Saturday, 4 January 2014

Budidaya Tanaman Tebu (Saccharum officinarum) - part I



Budidaya tanaman tebu dipengaruhi oleh banyak faktor seperti iklim, bentuk tanah, komposisi dan struktur tanah, irigasi dan drainase, varietas, hama dan penyakit, manajemen dan ketersediaan tenaga trampil, serta cara panen. Faktor-faktor ini mempengaruhi dengan cara yang berbeda–beda dan kadang juga saling berinteraksi. Sebagai konsekwensinya, cara budidaya yang berbeda juga diterapkan oleh suatu negara dalam memproduksi gula tergantung kondisi lokal masing-masing. Bagian ini bertujuan untuk memberikan panduan yang secara umum dilakukan dibanyak tempat, tetapi juga cara praktis lain yang menarik di suatu tempat.


Untuk beberapa tahun, lahan dibuka menggunakan kampak dan gergaji, dan seluruh lahan tebu di Karibia, Amerika Utara dan Selatan, Asia dan Australia juga dibuka menggunakan cara ini. Ini merupakan metode yang membosankan dan membutuhkan banyak tenaga manusia, kemudian perubahan (transformasi) secara cepat terjadi ketika buldozer dan traktor atau ripper digunakan. Pekerjaan ini dapat dilakukan dengan cepat dan membutuhkan sedikit operator yang terampil dan kru perawatan. Pohon ditebang, dirobohkan dan dibakar setelah kering. Area yang telah dibuka dapat dibentuk agar drainase dapat dilakukan atau memberikan fasilitas untuk irigasi.

Ketika persiapan lahan dilakukan dengan tangan menggunkan cangkul, garpu atau bajak hewan, tanah yang baik/diharapkan akan diperoleh jika pengerjaannya dilakukan pada kelembaban yang cukup. Sekitar tahun 1900 ketika bajak dioperasikan dengan tali dan melintasi lapangan dengan mesin uap yang banyak digunakan/diintroduksikan ke sebagian besar negara. Pada tahun 1930, bajak dengan mesin uap mengantikan teknologi tanpa olah tanah. Kedua cara ini, beberapa tahun terakhir, secara pelan digantikan oleh traktor beroda. Traktor pertama menggunakan bahan bakar petrolium atau energi paraffin dan akhirnya menggunakan mesin diesel. Implemen dihubungkan dengan alat dan kontrol dengan pautan hidrolik dan dengan cara demikian dapat mengurangi pemborosan.





SISTEM PENGOLAHAN

Walaupun banyak perbedaan cara budidaya yang dikembangkan ketika tebu untuk pertamakalinya ditanam dalam skala luas, secara umum dibawah suatu kondisi, ada 2 hal yang harus diperhatikan :
  1. Mereka harus mempertimbangkan kondisi iklim lokal  dan
  2. Mereka tergantung pada ketersediaan tenaga kerja yang murah.
Didaerah panas, memerlukan irigasi perlindungan tanah dan kelembabannya merupakan hal penting, dan untuk daerah yang rendah drainase sangat diperlukan.

KONSERVASI TANAH DAN LAYOUT LAPANGAN

Konservasi tanah bertujuan untuk melindungi tanah tempat tebu tumbuh dalam hubungannya dengan menghasilkan keuntungan besar secara konsisten selama waktu yang memungkinkan. Seluruh layout lapangan bertujuan untuk mencapai ini dan merupakan alat yang digunakan oleh perencana tergantung pada USLE (Universal Soil Lois Equation) (SASEX, 1996). Definisi kehilangan tanah dibawah suatu kondisi dirumuskan sebagai :

Kehilangan tanah (A) = faktor erosi karena hujan (R) * Faktor erodibilitas tanah (K)* Faktor topografi  (LS) * Faktor manajemen tanaman (C) * Faktor kebiasaan (P).

