Sunday, 5 January 2014

Plasmanutfah, Perawatan dan Kegunaan pada Tanaman Tebu (Saccharum officinarum) - part V

FUTURE  GERMPLASM  CONSERVATION

Pada masa yang akan datang, breeder tebu akan melestarikan plasmanutfah dengan pengembangan secara vegetatif ini lebih mudah.
Tehnik baru untuk perbanyakan klonal tersedia baru 10 tahun belakangan dan diaplikasikan ke perkebunan masih dalam pertimbangan pengadopsian lambat tapi langkahnya cepat tehnik baru ini akan dianjurkanoleh breeder tebu. Pelestarian plasmanutfah lebih pada pelestarian gen dari pada genotip ini tidak mengharuskan perbanyakan secara Vegetative tehnik baru akan ditambahkan untuk kemajuan pelestarian plasmanutfah.



IMPROVEMENT  OF  TRADITIONAL   MAINTENANCE   METHODS

PEMELIHARAAN   KLONAL

Pemeliharaan klonal yang lebih intensive akan mengurangi stress karena lingkungan suatu metode yang digunakan untuk koleksi dengan sejumlah besar materi sudah dianjurkan disamping adanya koleksi lapangan dianjurkan dengan koleksi in vitromeristen atau kultur tunas, untuk mempertahankan genetiknya.

Sejumlah besar klon dapat dilestarikan dengan pemeliharaan minimal dengan modifikasi lingkungan syarat sanitasi tumbuhan masih di dapat sejumlah penyakit, jadi bisa juga disederhanakan melalui karantina ini sangat vital.

Proses karantina oleh USDA, dilakukan dHWT sebelum dikapalkan ke United Stutes, dari pengalaman pada expedisi 1976 ISSCT Mischanthus dan Erianthus mati karena perlakuan HWT
Prosedur yang berlangsung menjamin material dari Saccharum complex termasuk pada koleksi plasmanutfah, namun metode deteksi penyakit tanaman dapat semakin baik dengan memberikan antibody monoklon dan pemeriksaan DNA.

Materi vegetatif termasuk kultur meristem dapat diuji dan bebas patogen tanpa HWT. Pengiriman plasmanutfah bisa difasilitasi.

PEMELIHARAAN  BIJI

Penyimpanan biji untuk keperluan plasmanutfah terdiri dari 2 tujuan utama, (Roberts, 1975) :

  1. Penyimpanan jangka panjang untuk meminimalkan biaya, masalah dan resiko penanaman  secara regular untuk mengantikan meminimalkan perubahan genetik
  2. Dengan penyimpanan biji dapat meminimalkan perubahan genetik

Biasanya biji disimpan di freezer untuk penyimpanan jangka pendek sampai medium, ini dilakukan untuk mempertahankan genotipe, penyimpanan jangka panjang belum berkembang untuk digunakan pada daerah terpencil, teknologi sekarang mengawetkan biji dengan pengeringan dan penyimpanan untuk mempertahankan genetik sedang didiskusikan (Rao, 1982).

Panjangnya waktu penyimpanan saat ini masih dipertimbangkan, Rao menganjurkan agar mempelajari tentang penyimpanan biji untuk pelestarian plasmanutfah tebu, penyimpanan mungkin bermasalah bila tidak menggunakan tehnik dan tegnologi yang tepat contohnya Cazalet dan Berjak (1983) mendemonstrasikan kehadiran jamur pada biji yang dapat bertahan pada suhu baku, yang dapat menyebabkan kematian biji pada kelembaban 12-14 % yang disimpan pada kantong polithone penyimpanan jangka panjang seperti ini jangan dilakukan. Untuk itu IPGR telah membuat rancangan penyimpanan biji yang akan dapat digunakan para breeder tebu.

