Saturday, 4 January 2014

Budidaya Tanaman Tebu (Saccharum officinarum) - part IV

PENGENDALIAN MENGGUNAKAN BAHAN KIMIA

Pengendalian menggunakan bahan kimia dilakukan pertama kali pada tahun 1920 dan 1930, tetapi bahan yang digunakan sangat berbahaya seperti sodium chlorate (mudah terbakar) dan sodium arsenat (mempunyai toksisitas yang tinggi terhadap mamalia). Sebagai konsekwensinya hanya digunakan dalam jumlah yang kecil. Kemudian dapat dikembangkan hormon yang berfungsi sebagai herbisida(seperti 2.4 D dan MCPA) dan bersamaan ini merupakan permulaan dari era baru dalam pengendalian gulma. Herbisida yang digunakan pertama kali untuk mengendalikan gulma diaplikasikan di areal tebu. Penggunaan herbisida ini terbatas untuk daun lebar yang tidak berkayu, minyak dan pentachlorophenol (PCP) kadang ditambahkan untuk meningkatkan kemajuan 2,4 D dan MCPA sebagai herbisida kontak. Tehnik ini walaupun hanya membunuh gulma yang ada dan hanya tebu yang baru berkecambah yang menderita karena adanya kompetisi. Di Hawaii mereka mengembangkan  sebuah metode untuk menyemprotkan 2.4 D  segera setelah tanam, perlakuan tunggal untuk menggendalikan gulma sampai tebu berkonopi, kemudian penutupan konopi menghambat pertumbuhan gulma.

Bersamaan dengan pengembangan herbisida triazine (seperti atrazine, ametryn, metribuzin dan hexazinane) dan urea ( seperti diuron) yang relatif lebih bagus, herbisida dapat disemprotkan setelah penanaman bibit tetapi sebelum biji gulma berkecambah. Konsekwensinya banyak sekali gulma yang dapat dikendalikan terutama bebarapa rumput satu tahunan.

Aplikasi herbisida juga mungkin dilakukan setelah tebu berkecambah dan pada tanaman ratoon. Ketika seresah dijadikan mulsa ini akan menekan/menghalangi pertumbuhan gulma, walaupun demikian gulma yang tumbuh dengan pelan-pelan dan beberapa rumput yang dapat tumbuh dengan cepat dapat juga tumbuh pada tempat yang bermulsa. Dalapon merupakan herbisida efektif yang pertama untuk rumputan yang dikembangkan, tetapi herbisida ini merusak beberapa varietas tebu dan tidak boleh disemprotkan pada seluruh tanaman. Parakuat akan membunuh rumput, tetapi juga menghanguskan sebagian daun tebu jika disemprotkan pada daun hijau. Namun demikian efek ini hanya untuk sementara. Parakuat dan sebagian besar gilfosat secara luas digunakan untuk herbisida pra-tumbuh sebelum tebu berkecambah atau pada tanaman ratoon segera setelah tebang. Asulam digunakan untuk membunuh gulma rumputan secara selektif, khususnya Sorghum, Digitaria dan Rottboelia. Ini juga digunakan dalam campuran dengan actril untuk mengendalikan gulma rumputan dan daun lebar pada tanaman tebu.

Herbisida yang dirilis lebih lambat lagi adalah golongan acetanilides (seperti alachlor dan metolachlor) yang efektif digunakan sebagai herbisida pra-tumbuh untuk mengendalikan gulma rumputan. Golongan dinitroanilines (seperti trifluralin dan pendimethalin) dicampurkan dengan tanah sebelum tanam dan mengendalikan dengan efektif biji-biji herbisida (rumputan). Acetochior merupakan jenis herbisida baru yang lain yang mengendalikan secara efektif rumput tahunan dan gulma daun lebar. Fluazifop p-butil merupakan herbisida untuk rumputan yang juga membunuh tebu pada suatu dosis dan tidak diaplikasikan secara langsung pada tanaman pada dosis tertentu. Biji rumputan sulit dikendalikan, tetapi halosulfuron merupakan herbisida baru khususnya efektif untuk beberapa rumputan.