Ø  Kehilangan total (A) merupakan total tanah yang hilang dari berbagai kondisi dan akan berbeda nilai untuk masing-masing tipe tanah. Ini dinyatakan dalam ton/tahun. Faktor yang mempengaruhi dapat dikelola secara hati-hati ketika hal ini sangat terbatas.
Ø  Bagian yang menjelaskan faktor erosi karena hujan (R) adalah jumlah hujan yang turun pada sebagian badai yang memberikan sebuah estimasi luas dari kerusakan dan intensitasnya. Kekuatan yang interaktif terjadi pada saat hujan adalah butiran hujan dan aliran air. Mulsa yang menutupi atau sampah dan row yang pantas dan derajad drainase dapat mengurangi efek kehilangan tanah.
Ø  Faktor erodibilitas tanah (K) tergantung pada komposisi penyusun tanah (persentase pasir, lempung, lumpur). Struktur tanah, kandungan bahan organik dan permeabilitas tanah. Struktur yang miskin, permeabel, tanah berpasir dengan kandungan bahan organik lebih mudah tererosi daripada struktur tanah lempung dengan kandungan bahan organik sedang sampai tinggi.
Ø  Faktor topografi (LS) merupakan sebuah fungsi kemiringan dan panjang slope, peningkatan  derajat kemiringan mempengaruhi ketesediaan air yang dapat menyebabkan tersebar dan pergerakan partikel tanah.
Ø  Faktor manajemen tanaman (C) mempunyai nilai yang berbeda tergantung cara yang dilakukan seperti sampah, pembakaran tebu, penanaman dalam jalur dan pengolahan tanah minimum, juga waktu pelaksanaan seperti penanaman yang berhubungan dengan curah hujan yang tinggi. Penerapan cara ini juga penting dalam konservasi kelembaban tanah selama fase pertumbuhan tebu.
Ø  Faktor kebiasaan (P) dengan dikurangi dengan melakukan konservasi seperti penentuan row sesuai kontur tanah dan menggunakan terasering.

Faktor manajemen tanaman dan faktor kebiasaan merupakan faktor yang sangat ditentukan oleh petani tetapi konservasi kerja secara mekanik sangat penting untuk mengontrol kelebihan air pada tanah sebelum hal itu menyebabkan kerusakan yang serius dan mendukung untuk melindungi velositas tanah pada suatu lahan yang dapat dilakukan tanpa membahayakan pekerjaan meliputi :
Ø Aliran air yang deras dari tempat tinggi dialihkan aliran airnya sebelum masuk ke lahan.
Ø Tanah miring dapat ditanami agar dapat mengumpulkan air yang dapat menyebabkan run-off (aliran permukaan) dan mengalihkan menjadi aliran air yang stabil.
Ø Saluran air mungkin telah ada secara alami atau dibuat dan menggunakan penutup vegetatif
Waktu ketika erosi menjadi sangat berbahaya adalah selama pembajakan atau lahan belum ditanami. Ini dapat diminimalkan atau dibatasi untuk suatu periode ketika intensitas hujan yang tinggi tidak terjadi.

Drainase tanah sama pentingnya dengan konservasi tanah dalam hubungannya menjaga produktivitas karena hal ini berhubungan dengan irigasi pada tebu, subjek ini akan dipaparkan pada bagian yang lain.

Pengaruh konservasi tanah dan kelembaban pada cara budidaya yang berbeda akan dibahas pada bagian lain.



PENANAMAN DALAM BARIS

Cara budidaya yang secara umum dilakukan adalah penanaman dalam baris, ketika tebu ditanam dalam baris baik itu didasar maupun digundulkannya.

Tanaman yanag ditanam di dasar secara normal mempunyai lubang yang tidak terlalu dalam atau gundukan yang tinggi. Metode ini secara luas digunakan untuk penanaman menggunakan mesin  dan juga cocok untuk panen dengan mesin. Pada alur yang dangkal atau inter-row mudah terkena erosi permukaan, dan kita tidak bisa menghindarinya/menjaganya. Secara normal, baris disesuaikan dengan kontur tanah. Dilapangan, bentuk dasarnya adalah baris pendek diminimalkan, tetapi kesempatan pada row langsung akan diperoleh ketika bentuk lahan diubah dilapangan. Baris dimana tanaman tebu dtanam pada tempat yang datar menghasilkan vegetasi yang menjadi penghambat kehilangan tanah dan aliran permukaan (run-off), tetapi kehilangan yang nyata dapat terjadi diantara  tunggul terutama pada tanaman ratoon yang tua.

Tebu ditanam pada kasuran dengan beberapa alasan:
Ø Untuk mencegah erosi permukaan dan aliran untuk melindungi struktur tanah
Ø Untuk membuat kedalaman yang besar dari tanah, cocok untuk tanah dingin dan tanah yang miskin drainase.
Ø Untuk memfasilitasi irigasi, khususnya irigasi alur dan lebih khusus lagi untuk irigasi tetes.
Ø Hama (seperti larva yang tinggal di tanah) lebih memilih kondisi lembab seperti yang diperoleh pada alur.
Ø Untuk mempermudah pengoperasian mesin (machinnery) agar roda traktor melintasi alur dan dapat mengurangi jumlah tunggul yang rusak, membuat jarak roda agar sesuai dengan lebar inter-row.
Ø Untuk memudahkan operasi grab loader dan chopper harvesting pada saat panen.