Penyimpanan biji untuk kelestarian genetik plasmanutfah S. Officinarum telah dianjurkan oleh Walker (1980). Untuk meningkatkan S. Officinarum bisa dilakukan untuk polycross, hanya memungkinkan pada lingkungan dimana dia bisa berbunga. Dari hal diatas untuk melestarikan tebu nobel dilapangan, lebih baik dilakukan peyimpanan biji dan diharapkan suatu saat bisa dilakukan penyimpanan tunas secara stenl (kuljar).

CHARACTERIZATION

Pemanfaatan untuk produksi komersial, hanyalah bagian kecil dari kegunaan plasmanutfah, ada banyak hal yang lebih penting dar pada produksi, namun alasan produksi bisa saja menghambat tujuan lain dimana para breeder tidak terpacu untuk melakukan program yang lebih luas.

Kegunaan yang lebih efisien dari plasmanutfah, sebagai sumber informasi yang lebih baik, sebagai informasi atau karekteristik plasmanutfah, adalah merupakan suatu hubungan kaitan penting dari koleksi dan kegunaan peletarian genetik. Karekterisasi banyak yang diabaikan intra atau inter spesifik hibrida sulit untuk dijabarkan.

Hibridisasi dengan spesis liar bisa digunakan untuk menambah variable genetik, tujuan memasukkan plasmanutfah baru untuk meningkatkan materi komersil walaupun kesulitannya tinggi, butuh upaya dan waktu pencapaian ini bisa tinggi oleh karacterisasi yang baik palsmanutfah.

Kebutuhan koleksi plasmanutfah, merupakan aspek penting konservasi dapat ditingkatkan dengan karakterisasi yang baik. Karakterisasi yang lebih baik, dapat menghindarkan kemungkinan identifikasi yang salah.

Karaterisasi plasmanutfah sudah menjadi perhatian sebagian breeder tebu. Pada 1968, DJ Heire menganjurkan agar komite ISSCT, melakukan penentuan dan kemungkinannya ada pusat pendiscripsian clonal. Tujuannya untuk mencatat karakteristik dari klon-klon dengan potensi genetik dari kemampuan hidup plasmanutfah, dan bisa dikembangkan untuk mencatat karakterisasi botani untuk pemeriksaan identitas klonal.

Sesudah itu dibuat petunjuk pendiscripsian klonal tebu untuk agrikultur, genetik dan ketahanan penyakit dan batanikal, karakterisasi.

Penilaian 0-9 untuk setiap karakter juga umum dilakukan untuk mempermudah pengertian data, meskipun perkembangan cara pendiskripsian tidak semua pada setiap breeder, tapi semua melakukannya dengan karakterisasi yang bisa dimengerti, belum ada sistem yang seragam.
Pada 1981, IBPGR menerima 32 pendiscripsi dengan penilaian (rating scale) dan dimodifikasi oleh IBPGR, tapi digunakan secara terbatas, mungkin karena penyebarannya terbatas.
  
Untuk koleksi Saccharum spp di Thailand 1983 tercata data setiap klonal sebagai petunjuk di JBPGR.
Dengan adanya metode-metode yang berbeda ini, maka sulit untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber contohnya, kantong plasmanutfah S. Spontaneum yang terdiri dari berbagai sumber contohnya, katalog plasmanutfah S. Spontaneum yang terdiri dari 43 descriptor di World Colletion, beberapa diantaranya berbeda dengan daftar yang ada di IBPGR.

Apakah ada alasan, mengapa para breeder tebu segan untuk membuat dan melakukan pondiscription yang seragam ?.
Kebanyakan koleksi di luar world Collection tidak ada pengepalan, dan para breeder bertanggung jawab untuk pemeliharaan koleksi. Waktu untuk karakterisasi terbatas. Beberapa karakterisasi mempunyai alasan sebagai berikut :

  1. Mendapat data, untuk memaximalkan hasil hibridisasi antar tetua sebagai data quantitative normal di alam, dan didapatkan kelanjutannya dengan menggunakan klon komersil, walau hanya untuk sejumlah hasil Descriptor, dengan tetua yang tetap bisa didapatkan data lengkap. Untuk hal ini format dari IBPGR bisa mendapat data genetator dan resiplane.
Pemuliaan untuk komersial, melakukan interspesifik hibridisasi sembarangan, dengan sedikit seleksi tetua.
            Roch (1984) menemukan seleksi tetua antara S. Spontaneum cukup efective untuk besar batang, hasil tebu, dan gula. Seleksi tetua antara S. Spontaneum dilakukan untuk toleransi suhu dingin dan ketahanan terhadap mosaik.

