioperasikan dengan tangan dan dapat dikategorikan sebagai sistem portobel, semi–permanen dan permanen. Ada variasi jumlah dengan jalan sprinkler dapat digundukkan dan dipindahkan, seperti yang umum untuk tanaman tebu terdapat pada Tabel 3 .


Tabel 3. Tipe sistem sprinkler.

Kategori
Tipe Sistem
Deskripsi
Portabel
Dapat dipindahkan
Sprinkle langsung dihubungkan dengan permukaan pipa alumunium (lateral) dan keduanya dipindahkan sesuai dengan kemajuan irigasi sepanjang areal. Pipa alumunium utama dan pompa diesel juga dipindahkan untuk rotasi irigasi sepanjang areal. Membutuhkan modal yang kecil tetapi membutuhkan tenaga kerja yang intensif. Mungkin dilakukan pada tanaman tebu yang muda, dengan memindahkan pipa sepanjang 9 m pada tanaman tebu yang tinggi akan sulit dilakukan.

Semi Permanen
Hap a long
Sprinkler ditempatkan pada setiap 2 atau 3 tempat secara lateral, kemudian pipa lateral hanya dipindah ½ atau 1/3 jumlah pada saat sprinkler dipindahkan sprinkler diletakkan secara lateral diantara pipa lateral yang dapat dipindahkan. Garis utama secara permanen diinstalasikan di bawah tanah. Membutuhkan tenaga kerja yang lebih sedikit jika dibandingkan sistem partabel, tetapi tetap susah untuk memindahkan pipa lateral pada tanaman tebu tua.

Drag line (permukaan lateral )
Pipa alumunium lateral ditempatkan pada permukaan dan ditempatkan pada sisi kanan pada saat musim irigasi. Sprinkler diletakkan pada tripod yang portabel atau dudukan dan dihubungkan dengan hose yang fleksibel secara lateral. Sprinkler dipindahkan pada posisi alur pada sudut yang lain dan sepanjang lateral pada sebuah “module” seperti 3 x 4  posisi pada alur 18 m memerlukan module 54-72 m = 0.3888 ha membutuhkan sedikit tenaga kerja jika dibandingkan dengan hop a long sejak tidak ada pipa yang dipindahkan sampai panen, tetapi bagian–bagiannya membutuhkan tebu untuk mempermudah mengerakan sprinkler.

Dragline (dikubur secara lateral)
Pipa lateral dan cabang sprinkler posisi alur secara permanen dikonstruksikan dari pipa polyethylene hitam berdiameter 25-80 mm ditempatkan dibawah tanah. Pipa riser dan tutup luar menarik air keluar permukaan. Sprinkler diletakkan pada kedudukan riser dan dihubungkan dengan hose yang pendek ke tutup luar. Putaran sprinkler sama seperti sistem permukaan lateral . Hanya perlengkapan sprinkler harus dipindahkan pada saat panen tetapi katup luar membutuhkan perlindungan dari kerusakan.


Permanen
Solid-set
Jaringan pipa yang dikubur di konstruksikan untuk menyuplai setiap posisi sprinkler dan sprinkler riser dilengkapi dengan instalasi pada setiap posisi, hanya sekali waktu dipindahkan pada saat panen. Operasi sprinkler dalam kelompok dan dikontrol dengan operasi dengan tangan di areal. Membutuhkan modal yang besar tetapi membutuhkan tenaga kerja yang sedikit; dan bagian-bagian sprinkler tidak dibutuhkan pada tebu.


Sistem dragline mempunyai banyak variasi dari konfigurasi “module” yang menjadi populer dan sistem irigasi serbaguna dalam areal tebu skala industri yang beririgasi di Afrika Selatan. Gambar 13 mengilustrasikan layout tipe dragline sprinkler dan pada 2001 biaya peralatan di areal sekitar 1.000 dolar US/ha (termasuk pompa dan bipa untuk suplai utama).

