Sunday, 5 January 2014

Plasmanutfah, Perawatan dan Kegunaan pada Tanaman Tebu (Saccharum officinarum) - part IV

SAMPLING  PHILOSOPHY

Struktur genetik populasi tanaman yang dikembangkan dengan tehnik sampling sudah dipertimbangkan. Ketika klonal tidak dikecualikan dalam pertimbangan ini maka akan ada masalah – masalah lain.

1.      Populasi bisa berupa campuran dari vegetative dan sexual propagules anjuran – anjuran ini, koleksi vegetatif harus lebih intensif dari pada koleksi biji di suatu tempat, bila genetif variability bisa dibandingkan.
2.      Material vegetatif selalu makan tempat. Sampling yang luas dan banyak akan mempersulit transportasi.

Pada saat membuat formulasi sampling, harus ada pertimbangan antara genetik variability dan besarnya populasi klonal.

Pada tahun 1976, expedisi orang Indonesia dimana sitem sampling adalah kompromi antara pencapan luasnya daerah yang terkaver dengan pendapatan sample dari masing – masing lokasi yang dikunjungi (berding dan koiko, 1980), hal ini meragukan, karena kita belum bisa menjangkau tempat sumber plasmanutfah, terkosentrasi Indonesia, banyak terdapat S. robustum atau E arundinaceus dimana varian penotip yang terlihat tidak jelas, kelihatannya semuanya berasal dari satu propagule yang berkembang secara lokal, atau semak yang tercampur dengan klonal atau sexual propagule yang tidak terlihat varian penotip dalam morfologi ?


Ketika dilihat, semak yang terlihat seragam diambil sample, tapi ketika sample di ulang yang diambil semak dari tempat yang berbeda disepanjang satu sungai, tanpa menghiraukan morpologinya.

Pada skala yang lebih besar, klon dari E. arundinaceus di koleksi dari Kalimantan sampai Irian Jaya sebenarnya ada keseragaman dari segi morfologi, sedangkan untuk S. rebustum dan S. spontaneum terlihat varian yang besar.

Secara citologi juga terdapat sesuatu yang kontras antar spesis Erianthus arundinaceus terlihat hanya mempunyai 1. Cytotyne, disebut 2n=60 (Mohan dan Sreenivasan. 1983). S. robustum terdapat 5 grup aneuploid dan 5 euploid pada 2 dasar cytotype 2n= 60 dan  2n=80 (price, 1965).

Saccharum Spontaneum mempunyai jenis-jenis bentuj yang banyak demikian juga jumlah kromosom bervariasi dari 2n = 40 sampai 2n = 128 (Panje dan Babu, 1960). Data yang tidak dipublikasikan dari Roach (tabel 1) adalah perbedaan variability dari E arundinaceus dengan S. robustum dan S. spontaneum untuk 10 karekter quantitative.

Beberapa pekerja ( J.D. Miller.B.T. Roach 1984) mengusulkan agar beberapa klon E. arundinaceus di buang saja dan genetik yang representative bisa dipertahankan.

Dilingkungan Merinya, dimana pembungaan tidak baik, ada pembungaan di daerah tertentu. Klon dari Kalimantan berbunga sebelum klon yang di Sulawesi yang berbunga sebelum dari Irian Jaya. Varian dari karakter quantitative ada antara keseragaman morfologi.



Tabel 1. Varian penotip pada karakter quantitative S. rebustum, S. spontaneum dan E arundinaceus

Karakter
S. robustum
52 klon
S. spontaneum
125 klon
E. arundinaceus
73 klon
Ketegakan
84
-
40
Tillering
55
-
23
Diameter batang
35
40
8
Panjang batang
22
77
17
TCH
77
56
36
% serat (berat segar)
24
14
9
Brix
20
19
16
Pol
32
42
26
Jus (ash)
35
25
15
Lebar daun
25
47
13

 Juga ada beberapa masalah pada expedisi Indonesia, dan juga pada laporan pada hampir semua expedisinya, dimana variasi populasi lokal antara S. robustum dan S. spontaneum sangat besar sekali, hal ini terjadi karena adanya pergaulan antara individu pada populasi yang banyak, sehingga terdapat variasi yang nyata pada sumber yang tersedia.