            Untuk hibridisasi, karakterisasi cukup karakter tetua antara medium heritability rendah, screeng progeny populasi hanya sebagai alternative prediksi estimasi nilai hentability pada generasi nobel dipertanyakan dan untuk beberapa karakter penilaian mungkin dibutuhkan pada level ploidy yang ada pada level komersial.

            Dengan karakterisasi, seorang breeder dapat mengukur vanability plasmanutfah antara grop taxonomy sebagai data panduan untuk karakter yang diinginkan.

  1. Mendapatkan data discripsi untuk koleksi klon yang bisa dibedakan data itu bisa saja kuantitative atau kualitative di alam beberapa di antaranya bisa saja karakter botany.

Pada beberapa program pertebuan, waktu yang mengumpulkan data terbatas dan konsep minimum discriptor sudah tepat.

Ada 3 hal penting untuk mengoptimalkan usaha Discripsi

1.            Dilakukan dengan ulangan dari sedang-tinggi BSH
2.                        Menunjukan perbedaan antar klon secara maximum
3.                        mudah di ukur.

Beberapa kompromi bisa diterima pada tanaman tebu, seperti warna batang tidak perlu dilakukan dengan banyak ulangan seperti pada beberapa karakter lain, tapi mudah di rekord dan memberikan perbedaan yang jelas.

Saat ini discusi tentang karakterisasi tanaman tebu belum bearti apa-apa contoh yang baik ada pada tanaman kopi.
Pada tanaman tebu, pada perbedaan klas material memungkinkan adanya perbedaan daftar discriptor. Hal ini belum dilakukan saat ini

Di Barbados, pelajaran pengembangan discriptor minimum menggunakan hibrida komersial dan S. Spontaneum sudah dimulai (1985). Discriptor dengan menggunakan S. Spontaneum beberapa responnya sama dengan bila menggunakan klon komersial.

Untuk karakterisasi lapangan tanaman tebu ketinggalan dibanding tanaman lain, dengan kekecualian yang telah dilakukan pada tebu liar World Collection Indian dan di Australia oleh Roach, dimana telah dilakukan beberapa karakterisasi pada kenyataannya tahun lalu baru ada tersedia Catalog atau sejenis informasi secara basic dari USDA/ARS. Masalah ini mulai diperhatikan, di florida mulai disusun suatu katalog dan direnacanakan akan membuat karakterisasi koleksi. Walaupun sejarah plasmanutfah tebu cukup membangggakan, tapi masih diperlukan suatu usaha keras untuk koleksi, perbandingan dan pertukaran data karakterisasi.

MENGGUNAKAN  VARIASI  ALAM

Jenis-jenis alam dari Saccharum telah dikenal dalam jangka waktu yang sudah lama, sedangkan S. Sinense dan S. Berberi di India juga telah dipakai untuk produksi gulapasir coklat sejak jaman prasejarah. Perpindahan tanaman ini di bagian lain dunia ini telah di bahas dalam bab ini. Produksi gula dunia berasal dari pertanian S. Barberi dan S. Sinense pada mulanya dan kemudian dengan proses yang lebih baik dari S. Officinarum. Industri ini bisa bertahan, tapi terlalu rentan terhadap penyakit sebab itu secara rutin harus di cari penggantinya, melalui cane Breeding.