Menanam tebu dalam alur tidak selalu dilakukan, terutama ketika irigasi alur diterapkan, germinasi yang rendah terjadi karena tidak cukupnya kelembaban tanah yang berhubungan dengan tebu yang ditanam pada kasus ini, “ alur tengah” akan dibelah setelah germinasi dan menempatkan tanah disekitar dan diatas tanaman yang rusak pada alur, ini memungkinkan untuk mendapatkan alur yang diinginkan. Ini dapat dirusak dan punggung tempat tumbuh tanaman dan ini dilakukan dengan hati-hati dan sebelum tanaman tumbuh tinggi.

Lebar alur bervariasi, selalu dilakukan antara 0,15–0,25 pada tanaman ratoon dan antara 0,5–0,8 m lebarnya. Setelah ratooning, alur mungkin akan dikonstruksi ulang untuk memenuhi beberapa kriteria yang diinginkan.

Panjang row tanaman bervariasi dan dapat dideterminasikan dengan memperoleh konservasi yang bagus. Row pada umumnya maksimal 200 m pada tanah ringan sampai 400 m pada tanah berat. Row yang sangat panjang dapat diperoleh pada tanah yang cocok dengan kondisi kemiringan dan row antara 500-1000 m digunakan pada areal yang sangat landai, tanah vertisol di Ord River, Australia bagian barat dan Nakambala, Zambia. Row yang panjang memudahkan aplikasi mesin, tetapi mengakibatkan konservasi tanah  yang terbatas. Ada yang tidak memuaskan ketika pengoperasian membutuhkan tenaga kerja intensif karena manajemen tenaga kerja sulit dilakukan.

Gradien row ditentukan oleh klasifikasi tanah, bentuk tanah, keseragaman kemiringan, metode irigasi dan panjang row.Tipe gradian jarang yang lebih tinggi dari 2-2.5 %, kecuali pada row yang pendek, dimana diperoleh tanah yang datar.

Jarak row merupakan suatu hal yang secara pokok mempengaruhi hasil pada jarak yang berbeda dan faktor manajemen. Banyak percobaan menunjukkan bahwa ketika stress kelembaban tejadi, hasil tebu meningkat sejalan dengan penurunan row, dengan batasan yang mengikutinya. Di Afrika Selatan (SASEX, 1996) sebagai contoh, terjadi peningkatan 3 % pada hasil tanaman setiap penurunan jarak row 300 mm dari 2 m–0,6 m. Dalam prakteknya, jarak row 1 m menutup areal terhadap berbagai alat akan diperoleh tetapi jarak row antara 1,5-1,8 m dapat dilakukan dengan operasi mesin. Di daerah yang dingin, kondisi pertumbuhan melambat pada areal miring ketika kanopi menutup dengan cepat pada tanah yang mudah tererosi, dan ketika varietas yang ditanam mempunyai daun yang tegak. Jarak yang menutup lebih cocok, ketika kondisi pertumbuhan lebih bagus, tanah dangkal atau hujan rendah, jarak yang tidak lebar akan lebih dipilih pada kondisi pertumbuhan yang bagus, ketika konopi daun terbentuk dengan cepat, irigasi dapat dilakukan dan operasi mesin tinggi row yang lebih lebar akan lebih cocok.

Pada jarak row yang lebih lebar, tebu ditanam pada double atau triple row. Ini seperti pada pemasangan tiang listrik atau penanaman nanas. Bentuk row itu akan menguntungkan pemanenan. Jika lebar inter-row antara 1,8 m.

Pemecahan ini dapat mengurangi kerusakan didalam row akibat mesin panen dan mengurangi pemadatan tanah yang dekat dangan row. Penutup konopi yang terjadi secara lambat, merupakan salah satu kerugian dari penggunaan jarak yang lebar yaitu efektivitas dalam pengendalian gulma.

Peningkatan hasil dari jarak row yang tertutup relatif kecil dan membutuhkan tambahan biaya, seperti membutuhkan bibit yang lebih banyak dan mebutuhkan waktu tanam yang lebih besar juga dan banyak row yang perlu disiangi dan disemprot.