Kebersihasilan pengendalian gulma secara kimia membutuhkan pengetahuan tentang :
Ø  Produk yang tersedia
Ø  Kemampuan meningkatkan efektivitas hirbisida oleh tanaman
Ø  Kandungan lempung dan bahan organik dalam tanah
Ø  Stadia tumbuh ketika herbisida lebih efektif.

Stadianya adalah pre-emergent, post-emergent, post-emergent awal dan late emergent. Umumnya rumputan yang masih muda lebih mudah dikendalikan dengan herbisida. Sebagai pilihan tambahan herbisida akan mempengaruhi seiring waktu kontrol yang dibutuhkan dan biaya produknya adalah biaya unit per ha per minggu.

Kombinasi herbisida yang biasanya digunakan untuk mengontrol gulma rumputan dan daun lebar. Sejumlah kombinasi digunakan dalam beberapa negara tergantung keberhasilan pada kondisi lokal dan bahan kimia harus terdaftar dinegara yang menggunakannya. Herbisida tunggul digunakan untuk mengatasi masalah khusus dan untuk mengontrol rumputan yang sulit seperti biji rumputan (Cyperus esculentus dan C. rotundus), rumputan (Panicum spp, Sorghum spp, Rottboelia cochinchinensis, Paspalum spp, Cynodon spp, dan Digitaria spp) dan gulma daun lebar khususnya tanaman yang merambat.

Metode yang dapat digunakan untuk aplikasi herbisida sangat bervariasi, seperti melalui udara menggunakan traktor (tractor mounted boom sprayers), knapsack (baik yang manual maupun bermesin) atau kontrol droplet, aplikator volume rendah. Pemilihan metode ini tergantung pada banyak faktor tergantung pada spektrum gulma, stadia tumbuh tanaman, ukuran pengoperasian, akses ke lapangan dan kondisi tanah dan biaya yang diperlukan untuk pengoperasian suatu


metode. Perekat kadang ditambahkan ke herbisida untuk meningkatkan efektivitas herbisida dalam mengendalikan gulma. Penurunan permukaan semprot pada daun gulma akan membasahi dengan baik dan efeknya cepat.

Herbisida bersifat racun dan penggunaan secara aman sangat penting untuk menghindari bahaya bagi manusia, binatang, tanaman non-target dan lingkungan. Semua herbisida dicoba terlebih dahulu dengan teliti sebelum diregistrasi dan digunakan untuk banyak negara. Walaupun demikian pengunaan harus mengikuti aturan pakainya yang terdapat pada label dan memahami rekomendasi untuk apa herbisida tersebut, juga cara mengantisipasi jika terjadi keracunan.

Sebagian besar negara yang membudidayakan tebu merekomendasikan penggunaan herbisida. Sebagai contoh adalah rekomendasi yang digunakan di Afrika Selatan dipaparkan pada Tabel 1. Tabel tersebut mengilustrasikan pilihan yang tersedia bagi penanam tebu, dan dosis campuran yang dapat digunakan untuk mengendalikan gulma. Catatan nama bahan kimia diberikan pada Tabel 1 dan tidak menggunakan merk dagangnya karena kadang merk berlainan untuk negara yang berbeda.



Tabel 1. Rekomendasi herbisida di Afrika Selatan, 1997

Herbisida
Dosis (L/kg)/ha
Gulma sasaran
Week
Kontrol
Persentase lempung (%)
Catatan
Pre-emergence (jangka pendek)
Tergantung kondisi kelembaban tanah
MCPA
7
B/L
5



Pre-emergence (jangka panjang)
Tergantung kondisi kelembaban tanah
Alachlor + MCPA
(5-6) + 4
B/L, G, YWG
8
Semua