FERTILITY  OF  SUGARCANE  AND  INTRASPESIFIC  CROSSING

Di Barbados telah dilaporkan adanya tertilitas tebu pada tahun 1858 namun di jawa baru didapatkan biji dari S. Spontaneum dan dijadikan bibit pada tahun 1885. waktu itu untuk tebu komersial masih difokuskan pada tebu nobel dan dari persilangan ini breeder-breeder pemula mulai kerja keras untuk ketahanan penyakit dan kenaikan produksi, mereka berhasil untuk tahan terhadap satu penyakit, namun untuk hal lain tidak terdapat suatu karakterisasi yang bisa mendukung pada tebu nobel. Secara insentive dilakukan persilangan, dibeberapa daerah dan didapatkan hasil yanglebih baik dari pada tebu nobel alam (Roach, 1965; walker 1966) yang kemudian di era berikutnya digunakan plasmanutfah tebu dan interspesifik hibridisasi.

INTERSPECIFIC  HYBRIDIDIZATION – ORIGIN  AND  EARLY  ACHIEVEMENTS

Perkembangan hibrida interspesifik dikenalkan oleh Jeswit (1930), Brandesdar Sartoris (1936) dan stevenson(1965). Waktu itu ada terjadi serangan penyakit sereh yang hebat, tahun 1885 dicoba menyilangkan tebu dengan E. Arundinaceus dan tahun 1887 di coba dengan S. Spontaneum.
Kedua usaha ini gagal, tapi menyisahkan persilangan interspesifik tahun 1843, Moquette dan wakker mendapatkan hibrida melalui persilangan tebu nobel, black cheribon, untuk kassaer (Bremer 1961). Kassoer dicoba dengan F1 antara S. Officinarum X S. Spontaneum (Bremer 1924).

Kobus pada 1897 menyliangkan klon penting S. Barberi (chunnee untuk tebu nobel dan pada generasi BC1 dilakukan silang balik dan didapat spesis yang exotik 1911 Willgnnk berhasil menyilangkan kassoer dengan tebu nobel dan tahun 1916 Jeswit mengeluarkan hibrida alam Kassoer. Jeswit menyilang balik seedling willbring dengan tebu nobel, dan juga Kobus dengan Chunnee. Breeding Jawa menyebutkan karakter yang telah diinginkan sebagai nobilisasi.

Satu dari silangan Jeswiet pada 1921, menghasilkan POJ 2878 karena keistimewaan POJ 2878 ini maka hingga tahun 1929, 90 % kebun menanam varietas ini. Kesuksesan di Jawa ini, memberi pandangan baru ke berbagai tempat. Hibrida interspesifik di India dimulai sedikit setelah di jawa dengan hasil berbeda.

Barber 1912, menyilangkan tebu nobel untuk S. Spontaneum 64 kromosom F1 didapatkan hibrida, Ca 205, tumbuh baik di daerah subtropika, Berikutnya klon S. Berberi dengan chunnee, Saretha, dan kansar menghasilkan keturunan yang disilangkan dengan S. Spontaneum beberapa diantaranya berhasil di subtropika, India dan di beberapa daerah, dan juga dapat dibudidayakan pada lahan miskin, daerah marginal di daerah tropis dan secara louas dijadikan tetua pada program breeding di beberapa negara.





 EXTENT  OF  GERMPLASM  UTILIZATION  IN  BREEDING
           
Arceneaux (1967) dan price (1967) mengulas asal –usul hibrida tebu dan keduanya mencatac keterbatasan dasar genotik. Roach membuat tabel spesies selain S. Officinarum ke hibrida modern dan dilihat pada tabel 4 (hal 179 atas).

Penggunaan S. Officinarum sedikit lebih luas, tapi masih belum bisa pada keterseluasnya di World Collection. Arcenaux (1967) melaporkan ada 19 klon S. Officinarum yang berproduski secara komersial yang digunakan pada periode 1940-1964 walau 3 dari 19 klon ini menghasilkan 57 % dari 340 keturunannya.

