Sunday, 26 June 2011

Instruksi Kerja Konservasi Tanah & Air

1. PENDAHULUAN

Pengawetan air prinsipnya adalah penggunaan air yang jatuh ke tanah untuk kebutuhan pertanian se efisien mungkin dan pengaturan waktu aliran sehingga tidak terjadi banjir yang merusak serta terdapat cukup air pada musim kemarau.


2. KEMIRINGAN LERENG DAN JENIS-JENIS SARANA PENCEGAHAN EROSI

2.1. KLASIFIKASI KEMIRINGAN LERENG
Klasifikasi kemiringan lereng dapat dibedakan menjadi :

1. Tanah Rata 3. Tanah Miring
a. Sudut kemiringan = 0º 34’ a. Sudut kemiringan = 4º 00’ – 28º 34’
b. Slope = 1 % b. Slope = 7 – 54 %
2. Tanah Agak Miring 4. Tanah Sangat Miring
a. Sudut kemiringan = 0º 34’ – 3º 26’ a. Sudut kemiringan = 31º 00’ – 45º 00’
b. Slope = 1 – 6 % b. Slope = 61 – 100 %

2.3. BEBERAPA CARA PENCEGAHAN ATAU MEMPERKECIL EROSI SAMPAI MINIMUM
 Penutupan tanah yang baik oleh tanaman kacangan atau vegetasi asli penutup tanah yang tidak merugikan. Pada lahan miring tanaman penutup tanah harus sudah ditanam segera setelah lahan dibersihkan untuk mencegah erosi
 Program LC dan tanam kacangan yang terencana dengan baik akan mengurangi masa waktu tanah berada dalam keadaan terbuka
 Pembuatan parit (drainase) pada tanah-tanah rendahan pada setiap klasifikasi kemiringan tanah
 Pembuatan benteng teras/rorak (silt pits) dan bentengan, teras bersambung, tapak kuda (plat form), pemberian mulsa (mulching), penempatan potongan daun yang tepat dapat membantu pencegahan erosi ; karenanya segera dilakukan setelah pembukaan lahan dimulai atau setelah selesai pemancangan.


3. TEKNIK PEMBUATAN SARANA PENCEGAHAN EROSI

 Pada areal dengan kemiringan 20º (tanah miring dan sangat miring) pembuatan teras bersambung (continuous terrace) sangat disarankan untuk mencegah erosi dan memperbaiki tata air tanah.
A. Pembuatan Teras Bersambung
a.1. Memancang
 Ukur persentase slope rata-rata
 Tarik salah satu garis lurus dari salah satu titik pada tempat tertinggi ke arah tempat yang terendah dengan sudut miringnya (x) sesuai dengan persentase slopenya. Sepanjang garis lurus ini dibuat/dipasang tanda–tanda/pancang-pancang dengan jarak 7,8 m atau 9,0 m (sesuai jarak tanam)
 Bila slope arah Utara – Selatan maka jarak pancang adalah 9,0 m dan bila slope arah Timur – Barat, jarak pancang 7,8 m (sesuai jarak tanam)
 Dimulai dari pancang-pancang tanda tersebut, maka pemancangan menurut garis–garis kontur untuk teras bersambung dapat dilakukan untuk seluruh areal. Sebagai alat timbang air dapat digunakan “dump level“ atau angkring (alat sederhana dari kayu yang dilengkapi timbangan air) atau selang plastik berisi air.

A.2. Pembuatan
 Pembuatan teras bersambung dapat dikerjakan secara manual atau mekanis. Pembuatan teras bersambung harus selalu dimulai dari tempat yang paling tinggi (atas) ke yang lebih rendah.
 Letak garis kontur untuk teras bersambung harus timbang air (water pass).
 Bulldozer mula–mula bergerak diantara pancang teras kontur, dimana pisaunya digunakan untuk memindahkan tanah dari tebing lalu ditimbun ke areal yang lebih rendah. Jalur awal yang dibuat hendaknya cukup lebar untuk memudahkan pekerjaan pembuatan teras.
 Tanah galian disusun untuk tanah bagian yang ditimbun, setelah terbentuk diadakan pengerasan (penggeblekan) hingga padat, lebar teras 4 m.
 Teras bersambung harus dibuat dengan permukaan yang miring ke diding teras dengan sudut miring 10–15º dan tepat pada pancang tanaman (lihat gambar).
 Setelah itu baru dibuat benteng kecil dipinggir teras dengan ukuran lebar 30 cm dan tinggi 10 cm.

