Sunday, 5 January 2014

Usaha Pemuliaan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum)


I. PENDAHULUAN
Tanaman tebu dapat diperbanyak secara generatif (biji) dan  secara vegetatif (stek). Pada umumnya orang mengenal bahwa tanaman tebu hanya dapat diperbanyak secara vegetatif (stek).
Perbanyakan tebu secara generatif (biji) tujuannya hanya untuk  keperluan dalam seleksi, sehingga nantinya akan diperoleh varietas unggul baru.

Pemuliaan (Breeding) bertujuan untuk mencari atau  menghasilkan varietas baru dengan jalan menggabungkan Klon satu dengan Klon yang lain, daya gabung ini digunakan untuk mencirikan sesuatu yang menghasilkan keturunan dengan rata-ratanya yang lebih baik dari pada tetuanya.


II. PEMULIAAN (BREEDING) TEBU
Pada dasarnya metode pemuliaan berlangsung melalui beberapa tahap yaitu:
        1. Tahap Persilangan
        2. Tahap Penyemaian
        3. Tahap Transplanting Semai (Tebu Pot)
        4. Tahap Seleksi

1. Tahap Persilangan
Biasanya tanaman tebu berbunga pada bulan April sampai Juni, karena itu pekerjaan persilangan dilakukan pada bulan April sampai Juni pula. Sebelum melakukan pekerjaan persilangan, terlebih dahulu harus disiapkan alat dan bahan persilangan.

1.1. Kerangka Lampion dan Kerudung
Kerangka lampion ini dibuat dari kawat berdiameter 3 mm, dengan tinggi kerangka 105 cm (gb.1), guna dari kerangka ini untuk melindungi bunga dari terik matahari dan hujan atau untuk mengoptimalkan proses penyerbukan bunga. Seandainya bunga yang disilangkan tidak dibungkus dikhawatirkan ada angin kencang benang sari dari bunga jantan jatuh tidak beraturan, sehingga akan mempengaruhi proses penyerbukan.
Kerangka ini dibungkus kain mori dengan panjang 135 cm, lebar 90 cm, untuk satu kerudung biasanya 2 potong, potongan kain dijahit hingga menyerupai sarung, bagian bawah dan atas diberi ikatan tali (lihat gambar 1).

1.2. Cangkok dan Larutan
Tebu yang dicangkok digunakan untuk tetua jantan, tanda-tanda tebu siap dicangkok terdapat pemanjangan pada ruas pertama (lihat gambar 2&3). Pilih batang yang sehat, untuk mendapatkan hasil cangkokan yang baik diambil 2-3 ruas (30-40 cm dari permukaan tanah), dengan kata lain buku (ruas) belum ada yang keluar akar.
Mata tunas dihilangkan, dengan tujuan supaya tidak berkecambah/tumbuh kemudian batang dibalut dengan tanah / rumput air (ganggang) dan dibungkus plastik, diikat dengan tali rafia. Akar keluar/tumbuh + 5-7 hari setelah pencangkokan, biasanya pada umur 2-3 minggu cangkokan ini menyusut (ganggang menyusut), namun akar sudah tumbuh banyak.



Larutan yang digunakan SO2, H3PO4 dan HNO3 dengan konsentrasi sebagai berikut : SO2 = 20 ml, H3PO4 = 15 ml, HNO3 = 3.5 ml ketiga larutan ini diaduk dan dicampur dalam 100 liter air.

1.3. Persilangan
Persilangan dilakukan pada bulan April sampai bulan Juni, sebelum melakukan persilangan terlebih dahulu harus ditentukan bunga jantan dan bunga betina, untuk melihat binga jantan dan betina dengan menggunakan Mikroskop. Caranya diambil sebagian bunga dari masing-masing varietas, ambil satu butir (biji) yang bernas dari bunga tersebut, dibelah atau dipecah kemudian lihat di mikroskop, maka akan terlihat warna dari benang sari, biasanya warna dari benang sari terlihat coklat atau merah jambu, hijau kekuningan pertanda (jantan), kuning (betina).

Selain itu dapat berpedoman dengan syarat-syarat sebagai berikut:
Jantan ;
            a. Kadar gula tinggi
            b. Pertumbuhan tegak lurus
            c. Tahan kering

Betina ;
            a. Jumlah anakan banyak
            b. Tahan hama penyakit terutama penyakit daun

Bunga yang akan disilangkan harus diperhatikan bunga kelar (mekar), untuk betina bunga kelar 1/4 sampai kelar 1/2, sedang untuk jantan bunga kelar 1/2 sampai 3/4 dari panjang bunga.