REVIEW  OF  NOBILIZATION  WORK  SINCE  1960

Melanjuti keberhasilan hibridisasi awal di Jawa dan India, umumnya hanya sekali-sekali dilakukan genetik base,itupun lebih dari sekedar ingin tau dari pada kebutuhan kekecualian di Hawaii, data base dilakukan pada program breeding sejak tahun 1933 (Heinz, 1967). Persilangan antar hibrida asli dan hasil terbaru menaikan populasi. Hibridisasi yang dianjurkan di beberapa negara dengan kesimpulan :

  1. Pengetahuan terbatasnya genetic base untuk perbandingan kemampuan / potensi yang berbeda
  2. Beberapa kekwatiran bahwa genetik rate dilapangan sangat lambat.
  3. Mencoba menstransfer karakter spesifik yang di sukai seperti : ketahanan mosaik, dari plasnutfah dasar ke hibrida komersial. Saat ini ulasan nobilisasi dilakukan informasi didapatkan dari respon dari quesioner yang dikirim kepada Breeder-breedee plasmanutfah liar sekalian dengan informasi literatur.

BARBADOS

Pengurangan perolehan dari breeding konvensional dan dasar program seleksi dari plasmanutfah yang digunakan pada awal 1960 dengan cepat kembali menggunakan klon S. Officinarum dan S. Spontaneum, tujuan utama adalah menaikkan kadar gula, adaptasi lebih baik, dan meningkatkan hasil panen, diperluas ke ratoon ability dan kadar serat juga di tekankan.

Telah dimulai satu program, yaitu meningkatkan populasi S. Officinarum untuk nobelisasi, tujuan seleksi adalah sedikit bunga, brix tinggi, serat rendah, batang besar, untuk melengkapi karakteristik S. Spontaneum. Peningkatan melalui polycros, memakai klon yang berbunga bisa dilakukan seleksi dilakukan pada lingkungan yang spesifik. Dari 90 tetua awal, 3 siklus polikross telah dilakukan karena pencapain perolehan, terlalu banyak jumlah tetua asli maka di lestarikan secara invitro dengan pembungaan yang baik, bisa dilestarikan dengan penyimpanan biji dengan pembunggan yang baik, bisa dilestarikan dengan penyimpanan biji kemampuan adaptasi terhadap kekeringan dan wafer log pada klon F1 dan ISCI diseleksi pada batang besar, kadar gula tinggi, serat rendah dan sedikit bunga, ada di Barbados dan Guyana dan kemampuan adaptasi tidak berhubungan dengan keadaan ekologi dari tetua S. Spontaneum.

Roa (1979) emebandingkan 5 karakter dari 2 set 6 persilangan antara hibrida komersial dengan nobilisasi yang komersial di gunakan persilangan dengan tetua baru, nobilisasi terdapat a BCI dan F1 hanya 2 klon komersial yang umum pada kedua set persilangan dengan klon liar – tidak jauh lebih buruk dari pada dengan tetua komersial.

Banyak usaha yang dilakukan untuk program nobilisasi di Barbados baru-baru ini 40 % persilangan biparentanl dilakukan pada plasmanutfah liar usaha ini untuk meningkatkan pengapalan material program komersil dengan mengurangi persilangan dengan spesis baru. Hingga 1982, sekitar 600 f, silangan S. Spontaneum telah di coba, dan sekitar 900 BC sedangkan telah dilakukan

Kesimpulan berikut digambarkan sebagai berikut :

Ø   Klon baru tebu nobel yang lebih bagus pertumbuhannya dari pada tetua asal walau gulannya rendah, bisa masih seleksi.
Ø   Penotip dati S. Spontaneum pada ketinggalan asal ada banyak perbedaan performance F1 hibridanya di Indian barat.
Ø   Hibrida antara F1 dari S. Spontaneum yang berbeda mnenunjukkan beragamnya kadar gula dan hasil

Walker dalam bahasannya tentang terbatasnya program nobilisasi penekanan  kriteria seleksi F1 untuk S. Officinarum X. S. Spontaneum  berbeda dengan populasi komersial. Dibutuhkan beberapa generasi tambahan sebelumnya dijadikan komersil, kriteria utama iaia hasil kering, kemampuan ratoon , gula tinggi dan serat rendah, menjelang program ini, walker terdorong oleh kesimpulan saat ini dimana klon dari program telah mencapai final di beberapa percobaan Indian Barat masalah yang lebih berat bagi Walker adalah memutuskan klon mana yang harus di buang menarik lagi bahwa saat ini yang fi exploitasi adalah S. Robustum dan E. arundinancea dimana persilangan tersebut menunjukkan toleransi terhadap kekeringan yang cukup menjanjikan klon ini sebaik S. Robustum , S. Spontaneum dari segi serat dan biomass tinggi.

