Sunday, 30 October 2011

Pemuliaan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum)



ASAL DAN SEJARAH TANAMAN TEBU

Tebu merupakan anggota genus Saccharum, famili Graminae dan tribe Andropogoneae. Ada lima spesies dari genus Saccharum yang bermanfaat bagi pemuliaan tanaman (Wrigley, 1981) yaitu :

1. Saccharum officinarum L.(2n = 180)
Merupakan spesies yang dibudidayakan (oleh sebab itu sering disebut noble cane)dengan sifat batang berwarna terang, lunak, tebal, kandungan sukrosa tinggi, kandungan serat rendah, daun lebar. Sangat peka terhadappenyakit-penyakit utama , kecuali penyakit gummosis Xanthomonas vasculorum) dan jelaga/smut(Ustilagos citaminae). Otaheite (sinonim dengan Bourbon, Lahaina, Vellai) merupakan noble cane yang pertama dibudidayakan secara luas, selanjutnya diikuti oleh seri Cheribon.

2. Saccharum spontaneum L. (2n = 40 -128)
Merupakan tebu liar di daerah Pasifik dan Asia (di Pulau Jawa disebut dengan glagah). Spesies ini merupakan sumber resistensi untuk beberapa penyakit utama seperti “sereh”, mosaik, gummosis, busuk merah (Physalospora tucumanensis), embun tepung (Sclerospora sacchari). Spesies ini merupakan rerumputan tahunan dari mulai ukuran yang pendek hingga tinggi, ruasnya panjang langsing dengan lubang pit di tengah batang, batang berwarna hijau-kuning hingga putih.Rhizoma membentuk banyak anakan.
3. Saccharum barberi Jeswiet (2n = 82 – 124)
Merupakan tebu India. Batangnya keras dan langsing dengan kandungan serat yang tinggi. Kebal terhadap penyakit gummosis dan mosaik, resisten terhadap penyakit embun tepung.

4. Saccaharum sinense Roxb.emend. Jeswiet (2n = 82 – 124)
Disebut dengan tebu Cina atau Uba. Kandungan sukrosanya sedang dengan serat yang tinggi, batang sedang ketebalannya dengan daun yang medium hingga sempit. Kebal terhadap penyakit embun tepung.

5. Saccharum robustum Brandes et Jesweit ex Grassl. (2n = 60 – 194)
Merupakan tebu liar yang berasal dari New Guinea dan Melanesia. Tumbuh hingga 9 meter. Batangnya keras berkayu dengan lubang di tengahnya. Kandungan sukrosanya rendah. Resisten terhadap busuk merah.


Ilustrasi tebu

Seperti telah dijelaskan di atas bahwa industri gula tebu memanfaatkan spesies Saccharum officinarum (noble cane) yang diduga berasal dari daerah Pasifik Selatan yaitu kemungkinan di New Guinea (Pulau Irian bagian Timur) dan selanjutnya menyebar ke tiga arah migrasi yang berbeda (Blackburn, 1984). Pertama, dimulai pada 8000 tahun Sebelum Masehi yaitu ke Pulau Solomon, Hebrida Baru dan Kaledonia Baru. Kedua, dimulai sekitar 6000 tahun Sebelum Masehi ke Filipina, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Malaysia dan Burma serta India. Dan ketiga, antara tahun 500 hingga 1100 Sesudah Masehi yaitu ke Fiji, Tonga, Tahiti, Marquesa dan Hawaii. Walaupun tebu merupakan tanaman tropis, namun kenyataannya saat ini beberapa industri gula tebu yang besar dan berhasil justru berada di daerah subtropis yaitu terletak di antara lintang 150 – 300 seperti daerah Brasil Selatan dan tengah, Kuba, Meksiko, Afrika Selatan, Indi, Cina, Australia dan Hawaii. Perkembangan yang luas dan besar dalam pengelolaan dan teknologi lapang berlangsung pada abad dua puluh, sehingga pusat-pusat penelitian dan stasiun lapang didirikan di negara-negara penghasil gula (Hayes et al., 1955; Wrigley, 1981; Blackburn, 1984), seperti Proefstation voor de Java Suikerindustrie, Pasuruan (Indonesia sekarang bernama P3G), BWI, Central Sugar Cane Breeding Station (Barbados), Queensland Bureu of Experiment Stations (Australia), Hawaiian Sugar Planters Association, Honolulu (Hawaii), Mauritius Sugar Industry Research Institute, Reduit (Mauritius), Mount Edgecombe, Natal (Afrika Selatan) dan di Amerika Serikat (Baton Rouge, Lousina dan Canal Point, Florida). Salah satu tujuan didirikan pusat- pusat penelitian tersebut adalah untuk menghasilkan varietas/klon yang berproduksi tinggi, resisten terhadap penyakit sertasifat- sifat baik lainnya.

Ilustrasi tebu

PEMBUNGAAN, PENYERBUKAN DAN PEMBENTUKAN BIJI
Pembungaan suatu spesies tanaman perlu diketahui dan dipahami karena di dalam pemuliaan tanaman, pembungaan berhubungan erat dengan sistem dan strategi pemuliaan yang akan dilakukan. Pada tebu, hampir semua spesies dari genus Saccharum tidak akan berbunga pada panjanghari lebih dari 12 jam, kecuali S. spontaneum yang memang merupakan tanaman hari panjang. Umumnya dibutuhkan paling sedikit 10 jam dan paling banyak 12,5 jam dan suhu malam 20 - 250 C untuk terjadinya inisiasi bunga. Tanda awal munculnya bunga adalah munculnya seludang daun yang panjang tetapi helai daunnya pendek (disebut dengan daun bendera). Seludang daun menutupi panikel yang masih muda. Akhirnya batang tebu memanjang dan mendorong panikel bunga keluar. Bunga tebu secara visual berbentuk seperti panah, sehingga sering pada literatur bunga tebu disebut ‘arrow’. Spikelet membuka pada malam hari hingga pagi buta, dimulai dari panikel bagian atas selanjutnya ke arah bawah. Kelembaban udara yang tinggi dapat memperlambat anthesis. Secara alami, terjadi penyerbukan silang dengan bantuan angin. Pollen viable hanya pada waktu yang singkat dan anther akan gugur dari filamen setelah anthesis, sebaliknya stigma tetap persisten. Setelah terjadi penyerbukan dan pembuahan, dibutuhkan 21 – 25 hari untuk pengisian dan pemasakan biji. Keluarnya bunga akan mengakhiri pembentukan daun baru pada batang sehingga tumbuh cabang vegetatif dari buku terbawah, selain itu adanya pembungaan akan mengurangi kandungan sukrosa pada batang tebu. Oleh karena itu pada budidaya tebu sering dilakukan perlambatan pembungaan agar kandungan sukrosa tetap tinggi. Biji hasil pembungaan merupakan biji caryopsis dari satu karpel, perikarpnya menyatu dengan testa. Biji berbentuk ovate, berwarna coklat kekuning-kuningan dan berukuran amat kecil sekitar 1 mm panjangnya. Biji tersebut dengan cepat kehilangan viabilitasnya, tetapi bila disimpan dalam suhu rendah dapat dipertahankan paling tidak selama tiga tahun.
Memperkirakan fertilitas biji secara kuantitatif sangatlah penting bagi pemuliaan tebu seperti yang dipaparkan oleh Walker (1980) dalam Blackburn (1984) sebagai berikut : Infloresens “arrow” terdiri dari 25 000 spikelet, tetapi jumlah yang dibuahi dan fertile hanya sekitar 3 – 33 %, yaitu sekitar 700 spikelet yang akan berkembang menjadi biji. Biji tebu tidak mengalami dormansi, perkecambahan biji  embutuhkan waktu 2 – 8 hari pada suhu 35 %. Kecambah muda sangat lambat pertumbuhannya hingga fase empat daun, tetapi selanjutnya pertumbuhan berjalan dengan cepat.

