Saturday, 4 January 2014

Budidaya Tanaman Tebu (Saccharum officinarum) - part III

PRODUKSI BIBIT TEBU

Kualitas bibit tebu yang digunakan dalam penanaman merupakan hal pokok untuk memperoleh hasil yang tinggi, tanaman tebu yang sehat dan ratoon yang bagus. Kualitas ditandai dengan bebas dari hama dan penyakit, varietasnya murni dan kemampuan germinasi. Banyak penyakit yang ditularkan melalui infeksi pada bibit (seperti: smut, RSD, mosaik, YLS, blendok dan klorotik steak) dan banyak diantaranya dapat mengakibatkan kehilangan hasil. Kemurnian varietas meyakinkan kita bahwa varietas tersebut tumbuh dan bibit tersebut tidak terkontaminasi dengan varietas yang tidak diinginkan yang membawa penyakit. Bibit tebu yang muda mempunyai pertumbuhan yang lebih vigor daripada tebu tua, dan germinasinya terjadi pada awal, cepat terjadi dan pertumbuhannya seragam. Ini semua akan tercapai dengan memuaskan jika produksi bibit tebu dikoordinasi oleh nurseri dan tidak dari areal tebu komersial.

Kebun bibit harus terisolasi dan tanaman tebu yang lain, pada tanah yang bagus dan pada area yang bebas suhu beku. Bibit tebu harus berumur 8-10 bulan untuk mendapatkan vigor yang bagus ketika ingin ditanam secara komersial di daerah panas dan 12-15 bulan pada areal yang dingin. Penanaman di nurseri harus direncanakan untuk memenuhi kebutuhan bibit pada umur tersebut. Dua stadia nurseri yang ideal. Nurseri primer atau stadia nurseri pertama harus tumbuh pada isolasi yang diikuti oleh isolasi jarak. Seringkali ada kerjasama nursery untuk menyuplai sejumlah petani tebu dan dikoordinasikan secara intensif. Introduksi varietas baru untuk suatu perusahaan (industri) atau wilayah selalu ditempatkan pada stadia awal nursery. Pada skala luas nursery sekunder atau stadia kedua akan diperbanyak dalam jumlah yang besar sebelum ditanam secara komersial. Dari kedua tipe nurseri ini, tingkat manajemen dan kontrol terhadap hama penyakit tanaman harus dilakukan secara intensif.  

Ukuran nurseri tergantung pada hasil bibit yang diinginkan, luas areal yang akan direplanting dan jumlah bibit tebu dalam ton/ha yang akan ditanam skala komersial. Varietas yang mempunyai populasi sedikit akan memerlukan areal bibit nurseri yang cukup luas. Akan lebih baik jika dilakukan over estimasi terhadap ukuran nurseri dalam hubungannya dengan bencana atau permintaan yang meningkat. Nurseri harus diisolasi dengan batas yang jelas, untuk suatu periode  (3 bulan) dan tanah harus diolah serta bebas dari voluntir. Nurseri primer bibit tebu harus diperlakukan dengan air panas juga dapat digunakan untuk mengurangi dominansi apikal, untuk mengeliminasi kebutuhan pemotongan pada saat akan ditanam. Setelah tanam, sangat penting untuk memonitor tanaman dari penyaki, mencabut tanaman yang terinfeksi terutama oleh smut atau penyakit lain yang bisa menular secara  sistemik dan bebas dari tanaman/varietas campuran.

Di Indonesia, Afrika Selatan, Swaziland mempunyai standar yang tinggi untuk memproduksi bibit tebu. Di Zwaziland nurseri kebun bibit harus diregistrasikan dengan ES (Extension Station) yang akan melakukan inspeksi dan klarifikasi. Tidak ada nurseri yang akan disertifikasi jika tidak memenuhi kriteria sebagai berikut :

Ø  Infeksi smut dan mosaic lebih rendah dari 0.1 %.
Ø  Bebas dari RSD dan YLS
Ø  Infeksi  Eldana saccharina lebih rendah dari 4 per 100 batang
Ø  Bebas dari tanaman off type dan lebih rendah dari 0.1 % campuran dari varietas lain
Ø  Bibit mungkin tidak bisa dipindahkan dari suatu wilayah ke wilayah lain tanpa sertifikat maupun surat jalan, dan
Ø  Bibit yang roboh berat dan umurnya berlebihan juga tidak dapat disertifikasi
Bibit tebu untuk penanaman secara komersial harus tebu muda dari nurseri yang pasti, bebas dari penyakit, tidak rusak akibat hama dan kerobohan serta merupakan varietas murni. Tebu R1 dapat digunakan dalam penanaman jika memenuhi kriteria ini, khususnya jika merupakan sebuah varietas baru yang hanya tersedia dalam jumlah yang kecil untuk digunakan sebagai bibit.