HAWAII

Hawaii melakukan suatu yang tidak biasa dan tuntutan tinggi untuk melepas klon produksi disini terdapat perbedaan ekologi yang besar pada areal yang relatif kecil, dirawat 24-36 bulan, berat roboh dan persyaratan adalah gula tinggi menjadi pertimbangan telah dicoba untuk mendapatkan ini dalam program penanaman luas plasmanutfah Saccharum complex liar, dilakukan persilangan untuk mendapat materi yang cocok bagi persyaratan yang extrim seperti ini. S.Spontaneum beradaptasi dengan datran tinggi sedang materi S. Robustum adaptasi terhadap hara miskin, keasaman tanah.

Heinz (1967) dari HSPA, aktif meliputi plasmanutfah liar. Usaha dalam skala besar dimulai dengan materi S. Robustum asal biji yang diambil dari sekitar Port Moresby pada tahun 1930, hingga 1966, klon S. Robustum yang paling banyak dari tebu liar lain dimana materinya sebagian besar diambil dari New Guinea dan pulau sekitarnya.

Pada tahap ini penggunaan S. Spontaneum lebih kecil namun perhatian terhadap kegunaan S. Spontaneum bertambah dengan pengiriman 25 ke India untuk di silangkan dengan S. Spontaneum, S. Officinarum dan spesis lain yang ditanam di Coimbatore (Heinz, 1966)

Kepentingan untuk menambah jumlah S. Spontaneum untuk tujuan nobilisasi bersamaan dengan meningkatnya penyaringan untuk S. Officinarum yang mempunyai produksi gula sejarah awal 1960, sebagai tanda pembaruan penekanan pada perawatan plasmanutfah.

D. Heinz dan T. Tew mengatakan bahwa kenaikan produksi gula dapat di capai hanya dengan kenaikan tonase tujuan sekarang adalah memindahkan vigor baik / tinggi dari spesis liar dengan cara silang balik sampai 3 generasi.

Cara yang sistematik dilakukan pada pemasuka S. Spontaneum di silangkan denganS. Officinarum untuk mendapatkan biparental atau klon Hawaii dengan ciri gula tinggi dan batang besar. Seleksi berjalan melalui 3 tahapan silang balik dalam melting pot terpisah, ½ , ¼ dan 1/8 yang berasal dari S. Spontaneum ditempatkan melting pot terpisah dan dilakukan steril jantan (emaskulasi). Setelah diemaskulasi dengan air panas, materi yang berasal dari S. Spontaneum dapat dijadikan induk betina dan digabungkan dengan area melting pot dengan Hawaian yang jantan, individual yang menarik dari spont ¼ dan Spon 1/8 dapat di masukkan ke uji lapangan. Semua keturunan spont 1/16 juga dimasukkan ke uji atau di buang melalui proses seleksi normal, walaupun bisa diaplikasikan di buang melalui proses seleksi normal, walaupun bisa diaplikasikan pada spesis liar lainnya, untuk tahun-tahun lebih terpusat  S. Spontaneum.

  Kira-kira 5 % dari tanaman FT1 seedling yang di tanam setiap tahun berasal dari plasmanutfah liar normalnya keturunannya didapatkan melalui tahapan seleksi, di uji ketahanan terhadap smut, dan di kembalikan ke pusat breeding untuk silang balik sekitar 500 tebu liar asal seedling di selangkan setiap tahun sebagian besar hanya bertahan 1 tahun.