PEMULIAAN
Pekerjaan yang pertama dan sangat penting terjadi di Pulau Jawa, di mana tujuan utamanya adalah mendapatkan varietas yang resisten terhadap penyakit “sereh” yang menimbulkan kerusakan yang berat pada noble cane (Saccharum officinarum) seperti yang menyerang varietas Othaeite dan seri Cheribon. Spesies liar, khususnya Saccharunm spontaneum diketahui resisten terhadap penyakit “sereh” dan penyakit tebu lainnya, sehingga Saccharum spontaneum disilangbalikkan (backcross) dengan noblecane. Proses tersebut diistilahkan dengan “nobilisasi” (nobilization), dan hasil persilangan tersebut dinamakan “nobilized cane”. Tebu ajaib yang melegenda tersebut adalah POJ 2878 (POJ = Proefstation Oost Java) yang dihasilkan oleh Jeswiet pada tahun 1929 dan secara luas dibudidayakan sebagai varietas komersial standar di beberapa  negara pada saat itu seperti di Hawaii, Guyana, Inggris, Barbados, Jamaika, Kuba, Kolombia, Meksiko, selain tentunya di Pulau JaWA (Stevenson, 1965; Martin, dkk, 1961; Barnes, 1974; Wrigley, 1981dan Blackburn, 1984). Tebu merupakan tanaman menyerbuk silang dengan bantuan angin, sering bersifat poliploid, dan terkadang aneuploid. Karena menyerbuk silang dan diperbanyak secara klonal maka heterozigousnya tinggi dan tidak toleran terhadap inbreeding  penyerbukan sendiri). Persilangan antar klon akan meningkatkan keragaman pada progeni F1, dan pemuliaan tebu dapat menggunakan keragaman ini untuk membentuk klon yang baru. Persilangan dapat bersifat berpasangan (biparental cross, di mana baik tetua jantan dan betina diketahui), atau dapat pula berupa persilangan jamak (polycross,  di mana tetua betina diketahui, sedangkan tetua jantan beragam genotipnya dan tidak diketahui).
Untuk itu perlu diketahui daya gabung umum dan daya gabung khusus untuk masingmasing klon calon tetua. Program persilangan biparental lebih sering dilakukan dibandingkan persilangan polycross. Polycross banyak dilakukan di Hawaii dengan menggunakan metode “melting pot” (akan dijelaskan lebih lanjut) untuk pemuliaan dengan tujuan tertentu seperti varietas yang sesuai dengan kondisi “mauka” (dalam bahasa Hawaii berarti elevasi tempat yang tinggi). Dalam melakukan persilangan terdapat beberapa metode yang dapat membantu untuk mempermudah persilangan.
Setelah persilangan terjadi, selanjutnya dilakukan seleksi (akan  dijelaskan lebih lanjut). Dengan berjalannya waktu akan diperoleh akumulasi pool tetua, beberapa di antaranya dapat dilepas sebagai klon terbaik untuk daerah tertentu, beberapa lagi tidak cukup baik  untuk diusahakan secara komersial, sebagian lagi disingkirkan karena tidak sesuai dengan tujuan pemuliaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pada semua program pemuliaan,pool tersebut akan selalu berubah dimana pendatang baru akan masuk sedangkan yang lainnya keluar (Blackburn, 1984).

METODE PENGENDALIAN UNTUK MEMPERMUDAH PERSILANGAN
Sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa tebu merupakan tanaman menyerbuk silang, mempunyai batang yang relatif tinggi, penyerbukan terjadi pada malam hari hingga pagi buta serta penyerbukan diperlukan suhu udara yang hangat, maka dikenal beberapa metode yang diciptakan untuk mempermudah persilangan. Metode “lantern” (dalam bahasa Indonesia berarti selubung)Kemajuan utama untuk mengendalikan pemuliaan tebu adalah ditemukannya sifat male sterility yang dapat digunakan sebagai induk betina yang dapat dibuahi dengan pollen dari induk jantan yang diinginkan untuk memperoleh progeny (keturunan) yang diketahui tetuanya. Pada metode “lantern” persilangan dilakukan di lapang,di mana bunga “arrow” diselubungi dengan “lantern” untuk mencegah masukknya pollen yang tidak diinginkan. Dan pada saat yang bersamaan pollen dari tetua jantan yang telah ditetapkan juga dimasukkan ke dalam “lantern” . Biji kemudian dibiarkan masak dan setelah lebih kurang tiga minggu, panikel yang terdiri dari biji yang masak (tidak lagi disebut “arrow” melainkan “fuzz”) dikumpulkan,diekstrak dan disemai. Lantern dapat dibuat dengan berbagai ukuran dan bentuk. Metode ini ditemukan oleh D’Albequerque dan Skeete (Stevenson , 1965; Blackburn, 1984)

Metode “Marcotting” (sinonim dengan mencangkok)
Perkembangan lain dalam mengendalikan persilangan pada tebu adalah menggunakan marcotting. Primordia akar yang terdapat di masing-masing noda (buku) dapat diinduksi di lapang dengan menutupi buku yang terpilih dengan kertas aluminium atau plastik yang berisi medium perakaran seperti tanah lembab atau gambut. Bahan stimulan perakaran dapat pula diinjeksikan ke batang yaitu di antara buku ketiga dan keempat di bawah daerah “marcotte”. Sesaat sebelum bunga “arrow” muncul, batang tebu dipotong tepat di bawah wadah. Penutup plastik kemudian di buka dan dibuang, selanjutnya dipindahkan ke pot atau tabung yang berisi tanah, dan diletakkan di rumah kaca. Bunga akan muncul, dan pengendalian persilangan dilakukan dengan cara  menggabungkan bunga dari tetua jantan dan betina di dalam satu selubung kain. Metode ini cocok digunakan pada daerah-daerah di mana suhu malam hari amat rendah seperti di daerah Afrika, padahal seperti diketahui penyerbukan tebu terjadi malam hari pada suhu yang relatif hangat, sehingga bila suhu rendah akan mempengaruhi fertilitas. Hanya dengan memindahkan batang tebu “marcotte” ke rumah kaca yang hangat maka persilangan dapat terjadi. Metode larutan ala Hawaii Metode yang dikembangkan oleh Verret dan Mangelsdorf banyak digunakan oleh pemulia karena menghemat tenaga kerja untuk pekerjaan persilangan. Bunga yang menjelang mekar beserta sebagian kecil dari batang tebu dipotong dan dicelupkan ke dalam wadah berisi air. Bunga akan membuka secara normal, namun bunga akan mati dalam waktu beberapa hari. Kematian diduga disebabkan oleh blokade pada xylem (pembuluh kayu) oleh bakteri. Sehingga untuk memperpanjang umur bunga digunakan larutan yang mengandung bakterisida seperti asam sulfurous atau asam fosforik. Persilangan dilakukan dengan meletakkan potongan bunga jantan lebih tinggi daripada potongan bunga betina. Setelah penyerbukan selesai, bunga jantan disingkirkan, sebaliknya bunga betina dipelihara hingga biji masak (fuzz). Selama periode ini, larutan diganti setiap 2 – 3 hari. Bila biji telah matang, panikel dikantongi dan selanjutnya biji dikeringkan.
Metode “melting pot” (Pot pelebur/pencampur) Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa metode “melting pot” digunakan untuk membantu melakukan persilangan polycross, dimana tetua betina (yang malesterility) diketahui, sedangkan tetua jantan berasal dari genotip yang beragam (dalam pemuliaan, sering juga diistilahkan sebagai half-sib). Penyerbukan random dilakukan dengan menggoyang-goyangkan bunga jantan secara terartur. Biji yang dihasilkan selanjutnya dikumpulkan, dikecambahkan dan dievaluasi, keuntungan dari metode ini adalah dihasilkan banyak kombinasi tetua dengan biaya pengerjaan yang minimum, sedang kerugiannya adalah genotipe tetua jantan tidak diketahui.