Alachlor + Atrazine
(5-6) + (2-6)
B/L, G, YWG
8
Semua

Alachlor + Ametrin
(5-6) + (2-3)
B/L, G, YWG
8
Semua

Alachlor +Diuron
(5-6) + (2-4)
B/L, G, YWG
8
Semua

Metolachlor + Ametrin
(1-1.6) + (2-3)
B/L, G, YWG
9
Semua

Acetochlor + Ametrin
(2-3) + (2-3)
B/L, G, YWG
9
Semua

Acetochlor + Diuron
(2-3) + 2.5-3)
B/L, G, YWG
9
Semua

Acetochlor + Atrazine
(2-3) + (2-6)
B/L, G, YWG
9
Semua

Lanjutan tabel 1
Imazethapyr + Acetochlor + Atrazine
(0.75-1 + (2-3) + (3-4)
B/L, G, YWG
10

Imazethapyr sangat merusak ketika kontak dengan daun tebu
Metazachlor + Atrazine
(1.5-2) + (2-3)
B/L, G, YWG
9
> 10

Metazachlor + Ametryn
(1.5-2) + (3-4)
B/L, G, YWG
9
> 10

Metazachlor + Diuron
(1.5-2) + 3
B/L, G, YWG
9
> 10

Thiazopyr
(1-4)
G
16
Semua

Thiazopyr + Acetochlor
(1-3) + 2.5
G, YWG
16
Semua

Thiazopyr + Diuron
(1-3) + 2.5
B/L, G
16
Semua

Thiazopyr + Acetochlor + Diuron
(1-3) + 1.5 + 2.5
B/L, G, YWG
16
Semua

Hexazinone
(0.6-1)
B/L, G, YWG
12
> 5 %


Pre-emergence (menyeluruh)
Tanah yang kering dalam aplikasinya sebelum tanam diikuti dengan kondisi lembab
EPTC
3-7
G, YWG, PWG
8
semua
Tanah menyeluruh

Pre- sampai post- Emergence awal (jangka panjang)
Alachlor + Atrazine + Paraquat
6 + (2-6) + 1
B/L, G, YWG
8
Semua

Alachlor + Ametryn + Paraquat
(5-6) + (3-5) + 1.5
B/L, G, YWG
8
Semua

Alachlor + Diuron + Paraquat
(5-6) + (2.5-3) + 1.5
B/L, G, YWG
9
Semua

Alachlor + Ametryn + Surfactant
(5-6) + 6 + 0.6
B/L, G, YWG
8
Semua

Metolachlor + Ametrin + MCPA
(1-1.6) + 4-5) + 3.5
B/L, G, YWG
9
Semua

Metolachlor + Ametrin + Paraquat
(1-1.6) + 2-3) + 1.5
B/L, G, YWG
9
Semua

Metolachlor + Ametrin + Surfactant
(1-1.6) + 6 + 0.6
B/L, G, YWG
9
Semua

Metolachlor + Diuron + Paraquat
(1-1.6) + (2-2.5) + 1.5
B/L, G, YWG
8
Semua

Acetochlor + Ametrin + Paraquat
(2-3) + 4 + (1-1.5)
B/L, G, YWG
9
Semua

Acetochlor + Diuron + Paraquat
(2-3) + 2.5-3) + 1.5
B/L, G, YWG
9
Semua

Acetochlor + Atrazine + Paraquat
(2-3) + (2-6) + 1-1.5)
B/L, G, YWG
9
Semua

Acetochlor + Ametrin + Surfactant
(2-3) + 6 + 0.6
B/L, G, YWG
9
Semua

Metazachlor + Ametryn + Paraquat
(1.5-2) + 3 + 1
B/L, G, YWG
9
> 10

Metazachlor + Diuron + Paraquat
(1.5-2) + 3 + 1
B/L, G, YWG
9
> 10

Metribuzin + Diuron
3 + 2
B/L, G, YWG
12
6-35

Metribuzin + Diuron + Paraquat
3 + 2 + 1
B/L, G, YWG
12
6.35

Hexazinone + Diuron
0.8 + 1.5
B/L, G, YWG
12
> 5
Hanya untuk tanaman raton
Sulcotrione + Atrazine (Proprietary mixture)
1.6 – 3.6
B/L, G, YWG
8
Semua












Lanjutan tabel 1
Chlorimuron-ethyl + Metribuzin (Proprietary)
0.8-1
B/L, G, YWG, PWG
12
> 7