1.3.1. Posisi Bunga
Untuk bunga jantan posisi bunga di atas bunga betina, tujuannya supaya benang sari dari bunga jantan jatuh pada bunga betina, sehingga akan terjadi proses penyerbukan dengan sempurna.




                                             

1.3.2. Pasang Lampion dan Persilangan
          Bunga betina di ambil dari tanaman tebu di areal, pada saat bunga siap disilangkan, maka pemasangan lampion dilakukan. Lampion diikat pada tiang bambu setinggi bunga yang akan disilangkan, di sebelah bunga betina yang akan disilangkan dibuat lubang untuk tiang lampion, kedalaman + 30-40 cm atau tergantung keadaan dari tiang lampion supaya tidak mudah roboh, bagian atas lampion diberi tutup Capeng (topi tani) atau bahan lain , asal dapat melindungi bunga dari hujan atau gangguan lainnya.

          Setelah tiang lampion dipasang, bunga betina berada di ruang lampion, maka diambil bunga jantan yang dicangkok, potong tepat di bawah cangkokan, kemudian dimasukkan ke dalam larutan yang telah dicampur sebanyak 1 - 1,5 liter/batang (dan cangkokan posisi terendam air larutan), tempat air larutan bisa menggunakan kantong plastik volume 2 kg.

           Bunga jantan dimasukkan dalam ruang lampion dan diatur posisinya perlahan-lahan, batang bunga jantan diikat pada tiang lampion dan posisinya diatas bunga betina. Apabila stock cangkokan untuk bunga jantan tidak ada, maka dapat diambil batang tebu lain yang memenuhi syarat diatas, kemudian dipotong langsung dimasukkan ke dalam air larutan.


 

1.3.3. Proses Penyerbukan
Sifat tebu umumnya dapat melakukan proses penyerbukan sendiri yaitu dengan bantuan angin, untuk mengoptimalkan proses penyerbukan, maka dapat dibantu secara manual. Caranya batang bunga jantan yang disilangkan digoyang perlahan-lahan, sehingga benag sari dari bunga jantan akan rontok atau jatuh pada bunga betina sehingga dapat terjadi penyerbukan dengan sempurna, cara ini bisa dilakukan setiap hari pukul 06.00 sampai pukul 08.00.
Bunga jantan biasanya tidak bisa bertahan lama, atau selang waktu 3-4 hari bunga akan layu, namun dengan menggunakan cangkokan ganggang yang direndam air larutan bisa bertahan agak lama 7-10 hari. Bunga yang layu harus segera diganti, bunga jantan diganti 3-4 kali. Proses penyerbukan berlangsung selama 14 hari sampai 21 hari atau bisa 10-14 hari bila keadaan memungkinkan.

1.3.4. Proses Penuaan Biji dan Panen
Persilangan pada umur 14-21 hari, dalam hal ini proses penyerbukan dihentikan, kerangka lampion dilepas, bunga jantan dibuang, kemudian bunga betina dibungkus dengan kantong kain yang berukuran panjang 70 cm dan lebar 45 cm. Pada waktu lampion dibongkar, tiang bambu jangan dicabut tujuannya untuk mengikat bunga betina dalam kantong tersebut.

Panen dilakukan setelah persilangan berumur 3-4 minggu setelah tanggal persilangan atau ditandai dengan tangkai bunga sudah keluar dari pelepah daun. Tangkai bunga dipotong, simpan dalam gudang + 1 minggu bertujuan untuk dikeringanginkan, setelah itu biji dipisahkan dari tangkai bunga, untuk menunggu biji siap disebar, maka biji harus disimpan dalam kulkas (almari es).









Sebelum biji disemaikan, maka yang perlu di persiapkan adalah:
   1. Rak Pesemaian
   2. Kotak Semai
   3. Media Tanam (tanah + blotong + pasir)
   4. Tutup Rak/Naungan
   5. Sebar Biji

2.1. Rak Persemaian
Rak persemaian untuk permanen bisa dibuat dari plat besi, untuk rak sementara (bongkar pasang) bisa dibuat dari kayu dengan panjang 450 cm lebar 135 cm atau disesuaikan  dengan panjang dan lebar kotak semai, sehingga kalau mengatur posisi kotak semai bisa tepat, atas rak dibuat segitiga kemiringan guna untuk naungan pesemain, sehingga kalau ada hujan air bisa langsung turun. Tinggi rak disesuaikan (50-70 cm).



