Saturday, 4 January 2014

Budidaya Tanaman Tebu (Saccharum officinarum) - part II



BUDIDAYA PADA TANAH MIRING

Untuk tanah miring hal yang perlu dipoerhatikan adalah mencegah hilangnya tanah dan kelembabannya. Desain layout sekarang menjadi lebih sederhana dengan foto udara dan peta kontur yang selalu tersedia. Hal utama yang diperhatikan dalam membuat jarak tanam adalah kemiringan dan tipe tanah (SASEX, 1996). Struktur yang dibutuhkan untuk desain daerah miring adalah jalan, saluran air dan terasering.
Saluran air ini sangat penting untuk mengalirkan air yang melimpah. USA–SCS (Soil Conservation Service) desain merupakan metode yang paling banyak digunakan dan dapat diharapkan untuk mengatasi  aliran puncak pada berbagai situasi. Dasar yang curam, penutupan jarak petak harus dapat mengontrol kehilangan air dan tanah. Juga tanah yang lebih mudah tererosi, penutupan petak harus dapat untuk mengurangi aliran panjang dari aliran air. Faktor manajemen memerankan bagian yang penting dalam menentukan jarak petak, yang memerlukan pengolahan minimum, penanaman dalam alur, pembakaran, penebangan dan waktu penanaman. Nomografnya sekarang tersedia dimana penempatan faktor yang perlu dipertimbangkan ketika desain layout untuk budidaya di tanah miring.

Contoh tipe layout lahan pada tanah miring:

Ø  Kemiringan punggung bukit. Ini merupakan sebuah puncak jalan ke bawah dengan aliran air alami dan atau buatan pada suatu tempatnya. Petak-petak terdapat pada sudut kanan sampai ke puncak jalan, paralel satu dengan yang lainnya dan merupakan pemberhentian air dari puncak saluran air. Jarak tanam sejajar dengan petak. Petak sangat berguna untuk memberhentikan air yang berlebihan agar bisa dimanfaatkan oleh tanaman.

Ø  Kubah (Dome) : Ini mempunyai sebuah jalan melintasi puncak bukit, dengan petak-petak memutari bukit, pemberhentian dikontruksikan dengan jalan air berumput turun kebawah sesuai dengan kemiringan.

Ø  Saddle : Jalan puncak menghubungkan saddle dari titik yang tinggi ke titik yang tinggi. Petak mengelilingi saddle dan pemberhentian ke saluran air dimulai dari tempat rendah ke saddle.

Konstruksi struktur konservasi membutuhkan perhatian penuh, petak dengan kemiringan sampai dengan 15 % dapat dibuat dengan menggunakan reversible disc atau mouldboard plough, memindahkan tanah ke atas jika memungkinkan. Pada kemiringan yang lebih tinggi, sebuah blade terracer atau bulldozer lebih cocok digunakan. Saluran air dibuat menggunakan reversible ploughs, bulldozer atau dan scoops. Saluran air pada areal sebaiknya dikontruksikan dengan graders. Segera setelah pembangunan saluran air ditanami dengan tanaman rumputan seperti Cynodon atau Stenotophrum sp dan disiram agar segerah tumbuh sebelum ada hujan.


HASIL

 Salah satu indikasi terpenting kesuksesan petani adalah produktivitas lahannya yaitu hasil tebu atau gula per hektar per tahun. Hasil per hektar yang dipanen, yang diharapkan, ini tidak berharga sebagai indikator yang tidak berhubungan dengan umur tebu pada saat dipanen, sebagai contoh, hasil tebu 170 ton/ha ketika tanaman di panen pada umur 24 bulan menandakan produktivitas yang rendah dari pada 90 ton /ha pada tanaman satu tahunan , umur pada saat panen bervariasi antara 9-14 bulan, tergantung pada musim panen dan keadaan tanaman dilapangan adalah RPC atau RC. Tergantung pada umur dalam bulan hanya memberikan gambaran keseluruhan secara kasar, jika pertumbuhan terbatas pada musim gugur dan tanaman dipanen terlambat pada umur 14 bulan pada akhir musim tidak secara langsung dapat dibandingkan dengan tanaman yang dipanen pada umur 10 bulan pada awal musim.