DASAR BUMBUNGAN

Kecukupan saluran air pada tanah yang datar di daerah yang mempunyai curah hujan tinggi di banyak negara dilakukan dengan menanam tebu pada dasar bumbungan dengan saluran yang dalam. Dasar ini mempunyai lebar yang bervariasi. Lebar sekitar 6-7 m, lebar saluran 0,6 m dan dalamnya 0,45 m. Bumbungan ini dipelihara dengan mouldboard ploughs (bajak singkal) atau discs traveling sepanjang dasar dan membentuk alur dengan mengirisnya kearah pusat. Jika bumbungan menjadi sangat berat maka mouldboard atau disc diganti dengan chisel tines pada pengoperasian yang pertama. Ukuran operasi kultivasi pada tanah lempungan yang berat.

Ø    Membajak dan membongkar tunggul serta memecah tanah.
Ø    Harrow dan re-harrow, jika mungkin, setelah interval 10 hari untuk hasil yang bagus.
Ø    Membuat parit mengunakan implemen yang cocok untuk membuka kembali saluran.
Ø    Membuat alur tanaman sepanjang 1,5 m.

Seluruh kultivasi ini dilakukan pada musim kering. Dimana irigasi permukaan cukup, tebu ditanam pada alur, sepanjang bumbungan, ditutup dengan tanah dengan memecah ongokan tanah dan bentuk bumbungan pada dasar diperbaiki lagi. Pada dasar bumbungan dapat dengan mudah dilakukan irigasi (sprinkler irrigation) dan sebuah permukaan yang drainasenya baik merupakan tempat tumbuh yang baik pula bagi tebu. Pada daerah non-irigasi akan dilakukan dengan menunggu datangnya hujan pada awal musim sebelum dapat ditanami.

Tipe dasar bumbungan, sebelum dan sesudah tanam terlihat pada Gambar 1.

Dalam teori, chisel (pemahat) membuat tanda kultivasi tanah sedalam 0,45 pada lekukan yang sama pada permukaan bumbungan. Kelebihan hujan atau irigasi menapis sepanjang lapisan dan karena bumbungan, masukan ke saluran terjadi pada semua sisi. Dalam prakteknya dapat terjadi erosi tanah, terutama pada sisi dasar dan frekuensi pembersihan saluran lebih mudah. Karena hal ini juga menyebabkan row disisi luar tanaman tebu adalah 0,6 m bagian dari pusat, seluruh pertumbuhan tebu terbatas. Walaupun demikian, dasar bumbungan dapat dengan mudah dalam membuat drainase pada tanah lempung berat dan digunakan di Afrika Timur dan Selatan yang mempunyai kondisi seperti ini.


SISTEM DI GUYANA

Di Guyana, tebu tumbuh pada daerah sempit sepanjang pantai. Area yang diolah sepanjang 13 km dari Samudera Atlantik dan sebagian besar dibawah permukaan laut. Ini artinya curah hujan tahunannya adalah 2340 mm, dan ini juga mempunyai musim kering yang jelas. Tanah lempung berat, tanah salin (kandungan garam tinggi) ditemukan dekat dengan pantai tetapi mereka menurun pada tanah kegaraman. Lebih jauh dari pantai dan sungai tanah lempung berat digantikan oleh tanah gambut yang masam. Sulit untuk mengolah lahan yang mempunyai jalan yang sangat banyak, seperti rawa-rawa, dimana air dari berbagai tempat dikumpulkan agar bisa digunakan sebagai sarana transportasi dan irigasi di daerah tersebut selama musim kering.

Hanya dengan sistem yang kompleks mengenai saluran, dykes dan kanal budidaya tebu dapat dilakukan. Insinyur kolonial Belanda mengusahakan daerah rendah untuk dapat ditanam. Secara luas, membangun tembok laut untuk melindungi pantai dari pengenangan, dan tumpukan ini akan melindungi areal. Drainase air dilakukan dengan memompa air ke sungai atau ke laut ketika mungkin dilakukan dengan membuka pintu air ditempat yang rendah. Saluran darinase dibuat di sepanjang areal dan menerima air dari saluran dalam areal. Dipangkal yang berlawanan, dan pada tempat yang lebih tinggi, sebagai kanal untuk transportasi dan irigasi (jalan tengah), cabang (kanal yang menyilang) dibuat mengelilingi lahan. Lebar 11,3 m dibuat dasar bendungan disekitar masing-masing areal, ini akan mencegah air pada level yang tinggi pada kanal mengalir kelahan, kecuali jika dibutuhkan dan air irigasi dari areal ke kanal drainase. Bumbungan pada areal, dasar bendungannya mempunyai lebar yang bervariasi (selalau 7,3 m dari pusat ke pusat) yang diikutioleh pipa/saluran. Dasarnya mengalir dari jalan tengah yang lain ke garis samping (layout Inggris) atau dari cabang kanal ke cabang kanal yang lain (layout Belanda). Tebu ditanam pada row sepanjang 1,8 m dengan melintasi dasar. Tipe layout Inggris dan Belanda digambarkan pada Gambar 2.