Hal diatas dijelaskan pada gambar dibawah ini :


Titik pancang

1 - 2 m 1 – 2 m
10º - 15º
Tanah timbunan

tanah galian Dipadatkan
Permukaan lereng ≥ 20 º
Lereng asli



 Jika pembuatan teras secara manual, maka lebar teras adalah 2,5 m dengan sudut miring 10–15º membelakangi tebing.
 Jika panen akan dilakukan secara mekanis, maka lebar dasar teras harus 4–6 m dengan sudut kemiringan 10–15º membelakangi tebing dan bibit di tanam sekitar 1 m dari teras bagian belakang sehingga kendaraan kecil dapat lewat di bagian depan teras kontur. Tanaman ditanam pada subsoil sehingga perlu dibuat lubang yang lebih lebar (90 x 75) cm dan kemudian diisi dengan topsoil.
 Jika panen akan dilakukan secara manual, titik tanam sebaiknya ditempatkan pada “topsoil“ asli (misalnya pada tengah teras).
 Pembuatan teras kontur ini harus memperhatikan kedalaman solum tanah. Apabila solum tanah dangkal, maka tinggi dinding vertikal teras harus disesuaikan/dikurangi.
 Tanaman penutup tanah atau kacangan sebaiknya ditanam sepanjang timbunan setelah pembuatan teras selesai.

B. Pemeliharaan Teras Bersambung
- Pada tahap awal diperlukan pemeriksaan yang teratur untuk mereparasi teras yang rusak akibat aliran air/erosi.
- Pada tahap selanjutnya mereparasi teras–teras adalah memperbaiki kembali permukaan dengan sudut miring tetap 10–15º dan memadatkan pinggiran bila perlu. Pekerjaan ini dilaksanakan setahun sekali.


3.4. PEMBERIAN MULSA, PENYUSUNAN PELEPAH DAN PENANAMAN KACANGAN PENUTUP TANAH

Manfaat pemberian mulsa dalam kaitannya dengan konservasi tanah dan air antara lain :
 Mulsa berupa janjang kosong akan mengurangi laju erosi dengan jalan menutup tanah, dengan demikian memperlambat aliran air diatas permukaan tanah.
 Mulsa janjang kosong dapat memperbaiki daya simpan air dari tanah karena dapat membantu konservasi air di musim kemarau (mempertahankan kelembaban tanah dan mengurangi fluktuasi temperatur tanah).
 Mulsa janjang kosong akan memperlambat aliran air sepanjang teras dan memperbaiki tata air tanah.

Demikian pula halnya dengan penyusunan pelepah dan penanaman kacangan. Mulsa pelepah dan kacangan dapat berfungsi sebagai konservasi tanah dan air. Air hujan yang jatuh di permukaan tanah atau aliran permukaan dapat dikurangi daya erosinya dengan adanya tindakan tersebut.


4. PARIT (DRAINASE) DI AREAL MINERAL


Tujuan membangun drainase adalah untuk mengatur tata air sehingga dapat bermanfaat secara maksimal untuk tanaman. Masalah parit (drainase) sangat penting terutama pada daerah berlahan gambut, daerah rendahan dan daerah datar yang sering kebanjiran.

Sebelum membangun parit terlebih dahulu harus membuat perencanaannya, terutama dalam hal :
 Titik pembuangannya (water outlet-nya), kemana arahnya, berapa dalam, berapa lebar dan jenis parit yang diperlukan.
 Rancangan sistem jaringan pengairan dan drainase dalam areal kelapa sawit akan berkaitan dengan masalah–masalah penyediaan air dan air buangan. Jaringan pengairan dan drainase akan mencakup saluran induk, saluran pembagi (saluran sekunder dan tersier) dan saluran–saluran yang lebih kecil yang berada di areal. Dalam pembuatan rancangan sistem jaringan pengairan harus diperhatikan terlebih dulu tingkat penggunaan akhir dari pada lahan yang akan dibuka, disamping harus memperhatikan pula segi–segi teknis ekonomis.