2.2. Kotak Semai / Nampan Plastik
Kotak semai dapat dibuat dari papan kayu dengan panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 10 cm atau ada juga nampan kotak plastik yang siap dipakai dengan ukuran panjang 40 cm, lebar 30 cm, tinggi 10 cm.









 



           

2.3. Media Tanam
Media untuk penyemaian biji harus disterilkan, medianya berasal dari tanah liat, pupuk kandang (blotong), pasir (kalau tanah sudah mengandung pasir maka pasir tidak perlu digunakan), tanah, pupuk kandang dan pasir diayak, dengan ukuran ayakan 20 mesh ayakan tanah, pupuk kandang atau pasir dicampur dengan perbandingan 1:1:1 atau 2:1:1.

Steril tanah ada dua macam, yaitu:
            a. Tanah campuran dimasak dalam air panas
            b. Dengan menggunakan Formalin 36-40%

Dalam hal ini steril yang dilakukan dengan air panas, pelaksanaannya kurang efektif dan efisien, dengan formalin sangat mudah dilaksanakan, campuran tanah tersebut dimasukkkan ke dalam drum, kemudian formalin disiramkan merata sebanyak 1200-1600 ml.

Untuk pemberian formalin tidak sekaligus diberikan, tetapi formalin diberikan secara bertahap, bisa dilakukan 3 tahap atau 6 tahap (lihat gambar). Setelah drum penuh tanah campuran dan formalin, kemudian ditutup rapat dengan plastik dan diikat dibiarkan selama 48 jam. Dalam hal ini drum dan plastik jangan sampai ada lubang (rongga udara), karena akan terjadi penguapan dan mempengaruhi proses Fumigasi.


Proses Fumigasi berlangsung selama 48 jam, kemudian tanah dalam drum dikeluarkan dan dijemur. Tanah steril ini dapat dipakai kalau bau formalin habis (+ 7 hari), setelah bau formalin habis tanah steril diayak dengan ayakan halus



2.4. Tutup Rak/Naungan
Atap rak pesemain dapat dibuat dari karung pupuk atau sejenisnya, tujuan naungan ini untuk melindungi biji yang disebar dari penyinaran matahari langsung (panas) dan Hujan.

2.5. Sebar Biji (Penyemain)
Biji hasil persilangan disebarkan dalam kotak-kotak persemain, kotak diisi tanah steril, lapisan bawah diisi lapisan tanah steril kasar (sisa ayakan halus) setebal + 1/4 tinggi kotak, lapisan atas diisi tanah steril halus, permukaan diratakan, kemudian disiram.


Setelah permukaan tanah rata dan disiram, kemudian biji disebar rata, tutup dengan tanah steril halus tipis-tipis (biji sampai tidak kelihatan), siram lagi sampai keadaan lembab. Apabila setelah disiram biji masih ada yang muncul, maka di tutup lagi dengan tanah halus.

Setelah penyemaian selesai, rak harus segera ditutup, berikutnya pembukaan naungan dibuka secara bertahap sampai semai tahan sinar matahari.

Misalnya: Hari pertama dibuka jam 06.30, setelah siram ditutup + 07.00. Hari kedua dibuka 07.30 ditutup 08.00, begitu seterusnya.

5.1. Perawatan Semai
       Biji yang sudah disemaikan harus disiram  2 kali sehari (pagi dan sore), 3-4 hari setelah biji disemaikan, biasanya biji sudah tumbuh, maka semai perlu dipupuk guna merangsang pertumbuhan, pupuk yang diberikan adalah pupuk Za.

            Jadwal pemberian pupuk pada pada tanaman semai sebagai berikut :
            -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Pupuk                          I                                   II                      III                    IV                    dst
            -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Umur                           5-7 hr               10-14 hr           20 hr                30 hr                dst 
            Konsentrasi                  5,5 gr/lt                        11 gr/lt             14,6gr/lt           14,6 gr/lt          dst
            -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Biasanya semai dipupuk 2 kali sudah cukup, apabila pertumbuhan semai kurang baik, maka perlu dilakukan pupuk ketiga.

