Wednesday, 1 January 2014

Antara Aku dan Pengamen

Sebenarnya ini bukanlah cerita asli ataupun kisah nyata pribadi sang ayah. Cerita ini di dapat ketika ada kegiatan pengajian di mesjid sebelah. Tetapi, supaya lebih mudah dimengerti, maka di buat seolah-oleh sang ayahlah pelakunya. Berikut ceritanya:

Pada suatu hari, sang ayah sedang bersantai-santai di teras rumah sambil membaca koran terbitan berminggu-minggu yang lalu. Tentu saja ditemani dengan secangkir kopi. Tiba-tiba sang ayah dikagetkan oleh seseorang, yang ternyata adalah pengamen.
Pengamen (P) : Permisi pak, saya mau minta ijin ngamen. Belum lagi sang ayah menjawab, si pengamen sudah membuka suara dengan lagu dangdut ciptaan H. Rhoma Irama.
Di dengar, di perhatikan, dan di simak, ternyata bagus juga suara pengamen ini. Tak terasa satu judul lagu sudah habis.
Sang ayah (SA) : Mas, nyanyi satu judul lagi mas.
(P) : Iya pak. Minta lagu apa?
(SA) : Apa aja jadi.
Tanpa komando tanpa aba-aba, bernyanyilah sang pengamen ini dengan merdu. Semenit, dua menit, habis pula satu judul lagu.
(SA) : Mas, nyanyi satu judul lagi mas. Nanggung nih.
(P) : Oke pak.
Lagi-lagi, tanpa ancang-ancang, si pengamen mulai ngebut dengan nyanyian mautnya. Tak tanggung-tanggung, lagu Darah Muda di nyanyikan. Tak terasa pula, habis satu lagu. Totalnya tiga lagu. Luar Biasa.
Sang ayah pun mulai berpikir, dari tadi meminta si pengamen bernyanyi, sampai tiga lagu, kasian dan iba pun muncul. Tak segan-segan sang ayah mengeluarkan uang Rp 10.000.
(SA) : Ni mas, bonus sore hari. Besok-besok datang lagi.
(P) : Terima kasih banyak pak.

Ilustrasi pengamen

Hari berikutnya, di jam yang sama dan tempat yang sama, datang lagi seorang pengamen. Tetapi bukan pengamen yang kemarin. Pikiran sang ayah, tak apalah, toh paling suaranya tak jauh beda.
"Jrrrreeeeeeengggg.... Aku bukan pengemis cinttaaaaaaaa...!!!!!"
Kaget luar biasa dibuatnya sang ayah. Sudah suara sumbang, nyanyi kencang-kencang, tak beraturan pula. Sakit telinga sang ayah dibuatnya. Tanpa nunggu sampai pekak, langsung di rogohnya uang Rp 2.000 dari kantongnya. Disuruhnya si pengamen pergi sambil memberikan uang tersebut. Lebih baik hilang uang Rp 2.000 daripada harus menahan sakit di telinga.
Ilustrasi pengamen

Cerita di atas dapat dijadikan analogi ketika seorang hamba berdo'a kepada Tuhan YME. Ketika seseorang berdo'a meminta sesuatu, kemudian dengan cepat permohonan itu terkabul, bukan berarti Tuhan YME menyukai dan menyayangi orang tersebut. Begitu juga apabila seorang hamba meminta sesuatu, kemudian tidak terkabul, belum tentu Tuhan tidak mau mengabulkan permohonan hamba-Nya. Bisa jadi itu karena Tuhan YME senang, bahagia dan ingin mendengar lagi do'a yang di panjatkan kepada-Nya.

Kembali kepada kita, sudahkah kita mendekatkan diri kepada Sang Pencipta?
Post a Comment