Hal-hal penting dalam pembuatan parit (drainase) :
 Seluruh areal yang direncanakan sebagai areal pertanaman harus disurvei oleh tenaga yang berpengalaman untuk menentukan rencana jaringan drainase. Pengalaman masyarakat setempat dan data curah hujan sangat diperlukan untuk merencanakan sistem drainase.
 Kumpulkan data hidrologi dari kebun di sekitar lokasi. Informasi tentang kondisi aliran air di parit dan sungai pada kebun di sekitar lokasi dapat digunakan sebagai petunjuk jumlah air yang perlu di drainase.
 Hitung kecepatan aliran air dengan menggunakan garam dapur dan conductivity meter portabel.
 Pembangunan saluran drainase primer di seluruh areal yang akan ditanami harus diselesaikan sebelum kegiatan lapangan dimulai sehingga mempermudah gerak pekerja atau mesin serta persiapan lahan dan pemancangan, bilamana keadaan air dalam areal tersebut memaksa segera perlu diatur penyalurannya. Saluran drainase sekunder dibangun pada batas blok untuk mempercepat drainase kebun dan menyalurkan air ke saluran primer atau sungai. Saluran drainase tersier di dalam blok dibangun setelah areal dibersihkan dan pemancangan selesai dilakukan.

Program pemeliharaan tahunan dilakukan untuk membersihkan endapan liat dan kotoran di dalam saluran, memperbaiki jembatan maupun gorong-gorong. Setelah aliran drainase konstan maka intensitas drainase perlu diatur untuk memperbaiki pengelolaan air termasuk penyediaan air bagi tanaman.

Intensitas drainase untuk beberapa jenis parit dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Jenis Kondisi jalan Jarak antar saluran
Tersier Umum 16 baris tanaman
Curah hujan tinggi 8 baris tanaman
Gambut basah 4 baris tanaman
Punggung bukit 1 baris tanaman
Sekunder Setiap 400-600 m tergantung saluran tersier
Primer Tergantung aliran air pada saluran tersier dan sekunder serta jarak ke saluran pembuangan/ sungai.


4.1. LAYOUT PARIT
• Layout parit dibuat setelah pemancangan tanaman dilakukan, kecuali untuk parit induk di daerah lowland.
• Panjang dan ukuran parit sangat ditentukan oleh keadaan topografi. Manfaatkan drainase alam semaksimal mungkin yang dapat mengurangi biaya pembuatan parit.
• Layout parit dapat berbentuk sirip ikan pada daerah miring ke satu arah atau berbentuk lurus sejajar di daerah datar. Di daerah berbukit perlu dibuat parit mengelilingi bukit, untuk menghindari limpasan/luapan air dari atas bukit.
• Tempat pertemuan parit (junction) harus dibuat membelok ke arah aliran air yang lebih besar dan tidak boleh tegak lurus atau berlawanan (diusahakan selurus mungkin). Hindari aliran parit yang terlalu banyak belokannya dan bentuk parit yang patah–patah.





Beberapa layout parit dapat digambarkan sebagai berikut :



Parit tersier (ranting)



Arah kemiringan/lereng



Parit sekunder (cabang)


Parit primer (induk)










Parit sekunder


Parit primer



Lay Out Parit di Daerah Datar









\



Bukit


Bukit



Parit sekunder
di kaki bukit







Parit primer





Lay Out Parit di Daerah Miring ke Satu Arah


Pada gambar dibawah ini dijelaskan penempatan pembuatan parit kaki bukit


Penempatan pembuatan parit
kaki bukit yang benar





Penempatan pembuatan parit kaki bukit
yang salah (langsung dibawah lereng)




• Pada pembuatan parit, lay out parit yang telah ditentukan di gambar pada peta kerja dan ditandai dengan pancang atau tali di lapangan.
• Pengerjaan parit dimulai dari parit yang besar, kemudian diikuti yang lebih kecil dan penggalian parit dimulai dari outlet (hilir) untuk mengatur kedalaman parit.
• Waktu pembuatan parit sebaiknya saat tanah lembek atau lembab sehingga memudahkan pekerjaan.