Umur tebu saat dipanen sangat bervariasi di seluruh dunia. Banyak tempat yang mempunyai irigasi bagus dapat dipanen pada umur 12 bulan, seperti yang dilakukan pada tempat yang mempunyai curah hujan yang tinggi seperti di Australia dan Colombia. Pada tempat yang iklimnya lebih tidak cocok lagi, tebu dipanen pada umur yang lebih tua lagi seperti tebu lahan kering di Afrika Selatan yang dipanen pada umur 15-18 bulan dan di Kenya 18-22 bulan.
 
Sejumlah cara diciptakan untuk meningkatkan ekpresi hasil dalam kaitannya dengan umur. Sweet (1973) mengemukakan metode COTCHM (Corrected Tonnes per Hectare per Month). Pada dasar analisis database yang luas hasil varietas NCo 376 di Triangle, Zimbabwe dan Simunye, Swaziland, faktor yang menghubungkan produksi untuk hasil tebu untuk panen tebu pada masing-masing bulan pada suatu musim pada umur yang berbeda, menunjukkan hasil yang diperoleh pada bulan April pada awal musim tebang. Metode ini sangat berguna untuk mengkorelasikan hasil panen pada suatu dasar, untuk mendeterminasikan kenapa mereka mempunyai penampilan dibawah dalam hubungannya dengan umur dan musim pada saat panen, dan ini merupakan aplikasi sebagian dalam menentukan kebijaksanaan pada saat replanting.

Suatu percobaan yang sangat berguna dilakukan di Swaziland untuk mendeterminasikan potensi hasil tebu didasarkan pada penggunaan mode iklim CANEGRO. Potensi hasil disesuaikan dengan daerah spesifik yang dikoreksi berdasarkan pada sejarah rata-rata hasil pada masing-masing titik tanah, untuk berbagai ratoon, musim pada saat ditebang, varietas dan metode irigasi (Mr. Glinchey dan King, 1998). Metode ini digunakan untuk menilai penampilan manager dan akhirnya hasil tebu.

Petani pada umumnya memberikan perhatian yang besar terhadap hasil tebu sebagai ukuran penampilan. Hal ini karena hasil tebu selalu lebih nyata jika dibandingkan dengan hasil sukrosa dan lebih dikontrol oleh hasil tebu. Pendapat ini sebagian benar ketika petani tidak dibayar berdasar produksi sukrosa maupun memberikan masukan lain dengan mengiling pada suatu tingkat sukrosa tebu. Ini tidak ada insentif pada keadaan untuk petani untuk menyetorkan dalam keadaan segar, sukrosa yang tinggi ke pabrik. Situasi ini terjadi pada banyak pabrik di Asia, Afrika dan Amerika Selatan. Walaupun sukrosa merupakan ukuran dan suatu yang akan dibayarkan, petani mungkin menggunakan tehnik untuk meningkatkan persentase sukrosa dan ekpresi hasil ditentukan oleh persentase sukrosa tersebut. Pengiriman tebu segar lebih singkat dari 72 jam setelah pembakaran atau pemanenan, pemotongan pucuk yang bagus, tidak basah dan matang. Tehnik ini memberikan hasil pembayaran sukrosa yang tinggi untuk produksi dan meningkatkan ekstraksi dan recoveri di pabrik. Sedikit contoh yang menerapkan cara ini adalah Australia dan Afrika bagian Selatan.

RATOON DAN RATOONING

Setelah suatu area yang ditanami dengan tanaman baru yang telah dipanen, primordia tunas dan akar dari tunggul akan berkembang ketika kondisi ekologinya memungkin dan menghasilkan tanaman keprasan atau ratoon. Ketika sebuah tunas baru tumbuh dan membentuk akar, akar tua mati dan akan mengalami pembusukan. Tunas ini akan menjadi tanaman baru dengan suplai air dan nutrisi dari sistem perakaran yang baru. Namun demikian, seiring dengan waktu tanah akan kehilangan strukturnya dan akan terjadi pemadatan akibat masuknya alat berat. Kemiringan dibentuk pada saat persiapan areal, efisiensi penurunan darinase, salinitas tanah dan masalah tanah sodik (sodicity) membuatnya menjadi lebih buruk, tunas akan rusak oleh alat panen (terutama dengan alat panen kombinasi) dan hama-penyakit menyebabkan kerusakan yang lebih buruk. Konsekwensinya, faktor yang lain harus konstant, pembentukan sistem perakaran tambahan menjadi semakin sulit untuk ratoon yang bagus, populasi tanaman menurun dan hasil tebu menurun sampai suatu titik dimana ambang batas ekonomi untuk pembajakan dan melakukan penanaman kembali.