Ilustrasi tebu

 
SELEKSI
Seleksi pemuliaan tanaman tebu didasarkan pada percobaan yang terdiri  dari 3 hingga 6 tahap (Blackburn 1984). Pada tahap pertama biji dikecambahkan (tanpa ulangan pada tahap kedua, satu atau dua baris klon perbanyakan vegetative dari tanaman tahap pertama) ditumbuhkan tanpa ulangan. Pada tahap ketiga, percobaan dilakukan pada plot yang lebih besar dapat tanpa atau dengan ulangan. Pada tahap keempat umumnya terdiri dari seri percobaan dengan ulangan dan menggunakan plot dengan baris tanaman pinggir serta menggunakan rancangan percobaan dan analisis statistik untuk interpretasi data. Tahap lima dan enam merupakan pekerjaan perbanyakan vegetatif dari klon/varietas yang terseleksi untuk disebarkan kepada petani untuk pengujian lebih lanjut. Meskipun demikian ada banyak variasi dalam detail seleksi ini.
Kemajuan seleksi dipengaruhi oleh nilai heritabilitas dari karakter yang diamati. Hampir semua karakter yang penting secara ekonomis pada tebu mempunyai nilai heritabilitas yang rendah, namun pemulia tanaman sepakat bahwa karakter kandungan sukrosa memiliki nilai heritabilitas yang tinggi dan interaksi genotip – lingkungannya (GxE interaction) yang rendah (Stevenson, 1965; Blackburn, 1984). Sehingga kandungan sukrosa dapat digunakan sebagai kriteria seleksi pada percobaan tahap generasi awal, yaitu tahap pertama dan kedua. Kandungan gula tersebut ditaksir dengan menggunakan refraktometer tangan untuk mendapatkan nilai Brix. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa nilai heritabilitas berturut-turut menurun pada karakter ketebalan batang, jumlah batang per satuan luas dan panjang batang (Blackburn, 1984). Bila nilai heritabilitas komponen hasil tebu diketahui maka modifikasi seleksi dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensinya.

Pengujian serangan penyakit juga dilakukan. Resistensi tanaman kadang dapat diestimasi secara sederhana yaitu dengan mengamati serangan penyakit secara alami pada plot-plot percobaan yang terdapat pada kondisi yang memungkinkan infeksi penyakit. Tetapi terkadang dibutuhkan laboratorium khusus atau pengujian lapang dengan melakukan inokulasi penyakit. Biasanya inokulasi penyakit dilakukan pada seleksi tahap akhir (tahap empat atau lima) untuk mencegah serangan pada klon yang peka dan mencegah resurgensi dari penyakit tersebut (Blackburn, 1984).
Akhir-akhir ini pemulia tebu juga memanfaatkan teknik baru seperti induksi mutasi dan kultur jaringan. Untuk menghilangkan karakter yang tidak disukai dari varietas komersil yang baik, stek tebu diirradiasi, selanjutnya mutasi diamati. Beberapa mutan tebu telah dihasilkan seperti dapat mengurangi pembungaan (agar kandungan sukrosa tetap tinggi), resistensi terhadap busuk merah, dan ketidakhadiran seludang daun yang keras (sehingga memudahkan pemanenan dengan tangan). Kultur jaringan untuk diferensiasi subklonal juga berhasil dilakukan. Karena adanya keragaman somatick (variation somaclonal) maka subklonal akan berbeda dalam junlah kromosom dan beberapa karakter lainnya. Teknik-teknik baru ini terus berkembang dan dibutuhkan tetapi tidak untuk menggeser peranan rekombinasi seksual secara konvensional pada pemuliaaan tebu.
 
Dasar kepentingan dari semua percobaan pemuliaan tebu adalah menghasilkan klon baru yang lebih unggul daripada klon komersil standar pada saat itu. Untuk itu harus dibuat peringkat dari klon-klon baru tersebut dibandingkan klon standar pada lingkungan yang berbeda. Pada tahap akhir seleksi, pemulia akan melepas klon unggul (paling tidak untuk sifat kandungan sukrosa dan hasil tebu per hektarnya tinggi) kepada petani untuk ditanam pada lingkunga yang berbeda. Petani akan melengkapi proses pengujian dengan mengamati dalam skala lapang tentang aspek-aspek penting seperti penggunaan tenaga kerja, kebutuhan akan pengendalian gulma, toleransi terhadap herbisida, batang tebu. Karakter-karakter tersebut tidak diuji dengan baik oleh pemulia, namun demikian karakter tersebut berpengaruh secara ekonomis.
 
PENGGUNAAN VARIETAS OLEH PETANI
Setelah Perang Dunia Kedua, hampir semua pertanaman tebu di dunia  menggunakan “nobilized cane” dibandingkan “noble cane”. Seperti diketahui, “noble cane” merupakan tebu hasil seleksi dan persilangan dari spesies Saccharum oficinarum, contoh dari “noble cane” adalah Otaheite dan seri Cheribon. Tetapi karena peka terhadap penyakit-penyakit utama, maka “noble cane” disilangbalikkan dengan Saccharum spontaneum yang merupakan sumber ketahanan bagi penyakit-penyakit utama. Noble cane yang lebih dimuliakan tersebut menghasilkan tebu nobilized cane. Walaupun tidak lagi ditanam secara komersial, namun noble cane masih dipakai sebagai sumber tetua untuk pemuliaan tebu. Di Indonesia, hingga tahun 1994, klon tebu yang paling banyak diusahakan adalah PS 8, PS 30, PS 41, PS 62, PS 63, POJ 3016, POJ 2961 dan POJ 3067 (Balai Penelitian dan Pengembangan Pertania, 1992; Sutarjo, 1994).

DAFTAR PUSTAKA
Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 1992. 5 Tahun (1987-1991) Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Sumbangan dalam Menyongsong Era tinggal Landas. 116 hal.
Barnes, A.C. 1974. The Sugar Cane. Leonard Hill Books, New York. 572 p.
Blackburn, F. 1984. Sugar Cane. Longman Group Ltd., London. 414p
Hayes, H.K., F.R. Immer and D.C. Smith. 1955. Methods of Plant  Breeding, Mc Graw- Hill Book Co., Inc., New York. 551p.
Martin, J.P., E.V. Abbott and C.G. Hughes. 1961. Sugar Cane Diseases of The World. Elsevier Publ., Co. Amsterdam. 542p.
Stevenson, G.C. 1965. Genetics and Breeding of Sugar Cane. Longmans, London. 284 p.
Sutarjo, R.M.E. 1994. Budidaya Tanaman Tebu. Bumi Aksara, Jakarta. 76 hal. Wrigley, G. 1981. Tropical Agriculture. Longman, London. 496 p.

