Sunday, 30 October 2011

Gambaran Sekilas Industri Minyak Kelapa Sawit

PENDAHULUAN
I.1. SEJARAH KELAPA SAWIT
Pohon Kelapa Sawit terdiri daripada dua spesies Arecaceae atau famili palma yang
digunakan untuk pertanian komersil dalam pengeluaran minyak kelapa sawit. Pohon
Kelapa Sawit Afrika, Elaeis guineensis, berasal dari Afrika barat di antara Angola dan
Gambia, manakala Pohon Kelapa Sawit Amerika, Elaeis oleifera, berasal dari Amerika
Tengah dan Amerika Selatan.
Kelapa sawit termasuk tumbuhan pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Bunga
dan buahnya berupa tandan, serta bercabang banyak. Buahnya kecil dan apabila masak,
berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya
mengandungi minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun,
dan lilin. Hampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak, khususnya sebagai salah
satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar
dan arang.
Urutan dari turunan Kelapa Sawit:
Kingdom: Tumbuhan
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Arecales
Famili: Arecaceae
Jenis: Elaeis
Spesies: E. guineensis
I.2. CIRI‐CIRI FISIOLOGI KELAPA SAWIT
A. Daun
daunnya merupakan daun majemuk. Daun berwarna hijau tua dan pelapah
berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya sangat mirip dengan tanaman salak,
hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam.
B. Batang
Batang tanaman diselimuti bekas pelapah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12
tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga menjadi mirip dengan
tanaman kelapa.

C. Akar
Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga
terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk
mendapatkan tambahan aerasi.
D. Bunga
Bunga jantan dan betina terpisah dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga
sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan
panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
E. Buah
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung
bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap
pelapah.
Buah terdiri dari tiga lapisan:
a) Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
b) Mesoskarp, serabut buah
c) Endoskarp, cangkang pelindung inti
Inti sawit merupakan endosperm dan embrio dengan kandungan minyak inti
berkualitas tinggi.
I.3. PERKEMBANGBIAKAN KELAPA SAWIT
Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi
tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar
(radikula).
Kelapa sawit memiliki banyak jenis, berdasarkan ketebalan cangkangnya kelapa sawit
dibagi menjadi Dura, Pisifera, dan Tenera. Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki
cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun
biasanya tandan buahnya besar‐besar dan kandungan minyak pertandannya berkisar
18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga
sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan
Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing‐masing
induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa
tenera unggul persentase daging perbuahnya dapat mencapai 90% dan kandungan
minyak pertandannya dapat mencapai 28%.

I.4. HASIL KELAPA SAWIT
Bagian yang paling utama untuk diolah dari kelapa sawit adalah buahnya. Bagian daging
buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku
minyak goreng. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah
kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi
bahan baku margarin.
Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika.
Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90°C.
Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang
dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan
dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga
sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur.
Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak
dan difermentasikan menjadi kompos.
I.5. PERKEMBANGAN INDUSTRI KELAPA SAWIT
Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit merupakan salah
satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non migas
bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan
minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu
pengembangan areal perkebunan kelapa sawit.
Berkembangnya sub‐sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak lepas dari
adanya kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif, terutama kemudahan
dalam hal perijinan dan bantuan subsidi investasi untuk pembangunan perkebunan
rakyat dengan pola PIR‐Bun dan dalam pembukaan wilayah baru untuk areal
perkebunan besar swasta.


INDUSTRI MINYAK KELAPA SAWIT
II.1. MINYAK KELAPA SAWIT
Produk minyak kelapa sawit sebagai bahan makanan mempunyai dua aspek kualitas.
Aspek pertama berhubungan dengan kadar dan kualitas asam lemak, kelembaban dan
kadar kotoran. Aspek kedua berhubungan dengan rasa, aroma dan kejernihan serta
kemurnian produk. Kelapa sawit bermutu prima (SQ, Special Quality) mengandung asam
lemak (FFA, Free Fatty Acid) tidak lebih dari 2 % pada saat pengapalan. Kualitas standar
minyak kelapa sawit mengandung tidak lebih dari 5 % FFA. Setelah pengolahan, kelapa
sawit bermutu akan menghasilkan rendemen minyak 22,1 % ‐ 22,2 % (tertinggi) dan
kadar asam lemak bebas 1,7 % ‐ 2,1 % (terendah).
II.2. STANDAR MUTU MNYAK KELAPA SAWIT
mutu minyak kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua arti, pertama, benar‐benar
murni dan tidak bercampur dengan minyak nabati lain. Mutu minyak kelapa sawit
tersebut dapat ditentukan dengan menilai sifat‐sifat fisiknya, yaitu dengan mengukur
titik lebur angka penyabunan dan bilangan yodium. Kedua, pengertian mutu sawit
berdasarkan ukuran. Dalam hal ini syarat mutu diukur berdasarkan spesifikasi standar
mutu internasional yang meliputi kadar ALB, air, kotoran, logam besi, logam tembaga,
peroksida, dan ukuran pemucatan. Kebutuhan mutu minyak kelapa sawit yang
digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan non pangan masing‐masing
berbeda. Oleh karena itu keaslian, kemurnian, kesegaran, maupun aspek higienisnya
harus lebih Diperhatikan. Rendahnya mutu minyak kelapa sawit sangat ditentukan oleh
banyak faktor. Faktor‐faktor tersebut dapat langsung dari sifat induk pohonnya,
penanganan pascapanen, atau kesalahan selama pemrosesan dan pengangkutan.
Dari beberapa faktor yang berkaitan dengan standar mutu minyak sawit tersebut,
didapat hasil dari pengolahan kelapa sawit, seperti di bawah ini :
a) Crude Palm Oil
b) Crude Palm Stearin
c) RBD Palm Oil
d) RBD Olein
e) RBD Stearin
f) Palm Kernel Oil
7
g) Palm Kernel Fatty Acid
h) Palm Kernel
i) Palm Kernel Expeller (PKE)
j) Palm Cooking Oil
k) Refined Palm Oil (RPO)
l) Refined Bleached Deodorised Olein (ROL)
m) Refined Bleached Deodorised Stearin (RPS)
n) Palm Kernel Pellet
o) Palm Kernel Shell Charcoal
Syarat mutu inti kelapa sawit adalah sebagai berikut:
a) Kadar minyak minimum (%): 48; cara pengujian SP‐SMP‐13‐1975
b) Kadar air maksimum (%):8,5 ; cara pengujian SP‐SMP‐7‐1975
c) Kontaminasi maksimum (%):4,0; cara pengujian SP‐SMP‐31‐19975
d) Kadar inti pecah maksimum (%):15; cara pengujian SP‐SMP‐31‐1975
II.3. KOMPOSISI KIMIA MINYAK KELAPA SAWIT
Minyak kelapa sawit dan inti minyak kelapa sawit merupakan susunan dari fatty acids,
esterified, serta glycerol yang masih banyak lemaknya. Didalam keduanya tinggi serta
penuh akan fatty acids, antara 50% dan 80% dari masing‐masingnya. Minyak kelapa
sawit mempunyai 16 nama carbon yang penuh asam lemak palmitic acid berdasarkan
dalam minyak kelapa minyak kelapa sawit sebagian besar berisikan lauric acid. Minyak
kelapa sawit sebagian besarnya tumbuh berasal alamiah untuk tocotrienol, bagian dari
vitamin E. Minyak kelapa sawit didalamnya banyak mengandung vitamin K dan
magnesium.
Napalm namanya berasal dari naphthenic acid, palmitic acid dan pyrotechnics atau
hanya dari cara pemakaian nafta dan minyak kelapa sawit.

