Sunday, 20 July 2014

TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA KEONG MAS



Yang kita bahas kali ini bukanlah keong mas yang ada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tetapi benar-benar keong mas.

Sebagai masyarakat yang mengkonsumsi nasi, tentunya tanaman padi menjadi sangat penting. Tanaman padi merupakan salah satu komoditas pangan yang harus terpenuhi kecukupannya untuk menunjang kelangsungan hidup sebagian besar penduduk Indonesia. Bahkan ada lelucon yang mengatakan bahwa “belum bisa di sebut makan jika belum ada nasinya”. Salah satu upaya untuk mempertahankan kecukupan pangan adalah melalui pengendalian faktor-faktor pembatas. Salah satu faktor pembatas yang penting adalah serangan hama penyakit. Begitu banyak hama ataupun penyakit yang menyerang tanaman padi. Keong mas merupakan salah satu hama penting pada tanaman padi di Indonesia.
Keong mas yang dalam bahasa latinnya di sebut Pomacea canaliculata Lamarck diperkenalkan ke Asia pada tahun 1980an dari Amerika Selatan sebagai makanan potensial bagi manusia. Salah satunya adalah sate keong. Namun, kemudian keong mas menjadi hama utama padi yang menyebar ke Filipina, Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Indonesia.

Perkembangan hama ini sangat cepat, dari telur hingga menetas hanya butuh waktu 7-4 hari (Pitojo, 1996). Disamping itu, satu ekor keong mas betina mampu menghasilkan 15 kelompok telur selama satu siklus hidup (60-80 hari), dan masing-masing kelompok telur berisi 300-500 butir (Anonymous, 1993). Seekor keong mas dewasa mampu menghasilkan 1000-1200 telur per bulan (Anonymous, 1995).

Proses Kerusakan
Keong mas menyerang tanaman padi sejak di persemaian maupun tanaman berumur dibawah 4 MST. Pada tanaman tua (di atas 4 MST) keong mas cenderung merusak anakan padi. Peningkatan populasi hama keong mas sangat cepat. Jumlah telur yang menetas mencapai 80%. Hama ini terbilang ganas dan keong mas muda (ukuran kecil sampai sedang) tergolong paling ganas menyerang tanaman padi baik di persemaian maupun tanaman padi di sawah, dibandingkan dengan keong mas dewasa.

Kondisi Lahan
Keong mas hidupnya sangat tergantung pada air dan umumnya berkembang pesat pada areal yang tergenang. Apabila lahan berada dalam kondisi tergenang, keongmas akan berkembang cepat dan bila lahan dalam keadaan kering, hama ini masih dapat hidup dengan beristirahat di dalam tanah. Keong mas mampu bertahan hidup dalam tanah sampai 6 bulan lamanya, dan jika mendapat pengairan ia akan berkembang biak kembali.

Cara Pengendalian Hama Keong Mas
1. Pemasangan Perangkap Telur dan pemungutan secara Berkala
o   Perangkap telur terdiri dari kayu bambu, pelepah rumbia, ranting ranting kayu.
o   Panjang kayu perangkap 1-1,5 m.
o   Besar kayu perangkap (diameter) 1-3 cm.
o   emasangan tiang perangkap didalam petakan sawah, 1-3 meter jarak dari pematang sawah .
o   Jarak masing-masing tiang 2-3 meter atau lebih.
o   Jumlah tiang perangkap 200 batang/ha.
o   Pemasangan tiang perangkap pada umur
o   tanaman padi 1 minggu setelah tanam sampai dengan 4 minggu setelah tanam.
o   Pemungutan/pembuangan kelompok telur yang menempel pada tiang: seminggu 1 atau 2 kali.
o   Pemungutan keong mas 3 kali seminggu.
o   Tinggi air dalam petakan 5-10 cm.
2. Pemberian umpan perangkap dan pemungutan keong mas secara berkala
        Umpan perangkap terdiri dari daun, batang, tangkai pepaya dan daun kuda-kuda.
        Peletakan umpan perangkap diletakkan dalam petakan sawah secara berjejer.
        Jarak peletakan umpan antara satu dengan yang lain 1-2 meter.
        Jumlah umpan yang digunakan 40 kg/ha.
        Waktu mulai peletakan umpan sebelum tanam sampai dengan 5 minggu setelah tanam.
        Tinggi air dalam petakan 5-10 cm.
        Pemungutan keong mas 3 kali seminggu.

3. Pelepasan itik di areal sawah
        Waktu pelepasan 1 minggu setelah tanam sampai dengan umur 45 hari setelah tanam.
        Jumlah itik yang dilepaskan 25 ekor/ha.
        Waktu pelepasan pagi dan sore hari.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan petani dalam menghindari serangan keong mas :
a) Memperdalam bagian areal pertanaman yang berada di sebelah pematang sawah sehingga berbentuk seperti parit;
b) Menggunakan sistem pengairan macak-macak pada areal pertanaman padi muda hingga padi berumur kira-kira 20-30 hari setelah tanam.
c) Membiarkan tumbuh rumput-rumputan halus pada pematang sawah
d) Menggenangi areal pertanaman setelah padi berumur lebih dari 20-30 hari.

Sumber(dengan perubahan seperlunya):

Post a Comment