Sumber : http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/1110

Management Budidaya Tebu

Management  Budidaya  Tebu

 

Yang dimaksud dengan management budidaya tanaman tebu adalah upaya pegelolaan budidaya tanaman tebu secara benar dan efisien.  Budidaya tanaman tebu secara tekhnis sebetulnya tidaklah terlalu sulit, tetapi upaya untuk memperoleh produksi yang optimal itulah yang sering jadi masalah dan rumit.  Untuk memperoleh produksi yang optimal harus ada keseimbangan antara :

a.       Sumber daya manusia

b.      Kultur tekhnis yang benar

c.       Sarana dan prasarana yang memadai

d.      Management operasional yang baik,

-          Memperhatikan kebutuhan operasional produksi

-          Menghargai waktu

-          Mau menerima masukan

-          Efisiensi

A.       Sumberdaya manusia

Seringkali terjadi pimpinan yang duduk dalam top management kurang mempunyai kemampuan dalam pemahaman tekhnis operasional tetapi mempunyai otoritas wewenang yang sangat tinggi, akibatnya seringkali keputusan yang diambil kurang tepat atau kurang produktif.

Demikian juga terhadap tenaga kerja lapangan, sering terjadi kemampuan tekhnis operasionalnya rendah sehingga produktivitasnya juga rendah baik segi kuantitas maupun kualitas.

Adabeberapa hal yang harus diperhatikan yang berkenaan dengan sumberdaya manusia baik sebagi pemimpin maupun sebagai pekerja.

  1. Pemimpin

a.       Jujur

b.      Adil (obyektif)

c.       Cerdas/cakap

-       memahami tekhnis operasional

-       kreatif/inovatif

-       berfikir kritis

d.      Motivator

e.       Bijaksana

f.       Terbuka (mau menerima masukan dari bawah)

g.      Patut jadi teladan

Dalam praktek operasionalnya seorang pemimpin harus mampu membuat program kerja yang baik (jelas dan realistis target yang hendak dicapai, serta mungkin untuk dilaksanakan).  Selain itu mampu mengalokasikan dan mendelegasikan pekerjaan kepada bawahannya secara tepat dan adil.  Mampu memberikan prioritas secara tepat kepada pekerjaan yang memang dirasakan lebih penting dan harus segera diselasaikan.  Serta mampu mengevaluasi setiap tahap pekerjaan secara rinci dan tepat.

  1. Tenaga kerja

a.       Jujur

b.      Disiplin

c.       Rajin

d.      Mudah diarahkan (tanggap)

e.       Tanggung jawab

f.       Patuh        

B.       Kultur tekhnis yang benar

            Untuk mencapai produksi yang baik, maka proses produksi juga harus baik dan benar.  Dalam budidaya tebu proses produksi di kebun yang benar adalah mengikuti kultur tekhnis yang benar.  Kultur tekhnis yang benar meliputi :

a.       Peralatan (traktor, implement)

b.      Material (pupuk, herbisida, insektisida)

c.       Jenis kegiatan (jenis, urutan dan interval kegiatan)

d.      Waktu melaksanakan kegiatan (kondisi lahan, umur tanaman)

e.       Cara melakukan kegiatan (cara aplikasi material, cara pengoperasian unit)

C.       Sarana dan prasarana yang memadai

Untuk memperlancar produksi selain faktor produksi yang bersifat langsung, ada beberapa faktor produksi yang bersifat tidak langsung tetapi ikut berpengaruh dalam hasil produksinya, antara lain :

 

a.       Kantor

b.      Workshop

c.       Warehouse

d.      Housing

e.       Medical

f.       Tempat pendidikan

g.      Tempat ibadah

h.      Bedeng tenaga harian

D.       Management operasional yang baik

Untuk memperoleh hasil kerja yang baik, maka diperlukan pengelolaan operasinal lapangan secara benar sehingga setiap pekerjaan dikerjakan secara benar.  Hal ini meliputi :

a.       Kemampuan SDM

b.      Justifikasi alat (adjustment unit)

c.       Kalibrasi alat dan material

d.      SOP setiap kegiatan

-     Jenis kegiatan

-     Alat yang dipakai

-     Material yang digunakan

-     Waktu melaksanakan kegiatan

-     Cara melaksanakan kegiatan

-     Penanggung jawab kegiatan (pengawas, operator, tenaga kerja)

e.       Evaluasi

-     Memperhatikan kebutuhan operasional produksi (hasil baik dan bisa dilaksanakan)

-     Menghargai waktu (tepat waktu)

-     Mau menerima masukan (siap dikoreksi)

-     Efisiensi (berusaha kearah produksi optimal)

 

 

 

 

BREAK CROP PADA TANAMAN TEBU




 

Break Crop adalah penanaman tanaman sela selain tanaman tebu.  Umumnya tanaman yang ditanam sejenis kacang-kacangan, bertujuan untuk diambil biomassnya untuk dijadikan bahan organik dan juga yang dapat mengikat nitrogen bebas.  Sehingga diharapkan setelah penanaman break crop areal tersebut menjadi lebih baik, dari segi fisik maupun kimianya.  Dari segi fisik strukturnya lebih baik dan dari segi kimia ada penambahan unsur hara (terutama nitrogen).

Adabeberapa jenis tanaman break crop, antara lain:

  1. Mucuna sp (benguk)

  2. Glisirida

  3. Fleminga congesta

  4. Centrosema pubescan, Centrosema mucunoides (kacang-kacangan)


Adabeberapa hal yang perlu diperhatikan agar tanaman break crop dapat tumbuh dengan baik dan tidak kalah oleh persaingan dengan gulma, antara lain :

  1. Land preparation baik

  2. Jarak tanam maksimum 1 m X 1m

  3. Kualitas benih baik


Perhatia terhadap land preparation yang baik, jarak tanam yang tidak terlalu lebar dan benih yang baik bertujuan agar benih break crop dapat cepat tumbuh, sedangkan gulmanya  diharpakan lambat tumbuhnya.  Dalam penanaman break crop tidak dilakukan pre emergence karena akan berdampak negatif pada perkecambahan break crop, oleh karena itu kualitas land preparation sangat menentukan kecepatan pertumbuhan gulmuanya.

Viabilitas benih break crop dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain umur panen (biji tua atau belum) dan juga penyimpanan.  Jika penyimpanannya tidak baik, maka kualitas benih akan sangat jelek, dan jika ditanam maka perkecambahannya akan sangat rendah.

Kebutuhan benih per hektar untuk jarak tanam 1m X 1m dan pemakain benih per lubang 2 butir = {10.000/( 1 X 1)} X 2 butir/lubang = 20.000 butir/ha.  Jika 1 ons benih = 130 butir; maka 1 kg = 1.300 butir.  Jadi kebutuhan 1 ha = 20.000/1.300 = 15.4 kg.  Panen break crop apabila digunakan sebagai biomass +/- umur 4 bulan.

 

 

Petisi Penolakan Sawit Diedarkan

Petisi penolakan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, mulai diedarkan, Selasa (23/8). Itu dilakukan koalisi masyarakat adat Mentawai yang didukung sejumlah organisasi nonpemerintah yang peduli pada lingkungan.