Struktur yang bagus, tanah yang bebas saluran mungkin akan menghasilkan ratoon sebelum stadia ini, bebas tanah berstruktur buruk, tanah sodik membutuhkan replanting. Di Zwaziland tanaman ratoon lebih dari 20 kali dapat berproduksi dengan baik. Struktur, tanah lempung bebas drainase dibawah kondisi irigasi mengingat drainase yang buruk, sodik, tanah duplek direplanting setelah 4-5 kali tanaman ratoon. Tanah dengan kualitas menengah direplanting setelah 8-10 tahun. Di Australia, ini sangat jarang untuk lebih dari 4 tahun untuk dapat dipanen; umumnya hanya 2 kali untuk petani kecil di Kenya.

Kebutuhan biaya untuk PC jauh lebih tinggi jika dibandingkan tanaman RC, sebuah perbedaan akan meningkat dengan menanam varietas hibrida yang mempunyai vigor yang bagus, dan meningkatkan realisasinya, di beberapa instansi, penerapan sub-soiling dapat menyebabkan kehilangan hasil, khususnya ketika irigasi tidak diaplikasikan dengan cepat setelah pengolahan tanah yang lengkap. Biaya yang mahal untuk menanam tebu harus dihitung sebagai investasi modal.

Pada beberapa negara jumlah tanaman ratoon yang biarkan tumbuh atau proporsi areal yang dapat ditanam dengan tebu yang dipanen. Setiap tahun, harus disesuaikan dengan status dan sistem rotasi tanaman. Kasus di Queensland, Barbados, Jawa, Taiwan dan Kenya, tidak diaplikasikan secara teliti karena realisasinya keuntungan ekonominya diperoleh dari tanaman ratoon. Dalam hubungannya dengan ukuran program replanting dan pemeliharaan ratoon petani tebu harus mempertimbangkan banyak faktor, beberapa  yang penting diantaranya :

Ø  Balance antara hasil yang rendah pada tanaman ratoon tua yang murah dan hasil yang tinggi pada tanaman PC yang memerlukan biaya banyak/mahal, yang harus dicatat adalah efek aoutput pada harga bersih.

Ø  Kondisi pasaran gula, dalam hubungannya dengan kuota dari perjanjian internasional dan memperpendek  mata rantai dari produsen yang lain.

Ø  Konsekweni sosial, di beberapa negara, mempunyai sedikit atau tidak ada pekerjaan di lapangan pada waktu segera setelah dimulainya musim giling jika area pada tanaman PC muda sempit.

Ø  Tehnik yang perlu dipertimbangkan meliputi :
a)          Perbanyakan varietas baru, harapan dengan potensi hasil yang tinggi dan resistensi terhadap penyakit.
b)         Kontrol terhadap insektisida tanah yang selalu tinggi pada tanaman ratoon yang tua.
c)          Meningkatkan layout areal dan kesempatannya dalam metode irigasi.
d)         Mencegah kerusakan areal yang disebabkan oleh cara panen.
e)          Meningkatkan drainase permukaan dan sub-permukaan
f)          Kelembaban untuk mengurangi salinitas tanah, sodisitas dan mengubah PH tanah .
g)         Menurunkan populasi tunggul




