Sunday, 26 October 2014

Bolehkan Berdo’a dengan Bertawassul


Di daerah kami terdapat dua faham tentang mendo’a dengan tawassul : Yang satu mengatakan boleh dan bahkan sunnat, sedang yang lain mengatakan haram bahkan syirik, katanya.
Do’a bertawassul yang dipertikaikan itu adalah umpamanya :
Kesatu :
(Tulisan arab dalam proses)
Artinya : “Ya Allah, berkat Nabi yang pilihan (maksudnya Nabi Muhammad SAW) sampaikanlah sekalian cita-cita kami, dan ampunilah dosa kami yang telah lalu, ya Tuhan yang mempunyai kemurahan yang luas”.

Kedua :
Seseorang datang kepada seorang ulama yang saleh, lalu di katakan kepadanya : “Tolonglah saya dengan do’a, kiranya Tuhan menyembuhkan penyakit yang berlarut-larut ini”.

Ketiga :
“Ya Allah, berkat tuan Syeikh Abdul Qadir al Jailani, seorang ulama tasawuf yang Engkau kasihi, mudahkanlah rezki kamu, sehingga kami dapat membayar kewajiban kami kepada Engkau sebaik-baiknya”.
Kami ingin bertanya, apakah bero’a macam ini di bolehkan oleh syara’ atau tidak? Kalau boleh haraplah di beri sedikit dalilnya, supaya keimanan kam bertambah kuat.

Jawab :
Tersebut dalam kitab hadits Bukhari, begini :
(Tulisan arab dalam proses)
Artinya : “Dari sahabat Nabi Anas (bin Malik), bahwasanya Saidina Umar bin Khathab Rda (sahabat Nabi terdekat) adalah apabila terjadi kemarau, beliau meminta hujan dengan Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi), Umar berkata dalam do’anya : Ya Allah, bahwasanya kami telah bertawassul kepada Engkau dengan Nabi kami, maka Engkau turunkan hujan, dan sekarang kami bertawassul kepada Engkau dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan”. (Sahih Bukhar jilid I halaman 128).


Keterangan dalam hadits ini :
1.       Dalam kitab Sahih Bukhari hadits ni terletak di jilid pada halaman 128, dan di dalam kitab Fathul Bari Syarah Bukhari terletak di jilid III halaman 150.
2.       Hadits ini di rawikan juga oleh Imam Baihaqi di dalam kitab Sunan al Kubra jilid III pada halaman 352.
3.       Nampak dalam hadits ini Saidina Umar bertawassul dengan Nabi, pada ketika mendo’a minta hujan di musim kemarau. Dan Nabi tidak melarangnya berbuat begitu.
4.       Dan Saidina Umar juga bertawassul dengan paman Nabi, Saidina Abbas bin Abdul Muthalib pada tahun Ramadah, yakni tahun 18 H, dimana terjadi kemarau. Pada ketika itu Saidina Umar nin Khathab berpidato : “Hai manusia, bahwasanya Rasulullah SAW berpendapat kepada bapaknya sebaga seorang anak kepada bapak, maka ikutilah hai manusia Rasulullah itu tentang bapaknya Abbas ini dan jadikanlah beliau “wasilah” (tawassul) kita kepada Allah”. (Fathul Bari III halaman 151).
5.       Andai kata do’a bertawassul itu syirik, kenapa Saidina Umar bin Khathab memperbuatnya dan Nabi membiarkan saja.
6.       Dan pula Umar bin Khathab, bukan bertawassul dengan Nabi saja, tetapi juga dengan orang yang rendah dari Nabi seperti Abbas bn Abdul Muthalib. Ini juga membuktikan bahwa bertawassul itu bukan saja dengan Nab, tetapi boleh juga dengan ulama-ulama dan orang-orang saleh seperti Syaikh Abdyl Qadir al Jailani.

Kedua :
Firman Tuhan dalam Al Qur’an :
(Tulisan arab dalam proses)
Artinya : “Dan kalau mereka pada ketika telah menganiaya dirinya (dengan berbuat dosa) datang kepada engkau (hai Muhammad), lalu mereka memohon ampun kepada Tuhan dan Rasul meminta ampunkan pula kepada Tuhan, maka barang tentulah mereka mendapat ampunan Allah, bahwasanya Allah Penerima Taubat dan Penyayang”. (An Nisa’ : 64).
Perhatikanlah! Seorang yang berdosa lalu datang kepada Nabi, mendo’a di hadapan Nabi dan Nabi (Rasul) mendo’a pula kepada Allah memintakan ampun bagi orang itu, sudah pasti do’a ini di kabulkan Tuhan.
Datang kepada Nabi dan mendo’a di hadapan Nabi itulah yang di namai tawassul.
Berso’a sebenarnya boleh langsung saja kepada Allah dan boleh di lakukan di mana saja, tak perlu di hadapan Nabi, tetapi mendo’a di hadapan Nab dan Nabi ikut pula memohonkan kepada Allah, itulah do’a yang paling baik.

