Sunday, 5 January 2014

Plasmanutfah, Perawatan dan Kegunaan pada Tanaman Tebu (Saccharum officinarum) - part I



GERMPLASM COLLETION, MAINATENANCE, AND USE

I.           PLASMANUTFAH

DIFINISI  UMUM

Divinisi plasmanutfah adalah sebagai kumpulan material suatu tanaman dipakai atau tidak, dimana dapat digunakan sebagai perbaikan atau sekedar untuk diamati, dan dapat diaplikasi pada tanaman tebu. Koleksi plasmanutfah berfungsi sebagai sumber bahan genetik

Masing-masing spesis perlu didiscripsikan tentang variabel, demikian juga ekologi dan distribusi geografis program koleksi. Konservasi sumber genetik adalah untuk meningkatkan kualitas tanaman. Mempelajari klasifikasi genetika, daerah asal, jenis luar tanaman, dan spesis luar yang dipelajari dengan modifikasi adalah tepat untuk tanaman tebu. masalah konservasi plasmanutfah berbeda pada tiap klas.

Konservasi pada kultivar lanjutan atau klon pada tebu hanya memiliki sedikit dukungan.  Biasanya pusat pemuliaan tebu menahan cultivar pengganti mereka sampai saatnya menggantikan yang komersial, lebih dari 200 hibrida buatan yang bersejarah yang telah diakui ISSCT, dikoleksi untuk hitungan dunia.

Belum dapat dipastikan daerah asal dari tanaman tebu. Setidaknya menurut Frankel and Soule (1981) klon dari Melanesia (Saccharum offcinarum) dan klon S. Barberi dan S. Sinense di tanam di India Utara dan Cina Selatan mereka bisa dibedakan berdasarkan namanya dan perbedaan adaptasi.  Belum bisa dipastikan apakah jenis-jenis genetik yang ada sehubungan dengan pengurus lingkungan klon pada grup– grup ini telah di budidayakan dalam waktu yang lama dan sekarang digunakan sebagai suber gen. S. Spontaneum dan S. Robustum bisa disamakan dengan tebu jenis liar Miscanthus spp, Erianthus (sect Ripidium spp, Sclerostachya spp dan Narenga spp, sesuai untuk klasifikasi terakhir buku ini, yang diberi nama Erianthus (Sect Ripidium) and menggantikan Narenya spp) dan kemudian total definisi dari sumber genetik yang diberikan, namun dikategorikan sebagai jenis liar yang tidak digunakan oleh manusia.

Pelestarian plasmanutfah dapat diklasifikasikan secara luas dalam 2 kategori besar, yaitu working colection dan sumber genetik namun karena untuk tanaman tebu dimana setiap kebun bila di tanam akan membutuhkan biaya tinggi, maka biasanya working colection adalah juga merupakan sumber genetik, karena ini lebih praktis.
DEFINISI  PLASMANUTFAH  DAN  KONTEKS  PEMULIAAN  TEBU

Saccharum termasuk klas rumput rumputan, Graminae bisa dilihat pada bab 2 buku ini dan anggota – anggota dari Saccharum secara detail telah dijelaskan. Kepentingan plasmanutfah untuk pemulia tebu adalah pada Saccharum Complex, oleh Mukherjee (1957) dan di revisi oleh Daniels dkk (1975) ini terdapat dalam bab 2 buku ini. Genera lain yang juga penting adalah Saccharastre, sedang genus Imperata Cyr terdapat 9 spesis yang terdistribusi di belahan bumi timur, tropical dan subtropis, beberapa spesis juga ditemukan di Amerika tropis dan subtropis Amerika Selatan. Persilangan antara Saccharum dan Imperata di temukan oleh Janaki Ammad, 1991).

E ccollopus Steud terdistribusi di India sampai China ke Jepang Miscanthidium Stap, genus kecil dengan 6 pssies terbatas di Afrika Selatan (adati dan Shiotani, 1962) tapi turunan dari persilangan dengan Saccharum telah dilaporkan (Brett, 1954).

Pada kelompok Eulaliastrae, Eulalia Kunth dan Microstegium Nees, Eulalias terdiri dari sekitar 20 spesies di iklim Asia Timur dan beberapa spesies di Afrika. Microstegium sekitar 15 spesies, terdistribusi secara luas di daerah tropis hingga daerah tropis panas seperti Asia Tenggara dan Caucacus, dan juga beberapa di Afrika Selatan (Adati dan Shiotani, 1962). Grassl (1972) memperkirakan Eulalia dan Microstegium mempunyai jenis – jenis dalam jumlah besar yang berguna bagi para pemulia tebu.

Spodiopogon Trin, mempunyai sekitar 10 spesies, terbesar luas dari India dan Burma terus ke Cina terus ke Jepang. Spodiopogon, Eccoilopus, dan Eulalia, kemudian menjadi koleksi di dunia, tapi tidak banyak digunakan.