Yang lebih dipilih adalah program replanting yang relatif konstant, terutama untuk kawasan yang luas dan harus dieveluasi secara teratur, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Jika 3 tahun tanaman replanting menunjukkan gejala penurunan, persiapan untuk program replanting untuk setiap kebun disusun untuk memperoleh tanggal panen yang cocok, dan drainase, ameriolasi tanah dan perencanaan irigasi. Ketika menentukan laju program replanting tahunan, harus didasarkan pada prinsip ekonomi. Berdasarkan NPV (Net Present Value) pemeliharaan ratoon merupakan metode yang lebih cocok dan sejumlah model dikembangkan menggunakan metode ini. Informasi yang dapat diperoleh dari model ini adalah :

a)      Estimasi hasil untuk tanaman tebu dan ratoonya pada masing-masing kelas tanah yang akan diperoleh dari data hasil terdahulu dan mungkin disesuaikan untuk musim panen untuk mengeliminasi bias pada beberapa petak yang memberikan hasil rendah pada akhir musim tebang.
b)      Estimasi persen sukrosa, pada kasus pertumbuhan atau ekstraksi gula pada kasus giling.
c)      Biaya bajak dan replanting dan biaya kultivasi tahunan tanaman PC dan RPC menunjukkan biaya per hektar dan pemanenan dan biaya angkut per ton.
d)     Dalam mengestimasi sukrosa atau harga gula yang diharapkan.
e)      Estimasi nilai bunga modal selalu berubah bentuk uang/modal yang dipinjam.

NPV tertinggi dari ratoon adalah ketika ratoon lebih memberikan keuntungan dari pada replanting.

PERSIAPAN LAHAN

Pekerja prinsip dalam persipan lahan adalah :
Ø  Merusak tanaman sebelumnya
Ø  Memindahkan akar dan batu untuk meningkatkan kondisi panen dan tanaman volunter yang tumbuh kembali, yang mungkin menjadi tempat transit smut dan RSD pada tanaman berikutnya
Ø  Membuka dengan bajak
Ø  Penyusun permukaan dan subpermukaan yang cocok untuk drainase dan layout lahan.
Ø  Menambahkan bahan ameliorasi tanah yaitu gypsum, kapur dan blotong.
Ø  Membuat kemiringan untuk germinasi dan pertumbuhan tebu.

Dalam hubungannya dengan beberapa aktivitas persiapan lahan yang dilakukan, tergantung pada hasil yang ingin dicapai dan biaya yang diperlukan untuk pengoperasian mesin yang beragam untuk beberapa petani. Pemilihan waktu yang tepat untuk persiapan lahan sangat penting dilakukan. Akan dipilih jika areal yang akan direplanting disiapkan untuk panen tebu pada musim kering, dimana hujan terakhir terjadi dan potensi pertumbuhan rendah, ini akan meminimalkan potensi kehilangan hasil. Waktu melakukannya harus sesingkat mungkin, sejalan dengan pengoperasian yang akan dilakukan, jika tanaman terserang RSD berat, periode yang panjang diinginkan idealnya, areal harus direplanting pada saat waktu germinasi dan fase awal peladangan harus dilengkapi dengan waktu dari potensial pertumbuhan yang cepat pada awal musim panas. Lahan yang di biarkan kosong pada penanaman musim gugur dengan menanam tanaman penutup jika diperlukan dan secara normal akan dipanen pada akhir musim tebang.

Dibeberapa instansi metode yang unik dilakukan oleh masing-masing petani; dan diskripsi yang mengikuti tujuan untuk mengilustrasikan hal tersebut yang biasanya digunakan. Setiap pengoperasian tidak mudah dilakukan dalam hubungannya memberi atau semua yang selalu dilakukan.

Ø  Perhatian terhadap lingkungan. Realisasi untuk meningkatkan adalah petani tebu harus lebih proaktif dalam memanajemen lingkungan. Ada keenganan petani untuk mengembangkan areal tebu. Ketika areal baru dikembangkan, ini harus dilakukan lebih hati-hati seperti hanya membuka lahan yang dapat memberikan keuntungan ketika dikelolah, tidak mengelola tanah yang miskin, vegatasi Riverine, areal bergunung–gunung dan tempat penting bersejarah. Petani memperoleh rekomendasi dari EIA (Environmental Impact Assessments). Ada dua buah efek (seperti mengurangi area yang dikembangkan dan usaha yang akan menghasilkan produksi yang lebih menggunakan lahan yang ada dengan pengolahan ) yang akan mempengaruhi secara nyata pada metode persiapan lahan ).