PENANAMAN

Waktu penanaman pada suatu tahun mempunyai pengaruh yang besar terhadap hasil yang diperoleh pada perkebunan tebu. Secara umum, penanaman pada waktu awal dapat dilakukan, dan ini mungkin memberikan hasil yang tinggi. Hal ini karena masa kritis mempunyai periode tumbuh dan ini akan mencapai hasil berkebun dan penutupan kanopi  yang lebih baik, sebelum fase pemanjangan batang yang cepat pada kondisi yang panas. Ini juga mungkin akan memperoleh curah hujan yang tinggi. Ini juga didemonstrasikan di Zimbabwe (Ellis et al., 1984) dimana kondisi untuk permulaan pemanjangan batang cepat akan diperoleh pada temperatur rata-rata 18.50C  dan pembentukan lima daun dari atas pada awal pertumbuhan. Penanaman tebu yang terlambat tidak akan diperoleh hasil yang memuaskan. Studi lain di Swaziland menunjukkan bahwa akan terjadi penurunan hasil pada tanaman tebu sekitar 1.25 ton/ha untuk setiap minggu penundaan pada penanaman dari Juli hingga bulan selanjutnya. Hasil yang sama dilaporkan dari negara lain.


Petani pada lahan yang beririgasi lebih mengontrol program penanaman. Di areal tadah hujan penanaman dapat ditunda hingga permulaan musim hujan, dan dapat dipadatkan untuk melengkapinya sebelum curah hujan tinggi dan pada kondisi yang kering penanaman berikutnya ditunda/dicegah. Setelah ini mereka dapat menerima beberapa penanaman mungkin akan gagal tumbuh karena sedikit curah hujan yang diterima. Pelaksanaan persiapan lahan secara komplit dan peralatan yang baik dan tenaga yang tersedia, penanaman akan berhasil baik, khususnya dibeberapa negara tropis,waktu permulaan musim kering dapat diperkirakan dengan akurasi yang rasional dan hujan yang lebat diprediksikan akan terjadi. Sejauh penetrasi air ke tanah sampai kedalaman 100 mm, batang tebu dapat dibenamkan dalam alur dan ditutup dengan tanah. Tanah yang ada diatas mungkin kering, tetapi yang bersentuhan dengan tebu masih lembab dan germinasi akan selalu bagus. Pemadatan tanah (compressing) disekitar bibit tebu yang ditanam untuk memperoleh tanah yang lebih bagus dan bibit tebu yang kontak akan mempertinggi germinasi.

Bibit tebu dibanyak negara selalu ditanam menggunakan tangan, ketika tenaga kerja mahal, penanaman dengan mesin diterapkan seperti yang terjadi di Australia dan USA. Pada penanaman secara manual kebutuhan bibitnya adalah 5-10 ton/ha, dengan rata-rata 7 ton/ha untuk 50 % overlap. Bibit tanaman tebu pada umumnya dipotong di nursery dan disusun dalam tumpukan. Biasanya bibit tidak diklentek untuk melindungi mata bibit dari kerusakan selama transit, dan mencegah agar bibit tidak kering sebelum ditanam. Jika mungkin dilakukan bibit yang roboh dan terinfeksi hama dibuang. Bibit tebu dipindah/diangkut ke areal penanaman dengan trailer, dan diturunkan ke areal untuk didistribusikan menggunakan tenaga manusia, atau mungkin juga ditransfer ke areal menggunakan trailers melalui/melewati alur yang ada.

Batang dipotong dan dibawa ke areal untuk ditanam, atau pemotongan dilakukan dalam alur. Bibit dipotong dengan panjang bervariasi, umumnya 3-4 mata atau dengan panjang tidak lebih dari 450 mm. Pemotongan dilakukan dengan pisau atau golok (macchele). Kadang golok (guillotines) juga digunakan ketika bibit disiapkan diareal. Pemotongan ini untuk mengurangi dominansi apikal yang akan terjadi pada batang yang panjang ketika mata pucuk batang tumbuh, hormon seperti zat kimia atau auksin memperlambat perkembangan mata yang lebih bawah untuk meningkatkan derajad dari pucuk ke pangkal batang. Sehingga jika batang ditanam akan diperoleh gap yang tinggi dalam suatu row dari tunas yang muda. Gap ini harus disulam dengan bibit extra, ini akan memberikan hasil signifikan waktu dan uang untuk material tanam. Namun jika batang dipotong dalam 3 mata sebelum dicover, semua mata dapat berkecambah untuk seluruh row sehingga pertumbuhannya seragam dan penyulaman tidak perlu dilakukan (gambar 4).

