Saturday, 5 July 2014

SEKILAS TENTANG BIBIT TEBU ASAL KULTUR JARINGAN





Catatan sejarah tebu telah dimanfaatkan di Cina dan India oleh penduduk primitif, walau belum dibudidayakan secara komersial1920 (Brandes). Tanaman tebu ditanam di kebun penduduk Irian dan New Guniea, Varietas berbeda-beda dalam bentuk dan warna 1958 (Artschwager B). Menduga bahwa nenek moyang tebu berasal dari Asia, menyebar ke selatan sampai Asia Tengah dan Australia (+ 60 juta tahun yang lalu). Oleh karena itu terdapat bentuk-bentuk yang berbeda di masing-masing daerah seperti Asia, New Gunea, Melanesia. Modifikasi bentuk-bentuk yang berbeda ini terjadi karena seleksi dan persilangan alami dalam waktu yang sangat lama.
Tebu sendiri merupakan tanaman yang dikembangkan dengan cara vegetatif sehingga mudah diperbanyak. Namun, menjadi masalah ketika bibit awalnya sedikit, sedangkan yang harus ditanam ada pluhan bahkan ribuan hektar. Perlu semacam cara bagaimana mengembangkan bibit dengan cepat tetapi tidak menurunkan sifat buruknya, misalnya terkena penyakit atau virus.

Bibit tebu bentuknya beragam, mulai dari pucuk, bagal mata 3, bagal mata 1, rayungan, topstek, budsett, planlet, bud chip, hingga bentuk-bentuk lainnya. Salah satu metoda pembibitan yang sedang populer saat ini menghasilkan bibit yang disebut single bud planting (SBP). Ini adalah bibit tebu yang berasal dari satu mata tunas, diperbanyak melalui pendederan, yang dipindahkan ke kebun dalam bentuk tunas tebu umur 2 bulan. SBP populer dalam 2 tahun terakhir ini setelah diadopsi dari proses pembibitan tebu di Columbia. Oleh karena itu, beberapa pihak menyebutnya sebagai pembibitan model Columbia. Metoda ini menyedot perhatian para praktisi gula karena bisa melipatgandakan bibit dalam jumlah banyak dan waktu relatif cepat.

Sayangnya euforia SBP ini sering mengaburkan makna kualitas bibit. SBP bisa membantu menyediakan bibit dalam jumlah banyak dan waktu cepat, namun bukan solusi dalam penyediaan bibit sehat. SBP hanyalah salah satu bentuk bibit tebu. Yang justru penting dan patut diperhatikan untuk mendukung produktivitas gula yang tinggi, bibit tebu harus berasal dari sumber bibit yang murni, sehat (bebas hama penyakit) dan produktif.

Bibit tebu berasal dari 2 sumber, yaitu: (1) konvensional dan (2) kultur jaringan. Bibit konvensional biasanya diambil dari bagian tanaman tebu bibit umur 6-7 bulan. Bentuknya bisa macam-macam seperti yang disebutkan di atas, termasuk SBP. Bibit konvensional tidak bisa terbebas dari serangan hama dan penyakit karena proses produksi dilakukan sepenuhnya di lapang. Sebaliknya, bibit tebu eks kultur jaringan bisa terbebas dari penyakit sistemik dan hama sehingga lebih sehat dan produktif.

Tissue culture seharusnya merupakan salah satu alternatif  yang dapat diterima, karena dapat menurunkan biaya pelestarian, mengurangi kehilangan aksesi karena cekaman lingkungan yang terdapat di alam terutama hama dan penyakit. Apabila pelestarian gen > diutamakan daripada pelestarian genotipa, pelestarian In-Vitrolebih memberikan keuntungan. Dalam hal ini pemakaian teknik kultur jaringan lebih dapat diterima daripada kultur meristem. Soma klonal variasi mungkin terjadi tetapi bukan merupakan faktor penting dalam kultur jaringan tebu, pertimbangan kecepatan regenerasi.