Ø  Pembangkaran tunggul. Ini dapat dilakukan menggunakan bajak yang dapat membalik atau moudlboard, yang diset dangkal agar dapat membongkar dan diklantang. Sebagai alternatif, dapat digunakan heavy disc harrow untuk mencabut tunggul. Ini akan efektif jika dilakukan pada kondisi kering namun pada kondisi basah lebih efektif menggunakan mouldboard ploughs. Disc ploughs juga dapat digunakan tetapi tidak dapat mencabut tunggul tua dan menyebabkannya dapat tumbuh kembali. Tunggul–tunggul volunteer dapat dihilangkan dengan dicabut sebelum aplikasi alat berikutnya, terutama jika varietas sebelumnya mudah terkena smut atau RSD.
Ø  Pembajakan: Tujuan pembajakan adalah untuk  mengolah tanah dipermukaan, memecah tanah akibat pemadatan dan mencampur lapisan tanah atas (top soil). Pembajakan dapat dilakukan secra konvensional, maipun menggunakan reversible plough atau heavy rome disc ploughs.

Ø  Harrow: Ini dilakukan untuk memperoleh permukaan yang bagus atau kasuran bibit dan memungkinkan pengoperasian alat lain untuk memperoleh permukaan yang lembut dengan memecah bongkahan tanah yang disebabkan oleh pengoperasian alat lain dan untuk mencampur bahan pembenah tanah. Harrow sebaiknya dilakukan dua kali, harrow terakhir untuk menghasilkan permukaan tanam. Pengoperasiannya dapat dilakukan dengan menggunakan harrow, chisels atau tines.

Ø  Ripping: Pengoperasian ini dilakukan untuk menghancurkan dasar tanah, memacah tanah yang mengalami pemadatan dan untuk menambah kedalaman daerah perakaran. Pekerjaan ini selalu dilakukan menggunakan traktor yang dioperasikan pelan, tenaga tinggi dengan mata ripper. Ini merupakan pengoperasian yang mahal tetapi sangat efektif, khususnya pada tanah lempungan berat atau tanah dupleks.

Ø  Levelling: Pada tanah yang baru dikembangkan atau areal ratoon yang tidak rata, graders atau dump-scoop levelling mungkin diperlukan untuk meratakan dan membuat terasering dan saluran air. Pada areal yang akan direplanting mungkin hanya memerlukan digundukannya. Perencanaan areal ini penting untuk meratakan gundukan tanah dan menimbun cekungan, khususnya untuk areal yang beririgasi alur, dan areal yang mempunyai kemiringan rendah. Pada pengoperasian yang memuaskan, sebuah instrumen laser dapat digunakan untuk mengontrol rencana areal.

Ø  Drainase sub-permukaan: Pengoperasian persiapan lahan merupakan waktu yang tepat untuk membuat saluran drainase subpermukaan untuk mengurangi kemelimpahan air, salinitas dan sodisitas. Ini harus direncanakan dengan didukung oleh investasi sebelum replanting dilakukan. Jarak saluran, kedalaman dan ukuran pipa dihasilkan dari investigasi ini. Pipa drainase biasanya berupa pipa PVC tetapi menggunakan mole drains mungkin juga akan efektif. Pipa drainase selalu dihubungkan dengan parit dan menutupnya dengan tanah. Mesin laser tersedia untuk mengontrol parit dan instalasi pipa drainase dan dapat digunakan dalam skala besar dan dapat dioperasikan secara memuaskan. Kotak pemeriksaan juga harus dibangun.

Ø  Pembenah tanah: Pembenah tanah paling bagus ditambahkan sebelum ripping atau harrow terakhir dalam hubungannya untuk mengabungkannya secara sempurna ke dalam tanah. Gypsum juga diaplikasikan untuk mengurangi sodisitas tanah, khususnya pada tanah sodik. Kapur juga dapat diberikan untuk menurunkan pH tanah yang tinggi. Kedua bahan tambahan ini diaplikasikan menggunakan traktor yang menarik alat penyebar dosis 100 ton/ha dan pada dosis yang rendah sebagai sumber pupuk fosfat. Blotong biasanya mudah didapatkan di Pabrik, walaupun ini sangat memakan tempat tapi mempunyai nilai yang tinggi pada tanah yang baru dibuka, terutama yang mempunyai kandungan fosfor rendah. Blotong dapat diaplikasikan menggunakan traktor maupun dump truck pada areal dengan graders. Pada areal yang mempunyai tempat penyulingan “stillage“ atau “dunder” dapat diaplikasikan untuk menambah tingkat potasium dan beberapa nitrogen. Ini diaplikasikan dengan sistem irigasi sprinkle atau alur.