4.2. JENIS PARIT (DRAINASE) DAN CARA PEMBUATANNYA

A. Parit Kanal
 Fungsi : menampung seluruh air dari semua parit-parit yang ada maupun limpahan dari areal perkebunan, kemudian mengalirkannya ke sungai atau tempat pembuangan air lainnya.
 Ukuran : (6 x 4 m) dengan dalam 3 m, ukuran ini sebenarnya tergantung kondisi lapangan yang ada.
 Pada areal dengan curah hujan tinggi, rawa pasang surut, dan areal rendahan perlu dibangun parit yang lebih lebar sejajar dengan jalan utama ke arah saluran alami seperti sungai.
 Pada areal di tepi laut, diperlukan adanya pintu air dan tanggul untuk mencegah luapan air pasang dari sungai atau laut ke saluran drainase dan untuk mempertahankan permukaan air selama musim kering.

B. Parit Primer
 Fungsi : menampung air dari parit–parit sekunder, kaki bukit dan parit–parit yang lebih kecil kemudian menyalurkannya ke outlet atau parit kanal dan atau ke sungai yang lebih besar.
 Ukuran : 3 m x 2 m dengan dalam 2 m. Besar kecilnya ukuran parit primer sangat tergantung pada banyaknya air yang perlu ditampung. Sedangkan miringnya (landainya) tebing parit tergantung apakah tanah tersebut tanah liat (keras) atau tanah gembur (berpasir, mudah gugur).
 Pembuatan parit primer pada tanah pembukaan baru harus dilakukan sebelum penanaman bibit atau pemancangan, bilamana keadaan air dalam areal tersebut memaksa segera perlu diatur penyalurannya. Tetapi sebaiknya pembuatan parit dilakukan sesudah pemancangan tanaman hal ini agar tidak banyak populasi per ha yang berkurang karena pembuatan parit baru, terkecuali bila dianggap terpaksa. Pembuatan parit baru harus dimulai dari bawah dan diusahakan selurus mungkin. Pembuatan parit primer disesuaikan dengan kondisi kemiringan lereng. Hal ini adalah untuk menjamin kelancaran aliran air dari parit primer ke outlet.
 Parit primer diusahakan dibangun sejajar dengan jalan blok atau jalan utama dan disesuaikan dengan aliran drainase alami (seperti sungai).
 Penggalian tanah biasanya dilakukan dengan excavator atau back hoe, cangkul dan sekop. Tanah hasil galian dibuang ke kanan-kiri parit untuk pembuatan kaki lima dengan lebar minimal 1 m. Akar dan tunggul kayu dikeluarkan dari parit.

Penampang Melintang Parit Primer dapat dilihat pada gambar berikut ini :

2 – 3 m 2 – 3 m
3 m




2 m





2 m



C. Parit Sekunder

 Parit sekunder (cabang)/drainase pengumpul (collection drain) adalah parit penampung air dari parit tersier/ranting atau parit yang langsung menampung air dari permukaan lapangan terutama bagian–bagian yang rendah kemudian mengalirkannya ke parit primer/induk.
 Ukuran parit sekunder biasanya adalah 2 x 1,5 m dengan dalam 2 m tergantung keadaan.
 Pembuatan parit sekunder dilakukan setelah selesai pemancangan atau penanaman tanaman. Parit sekunder harus sejajar satu sama lainnya dan juga sejajar dengan barisan pokok. Penggalian parit dimulai dari tepi parit primer dengan dasar di hilir yang lebih dalam dibanding di hulu sedemikian rupa sehingga senantiasa air dapat mengalir. Parit sekunder tambahan di tengah blok mungkin diperlukan khusus untuk areal yang curah hujannya tinggi.
 Jika ada rencana untuk melakukan mekanisasi di dalam kebun, maka perbaiki saluran tersier dan jangan membangun saluran sekunder tambahan di tengah blok. Kemudian bangun jembatan atau titi panen segera setelah saluran drainase selesai dibangun.