Selain petisi penolakan, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumbar Khalid Saifullah mengatakan, pihaknya akan berupaya menggunakan Inpres Nomor 10 Tahun 2011 untuk mencegah masuknya perkebunan kelapa sawit. Inpres itu menyebutkan tentang Moratorium Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut.

Menurut Khalid, setiap enam bulan sekali akan dilakukan revisi terhadap inpres tersebut. ”Karena itulah akan kita lakukan upaya untuk merevisi peta luasan moratorium dalam inpres itu,” tutur Khalid.

Saat ini, kata Khalid, inpres itu sudah berjalan sekitar empat bulan sejak disahkan. ”Jadi, masih ada waktu sekitar dua bulan untuk membuat analisis mengapa perkebunan kelapa sawit berbahaya bagi Mentawai,” ujarnya.

Menurut Rifai Lubis dari Yayasan Citra Mandiri Mentawai, Kepulauan Mentawai tak termasuk dalam peta moratorium. Inpres berlaku selama dua tahun.

Seperti diwartakan, kerangka acuan analisis mengenai dampak lingkungan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Pagai Utara, Sipora Selatan, dan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, telah disepakati. Padahal, hingga saat ini masih terjadi tumpang tindih bakal kawasan perkebunan dengan lokasi pencadangan lahan transmigrasi. Selain itu, belum adanya kepastian lokasi lahan pembangunan hunian tetap bagi korban bencana tsunami, dengan sebagian areal hunian sementara kini berada di kawasan hutan produksi.

Selain itu, Kepulauan Mentawai tidak mempunyai sumber air dalam dan hanya sumber air permukaan. Fakta ini dinafikan dalam rencana pembukaan kebun kelapa sawit. Padahal, kelapa sawit adalah tanaman keras yang memerlukan banyak air, yakni 20 liter per batang per hari.

Izin lokasi perkebunan kelapa sawit yang telah diberikan kepada PT Rajawali Anugerah Sakti, PT Swastisidi Amagra, PT Mentawai Golden Plantation Pratama, dan PT Siberut Golden Plantation Pratama dikeluarkan Bupati Mentawai Edison Saleleubaja. Total lahan kelapa sawit sekitar 73.000 hektar.

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2011/08/24/04252852/Petisi.Penolakan.Sawit.Diedarkan

Temu Kelapa Sawit Terbesar di Dunia

The Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebuah inisiatif multi stakeholder, Rabu (24/8/2011), mengumumkan bahwa pertemuan meja bundar tahunan yang kesembilannya atau Roundtable 9 (RT9) akan diadakan di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, tahun ini.

Pengukuhan Kota Kinabalu sebagai tuan rumah diumumkan dalam konferensi pers oleh Menteri Pengembangan Industri Malaysia Datuk Raymond Tan Shu Kiah, Ketua Menteri Sabah Datuk Seri Panglima Musa Hj Aman, bersama dengan Sekretaris Jenderal RSPO, Darrel Webber.

Pertemuan ini merupakan pertemuan terbesar di dunia mengenai kelapa sawit lestari atau sustainable palm oil. Diselenggarakan setiap tahun oleh RSPO sebagai wadah untuk bertukar pikiran dan pengalaman antara berbagai pemangku kepentingan baik dari negara maju maupun berkembang, pertemuan ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama dan dukungan bagi visi yang sama.

Tahun lalu, pertemuan sebelumnya, yaitu RT8, dihadiri oleh 800 delegasi dari 30 negara. Tahun ini, Sabah diberi kesempatan untuk menjadi tuan rumah pertemuan RT9 yang mengusung tema: "RSPO Certified. Transforming the Market. Together" (Tersertifikasi RSPO. Merubah Pasar. Bersama). Pertemuan RT9 akan diselenggarakan dari 22 sampai 24 November 2011.

Darrel Webber, Sekretaris Jenderal RSPO mengatakan: "Sabah menjadi lokasi yang ideal untuk mengadakan berbagai pertemuan kelas internasional dengan dukungan berbagai faktor yang membuat kota ini populer.

Faktor-faktor seperti efisiensi dan infrastruktur yang memadai, kapasitas intelektual kota ini, pesona dan sejarah yang penuh dengan warna dan kaya akan budaya, serta keindahaan dan kemegahan keanekaragaman hayatinya.

Selain itu, Sabah sangat berkomitmen dalam menerapkan praktik berkelanjutan tingkat dunia dalam produksi kelapa sawit lestari atau sustainable palm oil.

Faktanya, beberapa fasilitas pengolahan kelapa sawit yang pertama kali memperoleh sertifikasi di Malaysia terletak di Sabah. Dan, Sabah berkontribusi sebesar 40 persen dari total produksi Certified Sustainable Palm Oil di Malaysia, yang merupakan produsen RSPO terbesar di dunia," lanjut Webber.

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2011/08/24/18351663/Temu.Kelapa.Sawit.Terbesar.di.Dunia.

Temu Kelapa Sawit Terbesar di Dunia

The Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebuah inisiatif multi stakeholder, Rabu (24/8/2011), mengumumkan bahwa pertemuan meja bundar tahunan yang kesembilannya atau Roundtable 9 (RT9) akan diadakan di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, tahun ini.

Pengukuhan Kota Kinabalu sebagai tuan rumah diumumkan dalam konferensi pers oleh Menteri Pengembangan Industri Malaysia Datuk Raymond Tan Shu Kiah, Ketua Menteri Sabah Datuk Seri Panglima Musa Hj Aman, bersama dengan Sekretaris Jenderal RSPO, Darrel Webber.

Pertemuan ini merupakan pertemuan terbesar di dunia mengenai kelapa sawit lestari atau sustainable palm oil. Diselenggarakan setiap tahun oleh RSPO sebagai wadah untuk bertukar pikiran dan pengalaman antara berbagai pemangku kepentingan baik dari negara maju maupun berkembang, pertemuan ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama dan dukungan bagi visi yang sama.

Tahun lalu, pertemuan sebelumnya, yaitu RT8, dihadiri oleh 800 delegasi dari 30 negara. Tahun ini, Sabah diberi kesempatan untuk menjadi tuan rumah pertemuan RT9 yang mengusung tema: "RSPO Certified. Transforming the Market. Together" (Tersertifikasi RSPO. Merubah Pasar. Bersama). Pertemuan RT9 akan diselenggarakan dari 22 sampai 24 November 2011.

Darrel Webber, Sekretaris Jenderal RSPO mengatakan: "Sabah menjadi lokasi yang ideal untuk mengadakan berbagai pertemuan kelas internasional dengan dukungan berbagai faktor yang membuat kota ini populer.

Faktor-faktor seperti efisiensi dan infrastruktur yang memadai, kapasitas intelektual kota ini, pesona dan sejarah yang penuh dengan warna dan kaya akan budaya, serta keindahaan dan kemegahan keanekaragaman hayatinya.

Selain itu, Sabah sangat berkomitmen dalam menerapkan praktik berkelanjutan tingkat dunia dalam produksi kelapa sawit lestari atau sustainable palm oil.

Faktanya, beberapa fasilitas pengolahan kelapa sawit yang pertama kali memperoleh sertifikasi di Malaysia terletak di Sabah. Dan, Sabah berkontribusi sebesar 40 persen dari total produksi Certified Sustainable Palm Oil di Malaysia, yang merupakan produsen RSPO terbesar di dunia," lanjut Webber.