Urutan pengolahan lahan ketika akan direplanting adalah :
Ø  Pembajakan untuk membongkar tunggul dan membongkar gulungan
Ø  Harrow untuk meningkatkan kemiringan tanah.
Ø  Membuka kembali saluran dengan mesin
Ø  Memindahkan tanah dari saluran ke pusat kasuran untuk melengkapi gulu dan.
Ø  Harrow dengan gigi untuk membuka bongkahan tanah dan memperhalus permukaan kasuran.

Lahan mungkin akan di bawah berada permukaan hingga kedalaman 0,30-0,45 untuk periode yang bervariasi dari 3-6 bulan (diikuti penggenangan) setelah air dikeluarkan dan tebu ditanam. Lahan kosong yang digenangi dapat memperbaiki tekstur tanah yang akan menjadi lebih friabel, mengurangi gulma lahan kering dan meningkatkan kandungan nitrogen tanah. Hal ini dapat disimpulkan bahwa sebuah garis dari ton besi, dibangun dengan mereduksi kondisi dengan pengenangan areal yang belum ditanami yang akan terjadi oksidasi menjadi ferric bebas ketika air bergerak, melindungi remah-remah tanah ini semua sangat mungkin untuk meningkatkan pada tanah miring. Dengan pengenangan pada lahan kosong, dapat meningkatkan hasil sampai dengan 40 % lebih selama siklus tanaman 3-4 tahun, peningkatan ini merupakan kompensasi dari kehilangan hasil selama 1 tahun dalam satu siklus.




FLORIDA DAN MOZAMBIQUE

Kesulitan yang sama seperti yang terjadi di Guyana juga ditemui pada tempat lain seperti Florida dan Mozambique. Di Florida, tebu tumbuh pada tanah rawa yang dikeringkan dari rawa Everglade, dengan menginstalasi sistem drainase yang ekstensif dan manajemen yang bagus. Tanah “Muck” dapat mengandung bahan organik yang tinggi, pada beberapa tempat lebih dari 60 % dan kesuburan yang diperoleh dapat berguna bagi produksi tanaman yang tidak pasti tinggi rendah (jika tidak unik).
Kesulitan dalam mengkombinasikan perlindungan terhadap banjir dengan membuat sistem drainase juga terjadi di Mozambique, dimana tebu tumbuh pada tanah vertisol pada delta sungai Zambesi dan Komati dilindungi dengan bangunan tembok tinggi mengelilingi areal penanaman tebu. Masalah drainase pada tanah yang sangat datar telah dipecahkan, pada seluruh tempat seluruh air drainase dipompa keluar dari tanah yang tertutup dan di buang ke sungai.

LOUISIANA BANKS ( TEPI SUNGAI LOUISIANA)

Di Louisiana, pertumbuhan tebu secara bagus terjadi pada tempat rendah yang datar, dengan persediaan air yang tinggi dibawah curah hujan yang tinggi, dimana dapat diterima dengan membangun sistem bumbungan dan alur pada kultivasi dilahan yang dibentuk pada bentuk penggung kura-kura. Bumbungan tempat tebu tumbuh tingginya  0.45 m, dan interrow 1.8 m. Masing-masing alur mempunyai saluran aliran air dari alur ke bagian yang lebih rendah dari pada salurannya sedalam 20 m atau lebih, dimana dengan aliran ke kanan dari pada saluran ini akan mengalir kesisi lain lahan ke tempat yang lebih rendah dimana dapat mengalir secara paralel dengan saluran yang ditambahkan pada bentuk punggung kura-kura. Saluran di area akan mengalir ke area kanal drainase.
Manfaat terbesar dari sistem tepi sungai Louisiana (disebut punggung bukit dan alur) ini dapat mengakibatkan semua stadia produksi gula dapat dilakukan secara mekanisasi. Traktor dapat melompati row dan dikemudikan dengan berbagai implemen dapat dibawa untuk seluruh pengoperasian di lapangan. Sebuah gambaran unik dari sistem tepi sungai Louisiana adalah penggunaan traktor yang maksimal. Mereka dapat menggunakan mata bajak untuk memperlihatkan tebu agar dapat meningkatkan tingkat erosi sungai pada level yang diinginkan dan dalam waktu yang sama dapat mengendalikan gulma. Cara budidaya ini maupun yang lain menunjukkan bahwa saluran quarter harus dibuka kembali dengan cepat.
Post a Comment