Berikut ditunjukkan gambar penampang melintang parit sekunder



1 m 2 – 3 m
2,5 m




1,5 m




2 m


D. Parit Tersier

 Parit tersier (ranting)/drainase lapangan (field drain) atau disebut subsidiary drain adalah parit yang menampung air dari areal atau dari tanah rendahan/gambut dan menyalurkannya ke parit sekunder atau langsung ke parit primer.
 Ukuran parit tersier adalah 1 x 1 m dengan dasar 0,5-1 m. Parit tersier dibangun sejajar dengan baris tanaman untuk mengalirkan air ke saluran sekunder. Parit tersier tidak dibenarkan memotong tanaman sawit.
 Parit tersier dibangun sedemikian rupa agar tidak mengorbankan titik tanam dan sekecil mungkin adanya pemasangan titi panen. Dengan demikian pelaksanaan panen lebih mudah, apalagi jika ada rencana penggunaan mesin untuk penyebaran pupuk maupun transportasi di dalam kebun.



 Tambahan saluran diperlukan khusus untuk areal-areal dengan drainase yang buruk. Saluran tambahan tersebut harus dibangun sejajar terhadap saluran tersier yang telah ada, mengikuti rute terpendek ke saluraan sekunder atau primer.
 Disamping mengusahakan pengurangan jumlah pokok yang terkena parit, harus dihindari panjang parit yang berlebihan akibat banyaknya belokan. Selain itu, harus diusahakan meminimalkan aliran parit yang memotong jalan, untuk mengurangi pembuatan jembatan.


0,5 – 1 m 0,5 – 1 m
1 m



1 m



0,5 – 1 m


E. TEMPAT PERTEMUAN PARIT (JUNCTIONS)

Tempat pertemuan parit (junction) harus membelok ke arah aliran air dan sama sekali tidak boleh tegak lurus. Perhatikan sketsa berikut :


Junction yang salah Junction yang benar






5. PARIT (DRAINASE) DI AREAL GAMBUT

Lahan gambut tergolong mempunyai drainase yang jelek dimana permukaan air tanah cukup tinggi yaitu kurang dari 30 cm dari permukaan tanah, bahkan pada kondisi tertentu permukaan air lebih tinggi dari pada permukaan tanah. Untuk tanaman kelapa sawit sebaiknya tinggi permukaan air tanah berada pada 70–80 cm di bawah permukaan tanah.

Masalah utama yang perlu diatasi di areal gambut adalah memperbaiki drainase. Pembangunan sistem drainase pada areal gambut merupakan suatu sistem yang khusus karena drainase seluruh areal harus diperbaiki. Disamping pembuatan sistem drainase tersebut maka harus dilakukan juga pembuatan pintu air atau “water gate“ yang sangat bermanfaat untuk mengurangi masuknya air ke dalam areal dari luapan air sungai, terutama pada musim hujan.

5.1. JENIS SALURAN DRAINASE

Jenis saluran drianase pada lahan gambut hampir sama dengan di lahan kering yaitu Parit Kanal atau outlet dengan ukuran biasanya (6 x 4 x 3) m, Parit Primer atau Main Drain dengan ukuran (3 x 2 x 2) m, Parit Sekunder atau Collection Drain dengan ukuran (2,5 x 1,5 x 2) m dan Parit Tersier atau Field Drain atau disebut juga Subsidiary Drain dengan ukuran (1 x 1 x 1) m. Semua ukuran diatas dapat berubah tergantung kondisi lapangannya.

Pembangunan sistem drainase sebaiknya dilaksanakan secara bertahap untuk menghindari pengerutan tanah gambut tersebut secara drastis, bahkan dapat terjadi pengeringan tak balik pada gambut lapisan atas. Hal ini perlu dilakukan karena sifat gambut yang sudah mengerut tidak akan kembali yang mengakibatkan permukaan air tanah tetap tinggi dan tidak baik untuk penyerapan unsur hara oleh akar tanaman serta meningkatkan resiko kebakaran.