3. Tahap Transplanting Semai
Semai dalam kotak yang berumur 1-1,5 bulan yang tumbuh dari biji-biji ini dipindahkan penanamannya dalam pot plastik (polybag) yang berdiameter 10-12 cm dan tinggi 10 cm.
Polybag diisi campuran tanah liat, pupuk kandang (blotong), pasir dengan perbandingan 2:1:1 tanpa disterilkan. Untuk mempermudah pencabutan semai maka semai dalam kotak disiram dulu, cabut semai-semai tersebut dengan hati-hati: daun dipotong hingga tinggal 1/4 bagian untuk merangsang pertumbuhan akar baru dan untuk mempermudah penanaman akar dipotong sedikit. Setiap semai dipotong dalam satu playbag (single Planting), semai yang sudah ditanam harus segera disiram sampai air merembes ke bawah.
Pemaliharaan semai dalam polybag ini seperti halnya perawatan semai di kotak, yaitu siram 2 kali sehari, pada umur 1-7 hari, semai dalam playbag ini dipupuk. Pupuk yang digunakan pupuk Za atau urea, masing-masing playbag diberikan sebanyak 0,3 gr. Caranya Tanah ditugal (dibuat lubang) jauh dari tanaman, pupuk dimasukkan dan ditutup, kemudian di siram. Untuk pemupukan berikutnya umur 15-20 hari, biasanya daun sudah normal pertumbuhannya, sehingga sulit untuk melakukan pemupukan secara tugal. Oleh karena itu pupuk yang diberikan adalah pupuk cair dengan konsentrasi 14,6 gr/lt (pupuk Za), kalau menggunakan pupuk urea konsentrasi dikurangi hingga 10 gr/lt.


Pada umur 1-1,5 bulan, semai dalam polybag ini dipindahkan penanamannya ke kebun dengan jarak tanam 50-60 cm, daun di potong seperti pemindahan tanaman stek pada umumnya.





4. Tahap Seleksi
4.1. Seleksi pertama
Dilakukan pada semai berumur 6 bulan, titik berat seleksi  ini ditekankan pada habitus tanaman, faktor jumlah batang, serta nilai brix pada setiap rumpun, nilai brix ditentukan dengan Hand Faktometer. Semai-semai yang terpilih diberi kode menurut tahun persilangannya ditambah nomor urut. Kemudian diperbanyak secara vegetatif, sehingga dari satu rumpun dijadikan 10 rumpun (panjang jaring 5 meter).

4.2. Seleksi Kedua
Semai hasil dari seleksi pertama yang diperbanyak secara  vegetatif, pada umur 6-7 bulan dilakukan seleksi kedua, titik berat seleksi ini dilakukan pada habitus, faktor jumlah batang serta nilai Brix.

4.3. Seleksi Ketiga
Semai yang terpilih dari seleksi kedua, kemudian ditanam  dalam percobaan dengan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan dibandingkan dengan varietas uji. Seleksi dilakukan pada tanaman berumur 6-7 bulan, titik berat seleksi masih ditekankan pada habitus, jumlah batas dan nilai Brix. Dengan adanya ulangan akan lebih dapat diandalkan dari pada seleksi kedua.

4.4. Seleksi Keempat  
      Semai yang terpilih dari seleksi tiga, selanjutnya diuji lagi dalam percobaan rancangan acak kelompok dengan tiga kali ulangan dibandingkan dengan varietas uji. Seleksi ini dilakukan pada umur satu tahun, titik berat seleksi ditekankan pada angka hasil hablur gula.

Setelah lulus seleksi semai-semai yang terpilih dari seleksi keempat, selanjutnya diuji ketahananya terhadap penyakit. Semai-semai yang lulus dari pengujian penyakit, dilanjutkan pengujiannya dalam percobaan multi lokasi, tujuannya untuk  mendapatkan varietas yang cocok dengan lokasi pada suatu daerah.

Untuk lahan kering percobaan multi lokasi diselenggarakan selama tiga tahun, diadakan percobaan dengan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan, titik berat seleksi ini ditekankan pada angka hasil atau pada gula/hablur, pada tanaman tebangan pertama, kedua dan ketiga (keprasan).
  
Setelah selesai tahap pengujian multi lokasi ini, pada mumnya hanya terpilih satu sampai empat varietas. Varietas terpilih ini yang akan dikembangkan sebagai varietas unggul baru.
 


III. PENUTUP

Buku ini disusun berdasarkan pengalaman di lapangan, dan sedikit ditunjang dari buku-buku masalah pemuliaan, penyusun berharap semoga buku ini dapat membantu atau dapat mempermudah pembaca untuk melakukan persilangan sendiri.

Memang buku masalah pemuliaan tebu sulit didapat, karena masalah pemuliaan tebu masih langka. Orang banyak berkata tidak mungkin tebu dapat dikawinkan.... ?.

Buku ini masih jauh dari kesempurnaan, baik kata-kata yang disajikan atau pengalaman dari penyusun buku ini. Oleh karena itu penyusun berharap saran dan kritik dari pembaca guna perbaikan buku ini.  
Post a Comment