Dengan teknik kultur jaringan atau kultur in-vitro, bagian tanaman seperti protoplas, sel, jaringan dan organ, ditumbuhkan dan diperbanyak dalam media buatan dengan kondisi aseptik dan terkontrol. Teknik ini bukan hanya bisa memperbanyak bahan tanam dalam waktu cepat dan banyak, tetapi juga sebagai sarana pendukung program perbaikan sifat tanaman. Metode ini mampu menghilangkan virus penyebab penyakit garis kuning (sugarcane yellow leaf virus), virus mosaik tebu (sugarcane mosaic virus) dan ratoon stunting disease (RSD). 


Planlet atau bakal tanaman tebu yang tumbuh dari kultur jaringan diaklimatisasi di lapang menghasilkan bibit generasi 0 (G0). G0 diperbanyak menjadi generasi pertama (G1) dan kemudian diperbanyak kembali menjadi generasi kedua (G2). G2 selanjutnya dijadikan sumber bibit di kebun bibit datar (KBD) atau bisa juga diperbanyak menjadi G3. Proses perbanyakannya sendiri bisa melalui bentuk busett, budchip, bagal, SBP atau cara lainnya. Namun sebelumnya bibit tersebut harus diperiksa terlebih dulu sehingga lolos sertifikasi sebagai benih sehat dan murni. Hasil penelitian P3GI menunjukkan bahwa selama proses perbanyakan dilakukan sesuai prosedur standar maka kualitas G2 tetap terjaga sebagaimana G1. Bibit G2 umumnya bebas dari penyakit dan menghasilkan anakan jauh lebih banyak dibanding sumber bibit konvensional. G0 dan G1 tidak dipakai langsung sebagai sumber bibit KBD karena biayanya terlalu mahal.

Dalam mendukung swasembada gula nasional, pemilihan bibit yang ditanam harus menjadi perhatian dan sebaiknya menggunakan bibit yang berasal dari kultur jaringan seperti G2 atau G3. Selain kualitasnya lebih terjamin, karakteristik varietas yang ditanam sesuai dengan sifat genetiknya. Misalnya, tebu yang memiliki karakter potensi kandungan gula tinggi bisa menghasilkan rendemen yang tinggi. Juga tebu yang sifatnya tahan dikepras, akan menghasilkan sifat sesuai aslinya. Ini agak beda dengan tebu yang berasal dari sumber konvensional, dimana karakter tebu yang ditanam bisa bergeser dari sifat-sifat bawaanya.

Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) merupakan lembaga yang paling berpengalaman dalam menghasilkan bibit tebu berkualitas. Hampir semua bibit tebu komersial di seluruh dunia, menggunakan tetua dari tebu-tebu yang dihasilkan P3GI (dulu namanya Profstation Oost Java). Bahkan varietas tebu PS 862 saat ini sedang populer di kalangan petani tebu di pulau Negros (Filipina), karena menghasilkan rendemen hingga 12% dan kadar sabut hingga 14%. Varietas lain yang berkembang di Thailand adalah PSGM rakitan P3GI.


Teknologi kultur jaringan dikembangkan P3GI sejak 1975. Seiring waktu, P3GI juga mengembangkan kultur daun, kultur pucuk (apical bud) dan kultur meristem tip. Untuk mendukung kegiatan bongkar ratoon tahun 2013, P3GI menyediakan bibit G2 sebanyak 150 juta mata yang cukup untuk kebutuhan replanting tebu seluas 54.000 ha. Laboratorium kultur jaringan P3GI telah ditingkatkan kapasitasnya sehingga mampu menghasilkan G2 asal kultur jaringan sebanyak 350 juta mata. Secara khusus P3GI merekrut 70 tenaga baru untuk mendukung operasional laboratorium kultur jaringan tebu.

Nah, kembali ke persoalan bibit tebu, sekali lagi bahwa yang penting itu bukan bentuk bibitnya tetapi sumbernya. Apapun bentuk bibitnya, yang penting sumbernya (sebaiknya) berasal dari kultur jaringan. Oleh karena itu, wacana mengganti bibit eks kultur jaringan dengan SBP dari bibit konvensional untuk keperluan program bongkar ratoon bisa menjauhkan dari target yang hendak dicapai. Tujuan untuk meningkatkan produktivitas tebu dan gula bisa tereliminasi hanya karena memilih sumber bibit yang salah.
*)Sebagian besar artikel ini di ambil dari karya Aris Toharisman  (Indonesian Sugar Research Institute) dengan penambahan seperlunya

No comments: