Sunday, 20 July 2014

Cara Membuat Tepung Sukun




Apabila anda membeli sukun di pasar, kemungkinan sukun tersebut adalah di goreng sebagai gorengan dan di iris tipis-tipis sebagai kerupuk. Padahal sukun juga bisa di buat menjadi bahan makanan lain, yaitu tepung. Tepung sukun dapat di olah menjadi makanan lain, seperti campuran donat, bolu ataupun lainnya. Berikut cara membuat tepung sukun :

1. Pilih buah sukun yang sudah tua namun masih keras
2. Kupas dengan pisau stainlesstel yang bersih, masukkan dalam wadah yang telah diberi air sampai terendam.
3. Buang bagian tengah dari buah sukun, lalu dicuci bersih
4. potong-potong sukun dengan pisau stainlesstel.
5. Blansir sukun yang telah dipotong-potong dengan cara mengukus selama 10 menit
6. Angkat sukun kemudian disawut (diiris kecil tipis)sampai habis
7. hamparkan sawut sukun diatas tampah, jemur sampai kering yang ditandai mudah dibatahkan dengan dua jari
8. Giling sukun kering dengan alat penepung
9. Tepung siap digunakan untuk pengganti terigu ataupun dikemas untuk dijual

Sumber (dengan perubahan seperlunya) :
http://cybex.deptan.go.id/lokalita/teknologi-pembuatan-tepung-sukun

PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) KEDELAI





Persiapan lahan merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan selama bercocok tanam. Pada beberapa tanaman yang bisa di ratoo, maka tidak diperlukan lagi olah tanam pada saat ratoon. Lalu bagaimana dengan tanaman yang tidak bisa di ratoon? Tentu saja harus di olah tanam supaya mendapatkan hasil yang optimal.
Tetapi adakalanya areal tanaman bekas tanaman sebelumnya masih layak untuk langsung dilakukan penanaman. Hal ini karena selain metode bercocok tanam, juga berhubungan dengan tanaman apa yang di tanam. Seperti pada areal persawahan, ketika akan di tanam tanaman selang (biasanya palawija), maka tidak perlu dilakukan olah tanah lagi. Selain menghemat tenaga, biaya dan waktu, ternyata sisa tanaman padi (jerami) juga mampu memberikan pupuk alami (dilihat dari biomassanya) dan juga mampu mencegah gulma. Berikut ini tanaman yang menjadi contoh adalah padi dan kedelai. 

1.      Penyiapan lahan
Pada lahan sawah bekas tanaman padi, lahan tidak perlu diolah (TOT), jerami dapat digunakan sebagai mulsa. Jerami dihamparkan sebanyak 5 ton/ha secara merata di permukaan lahan dengan ketebalan <10 cm, gunanya untuk menjaga kelembaban tanah, mengurangi serangan lalat kacang, dan menekan pertumbuhan gulma. Pada lahan yang baru pertama kali ditanami kedelai, benih perlu dicampur dengan rhizobium. Apabila tidak tersedia inokulan rhizobium (seperti Rhizoplus atau Legin), dapat digunakan tanah bekas tanaman kedelai yang ditaburkan pada barisan tanaman. Pada lahan kering, pengolahan tanah perlu optimal agar tanaman kedelai dapat tumbuh dengan baik, yaitu dua kali bajak dan satu kali garu (diratakan). Gulma atau sisa tanaman dibersihkan pada saat pengolahan tanah. Jika keadaan lahan masam, perlu diberi kapur bersamaan dengan pengolahan lahan yang kedua atau paling lambat seminggu sebelum tanam dengan cara menyebar rata.

2.      Pemupukan sesuai kebutuhan tanaman.
Takaran pupuk berbeda untuk setiap jenis tanah, berikan berdasarkan hasil analisis tanah dan sesuai kebutuhan tanaman. Rekomendasi umum dosis pupuk kedelai adalah 50 kg urea, 75 kg SP36, dan 100-150 kg KCl per hektar. Pupuk diberikan dengan cara ditugal atau dilarik 5-7 cm dari tanaman, kemudian ditutup tanah, paling lambat 14 hari setelah tanam (HST).
Kedelai yang ditanam setelah padi sawah umumnya tidak memerlukan banyak pupuk. Penggunaan pupuk hayati seperti bakteri penambat N2 (Rhizobium) disesuaikan dengan kebutuhan, perhatikan waktu kadaluwarsa pupuk hayati. PUTK (Perangkat Uji Tanah Kering) dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam menetapkan takaran pupuk dan amelioran. 