Untuk pembuatan saluran drainase (kanal dan primer), menggunakan excavator yang bertumpu pada gambangan kayu. Kayu-kayu tersebut secara bergiliran dipindahkan menggunakan lengan (arm) excavator dari depan ke belakang excavator sejalan dengan bergeraknya excavator dalam membuat saluran drainase.




Intensitas saluran drainase tersier pada tanah gambut perlu ditingkatkan hingga satu saluran untuk setiap empat baris tanaman (1 : 4), terutama untuk memperbaiki drainase tanah selama tahap persiapan lahan. Sistem pembuatan saluran drainase tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini.























Keterangan :
Arah aliran



Gambar tersebut diatas menunjukkan bahwa saluran kuarter dan tersier berfungsi untuk mengeluarkan air dari areal yang terkumpul pada saluran sekunder. Sedangkan air dari saluran sekunder berkumpul ke saluran primer untuk dikeluarkan dari areal perkebunan lewat parit kanal atau outlet.

Gambar penampang melintang pintu air untuk mengatur permukaan air di lahan gambut dapat dilihat dibawah ini :





Kedalaman (m)
3
Drainase
primer
Permukaan tanah 2

Permukaan air
Papan yang
1 dapat dipindah



2 1 0 1 2

Permukaan air tanah perlu dipertahankan pada kedalaman 60 - 75 cm di bawah permukaan tanah, dengan cara memasang pintu air pada saluran primer. Pintu air bisa dibuat dari kayu, besi atau bahan lainnya yang dapat diatur ketinggiannya untuk mempertahankan permukaan air tanah, sekaligus menjaga agar gambut tidak memadat dengan cepat. Selain itu pintu air berfungsi untuk menahan air masuk ke dalam areal, terutama pada saat musim hujan atau banjir. Selama musim penghujan, saluran drainase perlu dicuci secara teratur.

Pada tempat di pinggir areal di saluran primer dibangun pintu air. Sket pintu air tersebut dapat dilihat pada gambar diatas. Agar saluran drainase berfungsi dengan baik, maka setiap saluran harus dibuat pintu air dengan ukuran tertentu seperti terlihat pada tabel dibawah ini :

Jenis Saluran Ukuran Atas (m) Ukuran Bawah (m) Kedalaman (m)
Primer 2,5 – 3,0 1,5 – 2,0 2,0
Sekunder 1,5 1,5 1,5
Tertier 0,9 0,6 0,9
Kuarter 0,6 0,4 0,5

Pada prinsipnya ukuran pintu air disesuaikan dengan keperluan, agar air yang keluar dapat tertampung. Untuk satu saluran tersier diperkirakan dapat mengeringkan areal seluas 6 – 7 ha tanaman.


Mengingat luasnya areal perkebunan, maka pembuatan saluran drainase hendaknya dilakukan secara mekanis yaitu dengan menggunakan excavator hidrolik yang dilengkapi dengan roda (trek) khusus untuk gambut dan lengan yang panjang (long arm) agar saluran drainase tersebut dapat berfungsi lebih baik.

Kapasitas excavator dengan ukuran bucket 0,6 m3 untuk penggalian saluran drainase adalah 45 m3/jam. Besarnya biaya dapat diperhitungkan dengan menghitung kubikasi saluran yang dibangun.


5.2. TEKNIS PEMBUATAN PARIT (SALURAN)

Teknis pembuatan saluran drainase di lahan gambut harus disesuaikan dengan pembuatan jalannya, baik design maupun waktu pembuatannya. Sebelum dibuat saluran, maka harus dipetakan dulu seluruh areal, sehingga dapat diketahui mana titik tertinggi dan mana titik terendah pada areal tersebut.

 Titik terendah akan dijadikan sebagai arah dibuatnya water outlet
 Kemudian dibuat design yang disesuaikan dengan block design jalan dan tanaman, yaitu main drain posisinya di pinggir main road dan letaknya sejajar, sedangkan collection drain posisinya di pinggir collection road dan letaknya sejajar.
 Main drain di blok satu tidak boleh tembus dengan main drain di blok sebelahnya dan collection drain di blok yang satu juga tidak boleh tembus dengan collection drain di blok sebelahnya.
 Subsidiary drain (field drain) dibuat searah barisan tanaman sejajar dengan main drain dan tegak lurus dengan collection drain.
 Field drain biasanya dibuat setiap 4 baris tanaman, tapi tidak harus demikian tergantung kondisi di lapangan. Antara field drain di blok yang satu tidak boleh tembus dengan filed drain di blok sebelahnya.