Ketiga :
Tersebut dalam hadits Bukhari juga begini :
(Tulisan arab dalam proses)
Artinya : “Dari Anas bin Malik seorang laki-laki pada suatu hari Jum’at masuk ke masjid Nabi sedang Beliau berkhutbah. Masuknya itu di pintu yang menghadap mimbar, maka ia berkata kepada Rasulullah SAW sambil berdiri : Hai Rasulullah!! Telah rusak banyak ternak dan telah putus jalan, maka tolonglah do’akan kepada Allah kiranya Allah menurunkan hujan! Lalu Rasulullah SAW mengangkat tangan lalu mendo’a : Ya Allah ! Turunkanlah hujan, ya Allah turunkanlah hujan, ya Allah turunkanlah hujan.
Berkata Anas bin Malik : Demi Allah, kami mulanya tidak melihat adanya awan, baik yang bertumpuk dan baik yang bercerai berai, juga tidak ada sesuatu yang lain di atas langit, kam melihat itu karena antara kami dan bukit Sala’ tak ada rumah yang mendinding, kemudian muncul awan seupa perisai ke tengah-tengah langit, bertebarlah ia di situ dan turunlah hujan. Beberapa lama kami tidak melihat matahari”. (HR Bukhari – Sahih Bukhari I halaman 128).
Keterangan :
1.       Dalam hadits ini diterangkan bahwa sahabat Nabi dalam minta turun hujan mendo’a melalui Nabi. Ini namanya bertawassul dengan Nabi.
2.       Sebenarnya sahabat ini boleh saja langsung mendo’a dan minta hujan kepada Allah, tetapi rupanya ia suka bertawassul dengan Nabi, dan Nabi tidak melarangnya berbuat begitu. Ini suatu pertanda, bahwa do’a dengan bertawassul itu boleh, dan bahkan lebih baik.
3.       Do’a bertawassul itu nampaknya mujarrab, di kabulkan Tuhan.

Ke-empat
Tersebut dalam kitab haits begini :
(Tulisan arab dalam proses)
Artinya : “Dari Utsman bin Hunaif, bahwasanya seorang laki-laki bercacat mata datang kepada Nabi Muhammad SAW, maka ia berkata : Hai Rasulullah, tolonglah mintakan kepada Tuhan agar Ia menyehatkan mata saya. Maka Nabi menjawab : Kalau engkau suka boleh mendo’a, kalau engkau suka boleh sabar dan itulah yang baik. Orang itu mendesak supaya di do’akan, lalu Nab Muhammad SAW menyruh ia berwudhu dengan baik dan mendo’a dengan doa ini : “Ya Allah saya mohon kepada Engkau dan saya menghadap kepada Engkau dengan Nabi Engkau, Muhammad SAW, Nabi rahmat. (Hai Muhammad) saya menghadap dengan engkau kepada Tuhanku untuk supaya Ia menerima permohonanku. Ya Allah, berilah syafa’at beliau kepada saya”. (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah – Sahih Tirmidzi XIII, halaman 80-81 – Sunan Ibnu Majah I, halaman 418-419).
Nampak dalam hadits ini bahwa mendo’a dengan tawassul lebih dekat kepada di kabulkan Tuhan.

Kelima
Dan banyak lagi hadits-hadits yang menyatakan bahwa do’a bertawassul di amalkan oleh sahabat-sahabat Nabi, Salaf dan Khalaf.
Sebenarnya masalah do’a bertawassul ini sudah kami uraikan panjang lebar dalam buu I’itiqad Ahlussunnah wal Jama’ah karangan kami juga, pada halaman 284 – 303 cetakan kelima (1979).
Barangsiapa yang hendak mendalami soal ini bacalah buku itu.
Demikianlah jawaban kami.

Di sadur dari buku “Kumpulan Soal Jawab Keagamaan” karya KH. Siradjudin ‘Abbas, halaman 137-142.


Post a Comment