Sunday, 30 October 2011

BREAK CROP PADA TANAMAN TEBU




 

Break Crop adalah penanaman tanaman sela selain tanaman tebu.  Umumnya tanaman yang ditanam sejenis kacang-kacangan, bertujuan untuk diambil biomassnya untuk dijadikan bahan organik dan juga yang dapat mengikat nitrogen bebas.  Sehingga diharapkan setelah penanaman break crop areal tersebut menjadi lebih baik, dari segi fisik maupun kimianya.  Dari segi fisik strukturnya lebih baik dan dari segi kimia ada penambahan unsur hara (terutama nitrogen).

Adabeberapa jenis tanaman break crop, antara lain:

  1. Mucuna sp (benguk)

  2. Glisirida

  3. Fleminga congesta

  4. Centrosema pubescan, Centrosema mucunoides (kacang-kacangan)


Adabeberapa hal yang perlu diperhatikan agar tanaman break crop dapat tumbuh dengan baik dan tidak kalah oleh persaingan dengan gulma, antara lain :

  1. Land preparation baik

  2. Jarak tanam maksimum 1 m X 1m

  3. Kualitas benih baik


Perhatia terhadap land preparation yang baik, jarak tanam yang tidak terlalu lebar dan benih yang baik bertujuan agar benih break crop dapat cepat tumbuh, sedangkan gulmanya  diharpakan lambat tumbuhnya.  Dalam penanaman break crop tidak dilakukan pre emergence karena akan berdampak negatif pada perkecambahan break crop, oleh karena itu kualitas land preparation sangat menentukan kecepatan pertumbuhan gulmuanya.

Viabilitas benih break crop dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain umur panen (biji tua atau belum) dan juga penyimpanan.  Jika penyimpanannya tidak baik, maka kualitas benih akan sangat jelek, dan jika ditanam maka perkecambahannya akan sangat rendah.

Kebutuhan benih per hektar untuk jarak tanam 1m X 1m dan pemakain benih per lubang 2 butir = {10.000/( 1 X 1)} X 2 butir/lubang = 20.000 butir/ha.  Jika 1 ons benih = 130 butir; maka 1 kg = 1.300 butir.  Jadi kebutuhan 1 ha = 20.000/1.300 = 15.4 kg.  Panen break crop apabila digunakan sebagai biomass +/- umur 4 bulan.

 

 
Post a Comment