Sunday, 26 October 2014

Adzan Jum’at Satu Kali atau Dua Kali



Di Jakarta ini kami melihat banyak mesjid yang adzan dua kali pada ketika sembahyang Jum’at, tetapi di sana-sini ada pula satu dua masjid yang adzan Jum’at hanya satu kali.
Mana yang benar menurut hukum Islam di antara yang dua itu?

Jawab :
Masalah adzan Jum’at adalah masalah agama yang agak panjang juga kalau di bicarakan. Diperlukan puluhan halaman buku untuk membicarakannya.
Tetapi di sini kami akan coba menerangkan dan menjawab pertanyaan ini seringkas mungkin, Insya Allah.
Kesatu :
Adzan sembahyang Jum’at pada zaman Nabi hanyalah satu kali, yaitu pada ketika khatib telah duduk di mimbar. Begitu juga pada zaman pemerintahan Saidina Abu Bakar dan Saidina Umar Rda.
Tetapi khalifah yang ke-III, Saidina Utsman bin Affan menambahkan satu adzan lagi, yaitu terdahulu dari adzan yang biasa.
Beliau berijtihad bahwa umat bertambah banyak dan rumah-rumah rakyat sudah jauh dari mesjid.
Hal ini tersebut dalam Kitab Hadist Bukhari, begini :
(Tulisan arab dalam proses)
Artinya : “Dari Saib bin Yazid Rda, neliau berkata : Bahwasanya adzan di hari Jum’at pada masa Rasulullah SAW dan masa Abu Bakar dan Umar Rda, adalah pada ketika Imam telah duduk di mimbar. Manakala di bawah pemerintahan Saidina Utsman bin Affan Rda, dan karena orang telah banyak, beliau memerintahkan tembahan adzan ketiga di atas Zaura’. Maka tetapkanlah demikian selamanya’. (Hadits Sahih Riwayat Bukhari – Sahih Bukhari jusz I halaman 117).


Yang di maksud dengan “adzan ketiga” adalah adzan pertama ekarang, karena dulu adzan adalah dua, yaitu :
1.       Adzan ketika Khatib telah duduk di mimbar.
2.       Qamat pada ketika Imam akan sembahyang.
Maka adzan yang di adakan Saidina Utsman di namai “adzan ketiga”, tetapi karena letaknya dalam praktik terdahulu dari adzan yang dua itu, maka juga di namai “adzan pertama”.

Kedua :
Perintah Saidina Utsman bin Affan itu di terima dan di patuhi oleh seluruh sahabat Nabi yang ada ketika itu, sehingga menjadilah fatwa itu menjadi fatwa yang Ijma’, fatwa yang di sepakati oleh seluruh sahabat, atau “Ijma’ Sahabi”.
Ijma’ sahabat itu menurut hukum Islam adalah dalil agama, salah satu dari dalil yang empat, yaitu Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas.
Bukan saja sahabat Nabi, tetapi seluruh umat Islam, baik mujtahidnya maupun awamnya, menurut fatwa itu. Di seluruh mesjid di dunia ini semasa zaman Saidina Utsman, zaman tabi’in dan zaman Imam-imam Mujtahid yang empat, semuanya melakukan adzan dua kali ada hari Jum’at.
Inilah yang dikatakan dalam Hadits Bukhari tadi :
(Tulisan arab dalam proses)
Artinya : “Maka tetaplah yang demikian itu, (yakni tetapu menjadi syari’at Islam yang di amalkan)”.

Ketiga :
Apa sebab maka seluruh sahabat, seluruh ulama dan bahkan seluruh orang Islam menerima fatwa Saidina Utsman itu?
Jawabnya : Beliau itu sahabat yang utama dan beliau itu adalah salah seorang Khalifah Rasyidin, dan Nabi Muhammad SAW telah memerintahkan kepada seluruh umat Islam supaya mengikuti Sunnah Khalifah Rasyidin.
Nabi pernah bersabda begini :
(Tulisan arab dalam proses)
Artinya : “Berkata Rasulullah SAW : Hendaklah kamu sekalian mengikuti sunnah Aku dan sunnah Khalifah Rasyidin sesudah Aku”. (H.R. Abu Daud – Sunan Abi Daud juz IV halaman 201).
Jadi, kita sebagai umat Islam di perintahkan oleh Nabi supaya mengikuti sunnah Khalifah Rasyidin, yaitu khalifah yang berempat sesudah Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Rda.
Adzan pertama ini adalah sunnah Saidina Utsman bin Affan, salah seorang khalifah yang empat.
Barang siapa yang tidak mau menerima sunnah Saidina Utsman maka ia menentang hadits yang di rawikan Abu Daud ini, yang berarti juga menentang Nabi.

Kesimpulan :
1.       Mengerjakan adzan satu berarti hanya mengikuti sunnah Nabi tetapi tidak mengikuti perkataan Nabi yang di rawikan Abu Daud itu.
2.       Adzan dua kali berarti mengikuti sunnah Nabi dan juga mengikuti sunnah Khalifah Rasyidin yang kita diperintahkan Nabi untuk mengikutinya.
3.       Meninggalkan adzan yang pertama itu berarti menentang “Ijma’ Sahabi”, yang sangat besar resikonya menurut hukum agama.
Baik juga kami beri tahu, bahwa masalah adzan ketiga ini telah di kupas tuntas panjang lebar dalam buku “40 Masalah Agama” jilid IV karangan kami juga.
Barang siapa yang ingin mengetahui lebih lanjut boleh membaca buku itu.
Demikian adanya.

Di sadur dari buku “Kumpulan Soal Jawab Keagamaan” karya KH. Siradjudin ‘Abbas, halaman 65.


Post a Comment