PENUTUP
IV.1. KESIMPULAN
Industri minyak kelapa sawit merupakan salah satu industri strategis, karena
berhubungan dengan sektor pertanian (agro‐based industry) yang banyak berkembang
di negara‐negara tropis seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand. Hasil industri minyak
kelapa sawit bukan hanya minyak goreng saja, tetapi juga bisa digunakan sebagai bahan
dasar industri lainnya seperti industri makanan, kosmetika dan industri sabun.
Prospek perkembangan industri minyak kelapa sawit saat ini sangat pesat, dimana
terjadi peningkatan jumlah produksi kelapa sawit seiring meningkatnya kebutuhan
masyarakat.
Dengan besarnya produksi yang mampu dihasilkan, tentunya hal ini berdampak positif
bagi perekenomian Indonesia, baik dari segi kontribusinya terhadap pendapatan negara,
maupun besarnya tenaga kerja yang terserap di sektor. Sektor ini juga mampu
meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar perkebunan sawit, di mana presentase
penduduk miskin di areal ini jauh lebih rendah dari angka penduduk miskin nasional
sebesar. Boleh dibilang, industri minyak kelapa sawit ini dapat diharapkan menjadi
motor pertumbuhan ekonomi nasional.
Tabel 1. Ketersediaan Lahan Produksi Kelapa Sawit
No Nama Daerah Luas Lahan
1 Bangka‐Belitung Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 107,070.00
2 Bengkulu Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 180,693.00
3 Irianjaya Barat Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 30,171.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 150,000.00
Status Lahan: Tanah Negara & Ulayat
4 Jambi Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 274,265.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 114,000.00
Status Lahan: Tanah Masyarakat dan Tanah Negara Yang Sudah
Digarap Masyarakat
5 Jawa Barat Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 7,115.00
6 Kalimantan Barat Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 373,162.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 58,720.00
Status Lahan: Tanah Negara dan Tanah Masyarakat
7 Kalimantan Selatan Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 160,753.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 216,474.00
Status Lahan: Tanah Negara
8 Kalimantan Tengah Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 343,303.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 497,427.00
Status Lahan: Tanah Negara dalam ajuan permohonan hak
9 Kalimantan Timur Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 171,581.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 652,135.00
Status Lahan: Tanah Negara & Tanah Masyarakat
10 Kepulauan Riau Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 5,590.00
11 Maluku Utara Lahan yang Tersedia (Ha): 100,000.00
Status Lahan: Tanah Negara
12 Nanggroe Aceh
Darussalam
Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 227,590.00
13 Papua Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 89,827.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 1,935,000.00
Status Lahan: Tanah Negara & Ulayat
14 Riau Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 1,307,880.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 30,000.00
Status Lahan: Tanah Masyarakat
15 Sulawesi Barat Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 9,568.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 45,000.00
Status Lahan: Tanah Negara dan Tanah Masyarakat
16 Sulawesi Selatan Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 11,894.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 120,298.00
Status Lahan: Tanah Negara dan Tanah Masyarakat
17 Sulawesi Tenggara Lahan yang Tersedia (Ha): 74,000.00
Status Lahan: Tanah Negara
18 Sumatera Barat Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 280,099.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 14,500.00
Status Lahan: Tanah Ulayat
19 Sumatera Selatan Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 386,403.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 144,500.00
Status Lahan: Tanah Masyarakat
20 Sumatera Utara Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 229,512.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 40,000.00
Status Lahan: Tanah Negara dan Tanah Masyarakat
Post a Comment