Exploitasi materi S. Spotaneum yang ambil dari Thailand di bahas oleh Heinz prosedur hibridisasi termasuk sib-mating pada F1 untuk mendapatkan jenis-jenis genetik secaramaximum termasuk silang balik dengan type comersial umumnya pada tingkatkan yang lebih rendah, keturunan BC, adalah spont-liku, mempunyai batang besar banggol berat dan sampah tinggi, ratoon baik dan bunga sedikit. Mereka menghasilkan tonase lebih tinggi dari pada klon komersial dan hasil gula sama, tapi kualitas nira lebih rendah mereka dipertimbangkan sebagai plasmanutfah yang baik, untuk kedepan diharapkan bisa meningkatkan hasil gula, dengan tujuan pada kondisi seperti di Hawaii.

Percobaan hawaii menunjukkan sedikitnya menaikan vigor yang dimanifestasikan oleh keturunan BCI, bekerja pada materi S. Spontaneum para breeder harus mengingat bahwa klon komersil saat ini sedikitnya 1/16 dari S. Spontaneum.

Keuntungan program ini belum bisa dibuktikan dari analisa pedigree klon komersil Hawaii namun ini mungkin saja bahwa plasmanutfah liar mungkin berasal dari S. Spontaneum lebih dari apa yang bisa dibuktikan, pada melting pot umum, exploitasi klon liar masih perlu dilanjutkan tapi ditekankan pada total biomass dari pada hasil gula.




MACKNADE

Upada program riset  di Macknade,projek nobilisasi telah dimulai 1961 karena perolehan seleksi yang lambat dan kenyataannya hibrioda komersil mempunyai base genetik yang sempit, tujuan utama adalah hibridisasi antara S. Spontaneum dan S. Officinarum untuk mendapat hasil dan jumlah gula ini termasuk peningkatan pada generasi F1, BC1 dan BC2 tujuan selanjutnya untuk menguraikan proses dan prinsip umum dari pada uji nilai breeding pada sejumlah klon S. Spontaneum.

Diperoleh dari 8 famili keturunan S. Officinarum S. Spontaneum di laporkan secara detail oleh Roach (1969) dan termasuk :

-          keturuan dari ntn Cytotyre dimana frekuensi tinggi pada keturunan 80 kromoson yang tidak di harapkan pada S. Spontaneum dan ratio menjadi 2 ntn tergantung tetua jantan betina sperti factor non genetik.

-          Melosis pada F1 keturunan S. Spontaneum 80 kromoson lebih tidak teratur dari pada keturunan S. Spontaneum 64- dan 96 kromoson.

-          Dengan sample tetua yang terbatas, tidak terbukti bahwa tetua S. Officinarum X. S. Spontaneum, efectif untuk gula / unit.

Informasi dari populasi F1 asli dibatasi oleh sempitnya pemakaian tetua populasi F1 yang lebih besar dihasilkan melalui persilangan 34 klon S.Spontaneum untuk 9 tetua nobel. Pada penambahan BC1, BC1 X BC1 dan BC2 dihasilkan populasi dan quantitative dan secara Citologi telah dilaporkan oleh Roach dan symington secara rinci.

Kesimpulan utama digambarkan sebagai berikut :

-          meneliti efek penambahan kromosom pada S. Officinarum yang signifikan untuk karakter-karakter penting termasuk persen gula dan serat.

-          Transmisi kromosom diploid pada silangan Saccharum tertentu bisa sedikit berbeda gen dengan silangan tetua.  
-          Menyeleksi S. Spontaneum untuk kadar gula sebelum di nobilisasi akan efektive dan peningkatan kadar gula pada F1 hibrida sedangkan seleksi hasil tebu juga cukup efective.

-          Mempergunakan satu seleksi. Bila mungkin uji keturunan dari klon S. Officinarum lebih dianjurkan hibrida komersil sebagai tetua hobilisasi.