Tahapan pembuatan parit di lahan gambut sebagai berikut :
 Tentukan As jalan yang akan dibuat
 Pancang daerah badan jalan sesuai dengan tipe jalan mengikuti As jalan
 Pancang 4,5 m dari As jalan untuk main drain dan 3,5 m untuk collection drain
 Tentukan pancang untuk parit yang letaknya 7,5 m dari As jalan untuk Parit Kanal, 6 m dari As jalan untuk main drain dan 5,75 m dari As jalan untuk collection drain.

 Gali parit dengan menggunakan excavator dan tanah dari galian parit tersebut ditimbunkan ke badan jalan kemudian diratakan dan dipadatkan dengan excavator sehingga lebar menjadi 9 m untuk jalan utama dan 7 m untuk jalan koleksi.


6. PEMELIHARAAN SALURAN AIR

 Setelah parit bebas dari semua akar dan gulma, segera diikuti dengan pengorekan tanah dan lumpur. Tanah–tanah yang timbul diatas permukaan air supaya dicangkul dan dibuang ke luar parit di luar kaki lima sejauh mungkin dari bibir parit agar tidak terbentuk suatu benteng di kanan–kiri parit.
 Tanah yang ada dibawah permukaan air diusahakan dikorek dan dibuang ke luar kaki lima bersama–sama dengan tumpukan sampah. Pengorekan dilakukan sampai pada dasar yang keras. Tebing–tebing parit dikikis dan dirapihkan sampai pada batas bibir parit.
 Rotasi perawatan (membersihkan dan mendalamkan) parit di dalam kebun dapat dilakukan sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 tahun, sedangkan di luar kebun 1 kali dalam 2 tahun.
 Pencucian/pendalaman parit harus dimulai dari parit outlet yang berbatasan dengan alur pembuangan ke luar kebun dan menuju ke parit di dalam areal perkebunan. Waktu yang tepat untuk melakukan pencucian/pendalaman parit adalah pada musim panas sampai menjelang musim hujan tiba misalnya bulan Agustus atau bulan September.
 Pemeliharaan sungai, parit penampungan dan parit primer cukup dilakukan dengan pengorekan tanah dan lumpur sampai pada dasar tanah yang keras. Tanah dan lumpur harus dibuang di luar kaki lima sepanjang kanan–kiri parit. Rumput–rumputan di tebing kanan–kiri parit harus tetap dipelihara sebagai pencegahan erosi dan pencucian parit ini dilakukan 1 kali dalam 1 tahun.
 Pemeliharaan parit sekunder cukup dilakukan dengan pengorekan tanah dengan membuang tanah tersebut diluar kaki lima. Pengorekan tanah harus dimulai dari bagian bawah dan ujung pertemuan parit sekunder dengan parit primer, dimulai pada tinggi yang sama dengan dasar parit primer dan perhatikan “junction“ yang benar. Agar air dapat mengalir dengan lancar, harus diperhatikan supaya pengorekan senantiasa timbang air. Kaki lima untuk parit sekunder dibuat selebar ± 60 cm dari bibir parit tempat jalan pemeriksaan. Pembersihan rumput di kanan–kiri tebing parit hanya boleh dilaksanakan pada ± 30 cm diatas dasar parit. Pusingan minimal 1 kali dalam 1 tahun.

 Pengerukan parit dapat dilakukan secara mekanis atau manual pada parit kecil. Pada beberapa areal yang tanahnya sering longsor perlu dibuat dam pengaman/brojongan/turapan dari pagar kayu atau tumpukan karung berisi tanah.
 Seluruh parit–parit yang ada harus dipetakan secara detil, blok per blok untuk memudahkan perencanaan dan pelaksanaan serta kontrol cuci/mendalamkan parit setiap tahun (peta parit harus dilengkapi dengan ukuran panjang masing-masing).
Post a Comment