Tidak ada data objective untuk variability diantara spesis liar di semak-semak seperti klo Saccharum. Walau 50-100 sampel tiap daerah direkomendasikan sebanyak diperbanyakan populasi secara sexual, terlalu luas untuk kondisi ini. Dia menganjurkan 10-20 sampel per kilometer bujur sangkar.

Pengalaman expedisi terbatas untuk tanam tebu (breeding dan koike, 1980 : Krishnamurti dan Koike, 1982), masih tentang sampling yang intensive, mungkin ke intensifan sampel dapat dipenuhi kelak, bila plasmanutfah dari setiap daerah bagian secara spesifik bisa dipenuhi. Sampling dari spesis yang dibudidayakan seperti S. Officinarum, berbeda dengan sampling spesis liar pada genus yang sama, dan sedikit berbeda pada sampling yang dikembangkan secara sexual.

Pada kasus S. Officinarum, perbanyakan klon bisa ditemukan di kebun-kebun klon ini sudah dikenali secara ciri-ciri luar dan sudah punya nama, dan sudah tersebar luas, namun pada point terbuka mereka masih sama dengan yang lain, dimana, tidak ada perubahan dinamika genetika secara populasi tentang respons terhadap lingkungan dan tekanan patogen.

Pada sistem cocok tanam Swedia, klonal individu yang baik diperbanyak untuk tanam berikutnya, kesempatan untuk variasi generasi berikut dengan menggabungkan klon yang ada dikebun dan seleksi secara alam yang berkecambah. Grassl (1977) memberi contoh, S. Officinarum berasal dari hibrida antara 2 tau 3 individu yang berbeda dari jumlah populasi yang berbeda antara S. Robustusm, S Officinarum belum bertahan di luar cocok tanam. Sebab itu sampling plasmanutfah S. Officinarum praktis lebih sederhana jika dibandingkan dengan sampling S. Robustum dan S. Spontaneum.

Pada saat melakukan koleksi 1914. New Guinea di anggap sebagai daerah asal dari S. Officinarum, tapi koleksi terbatas untuk penyakit fiji. Dan bagaimana kondisi saat ini ? apakah klon disana masih tahan ? perkecambahan klon baru bisa terinfeksi lebih berat, konsekuensinya mungkin 1 dari sedikit tempat dimana S. Officinarum berinteraksi dengan tekanan patogenik.

MAINTENACE

SITUASI  SAAT  INI

Koleksi dunia untuk material Saccharum complex dan genera yang berhubungan telah dipelihara oleh ISSCT dengan persetujuan USDA /ARS di Canal Point dan Miami Florida, dan oleh Sugarcane Breeding Institut di Cannanore dan Coimbatore, India. Outline sejarah world collection, dan detil lokasi juga operasional sudah dibuat (balasundaram dkk, 1980).

Material dari World collection, termasuk 200 hibrida buatan, seperti ditegaskan oleh ISSCT, dapat diubah dengan bebas. Semua koleksi dipelihara tiap tahun juga diambil kesimpulan. Bahan vegetatif dari klon world Colection yang dikapalkan menurun pada tahun belakangan ini, mungkin disebabkan beberapa penyakit pada pertumbuhan di daerah – daerah material ini dapat di lihat pada Tabel 2 dibawah  ini

Tabel 2. Pemasukan klonal di world Colection dari material Saccarum Complex yang dipelihara di India dan United state.