Tebuthiuron + Diuron
(2-2.5) + 2.5
B/L, G, YWG
9
8-50

Tebuthiuron + Ametryn
(2-2.5) + 4
B/L, G, YWG
9
8-50


Post-emergence (jangka panjang)
Lebih efektif jika diaplikasikan  pada tanah yang lembab
Acetochlor + Diuron + Oxytril
(2-3) + (2.5-3) 1.25
B/L, G, YWG
9
Semua

Alachlor + Diuron + Oxytril
6 + 2.5 + 1.25
B/L, G, YWG
8
Semua

Alachlor + Ametryn + Oxytril
(5-6) + (3-5) + 1.25
B/L, G, YWG
8
Semua

Metribuzin + Diuron
3 + 2
B/L, G, YWG
12
6-35

Metribuzin + Diuron + Oxytril
2.9 + 2.5 + 1.25
B/L, G, YWG
12
6-35

Metribuzin + Ametryn
3 + 3
B/L, G, YWG
12
6-35

Metribuzin + Ametryn + Paraquat
3 + 3 + 1
B/L, G, YWG
12
6-35

Hexazinone + Diuron
0.8 + 1.5
B/L, G, YWG
12
> 5
Hanya untuk tanaman ratoon
Hexazinone + Diuron + Oxytril
(0.6-1.2) + (1-2) + 1.5
B/L, G, YWG
12
> 5
Hanya untuk tanaman ratoon
Hexazinone + Ametryn
(0.6-0.7) + (3-4)
B/L, G, YWG
12
> 5
Hanya untuk tanaman ratoon
Metolachlor + Metribuzin + Paraquat
(1-1.6) + 2 + 1.5
B/L, G, YWG
12
Semua

Spotaxe (proprietary ) + S
2.5 + 0.3
B/L
8
Semua

Spotaxe + Diuron + 0.3
2 + 2.5 + 0.3
B/L, G
10
Semua


Post-emergence (Jangka pendek)
Lebih dipilih untuk tanah yang lembab memuaskan pada kondisi kering
Ametryn + S
8 + 0.6
B/L, G
6
Semua

Ametryn + MCPA + S
(4-5) + 3.5 + 0.6
B/L, G, YWG
6
Semua

Ametryn + Oxytril
(4-5) + (1-1.25)
B/L, G, YWG
5
Semua

Ametrin + MCPA + Oxytril
(4-5) + 3.5 + 0.5
B/L, G, YWG
6
Semua

MCPA + S
7 + 0.6
B/L
5
Semua
Efektif mengendalikan PWG
MSMA
4 + 4 (Split applications)
G, YWG, PWG
4
Semua

Diuron + MCPA + S
2.5 + 4 + 0.6
B/L, G, YWG, PWG
5
Semua

Diuron + Oxytril
2.5 + (1-1.25)
B/L, G, YWG
5
Semua

Diuron + MCPA + Oxytril
2.5 + 3 + 0.5
B/L, G, YWG
6
Semua

Terbuthylazine + Bromoxynil (Proprietary
2
B/L
6
Semua

Halosulfuran + S
(0.05 + 0.5) +( 0.05 + 0.5) Split applications
YWG, PWG
6
Semua
Efektif mengendalikan PWG

Late post emergence (Jangka pandek)
Efektif baik pada kondisi kering maupun lembab
Paraquat + MCPC
3 + 4
B/L, G, YWG, PWG
5
Semua
Penting untuk rumputan yang resistan

Lanjutan tabel 1
MSMA
6
G, YWG, PWG
4
Semua
Penting untuk rumputan yang resistan
Ametryn + MSMA
3 + 3
B/L, G, YWG, PWG
5
Semua

Diuron + Paraquat
2 + 2.5
B/L, G, YWG, PWG
5
Semua
Penting untuk rumputan yang resistan
Diuron + MSMA
3 + 3
B/L, G, YWG, PWG
5
Semua
Penting untuk rumputan yang resistan

Perlakuan untuk masalah khusus
Clyphosate
6-8
B/L, G, YWG, PWG


Penting untuk rumputan yang resistan
Glyphosate
8-10
B/L, G, YWG, PWG


Eradikasi merupakan cara yang efektif pada tebu yang sedang tumbuh
Fluazifop-p-butyl
6
B/L, G