3.      Pemberian bahan organik.
Bahan organik berupa sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos (humus) merupakan unsur utama pupuk organik yang dapat berbentuk padat atau cair. Kotoran sapi yang telah matang merupakan pupuk organik yang potensial digunakan pada tanaman kedelai. Pemberian pupuk organik dan pupuk kimia dalam bentuk dan jumlah yang tepat berperan penting untuk keberlanjutan system produksi kedelai.
4.      Amelioran
Pada lahan kering masam, enggunaan amelioran ditetapkan berdasarkan tingkat kejenuhan Aluminium (Al) tanah dan kandungan bahan organik tanah. Kejenuhan Al memiliki hubungan yang kuat dengan tingkat kemasaman (pH) tanah. Lahan kering masam perlu diberi kapur pertanian (dolomite atau kalsit) dengan takaran sebagai berikut:
- pH tanah 4,5-5,3 → 2,0 t kapur/ha;
- pH tanah 5,3-5,5 → 1,0 t kapur/ha;
- pH tanah 5,5-6,0 →0,5 t kapur/ha.
Hasil kajian di desa Watu Agung, Kecamatan Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah, pengapuran menggunakan dolomit dilakukan dengan cara menyebar rata dengan dosis 1,5 ton/ha. Jika ditambah pupuk kandang 2,5 ton/ha, maka dosis kapur dapat dikurangi menjadi 750 kg/ha.
5.      Pengairan pada periode kritis.
Periode kritis tanaman kedelai terhadap kekeringan mulai pada saat pembentukan bunga hingga pengisian polong (fase reproduktif). Jika tidak ada hujan, lahan perlu diairi pada awal pertumbuhan vegetatif (15-21 HST), saat berbunga (25-35 HST), dan saat pengisian polong (55-70 HST).
6.      Panen tepat waktu
Panen dilakukan saat 95% polong telah berwarna coklat atau kehitaman (warna polong masak) dan sebagian daun tanaman sudah rontok. Panen dilakukan dengan cara memotong pangkal batang. Brangkasan kedelai hasil panen langsung dikeringkan (dihamparkan) di bawah sinar matahari dengan ketebalan sekitar 25 cm selama 2-3 hari (bergantung cuaca) menggunakan alas terpal plastik, tikar atau anyaman bambu.

Sumber (dengan perubahan seperlunya) :

TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA KEONG MAS



Yang kita bahas kali ini bukanlah keong mas yang ada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tetapi benar-benar keong mas.

Sebagai masyarakat yang mengkonsumsi nasi, tentunya tanaman padi menjadi sangat penting. Tanaman padi merupakan salah satu komoditas pangan yang harus terpenuhi kecukupannya untuk menunjang kelangsungan hidup sebagian besar penduduk Indonesia. Bahkan ada lelucon yang mengatakan bahwa “belum bisa di sebut makan jika belum ada nasinya”. Salah satu upaya untuk mempertahankan kecukupan pangan adalah melalui pengendalian faktor-faktor pembatas. Salah satu faktor pembatas yang penting adalah serangan hama penyakit. Begitu banyak hama ataupun penyakit yang menyerang tanaman padi. Keong mas merupakan salah satu hama penting pada tanaman padi di Indonesia.
Keong mas yang dalam bahasa latinnya di sebut Pomacea canaliculata Lamarck diperkenalkan ke Asia pada tahun 1980an dari Amerika Selatan sebagai makanan potensial bagi manusia. Salah satunya adalah sate keong. Namun, kemudian keong mas menjadi hama utama padi yang menyebar ke Filipina, Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Indonesia.