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2011/08/24/18351663/Temu.Kelapa.Sawit.Terbesar.di.Dunia.

Gambaran Sekilas Industri Minyak Kelapa Sawit

PENDAHULUAN
I.1. SEJARAH KELAPA SAWIT
Pohon Kelapa Sawit terdiri daripada dua spesies Arecaceae atau famili palma yang
digunakan untuk pertanian komersil dalam pengeluaran minyak kelapa sawit. Pohon
Kelapa Sawit Afrika, Elaeis guineensis, berasal dari Afrika barat di antara Angola dan
Gambia, manakala Pohon Kelapa Sawit Amerika, Elaeis oleifera, berasal dari Amerika
Tengah dan Amerika Selatan.
Kelapa sawit termasuk tumbuhan pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Bunga
dan buahnya berupa tandan, serta bercabang banyak. Buahnya kecil dan apabila masak,
berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya
mengandungi minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun,
dan lilin. Hampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak, khususnya sebagai salah
satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar
dan arang.
Urutan dari turunan Kelapa Sawit:
Kingdom: Tumbuhan
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Arecales
Famili: Arecaceae
Jenis: Elaeis
Spesies: E. guineensis
I.2. CIRI‐CIRI FISIOLOGI KELAPA SAWIT
A. Daun
daunnya merupakan daun majemuk. Daun berwarna hijau tua dan pelapah
berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya sangat mirip dengan tanaman salak,
hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam.
B. Batang
Batang tanaman diselimuti bekas pelapah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12
tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga menjadi mirip dengan
tanaman kelapa.

C. Akar
Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga
terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk
mendapatkan tambahan aerasi.
D. Bunga
Bunga jantan dan betina terpisah dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga
sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan
panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
E. Buah
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung
bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap
pelapah.
Buah terdiri dari tiga lapisan:
a) Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
b) Mesoskarp, serabut buah
c) Endoskarp, cangkang pelindung inti
Inti sawit merupakan endosperm dan embrio dengan kandungan minyak inti
berkualitas tinggi.
I.3. PERKEMBANGBIAKAN KELAPA SAWIT
Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi
tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar
(radikula).
Kelapa sawit memiliki banyak jenis, berdasarkan ketebalan cangkangnya kelapa sawit
dibagi menjadi Dura, Pisifera, dan Tenera. Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki
cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun
biasanya tandan buahnya besar‐besar dan kandungan minyak pertandannya berkisar
18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga
sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan
Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing‐masing
induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa
tenera unggul persentase daging perbuahnya dapat mencapai 90% dan kandungan
minyak pertandannya dapat mencapai 28%.

I.4. HASIL KELAPA SAWIT
Bagian yang paling utama untuk diolah dari kelapa sawit adalah buahnya. Bagian daging
buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku
minyak goreng. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah
kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi
bahan baku margarin.
Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika.
Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90°C.
Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang
dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan
dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga
sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur.
Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak
dan difermentasikan menjadi kompos.
I.5. PERKEMBANGAN INDUSTRI KELAPA SAWIT
Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit merupakan salah
satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non migas
bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan
minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu
pengembangan areal perkebunan kelapa sawit.
Berkembangnya sub‐sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak lepas dari
adanya kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif, terutama kemudahan
dalam hal perijinan dan bantuan subsidi investasi untuk pembangunan perkebunan
rakyat dengan pola PIR‐Bun dan dalam pembukaan wilayah baru untuk areal
perkebunan besar swasta.


INDUSTRI MINYAK KELAPA SAWIT
II.1. MINYAK KELAPA SAWIT
Produk minyak kelapa sawit sebagai bahan makanan mempunyai dua aspek kualitas.
Aspek pertama berhubungan dengan kadar dan kualitas asam lemak, kelembaban dan
kadar kotoran. Aspek kedua berhubungan dengan rasa, aroma dan kejernihan serta
kemurnian produk. Kelapa sawit bermutu prima (SQ, Special Quality) mengandung asam
lemak (FFA, Free Fatty Acid) tidak lebih dari 2 % pada saat pengapalan. Kualitas standar
minyak kelapa sawit mengandung tidak lebih dari 5 % FFA. Setelah pengolahan, kelapa
sawit bermutu akan menghasilkan rendemen minyak 22,1 % ‐ 22,2 % (tertinggi) dan
kadar asam lemak bebas 1,7 % ‐ 2,1 % (terendah).
II.2. STANDAR MUTU MNYAK KELAPA SAWIT
mutu minyak kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua arti, pertama, benar‐benar
murni dan tidak bercampur dengan minyak nabati lain. Mutu minyak kelapa sawit
tersebut dapat ditentukan dengan menilai sifat‐sifat fisiknya, yaitu dengan mengukur
titik lebur angka penyabunan dan bilangan yodium. Kedua, pengertian mutu sawit
berdasarkan ukuran. Dalam hal ini syarat mutu diukur berdasarkan spesifikasi standar
mutu internasional yang meliputi kadar ALB, air, kotoran, logam besi, logam tembaga,
peroksida, dan ukuran pemucatan. Kebutuhan mutu minyak kelapa sawit yang
digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan non pangan masing‐masing
berbeda. Oleh karena itu keaslian, kemurnian, kesegaran, maupun aspek higienisnya
harus lebih Diperhatikan. Rendahnya mutu minyak kelapa sawit sangat ditentukan oleh
banyak faktor. Faktor‐faktor tersebut dapat langsung dari sifat induk pohonnya,
penanganan pascapanen, atau kesalahan selama pemrosesan dan pengangkutan.
Dari beberapa faktor yang berkaitan dengan standar mutu minyak sawit tersebut,
didapat hasil dari pengolahan kelapa sawit, seperti di bawah ini :
a) Crude Palm Oil
b) Crude Palm Stearin
c) RBD Palm Oil
d) RBD Olein
e) RBD Stearin
f) Palm Kernel Oil
7
g) Palm Kernel Fatty Acid
h) Palm Kernel
i) Palm Kernel Expeller (PKE)
j) Palm Cooking Oil
k) Refined Palm Oil (RPO)
l) Refined Bleached Deodorised Olein (ROL)
m) Refined Bleached Deodorised Stearin (RPS)
n) Palm Kernel Pellet
o) Palm Kernel Shell Charcoal
Syarat mutu inti kelapa sawit adalah sebagai berikut:
a) Kadar minyak minimum (%): 48; cara pengujian SP‐SMP‐13‐1975
b) Kadar air maksimum (%):8,5 ; cara pengujian SP‐SMP‐7‐1975
c) Kontaminasi maksimum (%):4,0; cara pengujian SP‐SMP‐31‐19975
d) Kadar inti pecah maksimum (%):15; cara pengujian SP‐SMP‐31‐1975
II.3. KOMPOSISI KIMIA MINYAK KELAPA SAWIT
Minyak kelapa sawit dan inti minyak kelapa sawit merupakan susunan dari fatty acids,
esterified, serta glycerol yang masih banyak lemaknya. Didalam keduanya tinggi serta
penuh akan fatty acids, antara 50% dan 80% dari masing‐masingnya. Minyak kelapa
sawit mempunyai 16 nama carbon yang penuh asam lemak palmitic acid berdasarkan
dalam minyak kelapa minyak kelapa sawit sebagian besar berisikan lauric acid. Minyak
kelapa sawit sebagian besarnya tumbuh berasal alamiah untuk tocotrienol, bagian dari
vitamin E. Minyak kelapa sawit didalamnya banyak mengandung vitamin K dan
magnesium.
Napalm namanya berasal dari naphthenic acid, palmitic acid dan pyrotechnics atau
hanya dari cara pemakaian nafta dan minyak kelapa sawit.