Kel. Plasmanutfah                               Miami b                       Canal point b               Cannanore c
Saccharum officinarum                                   546                              169                              632 
S. robustum                                                     97                                62                                38
S. Spontaneum                                     266                              118                              415
S. barberi                                                         6                                  32                                43
S. Sinense                                                        18                                9                                  -
Eccoilopus                                                       2                                  1                                  -
Erianthus (sect. Ripidium)                               172                              161                              22
Miscanthus                                                      8                                  14                                -
Pennisetum                                                      5                                  2                                  -
Imperata                                                          9                                  5                                  -
Narenga / sclerotachya                         11                                6                                  2
Hibrida buatan e                                              174                              168                              1,728
Tidak teraplikasi                                              381                              2.404                           529
Total                                                                1,787 f                         3,237                           3,438

a.       Dipelihara oleh C. Breeding India dan pertanian United State
b.      Daftar dari Miami dan Canal Point tidak terlalu bagus
c.       Koleksi S. Spontaneum di pelihara di Coimbafore
d.      SBI. Coimbabore, yang baru didirikan di kebun dataran tinggi untuk memelihara Miscanthus spp di Wellington Barat Ghats
e.       Dibuat ketentuan untuk mencantumkan 200 hibrida buatan, 25 diantaranya menjadi sejarah penting hanya 103 di rancang untuk di sebar pada Mei 1985, 200 klon ini juga ada di USDA /ARS atau komersil India, bukan bagian dari world Colection.
f.       Total di Miami termasuk yang belum di klasifikasikan atau klon hibrida dan Canal Point CP dan komersial asing yang tidak layak di distribusi.

ISSCT World Collection di kenal sebagian primory Collection. Ada tambahan 11 dikenal sebagai secondary Collection, artinya mereka bebas dalam world Collection tapi masing-masing mempunyai material yang unik.

Berding dan Koike (1980) mempertahankan pengurangan yang serius pada USDA Word Collection yang di tempatkan di Miami 1976. Mereka membuat daftar yang sudah berumur 4 tahun yang layak untuk USDA dari 1260 klon yang dikoleksi antara periode 1875 – 1957, tinggal 338 atau 27 % yang sisa, disebabkan oleh penekanan Walker (1980) yang membuat batasan dimana tebu yang sudah dilepas tidak pernah lagi akan masuk ke program breeding.
Contohnya, beberapa tebu nobel pada koleksi awal yang dibuang, dari potensi tebu, komersial, pada hal bisa saja beberapa diantaranya mempunyai nilai potensi pada aspek lain di breeding. Analisa pada daftar USDA world Colection menunjukkan pengurangan yang terus menerus pada plasma nutfah. Dari 338 klon yang didaftar USDA pada tahun 1976, saat ini tersisa 305. 33 klon tambahan juga hilang koleksi sejak tahun 1957 yang dikumpulkan sekitar 1203 klon sekarang tinggal 567 yang terlihat di USDA atau sekitar 53 %. Bisa saja keadaan ini overtimasi, atau kekurangan motivasi mungkin sebaik tekhnik dan konservasi plasmanutfah tebu, tanaman tebu tercatat dengan baik secara internasional. Maintenace dan dokumentasi dapat ditemukan apabila dibutuhkan.

Pemeliharaan material klonal penuh dengan kesulitan untuk membuat terbaik resiko penyakit pada material kolonal lebih tinggi dari pada perbanyakan melalui reproduksi, pada tebu pemeliharaan dengan tepe yang berbeda juga sulit. Contohnya S. Officinarum tidak bisa di tumbuhkan dengan baik bersamaan dengan tebu komersil. Beberapa cara dari kebun nobel memang tersedia. Masalah juga ada seperti saat memelihara Mischanthus pada ddataran rendah umumnya. Perlakuan tambahan dan perhatian khusus juga mendukung keberhasilan dalam merawat spesis liar Saccharum complex.

Pemeliharaan di world Collection Miami di suatu lokasi batu kapur harus digantikan karena tidak sesuai dengan sebagian besar material tebu, karena daya tahan tebu menurun dan gampang terserang penyakit dan gejala detisiensi.