Eradikasi merupakan cara yang efektif pada tebu yang sedang tumbuh
Hexazinone + Diuron
0.5 + 2.5
B/L, G, YWG, PWG



Sulfosate
4
B/L, G, YWG, PWG


Penting untuk rumputan yang resistan
Sulfosate
5.3 – 6.7
B/L, G, YWG, PWG


Cepat untuk eradikasi






Kunci : B/L = Broadleaf weeds (Gulma daun lebar), G = Grasses (rumpuan), YWG = Cyperus esculentus, PWG = Cyperus rotundus, S = Surfactant (perekat)

Baca label untuk dosis rekomendasi, kompatibilitas dengan herbisida yang lain, instruksi campuran, keamanan yang diperoleh dan efek phytotoksisitas pada tanaman tebu.

Sumber: South African Sugar Association Experiment Station Herbicide Guide, 1997



Beberapa aspek manajemen herbisida yang diberikan antara lain :
Ø Merusak tebu atau fitotoksisitas
a.       Herbisida disemprotkan sebelum tebu berkecambah memberikan kerusakan yang lebih rendah daripada disemprotkan saat post-emergence
b.      Tanaman tebu tua lebih bisa bertahan dari kerusakan terkena bahan kimia jika dibandingkan dengan tebu muda.
c.       Aplikasi post-emergence harus secara langsung dan semprotan sebisa mungkin hanya mengenai sedikit daun tebu seperti penggunaan drop-arms dan flood jets pada inter-row.
d.      Pertumbuhan tebu yang menderita didapat dari problem drainase (seperti genangan), kerusakan karena nematoda atau kekurangan nutrisi, hal ini akan mengakibatkan kerusakan daripada pertumbuhan tebu yang baik.
e.       Beberapa varietas menunjukkan gejala lebih tahan daripada varietas yang lain. Ketika suatu varietas ditanam, aplikasi pre-emergence yang bagus harus dilakukan atau perawatan khusus harus dilakukan post emergence secara langsung dan tidak mengenai daun tebu.
f.        Panas, kondisi yang lembab meningkatkan kerusakan tebu.

Ø  Tanaman ratoon. Perkembangan tanaman ratoon lebih cepat daripada tanaman PC dan bebas dari kompetisi terutama dari Cyperus spp yang tumbuh tidak terlalu tinggi. Lebih murah, perlakuan jangka pendek akan memberikan hasil yang memuaskan, tetapi perawatan harus dilakukan untuk mencegah gulma yang tumbuh cepat sebelum muncul dan kompetisi dengan tanaman RC yang akan sulit untuk dikendalikan.

Ø  Pembatas areal dan jalan : Pengendalian gulma secara kimiawi juga digunakan untuk melindungi pembatas areal, saluran air, saluran irigasi, saluran utama dan jalan kontrol, tidak hanya untuk menjaganya tetap bersih tetapi juga untuk mencegahnya sebagai sumber invasi rumput ke areal tebu. Glyfosat biasanya digunakan pada situasi dimana, herbisida untuk daun lebar tidak tersedia dan penggunaan daun sempit tidak efektif.

Ø  Merusak tanaman yang berdampingan antara areal dan kebun. Herbisida digunakan dalam areal penanaman tebu (khususnya glyfosat, fluazifop p-butil, 2.4 D dan MCPA) dapat bersifat racun pada jenis tanaman yang lain dan tanaman di halaman rumah. Butiran semprot yang kecil dapat menyebar bersama aliran angin dan mungkin juga akan menguap dan terbang bersama angin untuk jarak yang cukup jauh. Konsekwensinya, semua herbisida harus digunakan dengan perhatian yang besar dalam areal dan pada jalan dan rel kereta api yang tanahnya tidak dibawah kontrol penanam tebu. Areal yang sensitif harus disemprot hanya pada hari yang tenang (hari libur) atau mengunakan produk yang tidak mudah menguap ketika dingin bertiup.
Post a Comment