Ø  Penghilangan bebatuan: Bebatuan di areal merupakan halangan yang serius bagi pengoperasian mesin dan mungkin sangat merusak jika mereka diambil pada saat panen hingga akan digiling di pabrik. Usaha yang keras untuk memindahkan bebatuan pada saat replanting dan setelah panen sangat bermanfaat. Di Mauritius, dimana merupakan daerah vulkanik, tanahnya bertebaran dengan bebatuan basalt dan harus ditumpuk menjadi gundukan tinggi diareal. Ketika lahannya direplanting, subsoiler dilakukan dengan crowler traktor, untuk memperlihatkan bebatuan. Bebatuan ini akan dipindahkan dengan buldozer atau secara manual dan disusun membentuk piramid atau dinding diantara row tebu.

Ø  Penanaman penutup tanah dan pemberaan. Tehnik ini digunakan dibanyak negara:

a)      Untuk mengistirahatkan diantara tanaman tebu karena waktu atau aplikasi mesin padxa saaat replanting.
b)      Untuk meningkatkan kondisi tanah khususnya ketersediaan bahan organik.
c)      Untuk mengontrol rumput-rumputan yang resisten atau mencegah perkembangan hama dan penyakit.

Biasanya tanaman penutup tanah berupa kacang–kacangan (legumes), seperti cowpeas, velvet beans atau sunn-hemp. Tanaman penutup tanah biasanya ditanam setelah panen tebu yang terakhir dan dibajak dan diikuti pengoperasian persiapan lahan awal lainnya. Ini akan optimal dilakukan ketika masa produksi vegetatif maksimum dimana terjadi pada awal stadia pembungaan dan dapat terdekomposisi sebelum persiapan lahan pada akhir lengkap pada beberapa instansi, tanaman komersial kapas mengantikan kacang-kacangan.

Ø  Pengolahan tanah minimum: Tehnik ini sekarang banyak dilakukan. Pembangkaran tunggul efektif dilakukan dengan aplikasi glyfosat 8-10 l/ha atau fluazifop 6 l/ha. Fluazifop harus diaplikasikan kurang dari 8 minggu sebelum replanting untuk mencegah germinasi yang buruk. Bahan kimia harus diaplikasikan untuk mengefektifkan pertumbuhan tebu lebih dari 400 mm tinggi untuk pemusnahan tunggul yang optimum. Penutupan oleh tujuk sangat penting, sebuah tanda kecil sekitar 200 mm dibuat diantara row tebu tua dimana tebu akan ditanam. Pengerjaan dilakukan menggunakan bajak piringan pada tanah ringan dan dengan bajak rotari pada tanah berat . Keuntungan pengolahan tanah minimum adalah mengurangi erosi pada tanah miring, untuk mengantikan tanaman yang tua, mati dan areal kecil yang rusak. Struktur tanah, bahan organik, kelembaban dan nutrisi yang diamankan, populasi tanaman voluntir dapat dikurangi, biaya pada umumnya rendah, dan hasil yang meningkat dapat dihasilkan pada tekstur ringan dan menengah. Kerugiannya adalah penanaman tertunda karena syarat untuk tanaman yang diharapkan akan tumbuh efektif sebelum dapat disemprot dengan herbisida selektif. Layout baru dan perataan tanah tidak bisa dilakukan dan penambahan bahan pembenah tanah sulit dilakukan.

Ø  Penanaman dalam alur: Merupakan langkah terakhir dari persiapan lahan. Alur ini dibuat dengan double mouldboard, time atau discs yang mempunyai bentuk V, pemeliharaan dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa jaraknya selalu tepat dan seragam kedalamannya, seperti sekitar 100 mm. Jarak row telah didiskusikan pada bagian depan. Kasuran bibit yang baik sangat penting untuk germinasi, adanya bongkahan akan menghasilkan bibit yang sedikit kontak dengan kelembaban tanah.
Post a Comment