PERBAIKAN  GENETIK DAN  DASAR  GENETIK  TANAMAN  TEBU

Ada 2 peristiwa yang dipakai sebagai petunjuk pada perkembangan genetika tebu. Pertama ditemukannya reproduksi sexual dan kemudian ditemukannya keuntungan interspesifik hibridisasi. Interspesifik hibridisasi pada  tebu telah ada sejak adanya hibrida.

Pembuahan pada bunga tebu pertama kali ditemukan oleh J.W Parris di Barbados (1954) kemudian secara independen oleh Sotwedel di Jawa 1885, dan Harison dan Bovell di Barbados.

Soltwedel, dalam penelitiannya pada tebu yang tahan terhadap penyakit sereh di Jawa dilakukan hibrida interspesific antara tebu unggulan dan S. Spontaneum pada 1887 konsep ini ditemukan olehnya, namun saat itu belum berhasil pada 1890 – 1911 Soltwedel, Warker dan Wilbrink berhasil memperluas hibrida interspesifik Jeswint dan Van Harreveld memperluas pada persilangan S. Offcinarum dan S. Spontaneum menghasilkan POJ 2878 (1921).
Keberhasilan ini mengahiri pengumpulan klon S. Officinarum sebagai peningkatan komersil. S. Spontaneum di buat sebagai sumber gen untuk tebu liar hingga 5 dekade berikutnya.

KOLEKSI

Ada 4 alasan mengapa ada koleksi plasmanutfah sebagai tanaman tebu

  1. Mendapatkan pengganti klon komersilal
  2. Menyediakan tetua untuk pemuliaan klon terbaik
  3. Mengisi kekosongan dari taxnomy
  4. Mendapatkan gen yang representative dan secara geografis.

Untuk poin no1, tidak lagi valid sejak hibrida interspesifik diperkenalkan oleh pemulia Belanda tahun 1928 dilakukan expedisi untuk material lain diluar S. Officinarum walau mereka kemudian mengoleksi tebu – tebu liar, expedisi ini gencar sehingga tahun1950.

Keuntungan untuk ditemukannya S. Officinarum, yaitu untuk menyelidiki hibrida komersial yang menjadi penghasil sukrosa.

Untuk saat ini alasan koleksi cenderung untuk poin-poin 2 dan 3 sedang logikanya tetap untuk poin-poin 1 namun no 3 juga bukannya kurang penting. Dengan pengetahuan element material yang ada untuk bisa digunakan seoptimalnya untuk mewujudkan poin 4 perlu penekanan lebih.

Dengan maraknya gangguan dan perusakan alam semakin sulit untuk mendapatkan koleksi dan informasi plasmanutfah tebu. Sebagai contoh hal ini dirasakan pada saat expedisi Spontaneum yang mungkin dari India dengan mencoba mengumpulkan dan mempelajari tentang Spontaneum dan sejenisnya.


PENYEBARAN  AWAL  TEBU

Penyebaran tebu oleh manusia tercatat dalam sejarah, bukti ini ditulis sebagai hipotesa mengenai asal dan penyebaran tebu di dunia Barat, telah mempelajari tebu sejak 327 BC sejak Alexander mengkompayekannya. Saat itu tebu disebut “ Honey Bearing Reed” kemudian tebu menyebar ke Timur Tengah, arab dan 10 abad kemudian sudah diperhitungkan di daerah Spanyol kemudian Canary Island.
Colombus membawa tebu ke Hipaniola pada pelayarannya yang kedua 1443 klon yang dibawah adalah hibrida dari S. barberi dan S. Offiicinarum yang kemudian menjadi basis industri. Industri di subtropika berawal di India yang menurut sejarahnya membudidayakan klon S. barberi X S Sinense. Sedangkan di jawa adalah S. Officinarum Imigran dari Cina yang awalnya membuat industri (1400).

Tulisan awal memcatat bahwa klon tebu yang ada seperti milik Rumpt yang ada di Herbarium Amboinense 741-53 dia mendiskripsikan 3 jenis S. Offcinarum dari Jawa, tapi tanaman tebu tidak terkenal di nusantara. Wallace hanya mengatakan bahwa tebu ada dipulau Aru pada tahun 1860 setelah sekitar 6 tahun perjalanannya di Nusantara pada awal penyebarannya, terbukti dari koleksi klon oleh pemulia Belanda selama 1880 an.

Kemudian menyebar melalui Indonesia, Pilipina, Malaysia, Indocina, Jepang dan Bengladesh. Migrasi penting lain dari New Guinea dan kepulauannya ke timur melalui Melanesia dan polynesia. New coledonia mempunyai penyebaran luas tebu nobel pada zaman French (1855) kepulaan bagian Timur dilaporkan banyak tebu nobel ditemukan pada saat pelayanan pertama demikian juga di Hawaii ditemukan tebu nobel ketika Cook mendarat di sana.