Masalah pemeliharaan tebu, tidaklah terlalu unik hal ini bisa dilihat dari contoh pada saat National Plant Germplasm Commitee di USA melakukan uji mengenai pemeliharaan pada plasmanutfah buah-buahan dan kacang (dalam klonal besar). 12 tempat yang direncanakan, pertama beroperasi dimulai di Corvallis Orengoh 1981. Kedua di Davis, California, dimulai pada 1980 dan ketiga di rencanakan di Genewa, New York 1982.

Di Corvalis di buat fasilitas 1.700 M2 Screen house, 900 m2 green house untuk isolasi tanaman klon baru, index virus dan perbanyakan. Sebanyak 1691 aksesi diterima pada tahun pertama, termasuk 1345 kultifor buah pir (John dan West wood, 1982). Pemeliharaan tebu tidak seserumit ini di bandingkan dengan diatas. Hal penting yang kita perlukan adalah suatu lahan (lingkungan) dimana tanaman tidak terlalu stress (extrim) dan bisa meminimalkan serangan serangga dan masalah-masalah penyakit (John dan Westwood, 1982).

Untuk tanaman tebu, kriteria ini bisa masukdi Cannora, tapi kurang memuaskan di Miami ini perlu untuk para breeder tebu untuk tebu untuk mendukung U.S National Germplasm mendapatkan material klonal. Sebelum memutuskan apa yang harus disiapkan untuk membuat kebun plasmanutfah.

Konsep perawatan  intensive dan semiintersive dalam kondisi yang optimal sangat penting agar pengurangan aksesi dapat dibendung, tidak ada gunanya melanjutkan pengumpulan bila pemeliharaan tidak memadai. Namun boleh melanjutkan pengoleksian tapi perhatian lebih di fokuskan dalam pemeliharaan yang benar. Semua ini telah disebutkan secara detail oleh IBPGR.

Roach (1984) membuat 3 penelitian dari koleksian-koleksian ini 2 pada kebanyakan lembaga, penekanan pada pemeliharaan 2 mereka tidak representatif pada Saccarum complex : 3 konservasi plasmanutfah dan dokumentasinya kelihatannya tidak merndapat prioritas pada sebagian besar lembaga, ini terbukti dari daftar klon yang tidak bisa di pertahankan jumlahnya.

Sisi lain dari masalah penyusutan material di world Collection di USDA / ARS Canal Point dan Gral Gables, Florida, koleksi 9 percuma bila tidak ada perbaikan katalog, ini menjadi komitmen pada pemeliharaan dan evaluasi.

IBPGR memarkan untuk memprioritaskan Saccharum complex kemudian pemeliharaannya supaya tidak terjadi gen yang sangat dibutuhkan untuk breeding ada beberapa yang sulit di terima, adanya pengurangan ini di beberapa bagian dari World Collection, dan yang lain juga kurang representative.
Kesulitan lain juga ada yaitu dalam melakukan pengurangan, sebab lingkungan yang diinginkan Saccharum complex ada berbeda-berbeda element.

Perhatian khusus harus diberikan pada perawatan, materi klonal harus di rawat secara intensive dan kondisi optimum untuk mengurangi kehilangan, katalog dalam pertukaran informasi pada koleksi juga harus di tata. Apabila pemeliharaan dari semua material ini sudah ideal, maka sumber-sumbernya akan dibatasi.

Untuk world Colection, harus melakukan evaluasi untuk 2 tujuan yaitu :
-          Penggunaan  plasmanutfah harus terbatas bila masuk kekurangan data avaluasi.
-          Keputusan secara logika untuk membuang suatu aksesi tidak bisa dilakukan kalau data evaluasinya tidak ada.


DESIDING WHAT TO MAINTAIN

Ada 4 hal yang jadi pertimbangan dalam mengambil keputusan, apa saya yang akan dipelihara pada plasmanutfah.