PENUTUP
IV.1. KESIMPULAN
Industri minyak kelapa sawit merupakan salah satu industri strategis, karena
berhubungan dengan sektor pertanian (agro‐based industry) yang banyak berkembang
di negara‐negara tropis seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand. Hasil industri minyak
kelapa sawit bukan hanya minyak goreng saja, tetapi juga bisa digunakan sebagai bahan
dasar industri lainnya seperti industri makanan, kosmetika dan industri sabun.
Prospek perkembangan industri minyak kelapa sawit saat ini sangat pesat, dimana
terjadi peningkatan jumlah produksi kelapa sawit seiring meningkatnya kebutuhan
masyarakat.
Dengan besarnya produksi yang mampu dihasilkan, tentunya hal ini berdampak positif
bagi perekenomian Indonesia, baik dari segi kontribusinya terhadap pendapatan negara,
maupun besarnya tenaga kerja yang terserap di sektor. Sektor ini juga mampu
meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar perkebunan sawit, di mana presentase
penduduk miskin di areal ini jauh lebih rendah dari angka penduduk miskin nasional
sebesar. Boleh dibilang, industri minyak kelapa sawit ini dapat diharapkan menjadi
motor pertumbuhan ekonomi nasional.
Tabel 1. Ketersediaan Lahan Produksi Kelapa Sawit
No Nama Daerah Luas Lahan
1 Bangka‐Belitung Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 107,070.00
2 Bengkulu Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 180,693.00
3 Irianjaya Barat Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 30,171.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 150,000.00
Status Lahan: Tanah Negara & Ulayat
4 Jambi Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 274,265.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 114,000.00
Status Lahan: Tanah Masyarakat dan Tanah Negara Yang Sudah
Digarap Masyarakat
5 Jawa Barat Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 7,115.00
6 Kalimantan Barat Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 373,162.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 58,720.00
Status Lahan: Tanah Negara dan Tanah Masyarakat
7 Kalimantan Selatan Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 160,753.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 216,474.00
Status Lahan: Tanah Negara
8 Kalimantan Tengah Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 343,303.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 497,427.00
Status Lahan: Tanah Negara dalam ajuan permohonan hak
9 Kalimantan Timur Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 171,581.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 652,135.00
Status Lahan: Tanah Negara & Tanah Masyarakat
10 Kepulauan Riau Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 5,590.00
11 Maluku Utara Lahan yang Tersedia (Ha): 100,000.00
Status Lahan: Tanah Negara
12 Nanggroe Aceh
Darussalam
Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 227,590.00
13 Papua Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 89,827.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 1,935,000.00
Status Lahan: Tanah Negara & Ulayat
14 Riau Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 1,307,880.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 30,000.00
Status Lahan: Tanah Masyarakat
15 Sulawesi Barat Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 9,568.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 45,000.00
Status Lahan: Tanah Negara dan Tanah Masyarakat
16 Sulawesi Selatan Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 11,894.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 120,298.00
Status Lahan: Tanah Negara dan Tanah Masyarakat
17 Sulawesi Tenggara Lahan yang Tersedia (Ha): 74,000.00
Status Lahan: Tanah Negara
18 Sumatera Barat Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 280,099.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 14,500.00
Status Lahan: Tanah Ulayat
19 Sumatera Selatan Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 386,403.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 144,500.00
Status Lahan: Tanah Masyarakat
20 Sumatera Utara Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 229,512.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 40,000.00
Status Lahan: Tanah Negara dan Tanah Masyarakat

Gambaran Sekilas Industri Minyak Kelapa Sawit

PENDAHULUAN
I.1. SEJARAH KELAPA SAWIT
Pohon Kelapa Sawit terdiri daripada dua spesies Arecaceae atau famili palma yang
digunakan untuk pertanian komersil dalam pengeluaran minyak kelapa sawit. Pohon
Kelapa Sawit Afrika, Elaeis guineensis, berasal dari Afrika barat di antara Angola dan
Gambia, manakala Pohon Kelapa Sawit Amerika, Elaeis oleifera, berasal dari Amerika
Tengah dan Amerika Selatan.
Kelapa sawit termasuk tumbuhan pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Bunga
dan buahnya berupa tandan, serta bercabang banyak. Buahnya kecil dan apabila masak,
berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya
mengandungi minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun,
dan lilin. Hampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak, khususnya sebagai salah
satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar
dan arang.
Urutan dari turunan Kelapa Sawit:
Kingdom: Tumbuhan
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Arecales
Famili: Arecaceae
Jenis: Elaeis
Spesies: E. guineensis
I.2. CIRI‐CIRI FISIOLOGI KELAPA SAWIT
A. Daun
daunnya merupakan daun majemuk. Daun berwarna hijau tua dan pelapah
berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya sangat mirip dengan tanaman salak,
hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam.
B. Batang
Batang tanaman diselimuti bekas pelapah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12
tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga menjadi mirip dengan
tanaman kelapa.

C. Akar
Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga
terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk
mendapatkan tambahan aerasi.
D. Bunga
Bunga jantan dan betina terpisah dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga
sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan
panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
E. Buah
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung
bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap
pelapah.
Buah terdiri dari tiga lapisan:
a) Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
b) Mesoskarp, serabut buah
c) Endoskarp, cangkang pelindung inti
Inti sawit merupakan endosperm dan embrio dengan kandungan minyak inti
berkualitas tinggi.
I.3. PERKEMBANGBIAKAN KELAPA SAWIT
Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi
tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar
(radikula).
Kelapa sawit memiliki banyak jenis, berdasarkan ketebalan cangkangnya kelapa sawit
dibagi menjadi Dura, Pisifera, dan Tenera. Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki
cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun
biasanya tandan buahnya besar‐besar dan kandungan minyak pertandannya berkisar
18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga
sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan
Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing‐masing
induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa
tenera unggul persentase daging perbuahnya dapat mencapai 90% dan kandungan
minyak pertandannya dapat mencapai 28%.

I.4. HASIL KELAPA SAWIT
Bagian yang paling utama untuk diolah dari kelapa sawit adalah buahnya. Bagian daging
buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku
minyak goreng. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah
kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi
bahan baku margarin.
Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika.
Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90°C.
Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang
dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan
dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga
sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur.
Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak
dan difermentasikan menjadi kompos.
I.5. PERKEMBANGAN INDUSTRI KELAPA SAWIT
Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit merupakan salah
satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non migas
bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan
minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu
pengembangan areal perkebunan kelapa sawit.
Berkembangnya sub‐sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak lepas dari
adanya kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif, terutama kemudahan
dalam hal perijinan dan bantuan subsidi investasi untuk pembangunan perkebunan
rakyat dengan pola PIR‐Bun dan dalam pembukaan wilayah baru untuk areal
perkebunan besar swasta.