Perkembangan hama ini sangat cepat, dari telur hingga menetas hanya butuh waktu 7-4 hari (Pitojo, 1996). Disamping itu, satu ekor keong mas betina mampu menghasilkan 15 kelompok telur selama satu siklus hidup (60-80 hari), dan masing-masing kelompok telur berisi 300-500 butir (Anonymous, 1993). Seekor keong mas dewasa mampu menghasilkan 1000-1200 telur per bulan (Anonymous, 1995).

Proses Kerusakan
Keong mas menyerang tanaman padi sejak di persemaian maupun tanaman berumur dibawah 4 MST. Pada tanaman tua (di atas 4 MST) keong mas cenderung merusak anakan padi. Peningkatan populasi hama keong mas sangat cepat. Jumlah telur yang menetas mencapai 80%. Hama ini terbilang ganas dan keong mas muda (ukuran kecil sampai sedang) tergolong paling ganas menyerang tanaman padi baik di persemaian maupun tanaman padi di sawah, dibandingkan dengan keong mas dewasa.

Kondisi Lahan
Keong mas hidupnya sangat tergantung pada air dan umumnya berkembang pesat pada areal yang tergenang. Apabila lahan berada dalam kondisi tergenang, keongmas akan berkembang cepat dan bila lahan dalam keadaan kering, hama ini masih dapat hidup dengan beristirahat di dalam tanah. Keong mas mampu bertahan hidup dalam tanah sampai 6 bulan lamanya, dan jika mendapat pengairan ia akan berkembang biak kembali.

Cara Pengendalian Hama Keong Mas
1. Pemasangan Perangkap Telur dan pemungutan secara Berkala
o   Perangkap telur terdiri dari kayu bambu, pelepah rumbia, ranting ranting kayu.
o   Panjang kayu perangkap 1-1,5 m.
o   Besar kayu perangkap (diameter) 1-3 cm.
o   emasangan tiang perangkap didalam petakan sawah, 1-3 meter jarak dari pematang sawah .
o   Jarak masing-masing tiang 2-3 meter atau lebih.
o   Jumlah tiang perangkap 200 batang/ha.
o   Pemasangan tiang perangkap pada umur
o   tanaman padi 1 minggu setelah tanam sampai dengan 4 minggu setelah tanam.
o   Pemungutan/pembuangan kelompok telur yang menempel pada tiang: seminggu 1 atau 2 kali.
o   Pemungutan keong mas 3 kali seminggu.
o   Tinggi air dalam petakan 5-10 cm.
2. Pemberian umpan perangkap dan pemungutan keong mas secara berkala
        Umpan perangkap terdiri dari daun, batang, tangkai pepaya dan daun kuda-kuda.
        Peletakan umpan perangkap diletakkan dalam petakan sawah secara berjejer.
        Jarak peletakan umpan antara satu dengan yang lain 1-2 meter.
        Jumlah umpan yang digunakan 40 kg/ha.
        Waktu mulai peletakan umpan sebelum tanam sampai dengan 5 minggu setelah tanam.
        Tinggi air dalam petakan 5-10 cm.
        Pemungutan keong mas 3 kali seminggu.

3. Pelepasan itik di areal sawah
        Waktu pelepasan 1 minggu setelah tanam sampai dengan umur 45 hari setelah tanam.
        Jumlah itik yang dilepaskan 25 ekor/ha.
        Waktu pelepasan pagi dan sore hari.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan petani dalam menghindari serangan keong mas :
a) Memperdalam bagian areal pertanaman yang berada di sebelah pematang sawah sehingga berbentuk seperti parit;
b) Menggunakan sistem pengairan macak-macak pada areal pertanaman padi muda hingga padi berumur kira-kira 20-30 hari setelah tanam.
c) Membiarkan tumbuh rumput-rumputan halus pada pematang sawah
d) Menggenangi areal pertanaman setelah padi berumur lebih dari 20-30 hari.