Pisau pemotong harus direndam dalam larutan disinfektan (seperti 5.15 % Lysol, 0.1 % larutan Mirrol atau Roccal) untuk setiap row yang akan ditanam untuk meminimalkan penyebaran RSD. Dibeberapa negara (seperti Zimbabwe) bibit direndam dalam fungisida sebelum ditanam untuk mencegah serangan smut. Bibit ini kemudian dicover dengan tanah sekitar 100 mm dengan memecah bongkahan tanah dengan tangan menggunakan cangkul atau dengan implement untuk mengover (discs atau moudlboard). Pada areal beririgasi, penanaman diikuti dengan irigasi secepat mungkin, khususnya jika varietas tersebut susah untuk berkecambah. Pada areal tadah hujan, tebu harus ditanam jika diperkirakan dekat dengan hujan.

Tanam tumpang sari dilakukan dibeberapa negara seperti Afrika, Asia, Fiji dan Mauritius. Dilakukan dengan menanam tebu pada inter-row tanaman pangan. Tanaman ini selalau mempunyai pertumbuhan yang cepat seperti sayuran, sugar beans, kacang kedelai, kacang tanah dan jagung yang ditanam bersamaan dengan penanaman tebu. Tanaman pangan ini dapat dipanen ± 90 hari, sebelum tebu mempunyai konopi yang utuh (tajuk telah menutup). Pada areal yang mempunyai curah hujan tinggi, tanaman pangan tak suka untuk ditempatkan pada keadaan stres air pada tebu, dan efek naungan merupakan pembatas bagi perkembangan awal tanaman. Sejumlah penelitian penting yang dilakukan memperlihatkan bahwa produksi biomasa bersih tanaman tumpang sari lebih besar daripada penanaman  tebu saja. Produksi beberapa makanan sangat menarik bagi petani yang mengerjakan hal ini, karena seringkali seluruh lahannya ditanami dengan tebu.

Implemen yang digunakan dalam musim penanaman sangat kompleks dan selalu ditarik oleh traktor beroda, secara sederhana dipotong menggunakan alat pemanen, dibawa ke alur dan dicover menggunakan discs yang lain mempunyai alat tambahan untuk membuka alur, meletakkannya dalam alur, aplikasi pupuk dan dicover. Di Australia, dimana mudah terserang penyakit nenas (Ceratocystis paradoxa) pada beberapa varietas tertentu, dilengkapi dengan nozel yang digunakan untuk menyemprotkan fungisida sebelum ditanam. Alternatifnya, mesin ini dilengkapi dengan tangki yang telah diisi dengan fungisida. Kecepatan penanaman menggunakan mesin lebih cepat dari pada penanaman secara manual sekitar 8 ton/ha. Tipe alat penanam terlihat pada Gambar 5.






MANAJEMEN RATOON

Managemen ratoon yang bagus sangat penting bagi kelanjutan tanaman produktif setelah jangka waktu yang lama. Prioritas terbesar dalam pemeliharaan ratoon adalah untuk memperbaiki kerusakan infrastruktur lahan, seperti jalan, saluran air, saluran drainase, irigasi sub-permukaan, waktu untuk memperbaiki ini relatif pendek. Karena pertumbuhan ratoon yang cepat, dan karena permintaan mesin pada waktu ini sangat banyak ketika persiapan lahan dan penanaman mempunyai prioritas yang besar.