FLOPPY SPRINKLER

Sistem floppy sprinkler merupakan irigasi atas yang relatif baru yang ditemukan dan kembangkan di Afrika Selatan. Inovasi konsep desain ini berbeda secara jelas dengan sistem nozel konvensional yang lain. Kepala sprinkler merupakan tube silikon yang fleksibel yang berputar secara lambat membuat lingkaran 360° membentuk butiran yang besar seperti air hujan. Untuk pengoperasian yang efektif floppy sprinkler membutuhkan tekanan minimum 2 bar. Masing-masing sprinkler dilengkapi dengan sebuah diafragma untuk mengontrol aliran sehingga laju alirannya menjadi konstant walaupun tekanannya berfluktuasi. Kepala sprinkler dapat diletakkan pada pipa riser atau pada sistem kabel atas.

Pada tanaman tebu, floppy sprinkler dibangun secara solid dalam kaki tiga dengan ukuran 12 x14 m, yang akan memberikan laju penyerapan 4.2 mm/hr. Pada 2001 biaya peralatan dilapangan sekitar 1.700 dolar US termasuk pembuatan parit dan instalasi pipa lateral.

Sistem floppy telah diuji secara ektensif oleh WRC (Water Research Cominision) di Afrika Selatan (Simpson dan Reinders, 1999) dan merupakan sistem proven. Ini banyak diterapkan pada perusahaan tebu yang masih kecil karena merupakan metode yang simpel dalam pengoperasiannya, biaya energi yang rendah dan membutuhkan perawatan yang mudah.



RAIN-GUN TRAVELLING IRIGATORS

Rain-gun sprinkler merupakan irigasi yang dapat bejalan pada row tebu dan 65 % arealnya dapat teririgasi (tipe 70-90 m). Putaran gun selalu diset pada 270°-330° sehingga masalah areal sampling sprinkler dalam perjalan langsung terairi juga sehingga masalah tracking tidak tidak diperoleh. Pancaran irigasinya mungkin 200-400 m panjangnya, tetapi mesin yang tersedia dapat mencapai 700 m. Tabel 4 memperlihatkan tipe kisaran operasi rain-guns.

Tabel 4. Tipe kisaran pengoperasian rain guns

Kategori
Aliran
(l/s)
Tekanan gun (bar)
Dia.Hose (mm)
Jarak jalur
(m)
Run
(m)
Areal yg tercover (ha)
Waktu yg  dibutuhkan aplikasi 25mm
Rata-rata penyerapan (mm/hr)
Kecil
8
4.8
63
52
200
1.04
9.0 hrs
6
Medium
16
5.5
90
66
400
2.64
11.5 hrs
8
Besar
35
6.2
125
85
500
4.25
8.4 hrs
10
Sistem rain-gun merupakan sistem yang serbaguna dan dapat beroperasi dengan bagus pada dasar yang berobak-ombak (tidak rata) dan bentuk areal yang tidak menentu. Laju aplikasi dapat disesuaikan dengan mengatur kecepatan jalan, tekanan pada saat dioperasikan dan ukuran nozel. Namun demikian, lemparan yang besar dari sprinkler berarti bahwa kecepatan angin pada umumnya mempengaruhi distribusi air sehingga irigasi hanya pada malam hari dapat dilakukan. Irigator berjalan diletakkan sekitar 1 jam untuk dipindah dan diset dijalur yang lain dan menempatkan gun trolley pada posisinya, tetapi 1 dimulai pada saat mesin tidak membantu sampai pindahan ini selesai. Metode irigasi ini biasa dilakukan di Quesland pada tanah yang berbukit dimana irigasi mendukung air hujan. Biaya yang diperlukan untuk skala luas pada 2001 sekitar 20.000 dolar US (termasuk pompa dan garis utama) dan ini dapat mengcover areal seluas 25 ha sehingga unit harganya adalah 800 dolar US/ha. Ini membutuhkan biaya yang rendah dengan pengoperasian yang tinggi (seperti energi) dibandingkan dengan sistem irigasi atas yang lain.

DRIP IRRIGATION (IRIGASI TETES)

Sistem drip relatif masih baru, jika dibandingkan dengan sistem irigasi lain seperti alur dan over head. Sistem drip pertama  di temukan pada 1970an, dan telah dicoba secara luas untuk tanaman hortikultura, akan tetapi masih sangat sedikit penggunaannya (hanya 1 % dari total pemakaian irigasi seluruh dunia).