Sumber(dengan perubahan seperlunya):

Cara Menanam Kentang di Dataran Rendah

Kentang merupakan salah satu makanan yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi, selain beras dan jagung. Selain mudah di olah, efek membuat kenyang menjadikannya menu favorit yang sering di masak oleh ibu-ibu. Sebut saja sambal kentang, sayur kentang, rendang pun kadangkala memakai kentang.
Setelah sebelumnya saya membahas mengenai berbagai macam varietas kentang, kali ini saya akan membahas bagaimana caranya membudidayakan kentang. Kentang sangat baik di budidayakan di dataran tinggi, seperti setau saya di daerah Temanggung ataupu Wonosobo. Namun kali ini akan di bahas mengenai budidaya kentang di dataran rendah. Selama ini, masyarakat atau petani umumnya hanya mengenal kentang dibudidayakan di dataran tinggi. Soalnya, tanaman yang nama latinnya Solanum tuberosum banyak terlihat ditanam petani daerah pegunungan dengan tinggi tempat sekitar 1.000 - 3000 m dpl (di atas permukaan laut). Oleh karena itu, komoditas hortikultura tersebut merupakan tanaman yang sangat penting bagi petani dataran tinggi atau petani yang tinggal di daerah pegunungan.
Kenapa sangat penting? Soalnya, kentang selain mendatangkan penghasilan yang lebih baik dibanding dengan jenis sayuran lain pada umumnya seperti kubis dan tomat, hasil panen kentang dapat disimpan relatif lebih lama sambil menunggu harga jual yang pantas sehingga dapat mengantongi rupiah yang lumayan banyak.
Meski begitu, bukan berarti kentang tidak dapat dibudidayakan di dataran rendah. Di dataran rendah pun, komoditas hortikultura penghasil umbi itu memungkinkan untuk dibudidayakan dengan hasil yang lumayan, asalkan lahan yang akan ditanami itu memenuhi syarat untuk tumbuhnya varietas kentang yang akan ditanamnya. 

Lahan dataran rendah yang memungkinkan untuk ditanami kentang adalah lahan yang terletak pada ketinggian tempat kurang dari 700 m dpll. Lahan dengan ketinggian tempat seperti ini bisa saja ditanami kentang, asalkan memenuhi persyaratan : (1) Jenis tanahnya Latosol atau Alluvial; (2) Suhu udara malam hari 20 - 27 0 C; (3) Terdapat angin sepoi-sepoi yang menjandikan lingkungan menjadi dingin dan sejuk; (4) Tersedia air pengairan yang cukup dan lahan tidak kebanjiran; dan (5) Lahan yang akan ditanami kentang bukan bekas penanaman tanaman Solanaceae atau tanaman pisang.
Ada pun varietas kentang yang dapat dibudidayakan di dataran rendah antara lain varietas Cipanas, DT)-28, LT-1, Cosima dan DTO-33 karena varietas kentang ini toleran terhadap suhu panas.
Masalah
Tidak bedanya dalam budidaya kentang di dataran tinggi, penanaman kentang di dataran rendah pun mempunyai beberapa masalah, hanya masalahnya saja yang bisa berbeda. Beberapa masalah yang bisa muncul dalam penanaman kentang di dataran rendah antara lain :
1. Suhu Udara
Di daerah tropis seperti di Indonesia, suhu udara yang tinggi pada siang mau pun malam hari mengakibatkan pembentukan umbi terhambat. Untuk mengatasi masalah ini bisa dilakukan dengan cara menutup permukaan tanah penananam kentang tersebut, misalnya dengan mulsa jerami.
Dengan adanya penutupan mulsa jerami tersebut, maka suhu tanah dan suhu udara di sekitar batang tanaman menjadi rendah dan kelembabannya meningkat. Dengan kondisi ini maka pertumbuhan tanaman akan lebih baik yang akhirnya umbi kentang dapat tumbuh lebih baik pula.

2. Jarak Tanam
Jarak tanam kentang di dataran rendah upayakan lebih rapat, misalnya 30 X 50 cm. Dengan jarak tanam yang lebih rapat, maka ruang antar tanaman lebih sempit karena pertumbuhan tunas cabang utama lebih cepat dan relatif banyak dibandingkan dengan jarak tanam yang lebih jarang.
Tanaman kentang yang ditanam dengan jarak yang lebih lebar yang selama ini dilakukan petani, misalnya 30 X 70 cm akan menyebabkan ruang antar tanaman lebih terbuka karena pertumbuhan tunas cabang utama lebih lambat dan sedikit.