Ada beberapa perbedaan dalam manajeman antara areal tadah hujan dan beririgasi, khususnya adanya pembakaran sampah setelah dipanen. Pada areal tadah hujan salah satunya adalah untuk mempertahankan sampah sebagai mulsa (SASEX, 1996) dalam hubungannya untuk meningkatkan hasil tebu dengan :
Ø  Penyimpanan kelembaban tanah
Ø  Mengurangi kehilangan air dari tanah melalui evaporasi, run off, erosi tanah dan surface capping
Ø  Meningkatkan penerimaan hujan oleh permukaan tanah, pertikel agregasi tanah dan secara konsekwen meningkatkan ruang pori udara.
Ø  Menekan pertumbuhan rumput secara efektif
Ø  Mengurangi operasi pembakaran yang membahayakan dan polusi lingkungan.
Ø  Mengurangi pemadatan tanah.
Ø  Mengurangi jumlah aplikasi tertentu pada tanah ketika pupuk diaplikasikan mulsa.
Kerugiannya adalah:
Ø Keluaran tebangan rendah
Ø Hanya sedikit alat panen mesin yang dapat menebang tebu hijau secara efisien dengan konsekwensi mengurangi upah dan meningkatkan keluaran bahan ekstraksi di pabrik dan ekstraksi sukrosa.
Ø Sejumlah tebu mungkin akan hilang pada saat tebang tebu hijau.
Ø Regenerasi ratoon terlambat khususnya selama cuaca dingin.
Ø Pada tanaman tebu yang terkena stres sampahnya mungkin akan menyebarkan serangga (seperti trash worms dan Eldana  saccharina) pada regenerasi ratoon.
Ø Sampah tebal yang menutupi mungkin akan menekan hasil tebu.

Konsekwensinya, walaupun argumen untuk penutupan trash sangat meyakinkan, ini hanya direkomendasikan terbatas pada areal berbatu, pada areal miring dan tanah yang mudah tererosi, untuk areal yang dekat dengan pemukiman penduduk dan dekat dengan jalan utama dan dimana lapisan inversi panas rendah untuk mencegah polusi udara.

Walaupun sulit untuk menerapkan pemulsaan menggunakan seresah/sampah tebu, namun ini tetap dilaksanakan di areal non irigasi untuk skala besar (industri) untuk mendapatkan kegunaan pemulsaan. Sebagai contoh, pemulsaan digunakan secara intensif oleh para petani kecil di Kenya karena curah hujan tahunan yang tinggi di areal tebu hingga 2000 mm. Negara lain yang menggunakan mulsa ini adalah Colombia, dimana perlindungan lingkungan menekan industri tebu untuk berkomitmen tidak membakar tebu sejak tahun 2000. Pemecahannya adalah mengembangkan alat panen yang efektif untuk tebu hijau dan varietas yang mudah mengelentek. Australia juga membuat kebijaksanaan untuk menebang tebu hijau pada tebu yang tidak diirigasi.

Banyak industri tebu membakar seresah baik sebelum ataupun setelah tebang untuk memudahkan pemeliharaan tanaman ratoon, terutama ketika diterapkan irigasi. Walaupun demikian kadang masih ada kompromi ketika seresahnya masih tersisa, mungkin dapat dikumpulkan untuk setiap row dipungut ke suatu row setiap 5-8 row. Namun demikian penerapan irigasi alur, seresah menghalangi aliran air. Konsekwensinya, seresah harus selalu dibakar untuk memecahkan masalah ini.

Ripping pada inter row dilakukan oleh beberapa negara untuk meningkatkan penyerapan dan memecah kembali lapisan yang mengalami pemadatan. Jika pemanenan menyebabkan beberapa kerusakan pada inter-row ini dapat diperbaiki dengan operasi ripping, tetapi juga bahaya bagi sistem perakaran yang sudah ada dimana tanaman bergantung selama minggu pertama setelah panen. Pembentukan kembali alur ridger setelah panen mungkin lebih bermanfaat, khususnya pada areal yang menggunakan irigasi alur dan tanah dangkal untuk membuat dasar perakaran lebih dalam pada alur diantara tunggul.

Mungkin juga dilakukan penyulaman pada gap tanaman ratoon. Jika ini dilakukan, pengoperasiannya harus dilakukan segera mungkin setalah panen, dan pada areal irigasi dilakukan bersamaan dengan irigasi pertama. Gap akan disulam jika jaraknya ± 1 m, dan jika dihubungkan gap pada sebuah row yang berdekatan. Tebu dapat menggantikan tunggul yang hilang dan penyulaman hanya dilakukan jika alasan tanaman yang hilang/rusak telah diidentifikasi dan dikoreksi. Selain itu agen yang menyebabkan terjadinya gap mungkin kerusakan suplai tebu. Bentuk efektif dari penyulaman adalah dengan set yang akan berkecambah pada suatu nurserry. Bentuk bahan tanam dikenal dengan “ speedlings”. Operasional ratoon manajemen yang lain adalah pemupukan dan kontrol rumput.