Namun bagaimanapun juga telah banyak yang diinvestasikan untuk penelitian ini, seperti merancang komponen–komponen yang bertujuan untuk mengurangi biaya operasional. Hawaii (1980) dan India (1990 an) telah memakai sistem ini dengan biaya dari pemerintah.

Irigasi tetes merupakan sistem berteknologi tinggi yang membutuhkan pengetahuan yang bagus mengenai hubungan tanah dan air, perlakuan air dan jadwal irigasi untuk memperoleh hasil yang bagus keuntungannya adalah :

Ø  Hasil tebu yang lebih tinggi.
Ø  Hemat penggunaan air
Ø  Hemat biaya pengoperasian
Ø  Mengurangi perkecambahan dan pertumbuhan gulma
Ø  Merupakan metode aplikasi air yang flexibel
Ø  Dapat digunakan untuk mengaplikasikan pupuk bersamaan dengan sistem tetes
Ø  Sistem dapat dikontrol secara manual, semi –otomatis atau otomatis.
Irigasi tetes tidak toleran terhadap managemen yang jelek, dan aspek yang membutuhkan pemahaman dan apresiasi mengenai :

  1. Irigasi ini bukan merupakan bentuk irigasi visual, konsekwensinya membutuhkan monitoring yang lebih berhati-hati dan crosscheck meter alirannya, ukuran tekanan dan waktu aplikasi untuk mengakses agar penampilan sistem benar atau ada gangguan.

  1. Ini membutuhkan suplai air bersih dan membutuhkan ketelitian dalam penyaringan, pencucian kembali, pembilasan dan pembuangan bahan kimia untuk menjaga agar emiter bebas dari hambatan, yang dapat membahayakan dan dapat menyebabkan sistem rusak/tidak dapat diberbalik.

  1. Membutuhkan operator yang terampil yang telah ditraining dalam mengoperasian mesin dan menjaga sistem tetes dan konsekwensinya menjaga ketika sistem tidak berjalan dengan benar.

Penjagaan yang buruk pada sistem irigasi alur dan atas akan menyebabkan pekerjaan terhambat, tetapi pada sistem tetes  akan berakibat fatal. Ini harus selalu diingat.

PRINSIP PENGOPERASIAN

Prinsip pengoperasian sistem irigasi tetes adalah mengaplikasikannya secara tepat dan aliran air yang seragam menggunakan emiter langsung ke zone perakaran tanaman. Kecepatan aliran untuk setiap emiter sangat kecil, tipe 0.8 – 4.0 l/jam, oleh karena itu disebut “drip” atau “ trickle” irigasi. Cara membasahinya dibentuk dibawah masing-masing emiter yang disesuaikan dengan tipe tanah. Pada tanah lempung berpasir yang akan lebih menyebar secara vertikal, namun pada tanah lempung akan menyebar lebih lateral.

Untuk tanaman tebu perlu dilakukan percobaan untuk menentukan jarak drip (siraman) yang paling tepat, karena kebutuhan penyiraman tergantung jenis tanah dan jenis tanamannya. Setelah dicoba dengan beberapa variasi jarak, barulah ditentukan jarak yang paling tepat. Pada tanah lempung berpasir, jaraknya antara 300-500 mm, sedang tanah liat 600-1000 mm, dan besarnya air yang diteteskan ± 1.0 mm /jam.

Pada sistem drip, pemakaian air bisa seefisien mungkin, karena air dibawah dari sumbernya langsung melalui tabung atau pipa dan hampir tidak ada penguapan atau kehilangan lain.

SISTEM COMPONENTS

Dimulai dari ujung, inilah komponen-komponen utama sistem Drip (tetes) :

Ø  Emitters : Pabriknya telah merancang beberapa bentuk yang berbeda tapi semua mampunyai labirin untuk mencegah penyumbatan air, dan ada beberapa produk yang dilengkapi dengan diafragma sebagai kontrol tekanan.

Ø  Dripper Line (atau lateral) : terdiri dari tabung plastik yang elastis dengan diameter 16-25 mm dan tebal 0.25–1.2 mm, dirancang untuk tekanan saat operasi 1.0 bar dan panjangnya lebih dari 5000 m yang sesuai dengan topografi dan jenis emitter.