INDUSTRI MINYAK KELAPA SAWIT
II.1. MINYAK KELAPA SAWIT
Produk minyak kelapa sawit sebagai bahan makanan mempunyai dua aspek kualitas.
Aspek pertama berhubungan dengan kadar dan kualitas asam lemak, kelembaban dan
kadar kotoran. Aspek kedua berhubungan dengan rasa, aroma dan kejernihan serta
kemurnian produk. Kelapa sawit bermutu prima (SQ, Special Quality) mengandung asam
lemak (FFA, Free Fatty Acid) tidak lebih dari 2 % pada saat pengapalan. Kualitas standar
minyak kelapa sawit mengandung tidak lebih dari 5 % FFA. Setelah pengolahan, kelapa
sawit bermutu akan menghasilkan rendemen minyak 22,1 % ‐ 22,2 % (tertinggi) dan
kadar asam lemak bebas 1,7 % ‐ 2,1 % (terendah).
II.2. STANDAR MUTU MNYAK KELAPA SAWIT
mutu minyak kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua arti, pertama, benar‐benar
murni dan tidak bercampur dengan minyak nabati lain. Mutu minyak kelapa sawit
tersebut dapat ditentukan dengan menilai sifat‐sifat fisiknya, yaitu dengan mengukur
titik lebur angka penyabunan dan bilangan yodium. Kedua, pengertian mutu sawit
berdasarkan ukuran. Dalam hal ini syarat mutu diukur berdasarkan spesifikasi standar
mutu internasional yang meliputi kadar ALB, air, kotoran, logam besi, logam tembaga,
peroksida, dan ukuran pemucatan. Kebutuhan mutu minyak kelapa sawit yang
digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan non pangan masing‐masing
berbeda. Oleh karena itu keaslian, kemurnian, kesegaran, maupun aspek higienisnya
harus lebih Diperhatikan. Rendahnya mutu minyak kelapa sawit sangat ditentukan oleh
banyak faktor. Faktor‐faktor tersebut dapat langsung dari sifat induk pohonnya,
penanganan pascapanen, atau kesalahan selama pemrosesan dan pengangkutan.
Dari beberapa faktor yang berkaitan dengan standar mutu minyak sawit tersebut,
didapat hasil dari pengolahan kelapa sawit, seperti di bawah ini :
a) Crude Palm Oil
b) Crude Palm Stearin
c) RBD Palm Oil
d) RBD Olein
e) RBD Stearin
f) Palm Kernel Oil
7
g) Palm Kernel Fatty Acid
h) Palm Kernel
i) Palm Kernel Expeller (PKE)
j) Palm Cooking Oil
k) Refined Palm Oil (RPO)
l) Refined Bleached Deodorised Olein (ROL)
m) Refined Bleached Deodorised Stearin (RPS)
n) Palm Kernel Pellet
o) Palm Kernel Shell Charcoal
Syarat mutu inti kelapa sawit adalah sebagai berikut:
a) Kadar minyak minimum (%): 48; cara pengujian SP‐SMP‐13‐1975
b) Kadar air maksimum (%):8,5 ; cara pengujian SP‐SMP‐7‐1975
c) Kontaminasi maksimum (%):4,0; cara pengujian SP‐SMP‐31‐19975
d) Kadar inti pecah maksimum (%):15; cara pengujian SP‐SMP‐31‐1975
II.3. KOMPOSISI KIMIA MINYAK KELAPA SAWIT
Minyak kelapa sawit dan inti minyak kelapa sawit merupakan susunan dari fatty acids,
esterified, serta glycerol yang masih banyak lemaknya. Didalam keduanya tinggi serta
penuh akan fatty acids, antara 50% dan 80% dari masing‐masingnya. Minyak kelapa
sawit mempunyai 16 nama carbon yang penuh asam lemak palmitic acid berdasarkan
dalam minyak kelapa minyak kelapa sawit sebagian besar berisikan lauric acid. Minyak
kelapa sawit sebagian besarnya tumbuh berasal alamiah untuk tocotrienol, bagian dari
vitamin E. Minyak kelapa sawit didalamnya banyak mengandung vitamin K dan
magnesium.
Napalm namanya berasal dari naphthenic acid, palmitic acid dan pyrotechnics atau
hanya dari cara pemakaian nafta dan minyak kelapa sawit.

PENUTUP
IV.1. KESIMPULAN
Industri minyak kelapa sawit merupakan salah satu industri strategis, karena
berhubungan dengan sektor pertanian (agro‐based industry) yang banyak berkembang
di negara‐negara tropis seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand. Hasil industri minyak
kelapa sawit bukan hanya minyak goreng saja, tetapi juga bisa digunakan sebagai bahan
dasar industri lainnya seperti industri makanan, kosmetika dan industri sabun.
Prospek perkembangan industri minyak kelapa sawit saat ini sangat pesat, dimana
terjadi peningkatan jumlah produksi kelapa sawit seiring meningkatnya kebutuhan
masyarakat.
Dengan besarnya produksi yang mampu dihasilkan, tentunya hal ini berdampak positif
bagi perekenomian Indonesia, baik dari segi kontribusinya terhadap pendapatan negara,
maupun besarnya tenaga kerja yang terserap di sektor. Sektor ini juga mampu
meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar perkebunan sawit, di mana presentase
penduduk miskin di areal ini jauh lebih rendah dari angka penduduk miskin nasional
sebesar. Boleh dibilang, industri minyak kelapa sawit ini dapat diharapkan menjadi
motor pertumbuhan ekonomi nasional.
Tabel 1. Ketersediaan Lahan Produksi Kelapa Sawit
No Nama Daerah Luas Lahan
1 Bangka‐Belitung Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 107,070.00
2 Bengkulu Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 180,693.00
3 Irianjaya Barat Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 30,171.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 150,000.00
Status Lahan: Tanah Negara & Ulayat
4 Jambi Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 274,265.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 114,000.00
Status Lahan: Tanah Masyarakat dan Tanah Negara Yang Sudah
Digarap Masyarakat
5 Jawa Barat Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 7,115.00
6 Kalimantan Barat Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 373,162.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 58,720.00
Status Lahan: Tanah Negara dan Tanah Masyarakat
7 Kalimantan Selatan Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 160,753.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 216,474.00
Status Lahan: Tanah Negara
8 Kalimantan Tengah Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 343,303.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 497,427.00
Status Lahan: Tanah Negara dalam ajuan permohonan hak
9 Kalimantan Timur Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 171,581.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 652,135.00
Status Lahan: Tanah Negara & Tanah Masyarakat
10 Kepulauan Riau Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 5,590.00
11 Maluku Utara Lahan yang Tersedia (Ha): 100,000.00
Status Lahan: Tanah Negara
12 Nanggroe Aceh
Darussalam
Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 227,590.00
13 Papua Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 89,827.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 1,935,000.00
Status Lahan: Tanah Negara & Ulayat
14 Riau Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 1,307,880.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 30,000.00
Status Lahan: Tanah Masyarakat
15 Sulawesi Barat Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 9,568.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 45,000.00
Status Lahan: Tanah Negara dan Tanah Masyarakat
16 Sulawesi Selatan Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 11,894.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 120,298.00
Status Lahan: Tanah Negara dan Tanah Masyarakat
17 Sulawesi Tenggara Lahan yang Tersedia (Ha): 74,000.00
Status Lahan: Tanah Negara
18 Sumatera Barat Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 280,099.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 14,500.00
Status Lahan: Tanah Ulayat
19 Sumatera Selatan Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 386,403.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 144,500.00
Status Lahan: Tanah Masyarakat
20 Sumatera Utara Lahan yang sudah Digunakan (Ha): 229,512.00
Sisa Lahan Tersedia (Ha): 40,000.00
Status Lahan: Tanah Negara dan Tanah Masyarakat