PENGENDALIAN GULMA PADA TANAMAN TEBU

Gulma dideskripsikan sebagai tanaman yang tumbuh tidak pada tempatnya, dan tidak ada tempat untuk tumbuh pada penanaman tebu yang secara efisien. Ketika gulma dibiarkan tumbuh tanpa pengendalian di suatu areal penanaman, gulma akan menekan dengan cepat dan merusak tebu. Gulma mempengaruhi tanaman dengan beberapa cara yaitu :

Ø  Persaingan dengan tebu terhadap air, nutrisi, cahaya dan ruangan dan mempunyai pengaruh terhadap germinasi
Ø  Merupakan inang pengganti terhadap hama dan penyakit.
Ø  Rumput dapat mengeluarkan zat kimia yang merusak ke dalam tanah.

Gulma sangat berbahaya ketika tanaman masih muda, dan lebih berbahaya untuk tanaman ratoon, gulma relatif tidak penting ketika tanaman telah berkonopi penuh. Efek gulma terhadap hasil tebu secara efektif didokumentasikan. Di Hawaii dan Trinidad hasil akan meningkat ketika dilakukan weeding hingga 4 kali dan di Afrika Selatan hasil menjadi 2 kali lipat jika pengendalian gulma dilakukan dengan efektif.

Spesies rumput ada 1) annuals (satu tahun), yang hidup untuk 1 tahun dan membentuk biji pada tahun tersebut, 2) biennials (dua tahunan) yang hidup untuk dua tahun dan pembentukan biji terjadi pada tahun kedua, 3) perennials (tahunan) yang hidup untuk waktu lebih dari 3 tahun dan menghasilkan biji setiap tahunnya. Gulma juga mungkin dikotil (gulma daun lebar) atau monokotil (rumputan). Gulma dapat terus berkembang pada areal penanaman karena bijinya dapat viabel untuk waktu yang lama, memiliki kemampuan yang efektif dalam menekan, mempunyai kemampuan untuk menghasilkan biji dalam jumlah yang banyak, mempunyai sedikit predator dan merupakan tanaman yang tahan.

Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

Ø  Preventif: Menjaga agar tanaman selalu bebas dari gulma dan kanal irigasi dapat digunakan untuk menekan seedling dan distribusi gulma. Persipan lahan juga bertujuan untuk mengendalikan gulma pada penanaman berikutnya.

Ø  Cara budidaya: Menggunakan cahaya dan air untuk mengendalikan gulma dengan :
a)      Pemeliharaan yang bagus, germinasi dan meminimalkan gap dalam row
b)      Mendapatkan penutupan kanopi yang lebih cepat untuk menekan gulma.
c)      Menggunakan jarak tanam sempit
d)     Mengusahakan sedikit seresah pada tanaman ratoon.
e)      Menggunakan break crops dan rotasi tanaman untuk mencegah gulma yang dominan.
f)       Managemen irigasi yang efektif, seperti mengeliminasi areal yang lembab dengan irigasi tetes atau irigasi alur.

Ø  Mekanik: Biasanya menggunakan traktor, tetapi bagal, kuda, sapi, kerbau yang menarik cultivator juga digunakan untuk areal yang sempit. Weeding juga dapat menggunakan pengoperasian alat yang lain seperti middle busting atau ridger re-building. Namun demikian, tebu dapat rusak dan biji rumput dapat  berkecambah lagi. Hanya rumput pada interr row yang dikendalikan dan metode ini kurang cocok untuk areal yang mempunyai saluran terbuka atau arealnya miring.

Ø  Weeding manual, meliputi :
a)       Mencabut rumput dengan tangan dari row khususnya spesies rumput yang besar seperti Sorghum spp, Panicum spp dan Rottboelia spp dan gulma daun lebar seperti familia Cucurbitaceae dan Commelina sp.
b)       Cangkul tangan, ini biasa dilakukan pada areal yang sempit, tetapi hanya efektif jika rumput masih kecil dan kondisi kering dan merupakan pendukung pengendalian secara kimiawi.
Ø  Bahan kimia (Herbisida). Merupakan metode yang mahal, tetapi sangat efektif ketika bahan kimia yang benar dipilih dan diaplikasikan dengan cara yang benar. Kontrol gulma menggunakan herbisida pada suatu row, dapat mengendalikan gulma dalam periode yang panjang, dapat dilakukan dengan cepat pada areal yang luas dan memerlukan sedikit tenaga kerja dan mesin yang perlukan.
Post a Comment