Ø  Dripper yang tipis di sebut drip-tape. Dripper ini diletakkan di atas permukaan atau di bawah tanah, di tanam sekitar 100-200 mm di bawah tanah dan di saluran inilah di buat lubang emiter, di buat di bagian atas, supaya endapan dapat terdorong ke atas, dan mengurangi resiko masuknya sesuatu ke labirin.

Ø  Main and submain : Ini adalah jaringan pipa yang menghubungkan saluran dripper ke pusat penyaringan, pengirigasian dibagi atas panel-panel dan blok-blok secara manual atau kutup otomatis yang mengontrol aliran air ke panel. Pada skema yang besar di pasang saringan kedua pada kutup pusat ke pelindung saluran dripper, untuk mencegah kerusakan pipa utama.

Ø  Flushing Main : Ini optimal, tapi disarankan agar ada metode yang lebih sederhana saluran pipa dan ujung dripper bawah tanah.

Ø  Filter Station : Pasir dibuat sebagai media sistem penyaringan, ini diharapkan dapat menghalangi kotoran atau benda lain terikut air bisa menggunakan saringan 125 mikron sesuai spesifikasi emiter. Sistem saring ulang biasanya otomatis lengkap dnegan timer dan tekanan maximum. Media pasir dengan diameter 1.2 m dapat mengalirkan ± 900 m3/jam, sedangkan 18 unit saringan disk pada toot porin ± 500m3 / jam. Jadi pusat penyaringan merupakan komponen yang vital.
Ø  Fertigation System : drip irigation cocok untuk aplikasi pupuk (Nitrogen, Potasium dan hara mikro) tapi harus dalam bentuk cairan atau gampang larut. Jika pupuk tidak murni, maka injection poin harus dibuat ke aras saringan utama atau saringan kedua pada skema besar. Alat ini dapat diatur dan pindahkan. Sistem yang sederhana terdiri dari tangki pengaduk, flow meter pompa venturi injection yang ditempatkan di saluran by pass.

Ø  Chemigation System : Tergantung kondisi lokasi, pemberian kimia dapat diberikan secara periodik, yang tujuannya untuk mencegah terjadinya penyumbatan pada emiter. Contoh : Trifluratin (pencegah akar), chlorine (mengurangi algae dan bacteri ), dan sulphonic/ hidrocloric / nitric/ posphoric acid ( kontrol pH dan mineral. Sebelum pemberian zat kimia alat digojlok lebih dahulu. Alat ini bisa dibawa, mempunyai unil pompa saat frekuensi dan volume rendah.

Ø  Pressure Source : Tekanan drip saat operasi, sekitar 4.0 bar pada inlet ke pusat penyaringan, dan biasanya ini sudah ada di pompa kadang-kadang, di tempat penampungan air yang tinggi, tekanan di dapat dari gaya gravitasi.

Ø  Control System : Bisa diatur dari manual, dari semi otomatis sampai full otomatis. Pencucian saringan biasanya secara otomatis, tapi katup untuk pemberian pupuk maupun zat kimia bisa secara manual. Pada  generasi awal, sistem ini menggunakan hidraulic atau kawat elektrik yang diletakkan pada parit-parit, dihubungkan dengan katup ke kanal irigasi, tapi ini sering bermasalah dan rentan akan kerusakan. Keluaran sudah lebih canggih, serba otomatis dan menggunakan radio operated control.

Ø  Ancillary Components : Peralatan lain yang umum di jumpai pada sistem drip adalah : flow meter, hidrometer (mengukur volume aplikasi irigasi ), Vacuum breakers ( mencegah masuknya tanah ke emiter pada saat berhenti ). Air valves (untuk jalan keluar udara yang terjebak), pressure gauges (untuk sistem monitoring) dan pressure control values (untuk sistem operasi).

Sumber informasi tentang sistem drip, tersedia di Soopramanien dan Batchelor (1991) Bureau, Pusat Penelitian Gula, Australia (1945) dan Literatur dari pabriknya (Netatim, T-Tape, Hardie, Jain, dan lain-lain).