TUJUAN  KOLEKSI  PLASMANUTFAH

Alasan untuk menanam plasmanutfah dapat berubah ubah, dalam penekanan yang berbeda-beda. Pengumpulan awal pada expedisi adalah untuk mencari material yang baru digunakan untuk tujuan komersial, disini klon yang tidak memenuhi syarat tidak akan di pertahankan pada interatur tanaman tebu, banyak nama-nama tebu nobel yang sudah pernah dicoba tapi kemudian di buang plasmanutfah tebu untuk kebun pabrik gula, tidak terlalu banyak yang dipelihara.

Penemuan pembuahan pada tebu telah membawa deminsi baru bagi pengoleksian tebu-tebu yang tidak layak menjadi komersil, tapi mempunyai kelebihan yang spesifik, tetap dipertahankan, namun dengan berkembangnya pengetahuan, mungkin ini tidak terlalu menarik bagi pada breeder. Dengan adanya hibrida interspesifik, maka penting juga untuk memelihara spesis liar dan kerabatnya ini dimasukkan saja ke World Collection, karena kecil kemungkinan yang lain untuk bisa menampung koleksi dalam jumlah besar di kebun –kebun tebu.

Bisa juga beberapa koleksi adalah material yang spesifik yang digunakan untuk pelajaran taxonomy dan evolusi tapi ini akan dikurangi bila para peneliti tidak membutuhkannya lagi.

SIFAT  KOLEKSI

Pengoleksian, pemeliharaan beriringan dengan program cane breeding secara umum koleksi tidak terlalu besar. Koleksi biasanya lebih dari satu masa tanam tapi belum, tentu untuk jangka waktu yang lama.

TINGKAT  KESULITAN  PERAWATAN

Ini akan dipengaruhi oleh jangka waktu conservasi dan tergantung dan sifat dari material itu dan lokasi dan fasilitas perkebunan. Contoh ; khususnya klon dari S. Officinarum jauh lebih banyak hilang dari pada S. Spontaneum pada lingkungan yang ada di World Collection Miami sedangkan di world Collection Cannori, koleksi S. Officinarum tidak ada yang hilang.

DEGREE  OFF  CHARACTERIZATION  OR  USE

Material yang memiliki karekteristik baik yang bisa dipakai dalam breeding atau tujuan lain harus di rawat lebih intensive dari pada yang lain.

Sampai saat ini, peraturan di 2 world Collection masis merawat semua aksesi klonal, ini meragukan apabila dilanjutkan ke tujuan yang sebenarnya, pada saat yang sama jumlah klon baru meningkat disini ada 3 pilihan :

Ø   Hanya satu sample klon yang dirawatberdasarkan geografi dan keragaman genetik. Membuat perbedaan genetika ada sangat dibutuhkan dalam mendapatkan karakter teetentu.

Ø   Melakukan pengurangan pada in-country atau in.situ, kehilangan dari pengurangan ini tidak akan lebih besar dari pada pemindahan tanaman ke lingkungan yang tidak sesuai sebagai contoh pemeliharaan tebu nobel di Miami atau Mischanthus di dataran tinggi di Creech dan Reitz (1971) pertimbangan pergembangan in-country dan In-situ dilakukan pada musim dan daerah yang berbeda. Baru-bar ini yayasan World Wildlife telah memulai pengumpulan dana untuk menunjang program konservasi internasional, tujuannya terutama untuk membantu pelestarian sumber genetik bagi tanaman termasuk jenis primitive untuk kepentingan masa yang akan datang. IBPGR termasuk salah satu konsultannya pelestarian tanaman di setiap daerah dan tujuan lain untuk mengembangkan pelestarian di kebun-kebun cagar alam. (Davis 1985), para breeder tebu bisa memantau perkembangannya.

Ø   Menerima bahwa fungsi plasmanutfah lebih mengutamakan pelestarian gen dari pada pelestarian genotip, bila ini diterima, akan lebih sedikit pilihan yang tersedia.
Post a Comment