Boganville terdapat tebu yang dibawa dan Otaheite ke Mauritius pada tahun 1767, walaupun tidak disebutkan dalam tulisannya, sedangkan masuknya ke Cossigny dan jawa ke Mauritius dengan sejumlah klon yang terdistribusi pada 1789. Kehadiran tebu di Mauritius melalui Cossigny ke Mauritius guadalope dan Cayenne. Kemudian masuk kembali dengan klon – klon yang hampir sama oleh Bligh, ketika dia bawa 4 klon dari Pasifik selatan ke Jamaikapada 1793 pada 1798 untuk merespon berkurangnya produksi, de vasieur melakukan expedisi dengan tujuan mencari bibit tebu yang baru.

Sejarah lengkap tentang peredaran tebu untuk 100 tahun berikutnya di dokumentasikan oleh Deer (1949).


ORGANIZED  COLLECTION  TO  1921

Brandes (1956) menjabarkan peredaran tebu nobel dari Tanna dan Mew Coledonia ke Reunion pada periode 1853-1873  Mauritius mendapatkan koleksi pada 1870 Veillard dan Planch mendiscripsikan sekitar 40 klon dari utara New Caledonia pada 1863 60 klon berbeda dari kebun melalui New Caledonia didiskripsikan oleh Greslan 1884.

Mengelsdorf (1946) memasukkan klon baru untuk industri di Hawaii pertama dari Tahiti 1843, tidak berhasil. kedua 1854 juga dari Tahiti berhasil dan segera menggantikan yang asli Hawaii. 17 klon dari mauritius yang didistribusikan pada 1884, dan kira-kira pada tahun yang sama masuk 5 klon dari Queensland.

Stone pada 1875 membuat catatan pertama dari Ne Guinea, klon – klon ini dari lahan dekat dengan Port Moresby. Dia kembalikan 8 klon ke Brisbane.

Daniel (1967 b) merinci observasi dan koleksi tebu di Fiji penanaman besar besaran untuk di makan (kunyah) di teliti oleh Lockerby pada 1808 pada 1873. Ranken mencatat lebih dari 20 klon. Horne pada 1877 mengirim 24 klon, melalui ke pulauan ke Mauritius dimana mereka mendapat kesuksesan. horne juga mencatat penemuan Fiji merah dan hijau di Mauritius pada 1877. 1967 Daniel merinci koleksi Horne.

Oleh karena masalah penyakit soreh di jawa, pemulia Belanda menganjurkan untuk mengoleksi material lain selain S. Officinarum. Soltwedel sebelum meninggal, mengumpulkan material lain, klon tebu dari beberapa pulau di kepulauan Malaysia, tidak dirinci apa saja yang dikoleksi tapi disebutkan termasuk diantaranya tebu liar.

Pada tahun 1890, kobus pergi ke India dan menghasilkan S. barberi dan S. Sinense dan setelah dikarantina, sejumlah tebu dimasukkan ke Jawa pada 1895 salah satu Chunne disilangkan dengan tebu nobel pada 1897.

Cowley, disponsori oleh Q AS, mengoleksi dari pantai selatan New Guinea (1892) 40 klon yang dikembalikan mati karena fumigasi, 11 klon lagi didapatkan pada kunjungan 1893 tapi tidak ada yang berstatus komersial.

Pada 1895, Tryoh mengoleksi di pantai Selatan antara Port Moresby dan Milne Bay 66 klon tambah sekitar 6 klon yang lain didapatkan sebagian sebagai klon komersil unggul yang terkenal Badila.

Dari tahun 1908 sampai 1921, CSR Ltd mensponsori 3 expedisi koleksik New Guinea. Pada 1908 Dennis dan Blaxland mengoleksi di Louisslade dan D’ Entrecasteaux dan pulau Trobriand dan kebagian utara tanah dataran telah terkumpul 123 klon, tapi sebagian besar dibuang karena rentan penyakit Fiji.

Pada 1912, Wells disponsori oleh BSES, mengoleksi dari lereng selatan dari Owen  Stanley Range, di barat Laut dari Port Moresby dari 158 klon yang dikoleksi hanya 119 yang punya nama dan tidak ada yang berhasil jadi komersil.

Pada expedisi CSR yang kedua tahun 1914 Corne dan baker mengumpulkan dari sekitar Hydrographer Ranger di pertengahan timur laut dan menghasilkan 133 klon. Sampling pada region ini tidak memadai, sebagian besar koleksi pada tahun 1908 s/d 1914 hilang. Bremer’s (1925) membuktikan bahwa pemulia belanda mengumpulkan material klon dari kepulauan nusantara koleksi permulaan ini di rinci oleh Berding dan Koike (1980). 

Expedisi ke 3 CSR pada 1921, Chinnery mengoleksi dari bagian Mr. Obree dan menghasilkan 40 klon. Joubert juga pada 1921 mengoleksi 18 klon dari pulau Tabar dan pulau New Irehand. Tidak ada klon yang bisa menjadi komersial namun berguna sebagai tetua.
Post a Comment