SURFACE DRIP

Dengan penetasan di permukaan, dripper lebih baik diletakkan antara row dari pada sepanjang sisi baris tebu. Jadi 2 row dapat disuplai oleh satu dripper. Bila jarak antar row 1.5 m maka bisa dicover 3 m, ini lebih baik lagi pada tanah liat yang menyerap. Pilih dripper yang tebal dan kuat supaya tahan pada lingkungan, dan bisa digunakan, sebelum tebang, digulung ke dalam dan keluar, tidak perlu dilakukan flushing (gejolak) selama saluran dripper bisa dengan mudah di buka.

Surface drip disukai petani, tapi belakangan ini banyak yang memilih sub surface drip. Surface drip memang sederhana memasangnya dan mudah mengontrol sumbat atau bocornya, tapi lebih mahal, dan ada beberapa kelemahan lain di bawah ini.

Ø  Membutuhkan tenaga tambahan untuk menggulung kedalam dan keluar pada saat tebang
Ø  Saluran Dripper bisa kusut dan rusak pada tebu yang banyak / besar dan roboh.
Ø  Saluran berisiko di gigit tikus
Ø  Bisa rusak total karena api
Ø  Pada sisi yang tidak teririgasi (bagian yang kering) bisa terjangkit penyakit smut yang parah.
Ø  Pada row yang teririgasi, rumputnya banyak.

SUB SURFACE DRIP

Menempatkan saluran dripper di bawah tanah, dapat menggurangi kekurangan surface drip, dan dapat menggunakan saluran yang lebih tipis dan murah, saluran yang tipis ini akan dikorbankan saat replanting, jadi ekonomisnya sebaiknya dilakukan ratoon paling sedikit 6 tahun sekali.

Untuk hasil yang optimal, dripper di tanam berbatasan dengan masing-masing row. Tapi secara konventional dengan spasi 1.5 m, membutuhkan 6.667 m selang per ha, telah di buat beberapa sistem yang bervariasi di Venezuela untuk memperpanjang spasinya hingga 3 m, tapi selalu bermasalah dengan sistem harvesting dengan doble row, jarak 1.85 m bisa diatur dengan roda harvester dan peralatan lain.


SOIL MOISTURE INSTRUMENTATION

Tujuan irigasi adalah untuk memenuhi kebutuhan air pada akar tebu dengan jumlah dan frequensi yang tepat, supaya tercapai pertumbuhan yang maximum, diharapkan irigasi dapat memberikan kelembaban tanah dan bisa dibuat jadwal irigasi yang sesuai. Sayangnya lapisan tanah sangat bervariasi, sehingga bila menggunakan hanya 1 alat pengukur kelembaban, tidak mencukupi untuk menentukan 1 blok tanaman tebu tapi yang menjadi kendala adalah mahalnya alat ini. Pada generasi awal, sensor kelembaban (blok gipsum dan tensiometer) hanya berfungsi pada tanah yang berpasir ringan, padahal sebagian besar tebu ditanam pada tanah lempung.

Sebagai kesimpulan pada terbatasnya peralatan, irigasi dilakukan berdasarkan monitor cuaca, dengan tujuan membuat formula dan memperhitungkan penguapan (penman monleith) atau mini evaporation tapi petani biasanya melihat secara visual dan cross check kelembaban dengan menggunakan Hand Augering.

Baru-baru ini ditemukan pengukur kelembaban tanah yang bisa membantu para peneliti dan petani, dengan peralatan dengan berbagai skenario irigasi dan dihubungkan ke pusat pengukuran cuaca secara otomatis, PC’s dan soft ware khusus, dibawah ini beberapa alat yang umum di pakai.

Ø  Neutron probe : Sensor ini ada di bawah tabung vertikal yang ditanam secara permanen dalam tanah. Ini beroperasi melalui signal yang dipancarkan radio aktif dan menghitung dosisnya melalui pengembalian neutron, kemudian software khusus untuk mengukur kelembaban tanah, beberapa data dengan tingkat yang berbeda diambil dari lokasi tube dan terlihat profil kelembaban pada zona akar setiap tube yang dipasang perlu di kalibrasi.

Ø  Time Domain Reflectometry (TDR): Prinsip pengoperasiannya dengan gelombang elektromagnetik yang di kirim ke tanah melalui kawat stainless yang disebut wovequides . Pengukuran kelembaban tanah berdasarkan perubahan dielektrik konstan pada tanah dengan variasi kandungan air ada beberapa prosedur yang menawarkan alat ini, tapi biaya perawatannya mahal, jadi pemakaian terbatas pada riset ilmiah.

Ø  Enviro SCAN (sentek): Satelit ini dipasang secara permanen, membandingkan typical dari 4 sampai 8 posisi sensor pada level yang berbeda, sensor untuk mengukur kadar air tanah. Satelit ini dihubungkan ke data-lagger dan melanjutkan pencatatan data dengan interval 15 menit, datanya akan di down load ke notebook komputer atau di transfer oleh modem ke PC untuk diproses oleh specialist software. Outputnya berbentuk grafik dan beberapa siklus basah-kering dan menentukan angka full dan refill, tanpa kalibrasi khusus. Jalur tube ke satelit harus dipasang dengan teliti, karena hanya sedikit tanah yang ada disekitar tube, jadi bila ada gangguan maka sensor akan memberikan data yang salah.

Ø  Diviner 2000 (sentek) : merupakan satelit EnviroSCAN yang bisa di bawa dan langsung dapat dibaca, karena ada slide dibawah tube. Hasilnya dapat dibaca hanya beberapa detik, ini lebih mudah dipakai untuk menentukan jawal rutin, tapi sateli ini banyak digunakan untuk riset irigasi, dengan menguji jadwal yang berbeda.

Ø  Aquaflex (streat) : prinsip kerjanya sama dengan TDR, tapi sensornya terdiri dari kabel sepanjang 3 m yang ditanam secara harizontal dengan zona akar, ini dipasang permanen untuk memonitor kelembaban tanah terutama untuk riset irigasi diatas permukaan rumput dan tanaman yang perakarannya dangkal, pembacaan kelembaban tidak berlaku dalam.

Ø  Satelit Delta T : satelit ini kembangkan dari sensor kelembaban  Theta probe, dan dapat dibawa-bawa maupun dipasang secara permanen bila ingin memonitor secara kontinyu. Panjangnya 0.5 – 1 m, dibungkus tabung plastik dengan diameter 28 mm. Dapat membaca 4-6 level prinsip kerja satelit ini sama dengan TDR, sedang penggunaannya untuk tanaman tebu, tidak tercatat.

DRAINAGE

Kegagalan lebih sering disebabkan kesalahan pola irigasi daripada ketidakcukupan air pada irigasi yang baru harus saling menunjang dengan aturan-aturan drainase, dan membuat perencanaan yang komplit dan terpisah. Di beberapa areal tebu kegaraman dan keasaman perlu diperhatikan, sedang drainase yang baik merupakan prasyarat untuk pertumbuhan tebu, untuk membuat drainase dan mengatur keasaman dan garam, perlu pengetahuan tentang hidrologi dan lapisan tanah. Khususnya bagi pembina pertanian dan lembaga pengulaan.

Tanaman tebu sendiri sebenarnya merupakan “alat drainase” yang sangat efektif, karena dari kanopinya (daun) dapat menguapkan sekitar 7 mm kedalaman air/hari, dan pada tanah yang normal bahkan bisa lebih namun akar tebu tidak dapat memberi toleransi terhadap kondisi tanpa oxigen yang disebabkan genangan air. Lebih dari 2 hari akan terlihat penurunan hasil secara signifikan, sebab itu sangat perlu dilakukan drainase.


KATEGORI DRAINASE

Ada dua golongan besar drainase :

Ø  Surface drainage (permukaan ) : mengendalikan dan membuang air hujan dari permukaan tanah.
Ø  Subsurface drainage (di bawah tanah) : menjaga agar air tidak tergenang pada zona akar.

Pada tanaman tebu, permukaan air bawah tanah, harus dipertahankan 0.6 m di bawah zona akar, untuk mencapai kondisi kelembaban yang optimum.

Pada tanah free “draining” drainase permukaan tidak terlalu genting, selama air hujan bisa diserap secara vertikal melalui tanah, namun pada tanah yang bertopografi curam, perlu dilakukan konservasi untuk mencegah erosi pada saat hujan lebat, sebaliknya sangat diperlukan pada tanah lempung berat dengan gradien rata. Disini tebu dapat tumbuh dengan baik pada tanah rata perlu dilakukan kontrol yang baik dengan tera dan terlipat lerengan ke bawah, sehingga tidak ada genangan bisa juga laveling dengan tujuan ganda sebagai alur irigasi dan drainase.