-          Mempergunakan hibrida komersil sebagai tetua nobilisasi untuk menghasilkan BC1 lebih baik dengan memakai tebu nobel

-          Bila Officinarum digunakan sebagai tetua nobilisasi untuk 2 generasi secara drastis menurunkan hasil tebu.

-          Populasi BC2 yang dihasilkan dengan menggunakan S. Officinarum sebagai tetua induk, maka pada setiap generasi menunjukkan pengurangan hasil tebu, dibandingkan dengan F1, BC1 atau tebu comersial.

-          Seleksi kadar gula tetua pada saat nobilisasi akan efektif dan seleksi hasil tebu kurang efektive.

-          Jumlah kromosom 39 klon Bc1, terdapat 37 type 2n+n dan hanya 2 type n + n, sesuai kesimpulan price (1963) frequensi aneuploid pada semua hibrida BC1, rata- rata 5.4 kromosom lebih sedikit dari pada yang diharapkan dari tetuanya.

-          Hibrida BC1 x BC1 diperkirakan kromosom n+n tapi kembali terjadi aneuploidy, dengan 18 hibrida yang dicoba, terdapat rata-rata 6.9 lebih sedikit kromosom dari pada yang diharapkan dari tetuanya.
-          Dari 16 hibrida BC2 (nobel X BC1) hanya 2, termasuk NG 51-2 mempunyai tipe n + n : yang lain adalah 2 n+n sekali lagi aneuploidy dengan rata- rata 2.4 lebih sedikit kromosom dari pada yang diharapkan.

-          2 silang balik S. Officinarum menghasilkan hibrida dengan kromosom banyak (2n = ca 150) dan ratio tinggi nobel dengan S. Spontaneum (ca 14 : 1) menghasilkan keturunan dengan vigor rendah ini mengkin karena memakai BC1 sebagai tetua betina, seperti dilakukan di Jepeng.

Pada pemanfaatan komersial di Macknade, terdapat sedikit pemasukan plasmantfah pada program komersil brreding dari awal project nobilisasi, perkembangan ini bertambah sejak 1973 ketika pelajaran dihentikan dan plasmanutfah baru disatukan dengan program breeding keseluruhan tapi terpisah dengan proyek riset.

Sekitar 30 % dari 70.000 seedling yang tertanam setiap tahaun dimacknade dan New South Wales dari persilangan plasmanutfah baru dan material dimasukkan program sejak 1962.
Baru-baru ini klon-klon yang berasal dari nobiliosasi telah sampai pada evaluasi terakhir di kebun tapi tidak ada yang terseleksi klon plasmanutfah lama. Susahnya jika digabung antara hasil tebu dan persen gula namun dengan menyilangkan “gula tinggi “ klon komersil bisa diperoleh klon-klon yang menjanjikan.

Karena sulitnya mendapat kab tentang gula tinggi dari plasmanutfah S. Spontaneum yang baru, maka program seleksi di macknade kembali memisahkan komersial dan proyek penelitian. Sekitar ¾ dari total seedling termasuk pada bagian komersial, tingkat nobilisasi ini adalah BC1 X komersial, dengan sedikit material nobilisasi yang termasuk bagian penelitian. Pemisahan lebih pada kadar gula.

Roach dkk (1981) dan Mullins dan Roach (1985) ada hubungan trend dalam proses karakter tebu di Queensland dengan genetik asli dari karakter ini. Pekerjaan saat ini di konsentrasikan pada seleksi terhadap 500 klon plasmanufah Macknode, dimana di tekankan pada pemeriksaan karakter – karakter yang lebih baik, secara kimia maupun fisika yang nantinya akan dijadikan sebagai material hibridasi. Sudah dibuat data dengan format yang direkomendasikan oleh IBPGR, dengan komponen data : Brix, Pol, serat ash dan 13 karakter morfologi. Sejak 3 tahun lalu, perhatian beralih ke E arundinaceous sebagai sumber vigur tinggi dan hebat terhadap gejala kerusakan akar yang saat ini melanda Wueensland.
Post a Comment