3. Serangan Penyakit Layu bakteri
Kentang yang ditanam di dataran rendah, serangan penyakit layu bakteri umumnya lebih parah dibandingkan dengan kentang yang ditanam di dataran tinggi. Untuk mengatasi hal ini antara lain dapat dilakukan dengan membuat selokan draenase yang selalu berfungsi baik sehingga air yang berlebihan mudah terbuang. Selain itu, gunakan pupuk kandang yang benar-benar sudah masak/matang.
4. Mudah Tergenang Air
Tidak diragukan lagi, kentang yang ditanam di dataran rendah, pada musim hujan tanaman mudah tergenang air, apalagi jika hujannya deras dan lahan penanaman kentang draenasenya jelek atau kurang berfungsi baik dalam mengalirkan air yang berlebihan. Oleh karena itu untuk menghindari tanaman kentang tergenang air, buat draenase yang dapat mengalirkan air dengan baik sewaktu hujan sehingga air yang berlebihan mudah terbuang dari areal pertanaman kentang.
Supaya kentang tidak mudah tergenang air, tanamlah kentang pada musim kemarau, tetapi tanaman tetap mendapatkan air dengan cukup atau ditanam pada akhir musim hujan ketika air masih tersedia cukup.
Penanaman
Penanaman kentang di dataran rendah tidak jauh berbeda dengan cara penanaman kentang di dataran tinggi. Pada garis besarnya, lahan diolah dan dibuat bedengan dengan lebar 100 - 110 cm. Setelah itu, beri pupuk kandang yang matang sebanyak 20 - 30 ton/ha yang dicampur secara merata pada bedengan tempat penanaman kentang.
Pada lahan penanaman kentang buat draenase sedalam 30 cm dan lebarnya juga 30 cm. Dengan ukuran draenase ini, maka air tidak mudah menggenangi pertanaman.
Pekerjaan berikutnya, buat lubang tanam ukuran 10 - 15 cm dengan kedalaman 20 cm pada bedengan yang sudah disiapkan itu. Jarak tanam antar lubang, dalam satu baris 30 cm dan jarak antar baris 50 cm. Dengan cara penanaman seperti ini, maka tiap bedengan berisi dua baris tanaman kentang dengan populasi 66.000/ha. Setelah itu, benih kentang dimasukkan ke dalam lubang lalu diberi pupuk buatan.

Jenis pupuk buatan yang diberikan itu merupakan campuran antara pupuk N (150 - 200 kg), P2O 5 (20 - 180 kg) dan K2 O (100 kg) setiap hektarnya. Sesudah benih kentang diberi pupuk buatan, lubang tanam itu segera ditutup dengan tanah halus.
Untuk penanaman kentang di dataran rendah, gunakan benih kentang yang sudah bertunas sepanjang ± 2 cm karena lubang tanamnya cukup dalam. Dengan benih seperti ini, maka tunas umbi kentang tersebut akan cepat muncul ke atas permukaan tanah.
Benih kentang yang sudah ditanam itu dirawat dengan baik sebagaimana mestinya supaya pertumbuhan kentang optimal sehingga umbi kentang yang diperolehnya nantinya sesuai harapan. Untuk merawatnya, lakukan pengairan atau penyiraman yang cukup, beri pupuk yang memadai, bersihkan gulma yang ada dan lakukan pengendalian hama dan penyakit yang tepat.
Penulis :Ir.Muchdat Widodo,MM
Penyuluh Pertanian Madya
Pusat Penyuluhan, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian
Sumber :
1. Dr.Ir.Muchjidin Rachmat, MS. Buku Tahunan Hortikultura Seri tanaman ± 1 mm Sayuran. Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka. Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, jakarta, 2006.
2. Drs. Hendro Sumarjono. Petunjuk Praktis Budidaya Kentang. Penerbit PT. Agro Media Pustaka, jakarta Selatan 12630, 2007. 

Sumber (dengan perubahan seperlunya) : 
http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/menanam-kentang-di-dataran-rendah


Artikel Kentang yang lain :