Permukaan jalan pada sisi tebu harus lebar dan dangkal, agar mudah dilewati oleh peralatan atau mein-mesin pertanian, lebih praktis lagi bila ditanami rumput, agar kecepatan air berkurang dan tidak erosi. Contoh Vetifer zazanoides, Cynodon dactylon dan Stenotophrum secondatum. Dua spesies diatas harus dipangkas.
 
Dari permukaan jalan tail drain, air hujan dialirkan ke selendari atau Drain utama, sebelumnya dikeluarkan ke sistem regional atau ke sistem tali air. Profil diinginkan, gorong-gorong dan jembatan penyebrangan berfungsi untuk menangkap jumlah air, topografi dan koefisien permukaan. Biasanya ada buku petunjuk untuk petani namun kalau tidak ada bisa konsultasi kepada ahlinya. Koefisien drainase dipakai sebagai parameter untuk menghitung aliran pada gorong-gorong, struktur dan kemampuan darinase dan rancangan yang cocok secara manual harus disesuaikan ukurannya. Koefisien selalau diukur dengan liter/detik/ha, yang spesifik dengan kondisi setempat.

Kriteria 48 jam atau 72 jam, digunakan 1 kali dalam 2 tahun atau satu kali dalam 5 tahun. Untuk menentukan kalkulasi keefisien drainase. Untuk tebu yang ditanam di subtropikal coefisien antara 44-77 L/S/Ha. Keefisien lebih tinggi karena perpanjangan aliran air atau curah hujan.

DRAINAGE SUBSURFACE

Drainase yang baik diperlukan pada zona akar, untuk membersihkan dari garam dan menjaga ratio air, mengontrol kadar air permukaan bawah 0.6 m (atau lebih dalam untuk daerah bergaram) sangat vital bagi tanaman tebu. Hal ini dapat dicapai dengan :

Ø  Dalam rapat dan terbuka
Ø  Pengeringan dibawah permukaan (tile drain, slottedpipe, mole drains dan lain-lain).
Ø  Pompa sumur

Tingkat permukaan air bawah tanah di buat berfluktuasi, karen adanya irigasi dan musim hujan, ketika diketahui kadar air tinggi, sebaiknya dipasang monitor untuk observasi, seperti network atau plezometer. Alat ini sederhana dan murah, terdiri dari tabung 25 mm (biasanya dari plastik) yang dicucukkan ke dalam tanah / lobang dengan diameter 75 mm, dalamnya 2 m, dan diberi pasir atau kerikil supaya tidak runtuh untuk mencegah masuknya serangga atau yang lain, ujung tabung ditutup semua dibuat penutup supaya air hujan tidak masuk kedalam lobang. Level air dapat dimonitor dengan menggunakan sesuatu yang dilempungkan yang bisa terapung dan diberi bendera.

Drainase terbuka seperti ini kurang ideal untuk mengontrol permukaan air karena, banyak tanah terpakai, kesulitan jalan dan perawatan, ini cukup efektif bila daya konduksi hidrolik tanah sangat tinggi, contoh di Florida yang disebut tanah “Muck” namun jarang ditemukan, namun pengeringan terbuka yang dalam, cukup efectif pada garis mata air dimana tidak ada tanah yang kering atau dataran rendah dengan tanah liat.

Sistem chamber-bed, telah dikembangkan untuk pengeringan di daerah yang rata- tanah liat berat, dan bisa digunakan dikebun–kebun tebu Guyana pengeringan terbuka 900-1200 mm, dilakukan oleh traktor yang implemen yang bisa membuat guludan. Jaraknya 6-15 m, tergantung formasi guludan.

Pengeringan antar guludan sebagai jalan mengalirnya air, juga sebagai kontrol permukaan air dalam tanah. Kontrol ini hanya bermanfaat apabila ada kemiringan dan guludan yang mengalirkan air secara harizontal pada tanah normal tidak ada pergerakan air melalui tanah liat berat.

Sistem drainase dengan jaringan pipa di bawah tanah, umumnya kurang ekonomis untuk perubahan tebu, saat tertentu jalur irigasi bisa juga menaikan permukaan air pada zona akar. Sistem ini pernah dilakukan di swaziland pada tanah padat, dimana drainase harus dipasang dengan jarak 20-40 m. Setelah di hitung, ternnyata biaya yang dikeluarkan senilai hasil kerja beberapa tahun. Sehingga kalaupun dilakukan terbatas pada daerah yang sulit seperti bebatuan atau tempat yang rendah.

Drainase bawah tanah dibuat dan pipa (diameter 50.75 atau 100 mm) yang ditempatkan pada paritan sempit sedalam ± 1.5m, dimana paritan tersebut di beri berikil disekitarnya minimum 0.5 %, yang fungsinya untung menyaring partikel tanah. Lobang di buat dari polythen atau di cetak dari beton, ditempatkan pada persambungan atau persimpangan beberapa pipa, setiap periode di bersihkan dengan zet nosel.

Air tanah bisa digunakan untuk irigasi asal kualitasnya baik mesin pompa sumur bisa memberikan 2 keuntungan sekaligus, yaitu menurunkan permukaan air disatu tempat dan melakukan pengairan di tempat yang kering, hal seperti ini ada dilakukan di peruvian, dimana banyak lokasi yang permukaan airnya harus di kurangi dan disiramkan ke lokasi yang kering, disini 30 % pengairan diambil dari bawah tanah.

Pompa sumur yang menanggulangi air tanah, sebaiknya dengan hidrologi yang bagus dengan lapisan permeable dan tidak pergerakan air secara vertikal. Sumur-sumur ditempatkan pada persegi tiga atau segi empat, supaya dapat mengurangi / menurunkan air disekitarnya, hal ini dapat dipertimbangkan jika biaya yang dikeluarkan berguna juga untuk pengairan atau hanya 1 sumur dapat menanggulangi daerah yang cukup luas.

ENVIRON MENTAL CONSIDERATION 

Semburan dari pengairan di kebun tebu, akan membuat alur air dan dapat menyebabkan gangguan lingkungan, dimana racun-racun dan pupuk ikut terbawa oleh air dan merusak habitat alam, jadi kualitas air yang terhambur harus di kontrol agar tidak mengganggu lingkungan.

Di bawah ini beberapa tehnik yang bisa dilakukan untuk menanggulangi kualitas air dan kerusakan tanah akibat jalanaliran air.

Ø  Pemberian jerami / sampah tebu.Penahanan di lapisan sampah tebu dapat mengurangi kecepatan air dan menyaring partikel tanah.

Ø  Ground cover : menanam tumbuhan yang cocok pada daerah yang tidak ditanami tebu, seperti pinggiranjalan, pinggir saluran air, dan lain-lain.

Ø  Fallow Cover Crop : Menanam jenis kacang-kacang pada lahan yang sedang di istirahatkan, untuk meningkatkan stabilitas tanah.

Ø  Minimum Tillage : Meminimalkan jarak antar row pada saat bajak dan replant, mengurangi kerusakan tanah.

Ø  Channel xelocity : Merancang jaringan drainase supaya kecepatan air kurang dari 0.6 m/det, pada tanah lempung, dan 12 m/detik pada tanah liat meminimalkan erosi dan pengikisan tanah.

Ø  Tail water recycling : membuat kolam penampung air, dan pompa penyaluran dan irigasi, kapasitas penyimpanan tali air minimum 12 mm dari curah hujan pada seluruh luas area.

Ø  Chemical mechanisms : memakai polimer memadatkan tanah (polyacrilamide) pada sistem irigasi permukaan untuk memadatkan tanah.

Ø  Drop struktures and silt trap :  pemasangan struktur untuk menanggulangi apabila secara tiba-tiba ketinggian berubah, airnya dapat dibuang dan endapannya di tampung.

Ø  Environmental buffers : menyediakan lahan basah cadangan dimana kecepatan mengalirnya rendah, letaknya antara drainase utama dan kolam/sungai untuk menyaring endapan kontaminap lahan cadangan ini perlu sekali pada perencanaan awal, dibuat pada persimpangan untuk mencegah hilangnya endapan dan kontaminan.   


                                             
Post a Comment